Duniaekspress, 19 november 2017. – Yaman – Di pertengahan malam 26 Maret 2015, Sana’a, ibukota Yaman, beserta beberapa kota lain mulai digempur oleh sejumlah tentara Saudi. Penyerangan tersebut tidak lain merupakan deklarasi diluncurkannya operasi yang diberi nama Ashifah al-Hazm(Badai Gurun yang Menentukan). Di sisi lain, saat roket-roket koalisi Arab mengguncang bumi Yaman, banyak dari penduduk Yaman yang hatinya berbunga-bunga penuh kegembiraan. Meski perasaan sebaliknya, yaitu kemarahan, kemurkaan, dan amarah juga menguasai penduduk Yaman yang lain.

Beberapa bulan sebelumnya, koalisi ‘anomali’ antara kelompok Hautsi dan kekuatan mantan presiden yang dilengserkan, Ali Abdullah Saleh, berhasil menyingkirkan pemerintahan Presiden Abd Rabbuh Mansur Hadi, menduduki beberapa pos-pos penting kekuasaan dan menguasai ibukota Sana’a. Rakyat Yaman pun terpecah antara yang mendukung dan menolaknya.

Di tengah-tengah kondisi perasaan dan harapan yang saling kontradiksi tersebut, pasukan koalisi yang terdiri dari 11 negara yang dipimpin oleh Saudi lantas mengumumkan bahwa kedatangan mereka adalah untuk menyalamatkan Yaman dan membendung bahaya kelompok Hautsi melalui operasi militer. Dalam waktu yang relatif cepat, operasi tersebut pun berganti nama dan melahirkan naskah baru, yaitu I’adah al-Amal (Mengembalikan Harapan) setelah koalisi tersebut sukses menyingkirkan ancaman-ancaman yang mengarah ke Saudi dan negara-negara tetangga, dan setelah berhasil merealisasikan sebagian besar misi-misinya sebagaimana yang dijelaskan Kementrian Pertahanan Saudi.

Setelah berlalu dua tahun dari lahirnya ‘mimpi’, sebagaimana istilah yang diciptakan oleh salah satu media Yaman, Al-Ka`ibah pada 2015, banyak rakyat Yaman yang khawatir bahwa sesungguhnya ‘harapan’ itu telah hancur berkeping-keping, dan ‘mimpi’ untuk menyatukan negara dan menyingkirkan koalisi milisi Hautsi dan Saleh menjadi semakin jauh dibanding waktu-waktu sebelumnya.

Dengan mengesampingkan berhasil atau gagalnya koalisi tersebut dalam mengubah perimbangan kekuatan yang ada di lapangan, yang pasti, perkembangan yang terjadi dalam dua tahun tersebut—dengan keberhasilan dan kegalalannya—telah mengubah skala prioritas dan sejumlah kebutuhan rakyat Yaman yang memang sederhana. Jika sebelun dua tahun ini perseteruan yang terjadi hanya antar ‘para petinggi’ seputar siapa yang lebih berhak memimpin dan bagaimana memerintah. Kini hal itu bergeser menjadi krisis tentang eksistensi dan kehidupan yang dialami oleh mayoritas rakyat jelata yang berjuang mencari secercah kehidupan, rasa aman dari ketakutan, dan kesembutan dari penyakit.

Negara yang beberapa abad sebelumnya dapat merasakan kebagiaan, yang di atas buminya dibangun peradaban-peradaban yang memiliki sejarah kegemilangan dan peninggalan-peninggalan fenomenal, hari ini—berdasarkan data PBB—menjadi negara yang paling besar krisis kemanusiaannya di dunia. Ini terjadi disebabkan perang yang terus-menerus terjadi sejak 2015. Perang yang menyebabkan sekitar 19 juta rakyatnya membutuhkan bantuan kemunusiaan dan perlindungan keamanan.

Kelaparan di Tengah Negara-Negara Minyak

Meski Yaman menempati kekayaan melimpah disebabkan letak strategisnya yang langka, yang dikelilingi oleh  negara-negara dengan kekayaan alam terkaya dan harta yang melimpah, namun Yanan dapat dikatakan sebagai negara termiskin di Timur Tengah dan menempati rengking pertama negara yang paling banyak orang miskinnya di dunia. Berbagai peperangan dan krisis yang melanda negara tersebut selama beberapa dekade dan beberapa tahun terakhir juga ikut andil dalam menghancurkan perekonomian, dan memberi pengaruh negatif terhadap kehidupan rakyatnya.

