Aswaja Terseret dan Terjepit di antara Konflik Global

Duniaekspress 22 November 2017. Konflik-konflik yang melibat umat islam hari ini makin bias dan keluar dari lingkaran kelaziman. Peta konflik makin buram. Di tengah-tengah pusaran terdapat dua nama “angker”: Indonesia dan Aswaja. Kedua nama tersebut terseret dan terjepit di tengah pusaran konflik dunia.

Sementara itu, di titik pusat dari pusaran konflik timur tengah yakni Arab Saudi, kerajaan tersebut telah melancarkan serangkaian manuver-manuver politik yang tidak terduga. Beberapa pengamat meramalkan bahwa putera mahkota Saudi, Muhammad bin Salmãn akan naik tahta menjadi raja Saudi. Dan ternyata, pihak yang paling ketar-ketir terkait dengan isu naiknya putra mahkota adalah sekutu terdekat mereka, Amerika Serikat.

Di sisi lain, Saudi menjadi sorotan terkait hasrat Negara petro dolar tersebut untuk masuk ke dalam urusan dalam negeri Lebanon, Negara perebutan tiga kekuatan: nasrani, sunni, dan syi’ah. Mantan Perdana Menteri Lebanon, Hariri, paska pengunduran dirinya bermukim di Saudi. Hal ini menjadi sorotan Negara-negara yang terseret dalam konflik global seperti negera-negara NATO dan Rusia beserta sekutu-sekutunya.

Kembali ke Aswaja. Paska perombakan besar-besaran yang dilakukan kerajaan Saudi baru-baru ini, pangeran Muhammad bin Salman dengan tegas menyatakan akan menerapakan islam moderat. Bahkan, Saudi melalui Duta Besarnya untuk Indonesia mengundang pengurus PBNU dalam jamuan makan dan membahas islam wasatiyah atau islam moderat yang dikembangkan NU.

Aswaja: antara Kepentingan USA-KSA & Rusia-Iran

Rusia pernah menfasilitasi pertemuan ulama-ulama Aswaja sedunia melalui Negara bonekanya, Cechnya. Pertemuan itu dilaksanakan pada Sabtu, 25-27 Agustus 2016, di Grozny, ibukota Republik Cechnya yang merupakan bagian dari negara Federasi Rusia. muktamar tersebut mengeluarkan rekomendasi fatal “Siapakah Ahlus Sunnah wal Jama’ah?”. Sudah dapat ditebak, muktamar itu adalah muktamar belah bambu; merangkul kelompok A dan membenturkannya dengan kelompok B.

Banyak kalangan yang berpendapat bahwa momen penyelenggaran muktamar tersebut tidak tepat. Di saat pesawat-pesawat Putin (baca, Rusia) menjatuhkan rudal-rudalnya di Suriah, di Grozny, ribuan mil dari Suriah, pada saat yang sama ulama-ulama yang mengklaim dirinya Ahlus Sunnah wal Jama’ah berkumpul mendukung salah satu negara federal Rusia, Cechnya. Padahal negera federal tersebut dan presidennya adalah loyalis Putin, presiden Rusia yang pesawat-pesawatnya membantai anak-anak kaum muslimin di Suriah. Syaikh Kurayyim Rajih, Syaikhul Qurraa’ ahli Syam, mengomentari acara tersebut dengan nada satire:

أنتم تؤيدون بوتين الذي يقتل أهل #سوريا! أين إسلامكم؟

“Kalian dukung Putin yg membunuhi rakyat Suriah, dimanakah Islam kalian?”

Beliau melanjutkan, Saya harus berkata apa lagi tentang kalian? Dalam kaidah fiqih disebutkan siapapun yg mendukung kekafiran maka ia kafir. Tidak hanya Syeikh Kurayyim Rajih saja yang kecewa dengan muktamar tersebut. Prof. Dr. Yusuf Al Qardhawi menyebut mukmatamar tersebut dengan muktamar dhirar (pemecah belah).

Tentunya tidak ada ‘makan siang’ gratis. Inilah yang disebut dengan politik stick and carrots. Berikan wortelnya dan minta imbalan politis dari kelinci. Putin dan sekutunya ingin mendapatkan dukungan dari kubu umat Islam tertentu dalam upayanya bangkit menjadi negara super power. Lalu pertanyaannya, kemana umat Islam –dalam hal ini Aswaja- akan dibawa? Ke blok aswaja? Atau anti Aswaja? Lalu siapa blok anti Aswaja? Apakah blok anti aswaja, salafi atau syi’ah? Apakah betul anti salafi adalah anti Saudi dan anti syiah adalah anti Iran?

Sadar atau tidak sadar, dari dahulu sampai sekarang musuh-musuh Allah selalu memakai strategi pecah belah. Sekalipun strategi pecah belah adalah strategi kuno tapi terbukti sampai sekarang tetap ampuh dan efektif untuk menghancurkan perlawanan umat Islam. Skema yang terbangun dari muktamar tersebut membuat umat Islam dalam posisi dilematis: pilih aswaja berarti ke blok putin dan ini berarti dukung Iran dan rezim Suriah, atau pilih blok salafi, yang berarti ke blok Saudi, dan pilihan ini akan menyeret kepada pilihan lain yaitu oposisi Suriah dan Amerika.

Namun, hal ini tidak berlangsung lama. Saudi melalui pangeran Muhammad bin Salman hari ini merangkul islam moderat dan meninggalkan islam puritan salafisme. Tentu hal ini akan melahirkan resistensi dari ulama-ulama tradisional salafi Saudi dan kemungkinan akan merangkul kekuatan yang bersebrangan dengan pangeran. Saat itu warna konflik menjadi bias: konflik ini konflik politik murni atau konflik agama? Kembali, umat dihadapkan dalam pilihan dilematis. Namun demikian, sikap yang tepat adalah tetap membaca kondisi dan mengambil sikap yang menguntungkan islam dan kaum muslimin, bukan kekuasaan semu.

Selanjutnya, ada satu pertanyaan mendasar yang akan menjadi perdebatan di antara anasir kaum muslimin; apakah konflik di antara pangeran Saudi adalah konflik yang diramalkan Rasulullah SAW 14 abad silam? Dimana posisi sesungguhnya para ulama aswaja? Dan dimana pula posisi sesungguhnya para ulama salafi? Lalu apa pilihan yang tepat untuk kaum muslimin: diam mengamati atau bergabung dengan karavan gerakan-gerakan islam?

[sultan serdang].

Baca juga,

HUKUM BERKOALISI DENGAN PASUKAN SEKULARIS

ARAB SAUDI AKAN MENJADI ISLAM MODERAT

ISLAM SAUDI DI AMBANG KEHANCURAN