AL-QAIDAH PELOPOR JAMA’AH JIHAD BARU DI ABAD INI

Duniaekspress, 9 november 2017. – Kemunculan jamaah-jamaaah jihad telah mewarnai perjalanan umat  Islam dalam usaha mengembalikan tegaknya kekhalifahan sejak keruntuhannya pada tahun 1924. Dinamika jamaah-jamaah jihad mulai menggeliat di era 60an dan berkembang dinamis di era 80an dengan munculnya jihad di Afganistan.

Dalam perjalannya banyak jamaah yang tetap eksis hingga hari ini dan tidak sedikit pula yang redup  dan kemudian hilang dari peredaran zaman terutama setelah kampanye war of terrorism oleh Amerika paska serangan WTC. Faktor redup dan bubarnya sebuah jamaahpun bermacam-macam, namun bermuara pada dua sebab yaitu internal dan eksternal.

Secara internal di antaranya manhaj yang tidak lurus, stagnan dalam kaderisasi, ekslusif, kelelahan karena panjangnya perjalanan dan masih banyak lagi. Adapun faktor luar bisa berupa infiltrasi, penghancuran, perubahan sosial dan geopolitik yang melingkupi ruang gerak jamaah dan lain-lain.

Syaikh Abu Muash’ab As-Suri memberikan catatan bahwa selama dekade terakhir di abad 20, program perang melawan terorisme telah mampu membubarkan berbagai organisasi jihadi rahasia, mengalahkan mereka secara militer, mengisolasi mereka dari masyarakat pendukung dan simpatisan, menciderai citra mereka, mengeringkan sumber finansial dan sumberdaya lainnya. Membuat segenap elemennya menjadi pelarian (tidak punya rumah), menempatkan mereka dalam kondisi ketakutan konstan, kelaparan, kehilangan modal dan pendukung.

Secara bertahap, berbagai organisasi rahasia jihadi itu punah atau bubar dan grup-grup kecil yang tersisa menjadi pengungsi di timur atau di barat, dikejar-kejar, bersama keluarga mereka dan anak-anak mereka. Kaum terlunta-lunta karena agama dan aqidah. Di sana sini diintai bahaya, keadaan itu tentu sulit membuat mereka produktif.

Rezim fir’aun Hasan II telah memusnahkan jamaah jihad, bahkan sebelum tumbuh bertunas, usaha membentuk tandzim jihadi ‘organisasi pemuda maroko’  (Tandzim al shabibah al magribiyah) di maroko pada akhir tahun 1960an.

Hal yang sama juga berhasil dilakukan oleh rezim Khadli Bendjedid di Al-jazair pada pertengahan 1970an, ketika mereka menghancurkan ‘Gerakan Negara Islam’ (Harakat ad daulah al Islamiyah) tanpa kesulitan berarti.

Dinas rahasia rezim zindiq Baats Nushairi di Syria berhasil menghancurkan ‘Pejuang Pelopor Ikhwanul Muslimin’ (Ath thali’ah al muqotilah lil ikhwanul muslimin) setelah bergulat menghadapi revolusi bersenjata selama satu dekade, sepuluh tahun sebelum ditetapkannya Tata Dunia Baru, duapuluh tahun sebelum 11/9. Dan mereka memusnahkannya secara total.

Rezim fir’aun Mesir yang jahat di bawah kepemimpinan Hosni Mubarak (semoga Allah tidak memberkatinya) mampu mengakhiri seluruh tanzhim jihadi di Mesir, satu persatu. Yang terakhir dari mereka adalah organisasi rahasia Jamaatul Jihad dan Jamaah Islamiyah, yang berhasil dihancurkan pada pertengahan 1990an. Dinas intelijen Mesir berhasil membubarkan organisasi mereka, dan hampir seluruh pimpinannya serta segenap pengikutnya ditangkap.

Realitas Internal Jamaah

Dalam masalah manhaj misalnya, adakalanya sebuah jamaah redup atau hilang sama sekali atau masih eksis namun terjadi pergeseran orientasi disebakan oleh manhaj jamaah yang tidak sesuai dengan manhaj Islam yang lurus. Ada di antaranya menerapkan periodisasi dalam pergerakanya. Mereka mentukan ini periode makkiyah misalnya, dan menerapkan di dalam jamaah hukum yang sesuai dengan pereode tersebut.

