Benarkah perang yang dilakukan ISIS/IS selama ini?
oleh: Abu Ayyash.
Duniaekspress, 11 november 2017.
Tanya : Assalamu Alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ijin bertanya Ustad, saya suka video ISIS yang berperang dengan orang kafir, tapi saya suka bingung apakah mereka kafir betulan, katanya sih perang melawan orang murtad, tetapi saya tidak suka mereka mengkafirkan secara serampangan, kok mereka mengkafirkan HAMAS, memerangi Thaliban, Al-Qaeda dll, ini saya lihat sendiri di majalah Dabiq milik mereka, tetapi saya sudah terlanjur bai’at dengan mereka, menurut Ustad saya harus bagaimana ?
Jawab : Wa Alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, menurut pendapat saya, keluar saja dari Jamaah tersebut, bertaubat dan beramalah sesuai Sunnah, Ustad Abu Thalut Al-Jawi pernah di tanya pertanyaan serupa,  kata beliau telah berlaku kaidah umum yaitu :
حكم الطائفة يستلزم حكم الافراد مالم يظهر لنا خلاف ذالك في حق شخص معين
Artinya: Hukum suatu kelompok menetapkan hukum perseorangan sepanjang belum ada kejelasan bagi kami sesuatu yang menyelisihinya pada diri orang tertentu. Misal, jika suatu kelompok telah jelas dihukumi sebagai khawarij maka semua orang yang berperang membela kelompok khowarij tersebut dibawah panji khowarij terkena hukum sebagai khawarij. Kaidah ini lahir diantaranya dari hadits tentang dihukuminya paman Nabi SAW  yang tertawan dalam perang Badr yaitu Abbas bin Abdul Muthalib sama dengan musyrikin quroisy lainnya meskipun beliau menyatakan dirinya muslim tetapi zhohirnya berada dalam barisan musyrikin Quraisy dan berperang dibawah panji Syirik.
2) Lawan dari jihad li takuna kalimatulloh hiyal ‘ulya adalah jihad/perang dibawah panji ‘ummiyah, dan termasuk jenis perang dibawah panji ‘ummiyah adalah berperang dibawah panji aliran sesat seperti Khawarij, berikut hadits Nabi yang menunjukkan bahwa orang seperti ini jika terbunuh bukan syahid tetapi mati jahiliyah, posisinya seperti orang yang berjihad dengan riya’.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:”من قتل تحت راية عمية يدعوا الى عصبية او ينصر عصبية فقتلته جاهلية
Artinya : Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Siapa yang terbunuh dibawah panji ‘ummiyah (tidak jelas tujuannya atau panji kesesatan seperti sekte sesat diluar ahlussunnah), dia menyeru kepada fanatisme golongan dan membela fanatisme golongan maka keterbunuhannya itu jahiliyah (HR Muslim dari Jundab bin Abdullah RA)
Royah ummiyah tidak mesti bermakna royah kufriyah.
3) Para ulama mengatakan:
التكليف يتبع العلم
Artinya: Suatu kewajiban mengikuti ilmu. Maksudnya, bila kita menerapkan hukum atas seseorang atau kelompok atas dasar ilmu yang kita miliki tentang kondisi yang bersangkutan. Jika seseorang dalam barisan Khowarij sudah memperoleh keterangan bahwa yang dia ikuti adalah Khawarij tetapi tetap membelanya maka dia terkena hukum sebagai penganut khowarij kecuali dia tidak mendapatkan jalan keluar untuk bergabung dengan kelompok ahlussunnah sehingga terpaksa berada didalam barisan khowarij untuk memerangi salibis dengan Syarat niat ikhlas litakuna Kalimatullah hiyal ulya, adapun soal niat ini urusan dia dengan Allah Ta’ala. Adapun kita hanya dapat menghukumi zhohirnya dia berada dalam shof Khawarij maka hukumnya sebagai Khowarij yang berperang dibawah panji ummiyah ( dari artikel Ustad Abu Thalut dengan sedikit tambahan dan edit ), selesai. Adapun tambahan saya adalah, Adapun jika antum tidak mengkafirkan orang-orang yang dikafirkan oleh Daulah Khilafah maka Alhamdulillah, semoga ini menjadi jalan hidayah antum dengan sebab di atas, akan tetapi berkenaan di atas Imam Syatibiy mengatakan ‘’ Orang yang menisbatkan dirinya kepada bid’ah tidak lepas dari sebagai: Mujtahid atau muqallid.
