Duniaekspress, 7 Desember 2017. Arab Saudi menggambarkan keputusan Amerika untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel dan memindahkan kedutaannya di sana sebagai hal yang tidak dapat dijelaskan, tidak bertanggung jawab dan tidak dapat dibenarkan.

Kerajaan Saudi juga memperingatkan konsekuensi berbahaya dari keputusan AS untuk memindahkan kedutaan ke Yerusalem. Ia menambahkan bahwa posisi ini mencelakakan netralitas Washington berkaitan dengan proses perdamaian.

Saudi meminta pemerintah AS untuk meninjau kembali posisinya dan mengatakan bahwa keputusan ini sangat bias terhadap hak-hak rakyat Palestina.

Baca Juga: UNI EROPA KHAWATIRKAN KEPUTUSAN AS TERKAIT YERUSALEM

Presiden Donald Trump sudah mengumumkan pemindahan kedutaan besar Amerika Serikat ke Yerusalem dan mengakuinya sebagai ibu kota Israel, walau sejak awal ditentang oleh sejumlah pihak.

Dalam pidatonya di Gedung Putih, Rabu (06/12), Presiden Trump mengatakan ‘sudah saatnya untuk mengakui secara resmi Yerusalem sebagai ibu kota Israel’.

“Hari ini Yerusalem adalah kursi bagi pemerintah modern Israel, rumah bagi parlemen Israel, Knesset, rumah bagi Mahkamah Agung,” katanya.

Baca Juga: TERKAIT YERUSALEM, PEMIMPIN DUNIA KECAM TRUMP

Begitu ngotot mengakui Yerusalem sebagai Ibukota Israel, nampaknya keputusan yang blunder untuk Amerika, kecaman dan kritikan bermunculan dari para pemimpin dunia.

“Langkah seperti itu akan merupakan pelanggaran yang jelas terhadap hukum internasional dan resolusi Dewan Keamanan PBB,” kata Perdana menteri Pakistan dalam sebuah pernyataannya.

Jeremy Corbyn, pemimpin partai Buruh Inggris, yang menyebut pengakuan Trump terhadap Yerusalem adalah ancaman yang sembrono terhadap perdamaian.

“Pemerintah Inggris harus mengutuk tindakan berbahaya ini dan bekerja untuk menyelesaikan konflik yang adil dan layak,” katanyanya.