Duniaekspress, 24 November 2017. – Sebuah blok Arab minus Qatar yang terdiri dari Saudi Arabiyah, Mesir, Uni Emirat Arab dan Bahrain, mengumumkan pada Rabu malam bahwa mereka telah menambahkan dua entitas dan 11 individu ke dalam daftar terorisnya.

Penambahan tersebut mencakup dua LSM yang bermarkas di Doha yakni Dewan Islam Internasional dan Persatuan Cendekiawan Muslim Internasional (IUMS) yang dipimpin oleh ilmuwan terkemuka Mesir Sheikh Yusuf al-Qaradawi.

Keempat negara tersebut mengatakan dalam sebuah pernyataan bersama bahwa entitas yang ditambahkan ke dalam daftar tersebut merupakan “organisasi teroris yang bekerja untuk mempromosikan terorisme melalui eksploitasi wacana Islam, yang mereka gunakan sebagai penutup untuk melakukan berbagai aktivitas teroris”.

“Ke 11 individu tersebut telah melakukan berbagai operasi teroris yang mendapat dukungan Qatar secara langsung,” Kata pernyataan tersebut, seperti yang dilansir Anadolu Agency, kamis (23/11/2017).

Sampai berita ini diturunkan IUMS belum mengomentari perkembangan terkait dimasukannya sebagai organisasi teroris.

Baca Juga: IUMS DESAK SAUDI BEBASKAN SYAIKH SALMAN AL AUDAH

Sebelumnya diberitakan UIMS mengecam tindakan Liga Arab atas pemurusan hubungan diplomatik dengan Qatar.  Wakil Ketua Persatuan Ulama Muslim Dunia atau International Union of Muslim Scholars (IUMS) Dr Ahmed Al-Rassouni mengecam pemutusan hubungan diplomatik Qatar dan menyeru semua ulama Muslim dan intelektual untuk menolak hal itu.

Dalam sebuah pernyaatan, Al-Raissouni mengatakan:

“Kami menyeru pada ulama, intelektual, penulis dan orang-orang yang mencintai umat untuk menolak pemutusan hubungan diplomatik ada Qatar dan melakukan segala cara untuk mengakhirinya untuk menyelamatkan Qatar dari bencana yang akan datang,” kutip Middle East Monitor (MEMO), Selasa (07/06/2017).

Pada bulan Juni, Arab Saudi, UEA, Mesir dan Bahrain secara tiba-tiba memutuskan hubungan diplomatik dan komersial dengan Qatar, menuduhnya mendukung kelompok teroris di wilayah tersebut.

Qatar membantah semua tuduhan tersebut, yang menggambarkan upaya untuk mengisolasinya sebagai pelanggaran hukum internasional. (IF).