Dan bagi muqallid (pengikut): baik dengan menetapkannya dengan dalil yang disangka oleh mujtahidnya sebagai dalil dan mengambilnya melalui pemikiran, atau muqallid tanpa dengan memikirkannya, seperti orang awam yang tidak bisa membedakannya. Maka ini ada tiga macam.(1)  Di sana ada pembuat bid’ah, ada orang yang mengikuti bid’ah dan ada taklid buta, lalu Asy Syathibi menjelaskan bahwa muqallid yang juga menggunakan dalil meskipun secara umum, maka dikatakan: hakekat masalahnya mengandung dua macam: mubtadi’ (pembuat bid’ah) dan muqtadi bihi (pengikutnya). Muqtadi atau pengikut ini seakan dia tidak masuk ke dalam ungkapan hanya sekedar ikut-ikutan, karena dia hukumnya muttabi’ (mengikuti dengan menggunakan dalil).
Dan mubtadi’ (pembuat bid’ah) dialah yang membuatnya, atau menggunakan dalil atas kebenarangan yang dia buat-buat itu, baik itu bagi kita mengambil dalilnya dari cara khusus dengan melihat kepada ilmu, atau dari cara umum, sesungguhnya Allah ta’ala mencela suatu kaum yang berkata: “Sesungguhnya kami dapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.” (QS. Az Zukhruf: 23).
Seakan-akan mereka menyandarkan kepada dalil umum, yaitu bapak-bapak mereka, karena menurutnya mereka itu adalah orang yang berakal, dan mereka berada di atas agama ini, tiada lain karena itu kebenaran, maka kami juga di atas hal itu, karena seandainya itu salah maka tidak mungkin mereka akan menyakininya.
Dan itu adalah teori pengambilan dalil bagi orang yang berdalil atas kebenaran bid’ahnya dengan perbuatan para syaikhnya dan orang yang mereka anggap lurus, dan tidak melihat posisinya sebagai ahli mujtahid dalam syariat atau dari ahlu taklid, dan tidak melihat posisinya dalam beramal karena ilmu atau bodoh.
Akan tetapi yang seperti ini, dimasukkan ke dalam pengambilan dalil secara umum, dari aspek dijadikan sebagai sandaran dalam mengikuti hawa nafsu dan membuang selainnya, maka barangsiapa yang mengambilnya, dia telah mengambil kebid’ahan dengan dalil yang serupa dengannya, dan ia masuk ke dalam golongan yang disebut dengan ahlul (ibtida’ atau bid’ah), artinya hak bagi orang yang mengambil jalan ini akan melihat kebenaran jika kebenaran itu datang padanya, dan mencarinya serta tidak tergesa-gesa, dan juga akan bertanya hingga kebenaran menjadi jelas baginya lalu ia mengikutinya atau kebathilan sehingga ia menjauhinya.
Oleh karena itu Allah ta’ala berfirman membantah orang yang berhujjah dengan apa yang telah disebutkan di atas: “(Rasul itu) berkata: “Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?” (QS. Az Zukhruf: 24). Dan firman Allah yang lain: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al Baqarah: 170). Dan firman Allah ta’ala: “Walaupun sebenarnya setan menyeru mereka ke dalam azab api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. Lukman: 21). Dan contoh seperti itu banyak lagi (2) .
