KETIKA PARA GHULAT TAKFIR DIMANFAATKAN MUSUH-MUSUH ISLAM

Duniaekspress, 1 desember 2017. – Segala puji bagi Allah Ta’ala yang memberikan hikmah kepada saja yang dikehendaki, salam dan shalawat terlimpah kepada Qudwatuna wa Uswatuna nabi Muhamad shalallahu alaihi wassalam, kepada keluarga dan kepada sahabat juga kepada umatnya yang senantiasa sabar, istiqamah dan teguh di jalan Dakwah dan Jihad.

Allah ta’ala berfirman :

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”.(QS. Ash-Shaff [61] : 7-8)

Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala menegaskan pula:

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai”. (QS. At-Taubah [9] : 32)

Allah Ta’ala juga berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan, supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahannam. Mereka itulah orang-orang yang merugi”. (Q.S. Al-Anfal : 36-37)

Allah Ta’ala di sini menjamin dan berjanji untuk menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun musuh-musuhnya tidak menyukai, daya dan upaya terus dilakukan dengan harta dan jiwa, makar dari yang paling lembut hingga yang paling keji dilakukan oleh musuh-musuh-Nya tetapi Allah Ta’ala menyempurnakan cahaya-Nya, terbukti Makar Allah lebih baik dari orang-orang kafir.

Kebangkitan Islam Akan Terulang

Siapakah yang lebih menepati janjinya selain dari Allah Ta’ala? Janji itu amat sangat dekat tetapi terkadang kita tidak sabar ingin meraih buah yang belum masak, kita terburu-buru mengambilnya dan memanennya. Padahal jikalau kita sedikit bersabar tentu itu akan lebih baik bagi diri kita.

Allah Ta’ala Berfirman :

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”.(QS: An-Nuur Ayat: 55)

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

“Periode an-Nubuwwah (kenabian) akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang periode Khilafatun ‘ala Minhaj an-Nubuwwah (kekhalifahan atas manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’aala mengangkatnya, kemudian datang periode Mulkan Aadhdhon (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa, selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’aala, setelah itu akan terulang kembali periode Khilafatun ‘ala Minhaj an-Nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam”. (HR Ahmad 17680).

Kita akan membagi hadits ini dengan 5 periodisasi perjalanan umat Islam dan kami akan mencukupkan pada pembahasan zaman kita hidup.

1. Periode an-Nubuwwah (kenabian) akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya…

Yaitu masa kepemimpinan langsung Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘Alahi Wassalam yang disebut sebagai masa An-Nubuwwah (Kenabian) selama 23 tahun. Para ahli sejarah membagi periode ini dengan 2 (dua) fase yaitu fase:

  1. Fase Makkiyah, ini adalah fase ketika Rasulullah menempa aqidah dan mentarbiyah sahabatnya dengan tarbiyah langsung, para ahli sirah menyebut sebagai Marhalah ” Sirriyatu Da’wah wa Sirriyatut Tanzhim.” Yaitu biasa kita sebut masa menyembunyikan struktur organisasi dan menyembunyikan da’wah yang dalam perkembangannya berubah menjadi ” Sirriyatu Tanzhim wa Jahriyyatud Da’wah” yang biasa kita sebut sebagai merahasiakan struktur organisasi dan menampakkan dakwah. Fase ini adalah fase menanamkan keyakinan, di dalamnya terdapat pemberitahuan adanya ancaman Allah bagi mereka yang menyekutukan-Nya dan ada kabar gembira dari Allah bagi mereka yang bertauhid, beriman dan beramal shalih.
  2. Fase Madaniyah. Adapun fase Madaniyah adalah fase “Jahriyyatut Tanzhim wa Jahriyyatu Da’wah” yaitu menampakkan struktur dan menampakkan dakwah, dari sinilah taklif atau beban syariat mulai diperintahkan kepada orang-orang beriman dari Puasa di bulan Ramadhan, Zakat, Haji dan Jihad, pada fase inilah syariat Jihad diberlakukan, sehingga selama 13 tahun seluruh jazirah Arab takluk kepada pemerintahan di Madinah

2. Setelah itu datang periode Khilafatun ‘ala Minhaj an-Nubuwwah (kekhalifahan atas manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah Ta’ala mengangkatnya…

Ini adalah periode kedua, yang merupakan kepemimpinan para sahabat utama yakni Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib yang dikenal dengan julukan Khulafaur Rasyidin (Para khalifah yang adil, jujur, benar dan terbimbing oleh Allah SWT) sehingga masa mereka adalah sebaik-baik qurun dan predikat Khairu Ummah / umat terbaik melekat kepada mereka. Di dalam hadits tersebut periode ini dikenal sebagai periode Khilafatun ’ala Minhaj An-Nubuwwah (Kekhalifahan yang mengikuti Manhaj/Sistem/Metode/Cara Kenabian).

