Jihad hawa nafsu vs jihad perang

Duniaekspress, 14 november 2017. – Kadang ada dua dalil yang sepertinya bertentangan, sehingga harus menafikan satu di antara dua dalil tersebut, atau bahkan mencela orang yang berdalil dengan dalil yang kita anggap dalil itu bertentangan dengan dalil yang kita pegangi atau kita condongi.. padahal tidaklah demikian.

Kata jihad itu bisa digunakan selain perang..

Ada dua hadits yang sepetinya bertentangan, padahal tidak demikian, hanya cara mengamalkan saja yang harus pas dan proporsional…

المجاهد من جاهد نفسه في الله..
“Mujahid itu adalah orang yang berjihad melawan nafsunya karena Allah (ibnu majah & ibnu hibban, dan sanad nya hasan)
Bahkan…..
افضل الجهاد من جاهد نفسه في ذات الله عز وجل..
“Jihad yang paling afdhol adalah orang yang berjihad melawan nafsunya karena Allah “(al Haitsami berkata :hadits ini sanadnya hasan)
Sementara hadits tentang keagungan dan afdolnya jihad perang dan dakwah begitu banyak, bahkan jihad perang lah yang menjadi puncak amalan dalam islam,,
وذروة سنامه الجهاد..
Dan Puncak amalan (mahkota urusan dalam islam) itu adalah al jihad (perang fii sabilillah)..al-hadits).
Dan banyak sekali hadits-hadits yang menerangkan tentang tingginya amal jihad (perang) dan bahkan tidak ada yang dapat menyamainya,,

Maka, pakailah semua dalil itu,
sesuai konteksnya..
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa beliau mendengar gurunya berkata,

والهوى أصل جهاد الكفار والمنافقين فإنه لا يقدر على جهادهم حتى يجاهد نفسه وهواه أولا حتى يخرج إليهم

“Hawa nafsu adalah asal dari jihad melawan orang kafir dan orang munafik. Kita tidak mampu berjihad melawan orang kafir dan munafik sampai berjihad terlebih dahulu melawan diri sendiri. Hawa nafsu lebih pertama diperangi lalu keluar jihad melawan mereka.”
Disebutkan dalam Roudhotul Muhibbin, karya Ibnul Qayyim, terbitan Ibnu Katsir, cetakan ketiga, tahun 1429 H, hal. 530.

Perhatikanlah… Jihadilah nafsumu mulai sekarang dan terus menerus hingga jika datang waktunya jihad perang dan engkau mampu maka engkau tidak boleh beralasan ‘Aku masih berjihad melawan hawa nafsuku ‘ karena ia adalah jihad yang paling afdhol ‘,, tidak! Sekali-kali tidak!
Bahkan jika engkau tidak berangkat berperang jika ada kewajiban berperang dengan alasan jihad hawa nafsu, sungguh engkau telah terjatuh dalam dua kesalahan sekaligus,
1. Berati selama ini engkau tidak pernah berjihad melawan nafsumu yang engkau anggap jihad paling afdhol, bukankah berjihad melawan nafsu itu tidak terikat ruang dan waktu?
2. Engkau sekarang meninggalkan kewajiban jihad perang yang sedang memanggilmu dan yang menghalangimu tidak lain adalah nafsumu sendiri.

Jadi.. Jika ada dua dalil yang seakan-akan berseberangan maka, amalkanlah semuanya, sesuai dengan konteksnya..
Atau engkau bisa mengamalkannya secara bersamaan dalam waktu yang sama..

Ali bin Abi Tholib Rodhiyallahu ‘Anh, mengurungkan menebas leher musuhnya di medan perang karena saat itu ia sedang marah karena di ludahi oleh musuhnya, ia takut mengayunkan pedangnya itu karena marah dan dendam kepada musuhnya, bukan karena Allah,, namun setelah itu setelah melawan nafsunya saat itu.. beliau tetap terus berperang hingga membunuh musuh musuhnya.

Dua dalil di atas diamalkan sekaligus bersamaan dalam waktu yang sama pula.

Sebaliknya ada seorang munafiq yang meminta izin untuk tidak ikut berperang melawan romawi dengan alasan tidak dapat menahan nafsunya jika melhat wanita wanita cantik dan putih dari bangsa romawi.. Spontan Allah menurunkan ayatNya
ومنهم من يقول ائذن لي ولا تفتني..
‘Dan di antara mereka ada orang yang berkata, “berilah aku izin (untuk tidak ikut berperang), dan janganlah engkau (wahai Muhammad), menjerumuskan diriku ke dalam fitnah.. ”
Langsung Allah berfirman…
الا في الفتنة سقطوا، وان جهنم لمحيطة بالكافرين.
“Ketahuilah bahwa mereka itu yang telah terjerumus ke dalam fitnah, dan sungguh, jahannam itu benar-benar telah meliputi orang-orang kafir (at Taubah :49)
Jadi, jihad hawa nafsu adalah haq, dan ia tidakkah mengecilkan apa menghalangi jihad perang, tidak!! Sekali-kali tidak!!
Para MUJAHID FI SABILILLAH lah, yang dapat mengamalkan dua dalil di atas.. ??

Wallah A’lam..

Baca juga, JIHAD BUTUH KETERLIBATAN UMMAT