Makar Jahat dan Kebodohan Kaum Ekstrim dalam Merusak Jihad Al-Jazair

Bac sebelumnya, INTELIJEN TUNGGANGI KAUM GHULAT TAKFIRI DEMI MEMADAMKAN JIHAD

Duniaekspress, 07 Desember 2017. – Setelah merdeka dari negara Perancis pada tahun 1962, Aljazair dipimpin oleh Presiden Bella. Kemudian munculah Boumedienne sebagai Presiden setelah menggulingkan Bella dan berkuasa selama 16 tahun. Posisi Presiden Aljazair kemudian digantikan oleh Chadli Benjedid, Dia adalah Sekjen Partai Pembebasan Nasional (FLN). Asal tahu aja, FLN adalah satu-satunya partai yang ada di Aljazair. Setelah terjadi pemberontakan dan penentangan terhadap pemerintahan dan FLN, Bendjedid melakukan reformasi dengan mengizinkan berdirinya partai-partai baru. Nah baru pada tahun 1989 berdirilah sebuah partai yang bernafaskan Islam bernama le Front Islamic du Salut (FIS). FIS ini didirikan atas desakan masyarakat Aljazair yang mayoritas muslim. Umat Islam Aljazair kecewa karena satu-satunya partai yang dibentuk pada masa pemerintahan Boumedienne yaitu FLN yang berasaskan sekular gagal dalam mewujudkan kemajuan.

Pendekatan intensif yang dilakukan terhadap rakyat oleh FIS rupa-rupanya berhasil. Hasilnya dalam waktu yang singkat, simpati rakyat pun tertuju pada FIS, hingga mengantarkannya kepada kemenangan pemilu. Umat Islam menyambut gembira kemenangan FIS ini. Rakyat Aljazair menginginkan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik dengan Islam. Kemenangan FIS pada pemilu putaran pertama dan kedua menunjukan bahwa sebagian besar rakyat Aljazair menginginkan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik, kehidupan yang lebih Islami. Sudah cukup bagi FIS dan pemerintahan yang akan terbentuk setelahnya untuk menerapkan Islam.

Akan tetapi sayang sekali, keinginan mulia kaum muslimin Aljazair untuk hidup dalam naungan Islam harus sirna ditelan sang diktaktor yang menjadi bodyguard-nya sistem sekuler. Harapan tegaknya pemerintahan Islam pun tinggalah harapan, kemenangan FIS pada pemilu saat itu membawa dilema tersendiri bagi presiden Aljazair kala itu, Benjedid. Pada satu sisi ia harus menegakkan demokrasi yang berarti dia harus mengakui kemenangan FIS, membiarkan FIS berkuasa. Tapi di lain pihak ia mendapat tekanan dari militer dan Barat untuk membatalkan hasil pemilu untuk menjegal FIS.

FIS harus menelan pil pahit saat militer mengambil alih dan memburu para aktivisnya untuk dijebloskan ke penjara, dalam tragedi pembantaian junta militer Aljazair terhadap para tokoh, anggota dan pendukung Partai Front Penyelamat Islam (le Front Islamique du Salut/FIS). Tindakan junta militer Aljazair yang membantai ribuan rakyat Aljazair, belum ditambah dengan penahanan, penyiksaan dan pemerkosaan kaum muslimin dan muslimat yang mencita-citakan tegaknya syariat Islam, telah merubah gerakan Islam di daerah tersebut untuk mengambil jalan Jihad fi Sabilillah dalam wadah Al-Jamaah Al-Islamiyah Musalahah.

