Duniaekspress, 03 desember 2017. – Wakil ketua DNC Keith Ellison, Lindsay Graham, dan senator Arizona Jeff Flake mengutuk tweeting Trump terhadap video anti-Muslim yang diposting oleh kelompok sayap kanan.

Seorang anggota partai Demokrat terkemuka mengutuk Donald Trump sebagai “rasis” beberapa jam setelah presiden tersebut me-retweet serangkaian video anti-Muslim pada hari Rabu (29/11) yang diposkan oleh wakil pemimpin kelompok sayap kanan Inggris.

“Presiden  rasis. Tidak ada keraguan tentang hal itu dalam pikiran saya,” ucap Keith Ellison, wakil ketua Komite Nasional Demokrat dan seorang Muslim  yang menjadi anggota Kongres, kepada Guardian.

“Ini adalah Trump. Dia adalah seorang politikus yang secara sinis mencoba membagi orang-orang berdasarkan ras dan agama mereka,” tambahnya. “Entah bagaimana orang-orang yang menyerunya agar keluar dari rasismenya harus khawatir untuk mempertahankan diri terhadap [orang-orang yang mengatakan], ‘Berani-beraninya Anda memanggil presiden sebagai rasis?’”

Trump telah berulang kali membantah bahwa dirinya seorang rasis di masa lalu.

Dia memicu kontroversi terbaru ini setelah  membagikan video provokatif tersebut -yang mendapat teguran langsung dan langka dari perdana menteri Inggris, Theresa May, melalui juru bicara resminya- kepada 43.6juta pengikutnya di Twitter, meskipun mendapat pertanyaan serius mengenai keasliannya.

Mereka menandai tindakan peradangan terbaru terhadap Muslim dari Trump, yang saat masih sebagai kandidat berkampanye untuk melarang semua Muslim memasuki AS dan setelah menjadi presiden berusaha membatasi imigrasi Muslim melalui perintah eksekutif.

Video tersebut bertujuan untuk menunjukkan bahwa Muslim melakukan tindakan kekerasan, seperti mendorong anak laki-laki dari atap dan menghancurkan patung Perawan Maria. Bagian lain dalam video itu mengklaim bahwa seorang imigran Muslim  memukuli anak laki-laki Belanda dengan tongkat, meskipun polisi dan media Belanda tidak pernah menyatakan bahwa penyerang tersebut adalah seorang Muslim.

Video tersebut awalnya dikirim ke Twitter feed kepunyaan Jayda Fransen, wakil pemimpin Britain First, yang tahun lalu dituduh melakukan pelecehan berdasarkan agama karena secara verbal menyerang seorang wanita Muslim yang mengenakan jilbab pada Januari 2016.

Lindsey Graham, seorang senator partai Republik dari Carolina Selatan, mengatakan bahwa “sangat tidak membantu” bagi Trump untuk membagikan video tersebut. “Pertama, ini akan melegitimasi situs-situs kepunyaan kelompok dari Inggris tersebut,” kata Graham kepada Guardian, sambil menambahkan keterangan tentang Fransen bahwa “Dia diadili karena pelecehan agama.”

“Anda tidak perlu mengambil kelompok pinggiran dan mengangkat isinya,” katanya. “Saya pikir itu juga bukan pesan yang perlu kita kirimkan sekarang saat kita sedang membutuhkan aliansi Muslim.”

Senator Arizona Jeff Flake, salah satu kritikus Trump yang paling vokal yang berasal dari partai Republik, menyebut tweet presiden itu sebagai “sangat tidak pantas”.

Meski mendapat reaksi balik, sekretaris pers Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders menggandakan tweet Trump itu bahkan saat ia tampaknya mengakui keasliannya tidak dapat dikonfirmasi. “Entah itu video nyata atau bukan, namun ancamannya nyata,” katanya. “Ancaman itu perlu ditangani dan ancaman itu harus dibicarakan dan itulah yang sedang dilakukan presiden dalam mewujudkannya.”

Raj Shah, wakil sekretaris pers Gedung Putih, kemudian membingkai masalah tersebut sebagai salah satu isu keamanan nasional saat berbicara dengan wartawan di Air Force One. “Presiden telah membicarakan masalah keamanan ini selama bertahun-tahun, dari saat kampanye menuju ke Gedung Putih,” kata Shah.

Ketika ditanya apakah Trump merasa Muslim merupakan ancaman bagi AS, Shah mengangkat kebijakan larangan perjalanan yang diajukan presiden bagi beberapa negara berpenduduk mayoritas Muslim sebagai cerminan pandangannya mengenai masalah ini. “Tidak, lihat, presiden telah membahas masalah ini dengan kebijakan larangan perjalanan yang dikeluarkan pada awal tahun ini,” katanya.

“Ada banyak negara berpenduduk mayoritas Muslim yang warganya bisa datang ke Amerika Serikat tanpa pembatasan perjalanan. Terhadap mereka yang menimbulkan ancaman keamanan publik atau terorisme … mengapa ada batasan perjalanan tertentu diberlakukan.”