Kondisi yang terjadi setelah 2015 dapat dikatakan paling buruk dari masa sebelum-sebelumnya. Negara bahkan hampir runtuh sepenuhnya. Negara terhenti melayani kebutuhan rakyatnya. Kemudian pada fase selanjutnya negara juga tidak akan mampu memberikan gaji. Harga komoditas akan meroket ke langit, yang otomatis diiringi dengan rendahnya kemampuan daya beli masyarakat.

Kondisi yang buruk itu akan menyebabkan menipisnya keamanan pangan bagi lebih dari 80% rakyatnya, yaitu lebih dari 19 juta jiwa—berdasarkan data PBB. Sementara yang sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan demi menyelamatkan nyawa mereka berjumlah sekitar 9,8 juta jiwa.

Bersamaan dengan sengitnya pertempuran di lapangan, dan roket yang meluncur dari langit, sekitar 1/3 dari 22 propinsi Yaman menderita kelaparan. Yang menyebabkan sekitar 60% penduduk negara tersebut mengalami kelaparan, belum lagi dengan terus bertambahnya jumlah pengungsi dari berbagai wilayah yang merupakan wilayah perang, sebagaimana data PBB.

Juru bicara Program Pangan Dunia milik PBB, Bettina Lucher berkomentar, “Kami khawatir banyak rakyat Yaman yang hampir menderita kelaparan, di mana 7 dari 22 propinsi yang ada menghadapi kondisi darurat pada level ke-4. Artinya satu level di atas pengumuman kondisi kelaparan.” Sebagaimana yang diisyaratkan, program itu bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pangan buat sekitar 7 juta jiwa setiap bulan di Yaman.

Jumlah tersebut merupakan setengah dari mereka yang terancam kelaparan, yang jumlahnya mencapai 17 juta. Bahkan mereka yang sampai kepada mereka bantuan kemanusian pun tidak bisa menerima pangan yang mereka butuhkan disebabkan keterbatasan untuk memenuhi hal itu secara sempurna.

Wabah Pembunuh

Tampaknya, sebagaimana dikatakan bahwa musibah-musibah tidak hadir sendirian. Demikian juga dengan perang. Perang telah menyebabkan lumpuhnya komponen pokok-pokok negara, seperti kesehatan dan ekonomi, yang pada akhirnya menyebabkan wabah-wabah dan kelaparan. Perang sendiri telah membunuh sekitar 10 ribu korban jiwa di Yaman. Di samping itu, wabah kolera yang muncul selama beberapa bulan lalu telah membunuh lebih dari 20 ribu rakyat Yaman, sementara 900 ribu lainnya telah terjangkiti.

Organisasi Oxfam Internasional menyebut bahwa krisis wabah Kolera yang mulai tersebar tujuh bulan lalu tercatat sebagai penyebaran Kolera terluas dalam sejarah. Jumlah kasus yang terinfeksi Kolera telah meningkat sekitar 1 juta jiwa pada November ini. Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia, propinsi Hajjah (daerah Barat Laut), Hadidah (daerah Barat) dan ibukota Sana’a merupakan popinsi yang paling banyak tersebar wabah Kolera.

Gelombang pertama wabah pembunuh ini melanda Yaman pada Oktober 2016 namun pada akhirnya lenyap. Kemudian kembali melanda dengan lebih ganas pada akhir April 2017, sebagai hasil dari lumpuhnya perekonomian Yaman dan semakin meluasnya daerah perang dan semakin menurunnya kemampuan pemerintah dalam persoalan  kesehatan. Di mana anggaran yang digelontorkan untuk bantuan kedokteran menempati posisi mengkhawatirkan, sebagaimana data PBB.

Ditambah, berdasarkan survei lembaga kemanusiaan yang beroperasi di Yaman, kematian anak di bawah 5tahun terjadi dalam setiap 10 menit. yang disebabkan faktor-faktor yang sebenarnya bisa ditanggulangi. Sejumlah dokter dan perawat bahkan bekerja tanpa imbalan apa pun, atau tidak mendapat upah yang layak.