3. Kemudian datang periode Mulkan Aadhdhon (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa…

Yaitu masa kekuasaan bani Ummayah (100 tahun), Masa Abbasiyyah 450 tahun, Masa Utsmaniyah Turki Saljuk (700 tahun). Dikatakan Aadhdhon (menggigit) karena walaupun sistem monarki akan tetapi mereka masih menegakan hukum-hukum Allah ta’ala.

4. Selanjutnya datang periode Mulkan Jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’aala…

Adalah masa kita hari ini dimana syariat Islam telah dicampakan, kita hidup pada titik nadir terendah dalam perjalanan umat Islam, kezhaliman, dan pembantaian umat Islam terjadi di mana-mana mewarnai periode ini.

5. Setelah itu akan terulang kembali periode Khilafatun ‘ala Minhaj an-Nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam”.

Inilah masa yang kita nanti-nantikan, kita tunggu, masa ini kegelapan akan terangkat menjadi masa kecahayaan dan keemasan, kemenangan, kebahagiaan, kesejaterahan melanda ke seluruh negeri. Akan tetapi peristiwa yang mengiringi kemenangan ini bukanlah barang gratis begitu saja, masa-masa kritis umat menjadi menu pelengkap di dalam menyongsong kejayaan Islam ini. Pembataian dan pembunuhan yang sebelumnya diderita umat ini, menjadi syarat kemenangan agama ini, semuanya adalah ujian Allah Ta’ala, semuanya saringan, ujian kesabaran adalah hikmah, bahwa Allah akan menyiapkan generasi yang membawa panji-panji hitam dari timur untuk melicinkan jalan Imam Mahdi yang akan mendobrak keangkuhan materialistik dunia hari ini.

Janji Allah Pasti Terwujud

Allah Ta’ala Berfirman : “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS: An-Nuur Ayat: 55)

Dalam kitab tafsirnya, Ibnu Katsir menceritakan tentang ayat ini, yakni bahwa ketika di Makkah dulu para shahabat selalu membawa pedang karena jiwa mereka terancam gangguan orang Musyrik Quraisy Makkah.

Kisah tentang hal tersebut juga diriwayatkan oleh Hakim dengan sanadnya yang sampai kepada Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dan para shahabatnya datang ke Madinah, maka orang-orang Anshar mendatangi mereka. Orang-orang Arab kemudian melempar panah dari satu busur, di mana mereka tidak bermalam kecuali dengan senjata dan tidak berada di pagi hari kecuali dengannya, maka mereka berkata, ‘Tidakkah kamu melihat bahwa kita bangun sampai tidur malam dalam keadaan aman, tenang dan tidak takut kecuali kepada Allah.’ Maka turunlah ayat, ‘Wa’adalahulladziina aamanuu minkum…dst’.” (Hadits ini menurut Hakim shahih isnadnya, namun keduanya (Bukhari-Muslim) tidak menyebutkannya dan didiamkan oleh Adz Dzahabi).

Hal ini kita alami sehingga hari ini kita memegang ajaran agama kita laksana memegang bara api Rasulullah shallahu alaihi wasalam bersabda: “Akan datang suatu zaman dimana orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi)

Hadits ini merupakan berita tentang masa-masa sulit yang akan dilalui oleh orang-orang yang ingin tetap menegakkan kebenaran dan teguh di atas prinsip hidup para salafus shalih. Prinsip untuk tetap meniti jalan kebenaran meskipun terjal dan berbatu. Prinsip untuk tetap memelihara kejujuran di tengah arus kebohongan dan kepalsuan. Prinsip untuk tetap memelihara amal kebajikan di tengah gelombang kemaksiatan dan pasang surut keimanan. Kondisi saat inilah kita merasakan bahwa memegang agama kita laksana memegang bara api yang panas.

Dalam salah satu riwayat disebutkan: Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Akan datang kepada manusia suatu masa yang ketika itu orang yang sabar di atas agamanya seperti menggenggam bara api.” (HR. At-Tirmidzi no. 2260. Dishahihkan oleh al-Albani di as-Silsilah ash-Shahihah 2/645).

Inilah keadaan yang hari ini kita alami, dan zaman yang kita hidup di dalamnya. Sebuah keadaan dan kondisi zaman yang penuh dengan fitnah dan kerancuan. Sungguh, hanya dengan berbekal kesabaran untuk terus menempuh jalan-Nya dan berharap kepada pertolongan-Nya lah kita baru bisa melewati segala fitnah tersebut.

Bersambung…

 

Baca juga, AWAS GHULUW DALAM BERAGAMA PENYEBAB KEHANCURAN