SYAIKH WALID ASSINANI FIGUR ULAMA YANG TEGUH DALAM BERBAGAI UJIAN

Duniaekspress, 13 november 2017. – Kebenaran akan selalu bertentangan dengan kebatilan. Itu adalah sebuah sunnatullah yang tidak dapat dipungkiri. Keniscayaan ini selalu datang dan pergi setiap masa dan zaman. Ada Nabi Ibrahim simbol kebenaran berhadapan dengan Namrudz simbol kebatilan. Ada Nabi Musa berhadapan dengan  Fir’aun, ada Nabi Isa berhadapan dengan Herodes dan Nabi Muhammad berhadapan dengan tokoh-tokoh kafir Quraisy.

Begitu pula yang terjadi zaman ini. Ulama adalah pewaris para Nabi. Menyuarakan kebenaran dan melawan kebatilan adalah salah satu tugas utamanya. Para alim berdakwah menyebarkan kebenaran risalah Allah walau banyak hadangan. Dan kebatilan akan muncul dan menjadi tandingan di saat kebenaran disuarakan lantang.

Cercaan, hinaan, intimidasi, ancaman hingga jeruji besi dan berujung kematian adalah resiko menyuarakan kebenaran. Salah satunya adalah seorang alim yang disebut namanya di majalah Ar-Risalah Edisi 3 Shafar 1439 H. Nama ulama ini disebut pada halaman 7 dan dikatakan didalamnya ia telah dipenjara selama 23 tahun karena bersuara lantang menyuarakan kebenaran. Usut punya usut ia dipenjara karena mengkritik pemerintah Saudi dalam persoalan Ghazwul Khalij (perang Teluk) dan meminta bantuan pasukan asing (Amerika) dalam rangka perang melawan Shaddam.

Selain itu, satu hal lagi yang membuat namanya melambung adalah ketika ia mendiskusikan masalah keabsahan pemerintah Saudi menurut kacamata syariat. Atas keberaniannya ini ia dijatuhi hukuman penjara 15 tahun. Namun sampai saat ini sudah memasuki tahun ke-23 belum ada kejelasan dan ia masih dipenjara di Al-Hayir. Ulama pemberani yang terdzalimi ini adalah syaikh Walid As-Sinani hafidzahullah.

Mengenal syaikh Walid As-Sinani

Nama lengkapnya adalah Walid bin Shalih bin Hamad bin Ali bin Muhammad As-Sinani Al-‘Aamiry As-Subai’.  Dari kabilah Suba’i Berasal dari kota ‘Unaizah. Nama kunyahnya Abu Subai’. Lahir di Riyadh tahun 1385 Hijriyah. Ayahnya seorang pekerja yang mengambil bagian dalam pekerjaan bersama para mujahidin. Setelah terjadi unifikasi kerajaan Arab, ia pindah ke sebuah tempat bernama ‘Asir‘Asir adalah sebuah provinsi di Arab Saudi yang terletak di sebelah barat daya. ‘Asir berbatasan langsung dengan Yaman.

Walid tumbuh di sebuah keluarga yang memperhatikan pendidikan agama. Selain dari pendidikan ayahnya, ia sangat terpegaruh dalam pendidikan dari saudaranya Ahmad As-Sinani, seorang khatib yang tegas dalam memerangi kemungkaran. Dari saudaranya inilah Walid mempelajari prinsip Al-Wala wa Bara’. Bisa dibilang sejak kecil kehidupannya selalu bergelimang dengan ulumuddien. Terlebih sejak orang tuanya berpisah, Walid berada di bawah bimbingan Ahmad As-Sinani yang sangat religius.

Perjalanan pendidikan formalnya berjalan seperti pada umumnya. setelah menyelesaikan pendidikan di  Institute al-Ma’had al’Ilmi Tsanawiyyah kota Riyadh, ia pun melanjutkan kuliah di salah satu universitas Saudi fakultas Ushuluddin. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena ia merasa tidak cocok dengan sistem pengajarannya.

Walid lebih cocok dengan sistem pengajaran mulazamah kepada masyayikh dan membaca literatur di perpustakaan. Kebetulan saat itu ia bekerja di perpustakaan Universitas Al-Imam, sembari bekerja ia memperkaya ilmu dengan membaca seluruh kitab induk yang ada.

