Duniaekspress, 28 November 2017. – Sedikitnya 80 orang telah terbunuh dalam waktu 24 jam akibat sejumlah serangan brutal yang di lakukan rezim Suriah yang didukung  sekutu utamanya Rusia di bagian timur dan selatan Suriah.

Mayoritas dari mereka yang terbunuh adalah warga sipil.

Di provinsi timur Deir Az Zor, diduga pesawat tempur Rusia menyasar desa al-Shaf’ah di tepi timur Sungai Efrat pada hari Ahad (26/11) yang menewaskan sedikitnya 51 orang.

Empat lainnya tewas dalam serangan terhadap desa al-Darnaj, juga terjadi pada hari Ahad, jumlah korban tewas bertambah di provinsi tersebut menjadi 55 orang.

Provinsi Deir Az Zor adalah salah satu provinsi terakhir di Suriah yang masih tersisa militan negara Islam Irak dan negara bagian Levant (ISIL), yang juga dikenal sebagai ISIS, setelah kelompok bersenjata tersebut terdorong keluar dari benteng utamanya di Raqqa.

Sementara itu, di Ghouta Timur, sebuah distrik di luar ibukota Damaskus, setidaknya 25 orang tewas, diyakini pemerintah Rusia dan Suriah melakukan penembakan di beberapa wilayah yang dikuasai oposisi pada hari Ahad.

Serangan tersebut menargetkan pasar lokal di lingkungan perumahan Misraba, di mana 16 orang terbunuh. Sedikitnya sembilan lainnya tewas dalam baku tembak di lingkungan Medyara dan Douma.

Menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris, sebuah kelompok pemantau perang, angka 25 mencakup lima anak dan tiga wanita.

Baca Juga: SOHR: SERANGAN UDARA REZIM ASSAD TEWASKAN PULUHAN WARGA SIPIL

Ghouta Timur terus mendapatkan serangan meski terdaftar sebagai “zona de-eskalasi”, di mana aktivitas militer dilarang berdasarkan sebuah kesepakatan yang disahkan oleh Turki, Rusia, dan Iran.

Guney Yildiz, dari Dewan Hubungan Luar Negeri Eropa, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pasukan Suriah meningkatkan serangan terhadap pejuang oposisi sebelum perundingan baru di Jenewa dimulai pada hari Selasa.

“Saya pikir tujuan utamanya adalah membuat pemberontak merasa lebih lemah menjelang perundingan PBB pekan depan,” kata Guney, seperti yang dilansir Al Jazeera, Senin (27/11/2017).

Dia mencatat Ghouta Timur, dengan populasi sekitar 300.000, merupakan target yang signifikan karena letaknya yang sangat dekat dengan Damaskus. [fan]