Akar Idiologi dan Bibit Kerusakan Gerakan Ghulat takfiri

Baca sebelumnya, BIBIT GHULAT TAKFIR MENURUT SYAIKH ABU MUS’AB AS-SURI

Duniaekspress, 05 Desember 2017. – Syaikh Athiyyatullah Al-Libi rahimahullah mengatakan didalam Jawabus Su’al fi Jihad Difa’i:

“Kami pernah menemui orang-orang seperti mereka, dan orang-orang lain pun pernah menemui orang-orang seperti mereka di banyak negara; Mesir, Libya, Aljazair, Afghanistan, Pakistan dan lain-lain. Sunnatullah tentang orang-orang seperti mereka sudah ditetapkan, ditulis dan dikenal luas oleh para ulama, orang-orang yang berakal sehat dan orang-orang yang berpengalaman; yaitu mereka mengkafirkan para ulama, penuntut ilmu, mujahidin dan seluruh masyarakat. Lalu sebagian mereka mengkafirkan sebagian lainnya.

Pada akhirnya keadaan mereka menjadi sangat buruk sekali, sampai-sampai mereka terkadang menghalalkan banyak perkara yang keharamannya telah qath’i (tegas dan pasti), seperti khamr, narkoba dan zina secara terang-terangan serta hal-hal lainnya. Kami telah melihat mereka di Pakistan menghalalkan opium dan narkoba. Pada awalnya mereka meyakini kehalalan memperjualbelikannya, lalu secara bertahap meyakini kehalalan mengkonsumsinya dan meyakini ia bukan hal yang haram; atau mereka mengatakan bahwa saat ini mereka berada di sebuah zaman yang menyerupai zaman Makkah, itulah zaman dakwah kepada tauhid semata dan tidak ada tasyri’ (penetapan hukum) yang mengharamkan perkara-perkara (opium, ganja dan narkoba) ini. (Jawabus-Su’al fi Jihad Difa’i hlm. 18)

Saya katakana : “Sungguh! demi Allah kami menemui ‎banyak orang seperti mereka di negeri kami Indonesia. Jelas bahwa aqidah nyeleneh ini merupakan celah konflik yang akan dimanfaatkan musuh untuk ditunggangi.”

Karena sikap ekstrem dalam beragama berbanding lurus dengan kepentingan musuh, ketika musuh kita tidak mampu menjangkau kita, maka mereka akan mempergunakan orang-orang ghuluw ini untuk kepentingan sesat mereka tanpa mereka sadari, bibit-bibit kerusakan ini sudah biasa kita rasakan di Suriah, Iraq dan Aljazair.

Benang Merah Ghulat Takfir dan Intelijen

Syaikh Athiyyatullah Al-Libi Rahimahullah, mengisahkan sebuah pengalaman berharga ketika beliau diutus oleh Komando Pusat Al-Qaeda ke Aljazair dan Libya. Beliau mengatakan:

“Demi Allah, kami telah melihat mereka dan bergaul dengan mereka di lebih dari satu negara. Para Thaghut murtad membiarkan saja mereka itu berkeliaran bebas, bergerak bebas, tidak diapa-apakan sama sekali.

Kami melihat hal itu dengan mata kami sendiri dan kami bergaul dengan mereka di Libya pada akhir-akhir tahun 80-an abad ke-20 Masehi yang lalu, saat itu serangan-serangan terhadap saudara-saudara kami yang berkomitmen dengan Islam mencapai puncak keganasannya oleh thaghut Moammar Qaddafi, para tentara dan dinas intelijennya. Meski begitu, thaghut Moammar Qaddafi, para tentara dan dinas intelijennya membiarkan begitu saja para Khawarij “Takfiriyyun”, tidak mendekati mereka, bahkan mereka diberi peluang di setiap bidang.

Mengapa demikian? Karena thaghut Moammar Qaddafi, para tentara dan dinas intelijennya mengetahui bahwa para Khawarij “Takfiriyyun” memberikan bantuan penting bagi mereka. Para Khawarij “Takfiriyyun” itu tidak menimbulkan bahaya apapun bagi thaghut Moammar Qaddafi, para tentara dan dinas intelijennya. Bahkan para Khawarij “Takfiriyyun” itu sebenarnya membantu mereka dalam memerangi kaum muslimin yang tertindas!

Bagaimana tidak, sedangkan sifat para Khawarij “Takfiriyyun ” itu sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah Alaihi Wa Sallam : “Mereka memerangi umat Islam dan membiarkan para penyembah berhala.” (. HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, An-Nasai dan ahmad )

Demikianlah, wahai ikhwah! Potensi konflik internal umat Islam digunakan musuh Islam untuk ‎menguras energi kita, menyibukkan kita dari musuh utama kita. Hal semacam inilah yang membuat kita tidak pernah menang dalam segala bidang, baik dalam memilih pemimpin, maupun meraih kemenangan jihad, sebagaimana yang terjadi di Syam, Iraq, Mesir dan Indonesia ini.

Sikap Ghuluw / Ekstrem Adalah Kartu As Musuh

Ketika musuh menemukan rumus ini, maka mereka mengulangi kesuksesan mereka ‎dengan memanfaatkan kaum ekstremis di dalam menggebuk aliran jihad yang berpotensi menjadi ancaman, mereka menciptakan tokoh dengan “tim sukses” nya untuk memutuskan langkah skenario mereka, mereka membuat aqidah dan manhaj sendiri, pedoman pergerakan dan persiapan dana agar simpul kaum ekstrem/ghulat berkumpul dan biasanya mereka akan digunakan untuk proyek-proyek jangka pendek dan digunakan untuk menggebuk lawan politik.

Bersambung … 

Baca juga, MANHAJ KHAWARIJ DALAM PENGKAFIRAN