Seorang juru bicara perdana menteri Inggris Theresa May, mengatakan bahwa “salah” bagi Trump untuk membuat retweet video tersebut. “Britain First berusaha untuk membagi masyarakat dengan menggunakan narasi kebencian mereka yang menjajakan kebohongan dan memicu ketegangan. Mereka menyebabkan kegelisahan pada orang-orang yang taat hukum,” kata juru bicara tersebut.

“Orang-orang Inggris sangat menolak retorika prasangka dari kelompok sayap kanan itu yang merupakan antitesis dari nilai-nilai yang mewakili negara ini, kesopanan, toleransi dan rasa hormat.”

Ketika diminta untuk menanggapi pernyataan dari Downing Street itu, Shah mengatakan bahwa Trump “sangat menghormati orang-orang Inggris dan Perdana Menteri May”. Shah menolak berkomentar tentang bagaimana tweet yang berasal dari Fransen itu menjadi perhatian Trump.

Reaksi di Capitol Hill telah terredam dengan perhatian terpusat pada upaya partai Republik untuk meloloskan perombakan aturan pajak di AS.

Jim Inhofe, seorang senator dari Oklahoma, mengatakan kepada PBS bahwa dia belum pernah melihat tweet anti-Muslim itu, namun ia mengkritik tentang kebiasaan Trump  dalam menggunakan media sosial. “Saya ingin melihat orang-orang memperhatikan bahasa sebelum mereka merilisnya,” katanya.

David Duke, mantan pemimpin Ku Klux Klan, merayakan tweet Trump itu. “Dia dikutuk karena menunjukkan kepada kita apa yang media palsukan dengan TIDAK AKAN.” Duke menulis di akun Twitter-nya sendiri. “Puji Tuhan bagi Trump! Itu sebabnya kami mencintainya!”

Ketika masih sebagai kandidat, Trump secara rutin menghembuskan api Islamofobia dengan membuat sejumlah pernyataan peradangan tentang umat Islam.

Pada bulan Maret 2016, dia mengatakan kepada CNN: “Saya pikir Islam membenci kita.

Sejak memegang jabatan sebagai presiden, Trump tidak menunjukkan tanda-tanda pergeseran nada suaranya -sering memanfaatkan serangan teroris sebagai bukti bahwa kebijakan larangan perjalanan yang diambilnya diperlukan.

Ellison, yang pada tahun 2007 menjadi Muslim pertama sebagai anggota Kongres, mengatakan bahwa ungkapan menghebohkan terbaru dari Trump ini “sejalan dengan apa yang selalu dia lakukan”.

Ellison mengatakan kepada Guardian, “Kemarin dia menyebut seorang senator AS sebagai Pocahontas di sebuah acara yang dirancang untuk memperingati kontribusi para veteran perang Navajo,” mengacu pada sebuah ejekan rasial yang diarahkan Trump kepada senator Demokrat Elizabeth Warren pada hari Selasa (28/11).

“Hari ini, dia mendorong propaganda kebencian terhadap kaum Muslim … Dia membuat kesetaraan antara Klan dan neo-Nazi dan orang-orang yang memprotes mereka pada musim panas ini.”

Ellison mengatakan bahwa “tidak ada pertanyaan”  bahwa tindakan Trump itu bisa memicu kekerasan di seluruh negeri.

“Apakah bukan kekerasan peristiwa yang menyebabkan wanita tertabrak mobil musim panas ini?” Ellison mengatakan tentang demonstrasi pada bulanAgustus di Charlottesville, Virginia, ketika seorang supremasi kulit putih mengemudikan mobilnya menabrak sekelompok demonstran yang kontra, menyebabkan satu orang tewas dan beberapa terluka.

Ellison juga mengutip pemboman sebuah masjid di negara bagian asalnya Minnesota pada bulan Agustus sebagai konsekuensi dari ujaran kebencian.

“Maksud saya adalah sederhana: Kita harus berdiri untuk solidaritas bagi semua orang dari semua warna dan semua latar belakang,” katanya.

“Kami percaya orang Amerika adalah orang Amerika adalah orang Amerika … Kami percaya bahwa kita membutuhkan semua warna, semua budaya dan semua kepercayaan.”

“Dialah yang mengatakan tidak,” Ellison menambahkan keterangan tentang Trump. “Dialah yang mengatakan bahwa Anda harus menjadi agama yang benar, pigmen yang benar … untuk sepenuhnya bisa menjadi orang Amerika. Dia melakukan ini berkali-kali.”

“Intinya bukan apakah dia rasis atau tidak” – dia memperjelas. “Pertanyaannya adalah apa yang orang Amerika akan lakukan tentang hal itu.” (AB)

 

Sumber: www.theguardian.com

 

Baca juga, BENARKAH AMERIKA SERIKAT NEGARA YANG CINTA DAMAI ?