Hukum Berkoalisi dengan Pasukan Sekuleris

Duniaekspress 16 November 2017.

Dalam konflik horizontal persekutuan antar berbagai kelompok adalah fakta yang tak terhindarkan. Tak terkecuali konflik-konflik yang melibatkan kelompok-kelompok berbendera islam (baca, pasukan islamis). Konflik di Suriah adalah fakta nyata. Berbagai kekuatan sering bersekutu untuk menghadapi kekuatan dominan, baik rezim atau non rezim. Namun yang selalu menjadi kritik adalah persekutuan yang dilakukan berbagai pasukan islamis dengan pasukan sekuler dalam menghadapi kelompok islam lainnya.

Sebenarnya para ulama fikih telah sepakat bahwa membantu pasukan kafir menyerang pasukan muslim yang lain adalah haram. Termasuk juga jika serangan itu adalah serangan yang berdampak strategis. Bahkan fatalnya, bantuan tersebut dapat menjadi sarana dosa kekafiran sebagaimana firman Allah Ta’ãlã berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Mãidah[5]: 51).

Para ulama fikih (kaum yurisprudensi), baik itu dari kalangan Hanafiyah, Mãlikiyah, Syafi’iyyah, Hanabilah, bahkan Zhahiriyah; seluruhnya sepakat mengharamkan menjual senjata, kendaraan perang, atau peralatan perang apa pun yang dapat digunakan pasukan kafir dalam memerangi kaum muslimin -dan dalam konteks kekinian untuk memerangi kelompok-kelompok islam yang lain-. Bahkan haram pula hukumnya memberi dan menjual logistik kepada mereka, walaupun hanya berupa air, alat kemah, atau apapun yang mereka gunakan memerangi kelompok islam yang lain. Imãm Nawawĩ berkata dalam Al Majmû’:

وَأَمَّا بَيْعُ السِّلاحِ لأَهْلِ الْحَرْبِ فَحَرَامٌ بِالإِجْمَاعِ ..اهـ .

“Dan adapun menjual senjata kepada kafir harbi (musuh) maka hal tersebut haram berdasarkan ijma atau konsensus kaum muslimin.”

Kalau pembahasan normatif terkait kerjasama dan bersekutu dengan pasukan kafir sudah jelas dan terjawab. Bahkan sudah terjawab sejak seribu tahun yang lalu oleh para fuqaha klasik, lalu bagaimana hukumnya bekerjasama dan bersekutu dengan pasukan sekuleris yang berperang untuk tegaknya aturan selain aturan Allah Ta‘ãlã. Pertanyaan ini adalah pertanyaan krusial; “Apa hukumnya bekerjasama dengan pasukan sekuleris untuk masalah strategis tertentu?”

Untuk membahas ini perlu beberapa pemahaman detail terkait fakta di lapangan. Untuk memastikan apakah benar kerjasama tersebut dilatarbelakangi kesamaan visi dan loyalitas atau sekedar kesamaan kepentingan pragmatis saja. Atau bahkan karena kesamaan kondisi; sama-sama dalam posisi terzalimi pasukan pasukan islamis lainnya, lalu mereka berkoalisi untuk menghalau keganasan pasukan tersebut.

Untuk kasus pasukan islamis yang bersekutu dengan pasukan sekuleris dalam memusuhi dan memerangi pasukan islamis lainnya karena loyalitas dan kecintaan mereka kepada pasukan sekuleris maka ini adalah sikap Tawalli Akbar (loyalitas) yang diharamkan dan bahkan pelakunya terancam dengan dosa kekafiran sebagaimana firman Allah Ta‘ãlã di atas.

Jika pasukan islamis membantu pasukan sekuleris dalam memerangi pasukan islamis lainnya karena kepentingan pragmatis kelompok bukan karena loyalitas maka ini haram namun tidak sampai mengkafirkan pelakunya karena tidak adanya dasar loyalitas dan kecintaan. Namun ini dapat menjadi sarana menuju kepada kekafiran. Disinilah letak kaidah “Al Umûr bi Maqãsidihã”.

Bagaimana jika pasukan islamis berkoalisi dengan pasukan sekuler untuk menumpas pasukan islamis yang sewenang-sewenang, atau dalam bahasa para fuqaha klasik disebut dengan istilah bughat, maka disyaratkan komando tertinggi harus di bawah kekuatan pasukan islamis. Komando tertinggi tidak boleh diserahkan kepada pasukan sekuleris, karena dapat menyebabkan pasukan islamis yang berbuat aninaya justru malah dianinaya dan dilecehkan oleh pasukan sekuleris. Wallahu A’lam bishowaab.

[sultan serdang]

Baca juga,

POLITIK YANG KAMI INGINKAN