“PENJELASAN ATSAR ALI BIN ABI THOLIB TENTANG PANJI HITAM PALSU (IS/ISIS)?”
Oleh: Syekh Hasan bin Farhan Al Maliky (dengan sedikit editan).
Duniaekspress, 11 november 2017. – Terdapat dalam kitab al Fitan karangan Nu’aim bin Hammad sebagai berikut:
ﺍﻟﻨﺺ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻔﺘﻦ ﻟﻨﻌﻴﻢ ﺑﻦ ﺣﻤﺎﺩ : ‏[ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺍﻟﻮﻟﻴﺪ ﻭﺭﺷﺪﻳﻦ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻟﻬﻴﻌﺔ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻗﺒﻴﻞ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺭﻭﻣﺎﻥ ﻋﻦ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻃﺎﻟﺐ ﺭﺿﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ : ﺇﺫﺍ ﺭﺃﻳﺘﻢ ﺍﻟﺮﺍﻳﺎﺕ ﺍﻟﺴﻮﺩ ﻓﺎﻟﺰﻣﻮﺍ ﺍﻷﺭﺽ ﻓﻼ ﺗﺤﺮﻛﻮﺍ ﺍﻳﺪﻳﻜﻢ ﻭﻻ ﺃﺭﺟﻠﻜﻢ، ﺛﻢ ﻳﻈﻬﺮ ﻗﻮﻡ ﺿﻌﻔﺎﺀ ﻻ ﻳﺆﺑﻪ ﻟﻬﻢ، ﻗﻠﻮﺑﻬﻢ ﻛﺰﺑﺮ ﺍﻟﺤﺪﻳﺪ، ﻫﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﺪﻭﻟﺔ، ﻻ ﻳﻔﻮﻥ ﺑﻌﻬﺪ ﻭﻻ ﻣﻴﺜﺎﻕ، ﻳﺪﻋﻮﻥ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺤﻖ ﻭﻟﻴﺴﻮﺍ ﻣﻦ ﺃﻫﻠﻪ، ﺃﺳﻤﺎﺅﻫﻢ ﺍﻟﻜﻨﻰ ﻭﻧﺴﺒﺘﻬﻢ ﺍﻟﻘﺮﻯ، ﻭﺷﻌﻮﺭﻫﻢ ﻣﺮﺧﺎﺓ ﻛﺸﻌﻮﺭ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ، ﺣﺘﻰ ﻳﺨﺘﻠﻔﻮﺍ ﻓﻴﻤﺎ ﺑﻴﻨﻬﻢ، ﺛﻢ ﻳﺆﺗﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺤﻖ ﻣﻦ ﻳﺸﺎﺀ ‏] ﺍ . ﻫـ .
Al Walid dan Rusydin mengabarkan kepada kami dari Ibnu Luhai’ah (Lahi’ah) dari Abu Qabil dari Abu Ruman dari Ali bin Abi Thalib ra., ia berkata:
“Jika kamu menyaksikan bendera-bendera hitam maka tetaplah di tanah dan jangan menggerakkan tangan-tangan dan kaki-kaki kamu. Kemudian akan muncul satu kaum yang lemah tidak dihiraukan (rendahan), hati mereka bagaikan batangan baja (kaku-keras) . Mereka adalah pemilik negara/kekuasaan,
mereka tidak setia kepada perjanjian dan kesepakatan, mereka mengajak kepada al haq tetapi mereka bukan ahlinya (yang berpegang teguh kepadanya). Nama-nama mereka menggunakan abu … abu …, nisbat mereka kepada desa-desa. Rambut mereka terjulur bagaikan rambut para wanita. Setelah itu mereka berselisih di antara sesama mereka sendiri , kemudian Allah menyerahkan al haq/kekuasaan-Nya kepada siapa yang Ia kehendaki.”
.
Perawi dalam Sanad:
1). Nu’aim bin Hammad al Khuza’i , penulis kitab. Beliau salah satu guru besar al Bukhari, walaupun masih diperselisihkan kualitasnya.