Namun, bergabungnya sejumlah tokoh yang telah bebas dari penjara dan para bekas tawanan Muslim dalam gerakan jihad, serta masuknya tokoh-tokoh yang terkenal penyimpangannya di Peshawar sejak era Jihad Afghan I melawan Soviet, telah membawa atmosfer kemarahan yang tidak wajar, dendam terhadap lingkungan yang berujung pada sikap ghuluw (berlebihan), saling mengkafirkan bahkan saling bunuh sesama mujahidin yang puncaknya pada peristiwa kegagalan total gerakan jihad dan diberangusnya eksistensi mujahidin. Keadaan tersebut, bahkan memaksa Syaikh Athiyatullah Al-Liby keluar dari Aljazair karena nyaris dibunuh oleh kelompok takfiri ini. Sementara pada saat itu, Syaikh Athiyatullah mendapat mandat dari Syaikh Usamah bin Laden dalam membantu Jihad.

Rusaknya gerakan Jihad di Aljazair pada saat itu disebabkan oleh masuknya pemahaman takfiri di kalangan Jihadis di sana, operasi militer di pasar-pasar, masjid-masjid dan tempat-tempat umum telah membuat trauma yang cukup efektif sehingga berhasil memisahkan ‎mujahidin Al-Jazair dari umat Islam disana.

Oleh sebab itu, ketika terjadi Arab Spring / Musim Revolusi Arab pada pertengahan 2011, umat Islam di sana tidak banyak merespon terhadap kejadian seperti di Mesir, Yaman, Suriah, Tunisia dan Bahrain.

Memang benar, umat Islam di Aljazair trauma dengan bentuk-bentuk kekerasan melawan militer pasca pembatalan kemenangan partai FIS di masa-masa sulit pada tahun 1990an sehingga menimbulkan antipati rakyat terhadap pemerintah. Akan tetapi, pemahaman takfiri membuat Jihad di Aljazair gagal mencapai cita-citanya akibat komukasi politik yang sangat buruk terhadap umat.

Hal ini terbukti efektif membungkam gerakan Islam dan menjauhkan kekuatan pendukungnya. Syaikh Abu Mus’ab As-Suri Fakallahu Asrah menjelaskan bahwa kebijakan Barat Salibis melalui penguasa rezim murtad adalah dengan membantu aliran takfir untuk tampil kepermukaan, juga menyebarkan benih-benih takfir dengan operasi badan intelijen. Mereka juga menggunakan sarana media untuk mencampur adukan pemikiran takfiri dengan pemikiran Jihadi. Tujuannya adalah membenturkan antara kedua kelompok tersebut, inilah yang diterapkan tahun 1993-1997 dan mereka berhasil ( Perjalanan Gerakan Jihad 1930-2002 penerbit Aljazeera)

Hal ini pula lah yang disebutkan berungkali oleh Syaikh Athiyyatullah Al-Libi Rahimahullah bahwa jihad Aljazair telah dirusak oleh orang-orang yang ghuluw (ekstrem) di dalam beragama sehingga orang sebaik beliau pun tidak luput dari upaya makar dan pembunuhan dari orang-orang ghuluw tersebut ‎dan kisah beliau telah di tulis oleh Syaikh Abu Bara’ Al-Kuwaiti murid beliau sekaligus kawan seperjuangan beliau, di antara kisah beliau yang ia sebutkan :

“Pada tahun 1995 M dan atas arahan Syaikh Usamah bin Ladin, Syaikh Athiyatullah Al-Libi berangkat ke Aljazair untuk turut serta memimpin jihad di Aljazair. Namun karena orang-orang yang gampang mengkafirkan (Takfiriyyun) seperti Antar Az-Zawabiri, Jamal Az-Zaituni dan lain-lain menguasai medan jihad di sana, maka Syaikh Athiyatullah Al-Libi keluar dari Aljazair dengan terpaksa —sebagaimana beliau ceritakan kepada saya— setelah beliau mengalami upaya pembunuhan oleh kelompok takfiriyah tersebut.

Beliau dan dua orang ulama mujahidin yang bersama beliau akan dibunuh karena mereka mengingkari sebagian tindakan kelompok takfiriyah (Jama’ah Islamiyyah Musallahah) tersebut. Maka mereka membuat makar dengan menempatkan Syaikh Athiyatullah Al-Libi di sebuah tempat, lalu mereka mengatakan: “Jamal Az-Zaituni akan datang untuk menemuimu di sini.”