Sehingga terjadi penafian terhadap pelaksanaan syariat sacara komperhensif oleh karena mereka menolak pelaksanaan syariat di luar periode tersebut. Sebagai akibatnya perjalanan jama’ah seperti ini justru semakin jauh dari rel penegakan syariah.

Kurangnya ilmu syari yang memadai dalam jama’ah juga mempunyai andil besar dalam kemunduran bahkan kehancuran jamaah jihadiyah Syaikh athiyatullah al-Liby menceritakan pengalaman beliau yang sangat berharga ketika berjihad di Aljazair. Beliau mengamati hancurnya pergerakan jihad di sana disebabkan masalah ini.

Menurut pemahaman yang beredar di antara para anggota jama’ah di sana bahwa mengenakan sorban merupakan sunnah. Namun sunnah yang mereka pahami adalah sebagai kebenaran absolut yang berkonotasi al haq yang lawanya adalah al batil. Sehingga ketika ada orang atau siapapun yang tidak mengenakanya disebut laisa ala sunnah yang berkonskwensi dia alal bathil (di atas kebathilan) yang boleh diperangi.

Akibatnya banyak dari kelompok- kelompok jihad saling serang dan berperang hanya karena masalah tidak menjalankan sunnah yaitu mengenakan sorban, sungguh sangat ironis! Akibatnya terkoyak dan hancurlah perlawanan mujahidin dalam menghadapi thoghut di wilayah itu dalam beberapa tahun saja.

Belum lagi masalah kaderisasi yang kurang berjalan dengan baik, ketika para godah dari jama’ah jihad mengalami penangkapan atau terbunuh. Para pengganti dibelakang mereka tidak sekaliber para pemimpin sebelumnya sehingga perjalanan jamah menjadi tidak dinamis.

Ada lagi fenomena taroju’ jamaai, sebuah jamaah tiba-tiba mengubah haluan untuk bemudahanah dengan musuh setelah merasa kelelahan berpuluh tahun angkat senjata dan belum membuahkan hasil Akhirnya mereka mau memasuki babak perundingan dengan musuh yang acapkali menjadi jebakan yang menghinakan mereka.

Sebelum era 80 an, kemunculan jamaah jihadiyah kebanyakan bersifat regional atau bergerak disatu teretorial tika tertentu dengan agenda dan cita-cita yang tidak jauh berbeda, yaitu menegakkan Islam kembali di teritorial mereka masing-masing. Namun kemunculan jihad di Afganistan mulailah mucul era baru dalam model pergerakan jama’ah jihad.

Ditandai dengan muculnya tandzim Qaidatul jihad atau lebih dikenal dengan at tandzim Al-Qaidah mulai mengenalkan model pergerakan jama’ah jihad yang sebelumya bersifat regional dan nasional menjadi jama’ah yang bersifat alamiyah atau internasional. Para pemimpin atau kader dari jama’ah-jama’ah jihad yang mengirimkan anggotanya untuk berjihad di Afganistan kemudian mulai mentransfer jihad ala al-Qaidah.

Mereka saling berinteraksi melewati batas-batas teritorial kenegaraan sekalipun. Kondisi ini mencapai puncak keemasanya ketika Taliban berhasil menjadi pengusa di Afganistan. Sel-sel Al-Qaidah yang berbasis jama’ah-jama’ah jihad diseluruh dunia banyak mengirimkan kadernya untuk berlatih di kamp-kamp yang bertebaran di wilayah Afganistan dan perbatasan Pakistan.

Kondisi ini terus berlangsung hingga jatuhnya pemerintahan Taliban oleh pasukan koalisi pimpinan Amerika paska serangan September 2001. Jatuhnya Taliban ternyata bukan akhir dari perlawanan jihad global, justru para kader mujahidin menyebar ke seluruh penjuru dunia terutama di wilayah Afrika, Eropa dan bahkan jauh sampai kewilayah bekas Uni Soviet di Chechnya dan Dagestan.

