Duniaekspress, 20 November 2017. – Pemerintah Mesir untuk sementara membuka perbatasan Rafah dengan Jalur Gaza yang terkepung untuk pertama kalinya sejak penandatanganan kesepakatan pembagian kekuasaan antara partai politik Palestina di Kairo bulan lalu.

Rafah, penyeberangan utama di selatan Gaza, diperkirakan akan tetap terbuka selama tiga hari, mulai Sabtu.

“Sekitar 10 bus telah meninggalkan Jalur Gaza pada pukul 15:00 waktu setempat, sementara satu bus masuk,” Kata Hosam Salem, seorang wartawan Palestina di perbatasan, seperti dikutip Al Jazeera, Ahad (19/11/2017).

Salem memperkirakan bahwa sekitar 500 orang Palestina diizinkan pergi.

Alasan tujuan perjalanan termasuk perjalanan medis dan kemanusiaan, pendidikan dan kembalinya orang-orang Palestina yang terjebak di luar.

Rafah adalah pintu keluar utama bagi dua juta orang Palestina di Jalur Gaza ke dunia luar karena Israel memberlakukan blokade darat, laut dan udara di daerah tersebut lebih dari satu dekade yang lalu.

Namun setelah Presiden Abdel Fattah el-Sisi naik ke tampuk kekuasaan pada tahun 2014, Mesir telah membuat sebagian besar perbatasan ditutup.

Terakhir kali Rafah dibuka pada 16 Agustus sekitar tiga bulan yang lalu. Sepanjang tahun lalu, perbatasan telah terbuka hanya dalam 14 hari, menurut Salem.

“Jika penyeberangan perbatasan tetap terbuka selama dua minggu, mungkin tidak akan ada kemacetan dan hal-hal akan terkendali. Tapi jika terbuka selama tiga hari saja, maka keadaannya tidak akan banyak membaik,” Lanjut Salem.

Salem memperkirakan bahwa lebih dari 20.000 orang telah mengajukan permohonan untuk meninggalkan Jalur Gaza dua bulan yang lalu.

“Beberapa orang pergi karena mereka memerlukan perawatan medis, yang lain pergi karena mereka ingin melanjutkan studi mereka di luar. Tapi ada juga seluruh keluarga yang mengemasi tas mereka dan berangkat untuk menetap di tempat lain,” Terang Salem, seraya menyoroti kejahatan dan situasi ekonomi di Gaza. (IF)

Baca juga, MESIR HACURKAN TIGA TEROWONGAN DI PERBATASAN