Duniaekspress, 24 November 2017. – Oposisi utama Suriah terjebak oleh permintaannya pada hari Kamis bahwa Presiden Bashar al-Assad untuk tidak berperan dalam periode peralihan di bawah kesepakatan damai yang disponsori PBB.

Sebuah pertemuan di Arab Saudi yang dihadiri lebih dari 140 peserta dari spektrum mainstream oposisi Suriah juga mengecam kehadiran militer Iran di Suriah dan meminta milisi Syiah yang didukung oleh Teheran untuk meninggalkan negara tersebut.

“Para peserta menekankan bahwa ini (transisi, red) tidak dapat terjadi tanpa kepergian Bashar al Assad dan klik pada awal periode peralihan,” kata kelompok oposisi dalam sebuah rilis resminya di akhir pertemuan.

Dalam rilis resminya juga pihak oposis mengatakan milisi yang didukung Iran menabur “terorisme dan perselisihan sektarian” antara Muslim Sunni dan Syiah, kata rilis tersebut.

Kelompok oposisi bertemu untuk mencari posisi bersatu menjelang perundingan damai PBB setelah dua tahun melakukan intervensi militer Rusia yang telah membantu pemerintah Assad merebut kembali semua kota utama Suriah.

“Oposisi Suriah telah mengirim pesan bahwa mereka siap untuk memasuki perundingan langsung yang serius mengenai transisi politik di Suriah dan memiliki posisi yang terpadu dan sebuah visi untuk masa depan Suriah,” kata juru bicara oposisi Ahmad Ramadan, seperti yang dikutip Ruters, Juma’at (24/11/2017).

Para peserta memilih 50 anggota ke Komite Negosiasi Tinggi dan akan menyelesaikan pada hari Jumat delegasi untuk putaran berikutnya perundingan yang disponsori PBB.

“Kami sepakat dengan kelompok komponen yang hadir di Riyadh, Kairo dan Moskow mengenai pembentukan satu delegasi untuk berpartisipasi dalam perundingan langsung di Jenewa dalam beberapa hari mendatang,” kata juru bicara Basma Qadmani. (IF)

 

Baca juga, SAUDI : TAK ADA TEMPAT UNTUK BASHAR DI SURIYAH