Perang yang Terlupakan

Password paling penting yang tersisa dalam berbagai problematika dan krisis Yaman adalah perang. Yang diistilahkan oleh salah satu koran Inggris sebagai ‘Perang yang Terlupakan’. Di mana koresponden wartawan asing yang ada di Yaman hanya segelintir orang saja. Berbeda dengan hari-hari biasa, para wartawan yang datang ke Yaman tidak menyampaikan realita sebenarnya ke luar. Sehingga perang di sana tidak terlihat oleh dunia luar. Sebagaimana tidak banyak dari penduduk Yaman yang melarikan diri ke luar negeri—berkebalikan dengan Suriah—meski  mereka terkepung dari udara, darat, dan laut yang diterapkan Saudi atas Yaman.

Salah seorang peneliti di Institute Pengembangan Luar Negeri di Inggris mengatakan bahwa kondisi kemanusiaan di Yaman sangat buruk sekarang ini, dan dapat dipastikan akan semakin buruk. Para pemuda yang putus asa juga akan semakin banyak yang bergabung pada organisasi-organisasi ‘terror’ dengan berbagai latar belakangnya. Sebagaimana juga dapat dipastikan semakin banyaknya kehancuran bangunan yang terjadi.

Hal itu terjadi di wilayah yang dikuasai oleh kekuatan resmi pemerintahan loyalis Saudi atau koalisi Arab. Sementara di wilayah-wilayah milisi Hautsi dan basis-basis mantan presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh, kondisinya lebih buruk lagi.

Beberapa koran menyebutkan bahwa jalan-jalan utama dan jembatan-jembatan serta sejumlah apartemen termasuk rumah-rumah dan rumah sakit di wilayah-wilayah Hautsi dan Ali Saleh terancam hancur dalam skala besar disebabkan gempuran koalisi Arab.

Koalisi Arab beberapa minggu lalu juga telah menutup setiap akses darat, laut maupun udara di Yaman dengan alasan untuk mencegah bantuan persenjataan dari Iran ke milisi Hautsi. Ini dilakukan sehari setelah pertahanan udara Saudi berhasil menggagalkan serangan sebuah roket balistik di Timur bandara ibukota Riyadh. Saudi menuduh bahwa hanya Iran lah yang kemungkinan besar memasok senjata seperti itu kepada milisi Hautsi.

Komisaris Tertinggi PBB, Antonio Guterres, mengungkapkan kekhawatirannya atas kebijakan Saudi menutup berbagai akses masuk tersebut. Ia menyebut bahwa hal itu akan menjadi hambatan besar untuk sampainya bantuan kemanusia bagi rakyat Yaman.

Amerika pun telah menyerukan kepada semua pihak yang terlibat dalam krisis tersebut untuk mengizinkan sampainya komoditas perdagangan dan bantuan-bantuan kemanusiaan guna menimalisir bahaya kelaparan dan wabah berbahaya yang mengancam rakyat Yaman, yang kemungkinan besar akan terus bertambah. Namun Amerika dalam kesempatan yang sama tampaknya juga setuju akan adanya ‘pengawasan dan pengontrolan’.

Sejumlah organisasi internasional juga memprotes beberapa kebijakan Koalisi Arab yang menutup seluruh akses masuk ke Yaman. Mereka mengatakan bahwa itu dapat menambah kesulitan bagi rakyat sipil. Organisasi-organisasi bantuan internasional juga mengeluhkan pelarangan mendaratnya pesawat-pesawat terbang mereka di Yaman.

Berdasarkan laporan para pengamat, banyak rakyat Yaman yang kehilangan sumber penghasilan tetap mereka. Paling diuntungkan secara ekonomi dan strategis dalam perang ini adalah Uni Emirat Arab, yang mengokohkan keberadaannnya di daerah Selatan dan ‘menguasai’ beberapa pelabuhan, pesisir-pesisir pantai, pulau-pulau kecil, dan lokasi-lokasi penting lainnya.

Sementara Saudi merasa cukup dengan ‘kembalinya Yaman pada kondisi sebelumnya’ selain juga harus menanggung bagian yang cukup besar terkait rentetan-rentatan perang tersebut, baik dari faktor moral, politik, keamanan, dan juga perekonomian. Dan yang harus menanggung beban berat semua itu adalah rakyat Yaman yang negeri mereka dihancurkan, yaitu berupa beban-beban kemanusian seperti jatuhnya korban, kelaparan, pengusiran, dan penghancuran. (AB)

Sumber: http://www.aljazeera.net

Baca juga, PBB: PERDAMAIAN SULIT TERJADI DI YAMAN