Ia pun mempelajari berbagai disiplin ilmu tetapi ia lebih mengkhususkan diri mendalami ilmu aqidah, tarikh, nasab dan bahasa. Walid juga melazimi durus (kajian-kajian) syaikh Shalih al-Fauzan. Ia juga memiliki ikatan dengan mufti Saudi, Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh.

Di antara guru-gurunya yang memberikan pengaruh pada diri Walid adalah Syaikh Hamud At-Tuwaijiry dan Syaikh Abdurrahman Ad-Dausury, bahkan ia menghafal perkataan-perkataan gurunya. Walid pun sangat konsen pada tauhid dan risalah-risalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Dalam ilmu bahasa, Walid menguasai ilmu nahwu dan sharaf dengan baik.

Walid dikenal berkepribadian mulia sebagaimana tabiat orang arab asli yang terkenal dengan adabnya. Jiwanya teduh, tawadhu’ dan jujur dengan apa yang ia imani dari agama Allah. Ia juga terkenal sebagai orang yang sabar, tabah sekaligus pemberani mengungkapkan argumen dalam diskusi. Walid adalah seseorang yang selalu antusias dengan apa yang ia yakini dan blak-blakan dalam masalah amar ma’ruf nahi munkar.

Siapa yang mengenal baik Walid, maka akan mendapati bahwa ia adalah seseorang yang wara’, ringan tangan, berjiwa tenang dan tidak peduli dengan kemalangan yang menimpanya di dunia. Baginya hidup hanyalah untuk keridhaan-Nya, apapun yang terjadi padanya di dunia bukanlah masalah selama itu di jalan-Nya. Di antara hal yg lucu adalah pasca penangkapannya dia langsung tidur seperti biasa dan para perwira militer pun kaget, dan salah satu mereka berkata , “anta ra’suka fashih” maksudnya sebuah ungkapan terhadap seseorang yg tidak peduli dengan bahaya yg dihadapinya.

Perubahan Pemikiran

Sebelum terjadinya krisis Teluk pada 1990, Walid adalah salah satu pendukung dan pembela Arab Saudi. Ia mempercayai sepenuhnya legitimasi Saudi sebagai negara yang berdasarkan syariat. Namun, dukungan penuh itu  tiba-tiba hilang setelah munculnya fatwa resmi dari Ha’iah Kibar Ulama tentang permintaan bantuan kepada Amerika soal krisis Teluk. Sejumlah 500.000 ribu pasukan Amerika masuk ke Tanah Suci lantaran keputusan krusial ini. Seketika itu juga Walid berbalik arah menentang kebijakan pemerintah Saudi.

Walid menganggap kejadian ini menjadi titik balik batalnya pemerintahan Saudi yang ia dukung selama ini. Menurutnya fatwa ulama bisa disesuikan dengan keinginan penguasa bukan berdasar Al-Quran dan Sunnah lagi. Awalnya hal ini dipandang sebelah mata oleh pemerintah karena Walid hanya membicarakan hal ini pada forum-forum khusus saja. Namun, ini menjadi hal yang mengkhawatirkan ketika Walid mulai membuka suara dan berdiskusi dengan para ulama kibar soal legitimasi sebuah negara.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah memanggil Walid untuk mengklarifikasi karena banyak muridnya yang memberitahukan soal ini. Walid pun datang dan berdiskusi panjang dengan syaikh Ibnu Utsaimin tentang kekafiran sebuah negara. Setelah diskusi panjang, syaikh Ibnu Utsaimin sepakat dengan kebenaran yang dikemukakan Walid secara global dan memahaminya. Namun, kebenaran itu sulit untuk direalisasikan karena takut terjadinya fitnah.

Penangkapan Walid As-Sinani

Kabar tentang diskusi antara syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dan  Walid As-Sinani –Hafizahullah -pun tersebar luas. Pihak kementerian dalam negeri mulai gusar bahwa hasil diskusi ini akan mempengaruhi ulama dan khalayak luas. Akhirnya pada bulan Jumadil Awal 1416 H/1995, Walid ditangkap ketika duduk di masjid bakda magrib menunggu dikumandangkannya adzan isya’.

