Duniaekspress, 4 november 2017. – Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa perang dan kekerasan menurun secara drastis dalam tujuh dekade terakhir. Bahkan, sejarawan John Gaddis menyebut periode tersebut sebagai “perdamaian yang panjang”. Namun, beberapa ilmuwan yang lain menilai bahwa jarang sekali manusia bisa hidup dalam suasana “normal” seperti itu. John Dower adalah salah satunya.

Dower adalah Profesor Sejarah dari MIT. Ia pernah memenangkan Pulitzer Prize dan Penghargaan Buku Nasional AS. Ia banyak menulis tentang kubratalan yang terjadi pada Perang Dunia II. Hari ini, saat bicara tentang perang dan keamanan, Dower merasa skeptis bahwa dunia banyak mengalami kemajuan sejak saat itu.

“Kita berada di dalam lingkaran kekerasan yang terus-menerus atas nama mencegah kekerasan,” kata Dower.

Dalam buku terbaru Dower, “The Violent American Century”, yang diterbitkan pada musim semi tahun 2017 oleh Haymarket Books, dia mempertanyakan dasar dari keseluruhan tatanan pasca Perang Dunia II. Dower menilai bahwa saat ini mungkin nampak tidak banyak terjadi peperangan, namun ketenangan tampak saat ini sangat bergantung pada militerisme yang hiperaktif. Keunggulan besar angkatan bersenjata Amerika menciptakan situasi yang secara cepat terus berubah, karena AS sering mencoba membungkam berbagai urusan internasional berdasarkan kehendaknya, dan hanya berdasarkan kekuatan.

Dower berpendapat bahwa AS telah secara keliru mengejar “perang melawan teror” yang tanpa ujung, mendukung terlalu banyak perang proxy, pembangunan kekuatan nuklir yang berisiko menghancurkan dunia. Karenanya, era perdamaian mungkin lebih pendek dari yang kita kira.

“Perasaan bahwa kita harus selalu memiliki postur militer yang dominan berarti kita harus selalu mengejar teknologi militer terkini,” kata Dower. “Tapi itu juga berarti kita selalu mendorong kerusakan yang lebih besar dan lebih besar.”

Buku The Violent American Century adalah bacaan yang penting bagi yang ingin mengetahui sejarah kekerasan Amerika. Buku ini menunjukkan kepada kita sejarah militeristik yang mendominasi pikiran dan pengeluaran Amerika, Dower mengekspos kemunafikan AS yang mengklaim bahwa mereka telah berhasil mengurangi kekerasan di seluruh dunia.

Buku ini sangat penting hari ini, di tengah kepemimpinan Donald Trump yang dengan santai menyebutkan penggunaan bom nuklir melawan Korea Utara, dan telah menambahkan 60 miliar dolar untuk anggaran militer AS yang sudah membengkak. Anggaran baru sebesar $ 639 miliar tersebut di luar pengeluaran besar untuk perawatan medis dan psikologis bagi para veteran.

The Violent American Century menggambarkan bagaimana AS, sebagai sebuah bangsa, sangat terbiasa melakukan perang tanpa henti. John Dower mendokumentasikan sejarah tentang apa yang terjadi.

AS adalah satu-satunya kekuatan yang tersisa utuh setelah Perang Dunia II. Uni Soviet sempat mencoba mengimbangi, untuk melawan AS, dalam sebuah perang dingin yang meningkatkan pengeluaran militer. Namun, dengan jatuhnya Uni Soviet, Pax Americana menang. Kebuntuan di Korea dan Vietnam membuat Pax Americana dipertanyakan. Perang melawan teror yang tidak dapat dimenangkan membuat pertanyaan mengenai Pax Americana kembali mengemuka. AS melakukan investasi yang sangat besar dalam berbagai “operasi hitam”, mulai dari perang proxy, penjualan senjata dan dukungan untuk rezim otoriter.

Obama menjual senjata senilai 115 miliar dolar kepada Arab Saudi. Trump baru-baru ini menjual kepada mereka sebesar 110 miliar dolar. AS membom Irak sampai hancur total. Semua dilakukan atas nama demokrasi dan mengalahkan kediktatoran.

Membranding periode pasca Perang Dunia II sebagai masa damai adalah sikap yang tidak jujur. Dimensi militer militer AS pasca perang dunia II yang lebih halus dan berbahaya—yaitu, kekerasan yang dilakukan kepada masyarakat sipil dengan menyalurkan sumber daya kepada proyek keamanan nasional yang sangat besar, mengganggu dan terus berkembang—membantah argumen yang hanya menyandarkan pada statistik penurunan jumlah kekerasan. Sejak Perang Dunia Kedua AS telah membantu menciptakan peperangan. Hasilnya adalah 60 juta jiwa terbunuh, dan pengungsi yang jumlahnya luar biasa. Selain melakukan kekerasan secara langsung, AS juga menciptakan sanksi ekonomi yang keras yang melumpuhkan sistem air dan semua sistem kesehatan dan kebersihan lainnya. Jumlah kematian bayi dan anak sangat besar–bahkan mungkin sampai tidak terhitung.