Oleh karena itu ditetapkan bahwa setiap pengikut orang yang berbuat bid’ah dan membelanya maka ia sama sepertinya dalam dosa, dan berkata: begitu juga orang yang mengikuti Al Mahdi Al Maghribi yang dinisbatkan banyak sekali kebid’ahan di Maghribi kepadanya, maka ia dalam dosanya dan statusnya sama bersama orang yang diikutinya jika terbukti ia membela dan berhujjah dengannya. Semoga Allah melindungi kita dari sifat ta’ashub atau fanatik tanpa dengan bashirah (pandangan hati) terhadap kebenaran atas karunia dan rahmat-Nya.3
Dosa pelaku bid’ah bukan satu tingkatan
Adapun perbedaan dari sisi terjadinya ketika dharurat dan dari sisi merahasiakan dan menampakkannya, Jika sudah ditetapkan bahwa pelaku bid’ah itu berdosa, maka pada kondisi lapangannya tidak dalam satu tingkatan yang sama, akan tetapi dalam banyak tingkatan yang berbeda-beda, dan perbedaannya terjadi dari berbagai sisi kacamata fiqh. Berbeda-beda dari sisi keadaan pelakunya mengaku sebagai orang yang berijtihad atau dia muqallid (pengikut), dari sisi terjadinya karena dhorurat atau selainnya, dari sisi pelakunya sembunyi-sembunyi atau menampakkannya, dari sisi keberadaannya sebagai penyeru kepadanya untuk keluar dari yang lainnya atau tidak keluar, dari sisi keadaan bid’ahnya hakiki atau hanya tambahan saja, dari sisi keadaannya sudah jelas atau masih ada musykilah, dari sisi keadaannya sebagai kekufuran atau bukan kekufuran, dari sisi melakukannya terus menerus atau tidak, dan sisi-sisi lainnya yang mana dengan itu diputuskan tingkatan besarnya dosa atau tidak ada dosa atau menurut persangkaan kuatnya.”(4)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam “Majmu’ Al Fatawa”: “Suatu kelompok jika ia menang terhadap kelompok lainnya hingga menjadi orang-orang yang menolak dengan kekuatan maka mereka ikut serta dalam pahala dan dosa… karena pembela kelompok yang menolak dengan kekuatan dan penolongnya termasuk mereka, baginya maupun atasnya…. karena satu kelompok yang menolak dengan kekuatan sebagian dengan sebagian lainnya seperti satu orang”.(5)
Disebutkan dalam “Daqaaiqut Tafsiir” karangan Ibnu Taimiyyah: “Karena pembela kelompok yang menolak dengan kekuatan dan penolongnya termasuk mereka, baginya maupun atasnya.”(6)  Begitu juga dalam “Majmu Al Fatawa” beliau berkata: “karena pembela kelompok yang menolak dengan kekuatan dan penolongnya termasuk mereka, baginya maupun atasnya.”(7)
Dan beliau juga berkata lagi dalam “Daqaaiqut Tafsiir”: “Jika orang yang diperangi dan haram itu satu kelompok, diantara mereka ada yang secara langsung berperang dengan dirinya sendiri dan yang lain hanya membantu mereka, maka dikatakan: Sesungguhnya dibunuh yang memerangi secara langsung, sedangkan menurut jumhur ulama bahwa mereka semua dibunuh meskipun seratus orang, dan bahwa yang hanya menolong dengan yang langsung memerangi hukumnya sama. Ini yang ma’tsur dari para khulafa’ur rasyidin, sesungguhnya Umar bin Khattab ra membunuh Rabi’ah yang memberontak, dan Rabi’ah adalah pengintai yang hanya duduk di tempat yang tinggi, dari sana ia melihat siapa yang datang, dan karena yang secara langsung itu bisa benar-benar melaksanakan pembunuhannya dengan kuatnya dukungan dan bantuannya, dan sebuah kelompok yang saling menang terhadap lainnya hingga menjadi orang-orang yang menolak dengan kekuatan maka mereka ikut serta dalam pahala dan dosa seperti mujahidin, karena sesungguhnya Nabi Saw