‎Namun syaikh dengan kecerdasan dan ketajaman firasatnya mencium bau persekongkolan busuk mereka. Maka beliau pun melarikan diri dan menempuh perjalanan yang sangat panjang untuk keluar dari Aljazair. Beliau dikaruniai berkah sehingga akhirnya bisa tiba di Afghanistan untuk kedua kalinya.” (Majalah resmi Al-Qaeda Khurasan,Thalai’ Khurasan Edisi 21 / Ramadhan 1433 H)

Hal demikian juga diceritakan ‎beliau didalam kitab beliau Jawabus Su’al fi Jihad Difa’i tentang keadaan mereka, kisah tersebut sebetulnya juga terjadi di Indonesia sebagaimana yang saya sebutkan di atas, dan Syaikh menceritakan pengalamannya menurut yang beliau lihat dan saksikan sendiri di beberapa negara tentang perasoalan tersebut. Beliau menutup keterangannya tentang mereka dengan mengatakan:

“Demikian juga yang kami dengar tentang keadaan mereka, di beberapa tempat dan beberapa negara. Kisah-kisah mereka hampir serupa di setiap tempat. Kalian nanti juga akan melihat keadaan tersebut pada diri mereka, Abu Maryam Al-Mukhlif dan para pengikutnya. Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang memiliki akal sehat.

Hal ini, demi Allah, merupakan bukti nyata bagi orang yang memiliki hati, mau merenungkan dan menginginkan kebenaran. Bagaimana mungkin thaghut rela kepada mereka dan membiarkan mereka bebas bergerak dan beraktifitas di negaranya, seandainya mereka memang benar di atas kebenaran, tauhid dan jalan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Namun thaghut mengetahui bahwa mereka adalah benih kerusakan dalam “jama’ah muslimah”, yaitu di tengah kaum muslimin. Maka thaghut membiarkan mereka membuat kerusakan (di tengah umat Islam), bahkan terkadang thaghut mendukung mereka, membuka pintu lebar-lebar untuk mereka dan memberi bantuan kepada mereka dalam sikap ekstrim mereka sehingga thaghut mempergunakan mereka untuk “memukul” kaum muslimin. Cukuplah Allah sebagai pelindung kita dan Dialah sebaik-baik pembela.”(Jawabus Su’al fi Jihad Difa’i dan diterjemahkan oleh Manjaniq Media dengan judul Mudah Mengkafirkan ‎hlm. 67-68)

Dari kasus kejadian di atas, terlihat bahwa kegagalan Dakwah dan Jihad kita ‎semua justru di akibatkan masalah internal kaum muslimin, baik dalam perkara-perkara strategi maupun perkara pemahaman, kita terjebak kepada masalah yang sebetulnya tidak penting tetapi menganggapnya sebagai persoalan yang sangat penting, kita lupa kepada musuh utama kita, sedangkan potensi konflik sesama kita, kita obral dan angkat sehingga secara tidak sadar menjadi celah pintu masuk musuh umat Islam untuk membuat makar, perpecahan, permusuhan dan kebencian. Lalu kita saling baku bunuh didalamnya.

Sungguh musuh-musuh kita menikmati pertikaian ini, mereka dapat bersantai sejenak, duduk sejenak dan tidur sejenak, sementara kita habis binasa dengan pertikaian sesama kita. Hal inilah yang menjadi sebab kekalahan kita, jauhnya kita dari pertolongan Allah, jauhnya kemenangan kita di dalam menghadapi musuh-musuh utama kita.

Musuh-musuh kita telah sukses memperdaya kita, memecah belah persatuan dan barisan kita, lihatlah para ulama dan para asatidz, tokoh umat Islam dalam thiyyar jihadi saja sudah seperti ini, dahsyatnya fitnah Dajjal dan Fitnah Duhaima / kegelapan ini, walau oknum Dajjalnya sendiri belum datang, tetapi peristiwa yang mengiringinya tidak beda jauh kesesatanya dan gelapnya dari Dajjal itu sendiri, sehingga Al-Haq dianggap Al-Batil, begitupun sebaliknya Al-Batil dianggap sebagai Al-Haq.