Tidak berhenti di situ, kekerasan juga terjadi secara psikologis dan sosial, baik terhadap kombatan maupun non kombatan. Secara kasar, 20% dari 300.000 tentara AS yang telah berperang di Irak dan Afghanistan menderita atau akan menderita PTSD. Lebih banyak tentara mati karena bunuh diri dibanding karena pertempuran. Satu dari 6 warga sipil di daerah yang terkena dampak perang memiliki gangguan jiwa (hal.6).

Misi Pentagon yang diproklamirkan adalah “dominasi spektrum penuh di setiap domain: laut darat, udara, ruang dan informasi” (hal. 9). Basis yang dirancang untuk menghentikan penyebaran komunisme tidak berhenti saat Uni Soviet jatuh. Mereka sekarang ditambah dengan operasi rahasia CIA, “operasi lily pad”, yang juga disebut  “operasi hitam” karena bersifat rahasia (hal.10). Penyebaran senjata nuklir dapat menyebabkan penggunaannya, baik dengan sengaja atau maupun tidak sengaja, yang menyebabkan kelaparan dan kematian global. Kebijakan paranoia nuklir menyamar sebagai “realisme strategis” yang memandu kebijakan nuklir AS (hal.11).

Ada banyak kesempatan bagi AS untuk mengevaluasi kembali perangnya yang terus-menerus. Reagan disengat oleh kekalahan AS di Vietnam dan Korea. Alih-alih belajar, Reagan justru bertekad untuk mengalahkan sindrom Vietnam, yaitu kebutuhan untuk mengakui bahwa masa dominasi kolonial telah berakhir. Reagan meluncurkan apa yang disebutnya. “Operasi Fury”. Dia merayakan kemenangan atas pulau kecil Grenada (hal.55-56). Dower mencatat bahwa di setiap perangnya, musuh AS tidak pernah memiliki angkatan udara, atau kekuatan militer yang mumpuni.

Alih-alih belajar dari kekalahan invasi Bay of Pigs di Kuba, AS justru mendanai SOA (School of the Americas) untuk memberikan dukungan rahasia kepada rezim sayap kanan Amerika Selatan yang bekerja sama dengan bisnis AS dalam membiarkan pemerintah AS dan perusahaan AS untuk secara brutal mengeksploitasi sumber daya mereka. Operation Condor AS juga membantu membunuh ribuan orang untuk mendukung diktator brutal di Argentina, Cile, Uruguay, Brasil, Paraguay, Bolivia, Ekuador dan Peru (hal. 59). Siapa pun yang mempromosikan keadilan sosial atau mengkritik kediktatoran brutal kemudian diberi label Komunis dan dibunuh. Dower menunjukkan bahwa School of the Americas mengusir, menyiksa, dan membunuh lebih banyak orang daripada Uni Soviet dan negara satelitnya di Eropa Timur ketika Uni Soviet jatuh (hal. 69).

Masih banyak lagi aksi predator dan kekerasan pemerintah AS yang digunakan Dower untuk menggambarkan kekerasan masa lalu di mana AS, sebagai sebuah negara, telah berpartisipasi. Dia menunjukkan bahwa sekarang AS terlibat dalam perang yang tak berujung, “Perang Global Melawan Teror”, yang membenarkan perluasan global yang tak ada habisnya.

Buku Dower sangat layak dibaca. Buku tersebut memberikan informasi yang berguna dan sangat penting bagi para ahli sejarah. Ada dua area yang Dower seharusnya dieksplorasi lebih dalam oleh Dower. Salah satu hal yang penting untuk memahami toleransi Amerika terhadap perang tak berujung, adalah bahwa sektor di mana AS yang paling mendominasi dunia adalah bidang militer.

AS adalah produsen mesin perang nomor satu di dunia. Pemimpin AS membutuhkan perang untuk terus mempertahankan keuntungan, sesuai dengan apa yang C. Wright Mills sebut sebagai industri Militer AS yang kompleks. Buku dower akan lebih baik lagi jika dia memasukkan analisis faktor ekonomi dalam mempertahankan perang abadi.

(AB/seraamedia)

 

Baca juga, 11 SEPTEMBER HARI RUNTUHNYA KESOMBONGAN AMERIKA