Duniaekspress, 8 November 2017. – Pemberontak Houthi mengatakan bahwa mereka bersedia menawarkan suaka politik untuk pangeran Saudi di Yaman, pernyataan tersebut terkait dengan Pangeran Mahkota Saudi Mohammed bin Salman yang melakukan pembersihan anti-korupsi terbesar dalam sejarah modern kerajaan tersebut.

“Bahwa setiap pangeran Saudi atau pengungsian nasional akan disambut oleh Yaman, saudara dekat mereka,” kata seorang sumber yang dekat dengan pimpinan Houthi kepada Al Jazeera pada hari Selasa, (7/11/2017).

“Kami siap untuk menawarkan perlindungan kepada anggota keluarga Al Saud atau warga Saudi manapun yang ingin melarikan diri dari penindasan dan penganiayaan,” tambah sumber tersebut.

Tawaran itu “100 persen asli” dan Houthi tidak tertarik untuk mendapatkan “keuntungan politik” dari situasinya, sumber tersebut mejelaskan.

Baca Juga: INI SEBABNYA MENGAPA TRUMP DUKUNG PANGERAN SALMAN

Pada hari Minggu, 11 pangeran, empat menteri, dan beberapa mantan menteri ditahan dalam apa yang dilihat sebagai tindakan keras yang telah terjadi sebelumnya yang telah mengguncang kerajaan tersebut.

Daftar tahanan termasuk investor internasional Arab Saudi yang paling terkenal, miliarder Pangeran Alwaleed bin Talal, dan menteri senior yang baru-baru ini dipecat seperti Pangeran Mitaab bin Abdullah, kepala Garda Nasional, dan Adel Faqih, menteri ekonomi.

Setelah pengumuman tersebut, Mohammed Ali al-Houthi, presiden Komite Revolusi pimpinan Houthi, dan sepupu pemimpin kelompok tersebut Abdel-Malik al-Houthi, mengatakan bahwa setiap “target rezim” Saudi akan diterima di Yaman.

“Kepada sesama warga Al Saud, kepada siapa pun di keluarga yang berkuasa, kepada karyawan atau orang yang merasa ditargetkan oleh rezim kami siap menyambut Anda dengan tangan terbuka untuk tinggal bersama kami sebagai saudara laki-laki kami yang tertindas,” tulis Houthi pada laman twitternya.

Perombakan pemerintah Saudi terjadi beberapa bulan setelah Raja Salman mengganti keponakannya Mohammed bin Nayef dengan putranya Mohammed sebagai putra mahkota kerajaan.

Mohammed bin Salman, 32, bertanggung jawab untuk mempelopori perang di Yaman yang telah menewaskan sedikitnya 10.000 orang, melukai 40.000 lainnya, dan mendorong negara itu ke ambang kelaparan.

Operasi militer juga dipersalahkan karena penyebaran kolera, di mana diperkirakan 500.000 orang Yaman telah menderita. (IF).