Walid ditempatkan di dalam sel khusus dan sulit untuk mendapatkan izin bertemu dengan siapapun. Namun, ada beberapa ulama yang di penjara tahun 90-an seperti syaikh Salman, syaikh Safar, syaikh Said bin Zair dan lainnya diberi keleluasaan bertemu dengan Walid. Pembolehan itu sebenarnya bertujuan agar para masyayikh bisa mempengaruhi pemikiran Walid.

Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Pemerintah justru khawatir para ulama itu justru ikut arus pemikiran Walid karena memang ia dikenal sebagai pendebat ulung dengan hujjah yang kuat. Karena kekhawatiran inilah pada akhirnya Walid tidak diizinkan dijenguk siapapun hingga pengadilan pertama diselenggarakan.

Persidangan Pertama

Walid menjalani sidang pertamanya di pengadilan ibu kota, Riyadh. Hakim ingin berusaha membuat keputusan yang sesuai dengan keinginan pemerintah. Hakim mengatakan bahwa hukuman kepadanya merupakan diperingan dengan satu syarat. Syaratnya adalah Walid harus menghentikan seluruh pembicaraan yang sedang booming saat itu.

Walid menolak dengan mentah-mentah syarat itu. Baginya apapun yang terjadi pada dirinya di dunia ini bukanlah suatu masalah. Mendengar jawaban tegas ini, hakim memutuskan Walid untuk diisolasi selama 7 tahun dari 1423 H hingga 1430 H. Selama pengasingan itu, Walid dilarang untuk dikunjungi, mengunjungi dan berkomunikasi via apapun. Selama 7 tahun ini Walid seolah bener-benar hilang dari muka bumi walau sebenarnya dirinya masih hidup. Bahkan ia tidak diberi kabar penting ketika ayahnya meninggal dan anak-anaknya ditangkap.

Di sela-sela masa hukuman itu, menteri dalam negeri seakan tidak puas dengan putusan hakim. Maka, menteri menugaskan sekelompok ulama, termasuk anggota senior ulama untuk menfatwakan hukuman bunuh bagi Walid dengan tuduhan berpaham khawarij. Setelah fatwa itu rampung, jaksa pun memberikan tuntutan hukum itu kepada pengadilan.

Apa yang dikatakan Walid ketika mengetahui hal ini? Senyuman justru terkembang dari bibirnya karena ia berkesempatan mendapatkan syahadah karena mempertahankan kebenaran. Sebaliknya, menteri dalam negeri menjadi ciut nyalinya. Ia takut hal-hal yang tidak baik justru akan berbalik kepadanya. Maka, tuntutan itu pun dicabut.

Persidangan Kedua

Menteri dalam negeri kembali memutar otak setelah hukuman-hukuman yang dijatuhkan pada Walid sama sekali tidak membuatnya bergeming. Bahkan tidak ada rasa takut sedikitpun dari dalam diri Walid ketika vonis mati diberikan padanya. Alih-alih pemerintah memaksa Walid untuk taraju’ dari pemikirannya, Walid justru makin gigih mempertahankan pemikirannya. Hilangnya nyawa dari tubuh pun tidak membuatnya ciut.

Maka, mendagri berinisiatif memenjarakan Walid dengan jangka waktu yang lama agar dia tersiksa dan mau taraju’. Dibentuklah sebuah komite khusus yang terdiri dari 3 hakim yang mengadili  dan mengadakan sidang secara rahasia tanpa sepengetahuan keluarga Walid, apalagi pengacara. Komite ini mengadakan pengadilan in absentia tanpa kehadiran Walid. Hal ini disengaja karena komite takut kalah berdebat dengan Walid jika dirinya dihadirkan. Maka, dengan keputusan sepihak sekonyong-konyong dikeluarkan putusan hukuman 15 tahun penjara.

Penangkapan kerabat Walid As-Sinani

Selama Walid berkhalwat di penjara, ada beberapa kejadian penting yang kabarnya tidak sampai padanya. Pada 1424 H, kedua anak Syaikh, Subai’ 17 tahun dan Zamil 14 tahun, ditangkap. Subai’ mendekam dipenjara selama dua tahun setengah dan Zamil dipenjara selama tiga bulan. Sebelum Subai’ dibebaskan, Ibrahim dan Zamil dipenjara lagi.

Maka selama tiga bulan rumah Syaikh tidak dihuni para lelaki. Bahkan penangkapan itu berulang kembali. Setelah 2 tahun kebebasannya, Subai’ kembali dipenjara untuk yang kedua kalinya, serta Zamil juga dipenjara untuk yang ketiga kalinya selama 9 bulan.

