Duniaekspress, 6 Desember 2017. – Putra Ali Abdullah Saleh, mantan presiden yaman yang dibunuh milisi Houthi telah menyerukan pembalasan dendam terhadap pemberontak Houthi yang mengambil nyawa ayahnya.

“Saya akan memimpin pertempuran sampai Houthi terakhir dilempar keluar dari Yaman … darah ayah saya akan menjadi neraka di telinga Iran,” Ahmed Ali Saleh seperti dikutip Al Jazeera, Selasa (5/12/2017).

Dia meminta dukungan ayahnya untuk mengambil kembali Yaman dari milisi Iran Houthi.

Baca Juga: HOUTHI KLAIM ALI ABDULLAH SALEH TEWAS

Sebelumnya pada hari Senin (4/12) Stasiun Radio Menteri Dalam Negeri yang dikuasai pemberontak Houthi mengabarkan bahwa Mantan presiden Yaman Ali Abdullah Saleh tewas di Sanaa.

Saleh tewas dalam sebuah serangan granat berpeluncur roket (RPG) dan berondongan tembakan ke kendaraannya di sebuah pos pemeriksaan di luar Sanaa pada hari Senin (4/12).

Saleh menjadi target Houthi setelah dia memutuskan hubungan dengan para pemberontak Houthi beberapa hari sebelumnya dan mengindikasikan bahwa dia terbuka untuk melakukan pembicaraan dengan koalisi pimpinan-Saudi, yang telah memimpin perang melawan Huthi sejak tahun 2015.

Baca Juga: PECAH KONGSI MILISI HOUTHI DAN PENDUKUNG SALEH

Sumber yang dekat dengan Saleh dan Houthi mengatakan bahwa mediasi untuk meredakan ketegangan telah gagal, karena milisi Houthi terus mengepung rumah Saleh dan keluarganya di daerah Hadda, Sanaa.

Sumber menambahkan, komite mediasi yang mencoba untuk berkomunikasi dengan komandan kudeta telah gagal menahan ketegangan yang terjadi di lapangan.

Ancaman tersebut muncul saat berita muncul bahwa Tareq Mohammed Abdullah Saleh, keponakan mantan presiden, juga terbunuh dalam bentrokan dengan pemberontak Houthi.

Menurut Reuters, sebuah pernyataan dari partai Saleh pada hari Selasa mengkonfirmasi bahwa komandan militer senior yang nasibnya tidak diketahui, telah tewas.

“Tareq Mohammed Abdullah Saleh diperkirakan akan memimpin operasi militer melawan Huthi, kata analis. (fan)