Maka benarlah nasihat tokoh tabi’in bernama Sufyan bin Uyainah Rahimahullah:

“Jika manusia berselisih (dalam perkara agama ini di masa kamu hidup didalamnya) maka berpeganglah (kembalilah) kepada fatwa / ucapan ahli tsugur karena kebenaran ada pada mereka, Allah ta’ala berfirman:

‘Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik’.” (Q.S. Al-Ankabut: 69)

Berdasarkan pendapat para Ulama tersebut, jika ada orang yang berselisih pendapat dengan orang-orang yang secara nyata telah berjuang di medan jihad, sedang dirinya sendiri sama sekali belum pernah ke medan jihad maka pendapatnya harus ditinggalkan dan mengambil pendapat para ulama yang berjuang yaitu para ulama yang kita kenal kejujuran, karya-karyanya, keteguhannya di dalam jihad, istiqomahnya mereka di dalam perkataan dan perbuatan mereka walau musuh-musuh Islam menawannya.

Maka dalam masalah ini kita akan melihat bagaimana kekhawatiran dan kehati-hatian mereka, firasat mereka akan lahir dan tumbuhnya praktik-praktik penyimpangan dalam jihad hari ini, yang secara tidak sadar telah menggembosi Jihad, merusak Jihad, memperburuk citra Jihad dan mujahidin yang penuh barokah ini.

Kekhawatiran para Qiyadah Al-Qaidah Akan Penyusupan Kaum Ghulat/Ekstrimis

Keprihatinan Ulama dan Komandan Mujahidin Al-Qaidah akan fenomena kemunculan individu dan kelompok yang sangat mudah dan gegabah dalam mengkafirkan sesama muslim ini (sedangkan dalam benak dan keyakinan orang-orang “aneh” tersebut: mereka tengah mengkafirkan orang musyrik) telah memberikan dampak sangat buruk, tidak saja kepada aspek dakwah, namun juga kepada aspek jihad di jalan Allah ta’ala.

Bahkan, Asy-Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah pun ikut menyayangkan fenomena ini. Dalam surat yang beliau tulis kepada syaikh Athiyatullah Al-Libi rahimahullah, beliau merekomendasikan kepada syaikh Athiyatullah Al-Libi untuk menulis sebuah buku panduan ringkas guna menyikapi fenomena mudah dan gegabah dalam mengkafirkan sesama muslim tanpa mengindahkan kaedah-kaedah syariat tersebut.

Dalam surat yang melampirkan pernyataan bela sungkawa atas gugurnya syaikh Musthafa Abul Yazid rahimahullah (amir Al-Qaidah wilayah Afghanistan dan Pakistan) dan pengangkatan syaikh Athiyatullah Al-Libi sebagai amir baru Al-Qaidah wilayah Afghanistan dan Pakistan tersebut, syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah antara lain menulis:

“Setelah ikhwan-ikhwan di daerah-daerah melaksanakan dengan penuh komitmen buku panduan (operasi militer Al-Qaidah, edt) tersebut, maka alangkah baiknya apabila antum dan syaikh Abu Yahya Al-Libi menulis sejumlah artikel untuk menasehati para aktivis di media jihad secara umum, termasuk di dalamnya para penulis yang membela mujahidin dalam situs-situs internet.

Syaikh Yunus (Al-Mauritani, pengawas operasi militer Al-Qaidah untuk wilayah Asia Barat dan Afrika, edt) telah menulis surat kepada saya menjelaskan pentingnya merilis sebuah buku panduan ringkas yang menjelaskan sikap kita dari masalah pengkafiran yang tidak mengindahkan kaedah-kaedah pengkafiran dalam syariat.