Dan kedua gurunya yaitu:
2). Al Walid bin Muslim dan 3) Rusyaid.
Al Walid bin Muslim seorang ulama penduduk Syam. Melakukan tindakan Tadlis taswiyah (memanipulasi dalam meriwayatkan hadis) hanya saja riwayatnya didukung oleh riwayat
Rusyaid bin Sa’ad . Dan ia (Rusyaid) dha’if/lemah dalam periwayatan hanya saja dukungannya dapat diterima sesuai dengan syarat yang ditetapkan Ahli Hadis.
4). Guru keduanya yaitu Ibnu Luhai’ah.
Ia seorang Qadhi/Jaksa dan ahli fiqih negeri Mesir. Ia juga masih diperselisihkan, hanya saja hadisnya terdapat di kitab-kitab Sunan (kitab Hadis).
5) Guru Ibnu Luhai’ah yaitu Abu Qabil al Ma’afiri.
Ia seorang Tabi’in yang senior. Ia tsiqah/jujur terpercaya dan alim tentang peristiwa-peristiwa peperangan.
6) Abu Ruman yang meriwayatkan langsung dari Imam Ali.
Ia sepertinya tidak dikenal, hanya saja riwayatnya dari Abu Qabil darinya sedangkan ia itu dikenal banyak mengetahui riwayat tentang malahim (kejadian-kejadian masa akan datang) menguatkan statusnya. …
Jadi secara global dapat dikatakan sanad ini lemah… Tapi bisa juga kamu katakan Hasan sanadnya jika bukti-bukti pendukungnya tersedia , seperti realita membenarkannya dan kedalaman ilmu Abu Qabil tentang peristiwa-peristiwa masa akan datang.
Penjelasan matan:
(1) Mereka orang-orang yang diabaikan/tidak dihargai. Kondisi ini sesuai kenyataan. Tidak ada yang menghiraukan mereka sehingga mereka menduduki separoh Irak dan mengalahkan pemberontak Suria.
(2) Hati-hati mereka bagaikan batangan baja … Ini juga nyata. Kekakuan hati mereka adalah kenyataan yang disepakati.
Kemudian redaksi kunci dalam hadis itu:
(3) Mereka pemilik negera (daulah) . Ini adalah kata kunci… Ia rahasia. Ia mukjizat. Ini juga terealisasi pada mereka, tidaklah mungkin dibuat-buat secara palsu oleh seorang pun sebelum 1200 tahun yang lalu.
(4) Mereka tidak menepati janji dan kesepakatan… Ini juga sesuatu yang pasti pada mereka. Dr. Al Mis’ari memiliki kajian terinci tentang kisah-kisah ingkar janji dan pembatalan kesepakatan sepihak mereka, bagaimana mereka menghabisi nyawa delegasi pihak lain dan juga para tamu… Memang sangat mengherankan sekali!
(5) Mereka mengajak kepada al haq sedangkan mereka bukan ahlinya. Ini juga terwujud pada mereka. Karena itu mereka menipu banyak orang sehingga mereka dianggap pemegang teguh agama. Pengenalan tentang sejatinya mereka sangat rapuh, karena manusia hanya mengikuti bayang-bayang mereka belaka.
(6) Nama-nama yang mereka pakai adalah kun-yah (dengan nama depan abu atau ummu) dan nisbah mereka mengguanakan desa. Abu Fulan al Baghdadi, atau fulan as Syisyani, Abu Fulan al Libi. Ini juga terwujud pada mereka bukan hanya pada segelintir mereka saja.
(7) Rambut-rambut mereka terjulur seperti rambut para wanita.. . Ini juga aneh sekali. Ini membuktikan bahwa para sahabat dan Tabi’in tidak menngunakan gaya rambut seperti itu. Panjang rambut mereka sedang-sedang saja, tersisir rapi seperti para bangsawan. (RPM)