Masih pada tahun 1424, keponakan Walid yang bernama Usamah ditangkap. Enam tahun kemudian, keponakannya yang lain yang bernama Umar ditangkap sekaligus sang kakak, Ahmad As-Sinani. Kemudian secara berurutan keponakan-keponakan yang lain juga ditangkap, Shalih, Abdurahman. Penangkapan-penangkapan itu dilakukan oleh pihak keamanan dengan alasan inspeksi atau pengecekan mendadak. Inspeksi ini menimbulkan trauma bagi keluarga Sinani karena mereka merangsek masuk ke rumah dengan menenteng senjata. Anggota keluarga As-Sinani diberlakukan seperti pelaku kriminal.

Kejadian penting lainnya adalah ketika ayah dan kakaknya meninggal dunia. Kakak Walid adalah dai terkenal, ia sangat mencintai kakaknya. Ketika ia mengetahui bahwa kakaknya telah tiada, ia berwasiat agar dikuburkan di sampingnya setelah meninggal nanti. Walid tetap teguh dalam pendiriannya memegang prinsip yang ia yakini.

Walid menjalani hari-hari di penjara dengan dzikir, membaca Al-Quran, shalat dan mengkaji kitab-kitab. Meskipun dirinya terisolasi dengan dunia luar, jiwanya tetap hidup dan senyuman tetap muncul dari wajahnya. Kesendiriannya ia manfaatkan untuk berkhalwat dengan Allah Azza wa Jalla.

Kedekatannya dengan Sang Pencipta membuat dirinya tangguh menghadapi ancaman apapun. Ada beberapa tahanan yang menceritakan bahwa suatu hal yang sangat mustahil Walid meminta sesuatu kepada sipir penjara. Sampai dalam hal makanan pun ia tidak pernah meminta-minta hingga membuat para sipir takut terjadi apa-apa dengan dirinya. Sikap ke”wara”an sekaligus kesabarannya benar-benar menginspirasi orang di sekitarnya. Hingga syaikh Sulaiman Al-Ulwan berujar,”Walid adalah imam kita dalam kesabaran.”

Walid terakhir muncul pada Ahad sore, 17 September 2013 dalam acara televisi Ats-Tsaminah di channel televisi mbc. Ini adalah acara interview dengan Dawud Asy-Syiryani. Cukup banyak pertanyaan yang dilontarkan. Salah satu pernyataan dari sekian banyak yang Walid katakan adalah ketika Dawud bertanya soal apa yang akan Walid lakukan jika ia dibebaskan.

“Jika saya dibebaskan, saya akan berjihad sesuai kemampuan.” jawabnya tegas. Dia juga menegaskan bahwa jika bebas, ia akan mengajak anak-anaknya berjihad ke Afghanistan dan hidup dengan sebenar-benarnya kehidupan di sana. Dari kelantangannya, Walid memang sangat memegang teguh apa yang ia yakini kebenarannya. Ia adalah seorang muslim yang tidak pernah goyah prinsipnya sampai kapan pun. Masya Allah…

Walid As-Sinani Saat Ini

Berangkat dari rilisan yang diangkat di majalah Ar-Risalah edisi 3 Shafar 1439 H, sampai saat ini Walid As-Sinani tidak diketahui bagaimana keadaanya. Namun, jika kita melihat dari apa yang telah berjalan selama ini, kemungkinan “Imam dalam kesabaran” ini masih berada di dalam jeruji besi dan ini sudah masuk tahun ke-23.  Semoga Allah senantiasa meneguhkan hatinya di dalam al-haq hingga malaikat Izrail datang menjemput. Wallahu a’lam bi shawab. (AB).

Sumber

  1. http://muslimconditions.com/
  2. http://www.mbc.net/ar/programs/althamena/articles
  3. https://www.fadaeyat.co/vb/fadaeyat55895/
  4. https://www.memri.org/reports/imprisoned-saudi-jihad-cleric-walid-al-sinani-if-released-i-will-wage-jihad-afghanistan-my
  5. https://twitter.com/al_senani2

Baca juga, Profil Syaikh Abu Jabir Amir Mujahidin Hai’ah Tahrir as-Syam