Duniaekspress, 1 november 2017. – Sedikitnya empat orang tewas setelah sebuah kapal yang membawa Muslim Rohingya terbalik di Teluk Benggala, dekat dengan pantai selatan Bangladesh pada hari Selasa (31/10/2017).

Abul Khair, petugas polisi setempat, mengkonfirmasi kejadian tersebut dan mengatakan bahwa 28 penumpang telah diselamatkan dengan selamat.

Sejak 25 Agustus, lebih dari 607.000 orang Rohingya telah menyeberang dari negara bagian Myanmar, Rakhine ke Bangladesh, menurut PBB.

Para pengungsi tersebut melarikan diri dari sebuah operasi militer di mana pasukan keamanan dan gerombolan Buddha membunuh pria, wanita dan anak-anak, menjarah rumah dan membakar desa Rohingya. Menurut Menteri Luar Negeri Bangladesh Abul Hasan Mahmood Ali, sekitar 3.000 orang Rohingya tewas dalam tindakan keras tersebut.

Baca Juga: Genosida Terhadap Muslim Rohingya Adalah Bagian Dari Konspirasi Global Hancurkan Islam

Badan Pengungsi PBB (UNHCR) mengungkapkan kesedihan atas hilangnya nyawa dalam sebuah kapal karam baru.

“Enam keluarga total 42 orang di antaranya perempuan dan anak-anak pergi dengan kapal nelayan dari Gozon Dia ke selatan kota Maungdaw di negara bagian Rakhine, Myanmar utara, sekitar jam 2 pagi. Mereka berlari ke laut kasar dan mendekati pantai di daerah Imamerdail di subdistrik Ukhia di Bangladesh, “kata badan PBB seraya mengutip perkataab orang-orang yang selamat.

“Seorang anak laki-laki berusia 15 tahun meninggal di tempat. semua 22 orang yang terluka dilarikan ke rumah sakit dan klinik LSM namun tiga dilaporkan meninggal dalam perjalanan. Sisanya 19 dibawa ke pusat transit UNHCR di dekat kamp Kutupalong,” tambahnya.

Baca Juga: BUKTI ARTEFAK PATAHKAN ARGUMENTASI MYANMAR ETNIS ROHINGYA ADALAH PENDATANG

Rohingya adalah penduduk asli yang harus pergi dari tanah kelahirannya di Arakan akibat kekejaman yang dilakukan militer dan Buddish Myanmar.

Ketua Bidang Komunikasi Dan Informasi Forjim menyatakan berdasarkan artefak uang koin etnis Rohingya sudah masuk ke Arakan sejak abad ke-8 kurang lebih semasa dengan ke Khalifahan Harun Arrasyid.

“Bukti ini mematahkan argumentasi pemerintah Myanmar dan orang-orang pro Myanmar bahwa Rohingya masuk belakangan, bahkan mereka sudah ada di Arakan jauh sebelum Negara Myanmar berdiri,” tegas Duddy Sya’bani.

(IF)