bersabda: “Kaum muslimin itu sama dalam darah mereka, dan berusaha untuk melindungin yang paling rendahnya, dan ia satu tangan dengan selainnya, dan pasukan sariyah mereka melindungi yang duduk-duduk (bukan pasukan) diantara mereka.” Artinya bahwa pasukan kaum muslimin jika melakukan ekspedisi satu regu pasukan lalu men dapat ghanimah harta maka sesungguhnya pasukan itu ikut serta dalam bagian ghanimah karena dengan kemenangan dan kekuatan mereka menjadi berkuasa, akan tetapi mendapatkan bagian dari naflun (harta ghanimah tanpa peperangan), karena Nabi Saw memberikan harta rampasan pada awalnya seperempat setelah seperlima, dan jika mereka pulang ke negeri mereka, lalu sariyah yang ditugaskan, maka mendapat harta rampasan sepertiga setelah seperlima, dan begitu juga jika pasukan mendapatkan ghanimah maka sariyah tadi juga ikut serta mendapatkannya, karena ia untuk kemaslahatan pasukan, sebagaimana Nabi Saw membagikan kepada Thalhah dan Zubair pada perang Badr karena keduanya diutus untuk kemaslahatan pasukan, maka penolong kelompok yang menolak dengan kekuatan dan pembelanya termasuk dari mereka, baginya dan atasnya.”(8)
KESIMPULAN
Penjelasan Tentang Macam-Macam Khawarij Masa Kini Dari Kelompok Daulah Islamiyah
Saya mencoba menukil Syaikh Dr. Muzhir Al-Waisy dalam kitabnya (9)  berdasarkan methodologi para ulama dalam menghukumi pelaku bid’ah tersebut diatas, maka bisa dikatakan bahwa jama’ah daulah adalah kelompok bid’ah (sesat) yang menolak dengan kekuatan, akan tetapi mereka bertingkat-tingkat sesuai dengan ilmu, amal dan bantuan mereka, dan sesuai dengan tingkat kebid’ahan dan niat mereka. Dan macam orang dari kelompok sesat ini ada tiga:
Macam yang pertama: Orang-orang khusus yaitu pelaku bid’ah. Mereka adalah orang-orang yang menyakini prinsipnya, condong dan meruju padanya dan mengetahuinya sebagai sebuah kebenaran seperti anggota majlis syar’inya dan para pemikir yang mengetahui secara detailnya, mereka ini tidak diperselisihkan akan kebid’ahannya.
Macam kedua: para pendukung kebid’ahan, mereka adalah para pengikut ahli syariat dan para pemimpin berpengalaman mereka dengan perkataan-perkataan yang mereka ikuti. Mereka ini mengikuti macam pertama.
Macam ketiga: orang-orang yang dihukumi pelaku bid’ah. Mereka ini para tentara awamnya dan orang-orang bodohnya. Yang membela bid’ah dan berperang dibawahnya karena taklid dan bersandar dengan dalil-dalil umum serta berbaik sangka dengan para pembesar mereka. Dan sudah diketahui bahwa individu yang berada di dalam kelompok yang menolak dengan kekuatan maka hukumnya sama dengan para pemimpin kelompok tersebut selama ia menolong dan membantu para pemimpin tersebut, dan penolongnya dapat dihukumi secara langsung, oleh karena itu dia diperlakukan dalam hukum di dunia seperti satu orang selama mereka menolak dengan kekuatan(10) . Waallahu A’lam
—————————————————————————
1. Al-I’tisham 1/252
2. Idem 1/282.
3. Al-I’tishom 1/286
4. Idem 1/286
5. Majmu Al-Fatawa 28/312
6.Daqaaiqut Tafsir Al Jami’ li Tafsiri Ibnu Taimiyyah, Taqiyyuddin Abul Abbas Ahmad bin Taimiyah Al Harrani Al Hanbali Ad Dimsyaqi, tahqiq: As Sayyid Al Julainid, Yayasan Ulumul Qur’an – Damaskus, cet: Kedua, 1404 H, 2/36.
7.Majmu Al-Fatawa 28/312
8.Daqaaiqut Tafsir 2/36
9.Alamatul Fariqoh Fie Kasyfi Dienul Mareqoh, diterjemahkan dengan judul Khawarij Modern oleh penerbit Anshar Al-Islam publising, cet pertama 2016
10.Idem 375. (RS)