Maka saya menulis surat balasan kepadanya bahwa saya akan mengirimkan kepada Anda surat yang telah beliau tulis kepada saya. Surat tersebut saya lampirkan di akhir surat saya ini. Saya juga telah meminta beliau untuk terus-menerus mengirimkan pengamatan-pengamatan beliau kepada Anda, agar Anda menulisnya dengan gaya bahasa Anda, mengingat musuh (AS dan aliansinya, edt) bisa mengetahui sosok beliau yang sebenarnya melalui para tawanan yang mengenal gaya bahasa beliau melalui penelaahan artikel-artikel beliau di situs internet.” (Rasail Syaikh Usamah bin Ladin al-lati Nusyirat Ba’da Istisyhadihi, risalah no. 19, hlm. 14).

Surat-surat Syaikh Usamah tersebut ditemukan di rumah beliau di Abottabad oleh pasukan salibis AS dan dipublikasikan oleh Combating Terrorism Center (CTC). Surat syaikh Usamah no. 19 tersebut ditulis pasca gugurnya syaikh Musthafa Abul Yazid, sekitar bulan Mei 2010 M.

Adapun syaikh Yunus Al-Mauritani dalam suratnya kepada syaikh Usamah bin Ladin ~yang juga dilampirkan oleh syaikh Usamah dalam suratnya kepada syaikh Athiyatullah Al-Libi~ menyebutkan dua bentuk ketergelinciran yang sangat berbahaya, yaitu dalam bidang keamanan (security) dan sikap ekstrim-mengkafirkan tanpa mengindahkan kaedah-kaedah pengkafiran sesuai syariat.

Beliau menulis:

“Kedua, ketergelinciran sikap ekstrim dan mengkafirkan tanpa mengindahkan kaedah-kaedah syariat. Dalam hal ini sangat perlu menjelaskan sikap kita dengan cara yang tidak mendua dan tidak ada kesamaran lagi, dan harus dibuat sebuah buku panduan ringkas namun jelas dan tegas, ditujukan kepada setiap pemuda kebangkitan.

Faedah-faedah buku panduan ringkas tersebut tidak asing lagi, seperti menjelaskan keyakinan yang kita yakini dalam agama Allah, nasehat bagi diri kita dan orang-‎orang yang kita cintai dari kalangan seluruh makhluk, dan mencampakkan tuduhan-tuduhan ini (bahwa kita adalah orang-orang yang serampangan mengkafirkan, edt) dari diri kita dan meluaskan cakrawala wawasan saudara-saudara kita.

Sebab saat ini kita menghadapi suatu fase di mana sempitnya cakrawala wawasan telah menjadi fenomena mematikan, kebodohan terhadap syariat menjadi hal yang menghancurkan, tidak menyebar ratanya kesadaran syariat dalam taraf yang mencukupi telah menjadi padang penggembalaan yang buruk. Apalagi saat ini mulai menyebar luas di situs internet istilah “salafi jihadi”, sehingga dikatakan “fulan bukan berada di atas manhaj salafi jihadi” dan ucapan-ucapan semisalnya.

Ini merupakan perkara yang sangat berbahaya, terutama dengan mulai munculnya “tokoh-tokoh” aliran ini yang dianggap sebagai bagian dari kita (Al-Qaedah, edt) namun membangun pendapat-pendapat yang sangat ekstrim dan tegas (pasti, qath’i) dalam perkara-perkara ijtihad yang sifatnya zhanni. Lalu atas dasar pendapat-pendapat sangat ekstrim tersebut mereka memilah-milah manusia dan mengklasifikasikan mereka dengan cara yang nampak jelas tidak terlepas dari tangan-tangan DINAS INTELIJEN dan para INFILTRAN. Kemungkinan itu ada, meskipun kita tidak memastikannya.

Hal ini akan membatasi kita dan mengucilkan kita dari umat Islam oleh klasifikasi-klasifikasi yang sakit seperti ini, yang lebih dekat kepada sikap saling mencela dengan pangggilan yang buruk, daripada kepada upaya menegakkan agama.

