Duniaekspress, 8 November 2017. – Sembilan militan ISIS tewas dalam bentrokan dengan tentara pemerintah Filipina di kota Marawi, Ahad (5/11) beberapa minggu setelah Kepala Pertahanan Delfin Lorenzana mengumumkan untuk mengakhiri operasi tempur di sana.

“Salah satu yang tewas adalah Ibrahim Maute, alias Abu Jamil, sepupu saudara laki-laki Maute yang memimpin serangan ke kota tersebut,” Kata Kolonel Romeo Brawner Jr, seperti dikutip Anadolu Agency, Senin (6/11/2017).

“Operasi kliring yang sedang berlangsung oleh pasukan pemerintah menyebabkan pertempuran sengit dengan militan mulai fajar hingga sore hari Minggu yang mengakibatkan kematian para teroris, tambah Brawner.

“Jadi, militer memperingatkan masyarakat bahwa daerah pertempuran utama masih terlarang karena bahaya yang ditimbulkan oleh pelaku teror,” ujar Brawner.

Kepala Polisi Ronald Dela Rosa mengungkapkan sebelumnya bahwa Daesh telah memilih pembuat bom teroris Malaysia Amin Baco, yang diyakini masih berada di daerah pertempuran Marawi, sebagai pemimpin barunya di Asia Tenggara.

“Ini bukan untuk meremehkan dia, tapi dia tidak bisa lagi mengerahkan jumlah tentara sebanyak itu (pemimpin Abu Sayyaf Isnilon) yang dilakukan Hapilon,” kata Lorenzana di sela-sela perayaan di Camp Aguinaldo yang menandai ulang tahun Departemen Pertahanan Nasional .

Baca Juga: INILAH AMIR BARU ISIS ASIA TENGGARA

Militer, bagaimanapun, berpendapat bahwa Baco terbunuh dalam bentrokan dan bahwa kelompok tersebut sekarang “tanpa pemimpin dan tanpa arahan”.

“Amin Baco diyakini termasuk di antara mereka yang terbunuh di Marawi baru-baru ini. Pasukan Baco sekarang menjadi subyek pencarian agresif yang sedang berlangsung, “kata juru bicara militer Mayjen Restituto Padilla.

Selain Baco, militer juga mencari seorang teroris Indonesia yang diidentifikasi sebagai Mahalan dan Abdullah Hapilon, putra mantan amnir Daesh Hapilon, menurut komandan Komando Mindanao Barat Letnan Jenderal Carlito Galvez Jr.

“Saya memberikan arahan kepada komandan tanah kami bahwa begitu kami mendapatkan Amin Baco dan Hapilon, kami telah mematahkan rantai ISIS Maute dan Abu Sayyaf di Mindanao,” kata Galvez.

Lebih dari 300.000 penduduk Marawi yang melarikan diri dari kota tersebut saat kelompok Abu Sayyaf dan Maute yang terkait dengan Daesh melakukan serangan pada 23 Mei belum kembali.

Bentrokan di kota Filipina selatan tersebut mendorong Presiden Rodrigo Duterte untuk menempatkan semua pulau Mindanao di bawah darurat militer, yang tidak akan berakhir sampai akhir tahun. (IF)