Di sini peran Al-Qaidah sebagai jama’ah jihad tampak sangat menonjol dalam membidani, memberikan arahan dan dalam mengobarkan semangat jihad melawan Amerika dan sekutunya. Banyak dari jama’ah-jama’ah jihad yang akhirnya merapat keporos Al-Qaidah dalam perang ini. Dan tidak berlebihan jika Al-Qaidalah yang telah sukses menginisiasi munculnya perlawan jihadiyah melawan tiran diberbagai wilayah dunia hingga hari ini. Kemunculan Daulah islamiyah di Irak pun tidak lepas dari kontribusi Al-Qaidah, meskipun akhirnya mereka melepaskan baiat setianya kepada Al-Qaidah.

Perjalanan Al-Qaidah bukannya mulus tanpa rintangan, sebab organisasi mereka membentang dari daratan Eropa hingga Asia, Afrika dan bahkan sel-sel mereka telah aktif hingga ke jantung Amerika. Hampir disemua tempat terjadi konfrontasi dengan lawan, bahkan Amirnyapun syaikh Usamah Bin Ladin telah berhasil dibunuh oleh Amerika di Abbotabat Pakistan. Namun hingga kini Al-Qaidah tetap eksis dan bahkan banyak kalangan yang menilai Arab Springs adalah sebagai tanaman yang tumbuh subur dari semaian Strategi mereka.

 

Matang Dalam Berjihad

Manhaj yang lurus, berjihad bersama Ummat, adaptif dengan perubahan zaman, tidak eksklusif, konsisten dan cerdik dalam menentukan musuh. Kematangan strategi Al-Qaidah bisa dilihat dari arahan Hazim Madani salah seorang mentor Al-Qaidah dalam risalahnya Hakadza narol jihad.

 

Kaderisasi Yang Tidak Terputus

Serangan demi serangan yang dilancarkan Amerika dan sekutunya telah banyak menelan korban dari para qodah dan anggota tandzim Al-Qaidah baik yang ada ditangkat pusat atau diwilayah cabangnya seperti AQAP di Yaman, di Somalia maupun di Waziristan. Namun Al-Qaidah mampu dengan cepat mendapatkan pengganti mereka yang tidak kalah cakap dari pendahulunya. Ini menunjukan pengkaderan tandzim yang berjalan dengan baik dan dinamis.

 

Adaptif Dengan Perubahan Zaman

Ketika batas-batas teretorial negara-negara semakin sulit ditembus setelah di kibarkanya war on terrorism oleh Amerika dan sekutunya, maka Al-Qaidah dengan cerdik memanfaatkan dunia maya sebagai wahana penyebaran fikrah jihadnya, bahkan sebagai media komunikasi dan arahan kepada anggotanya di seluruh dunia. Sekaligus mengedukasi kaum muslimin dalam berjihad. Terbitnya berbagai media online dan majalah resmi seperti  Inspire adalah bentuk kepiawaian Al-Qaidah menghadapi tantangan zaman.

Sebenarnya terlalu sempit tulisan ini untuk menggambarkan secara utuh tentang perjalanan jihad Al-Qaidah, namun –la nuzakki alallahi ahadan– sungguh kita menyaksikan bahwa Al-Qaidah adalah sebuah gerakan Jihad Islam yang syumul yang bersifat Rabbaniyah (berorientasi Al-Qur’an dan Sunnah), Manhajiyah (metodologis), Marhaliyah (bertahap), Aulawiyat (punya prioritas), Waqi’iyah (realistis), Tawazun (punya pertimbangan), Asriyah (modern).

Sebuah gerakan yang bisa mengkompromikan antara fiqh dalil dan fiqh realitas, fiqh prioritas dan fiqh komparasi, dan gerakan yang tetap terus berada di atas manhaj yang lurus, aqidah yang salim, yaitu Al Qur’an dan As-Sunnah. Hingga tetap eksis menghadapi kekuatan koalisi jahat terbesar dalam sejarah manusia hingga hari ini. (AB/lasdipo)

Baca juga, MEMBACA STRATEGI TERBARU MUJAHIDIN AL-QAIDAH