Kalian telah mengalami hal seperti itu di Peshawar ‎dan kalian telah melihat dampak-dampak negatifnya di Aljazair.

Jika prinsip (mengklasifikasikan orang atas dasar pendapat-pendapat sangat ekstrim) ini telah tertanam secara mendalam dalam diri manusia, maka ia terkadang menyebabkan orang-orang akan terhalangi dari mengatakan kalimat kebenaran karena takut klasifikasi-klasifikasi tersebut.

Maka penyakit ini harus diberantas sejak dini, meluaskan cakrawala pemahaman manusia dan mengajak mereka kepada kebenaran dengan cara yang bijak.

Kita bukanlah pihak yang memonopoli orang-orang salafi, bukan pula memonopoli para pengikut madzhab-madzhab. Justru kita menjadi bagian dari seluruh umat Islam dan kita mengambil pendapat para ulama mereka sesuai kadar kesesuaiannya dengan kebenaran dengan dalilnya.

Dalam hal itu kita tidak memiliki sedikit pun kerendahan. Kita tidak menjauhi para pengikut madzhab-madzhab yang diikuti meskipun mereka mengendarai punuk unta taklid. Kita juga tidak menjauhi para pengikut salafi meskipun mereka mengendarai punggung kuda ijtihad.

Setiap kelompok tersebut adalah bagian dari umat Islam, dan pendapat masing-masing kelompok tersebut bisa diambil dan bisa ditolak (berdasar kesesuaian atau ketidak sesuaiannya dengan syariat Islam, pent), kecuali pendapat orang yang kepadanya diturunkan surat al-Baqarah Shallallahu ‘alaihi wa Salam (maka wajib diterima semua pendapatnya karena berdasar wahyu Allah).

Dalam perkara-perkara yang sifatnya ijtihadiyah ‘amaliah (amal perbuatan), maka ada kelonggaran. Sementara ‎mayoritas perkara yang sekarang ini kita berperang karenanya adalah perkara-perkara yang telah disepakati oleh para ulama Islam yang diakui kapabilitasnya.

Oleh karena itu harus dibuat sebuah buku panduan ringkas oleh sebagian ulama seperti syaikh Abu Yahya (Al-Libi, edt) dan syaikh Mahmud (Athiyatullah Al-Libi, edt), yang didalamnya mereka menjelaskan masalah-masalah pengkafiran dan menonjolkan aspek kehati-hatian dalam menjatuhkan vonis kafir atas individu-individu (takfir mu’ayyan) serta menjelaskan bahwa kehati-hatian dalam perkara tersebut adalah lebih layak daripada sikap gegabah, terlebih dalam kondisi-kondisi yang masih samar.

Adapun orang yang telah jelas statusnya dan telah terang perkaranya, maka ia dikafirkan dan vonis tersebut dijatuhkan oleh orang-orang yang memiliki kapabilitas dan kelayakan atas hal itu.

Demikian juga selayaknya membuka pikiran mereka terhadap masalah-masalah syar’i dan masalah-masalah siyasah (taktik, politik, edt) sehingga mereka naik kepada level: “Orang mukmin itu cerdas dan teliti (tak gegabah).”

Saya berpendapat bahwa memakai sarana artikel “Jawaban atas pertanyaan tentang jihad defensif” ( jawabus Su’al Jihad Difa’i) karya syaikh Mahmud ( Syaikh Athiyyatullah Al-Libi) akan sangat bermanfaat sekali dalam masalah tersebut dan hendaknya artikel tersebut dipublikasikan seluas mungkin dengan beragam cara dan sarana.” (Rasail Syaikh Usamah bin Ladin al-lati Nusyirat Ba’da Istisyhadihi, risalah no. 19, hlm 47-48 juga telah dimuat muqadimah terjemahan Jawabus Su’al penerbit Manjaniq media)

Hari ini kekhawatiran para Syuyukh menjadi kenyataan, setelah kaum ghulat/ekstrimis berhasil menggagalkan Jihad di Aljazair dan Iraq kini mereka mengulangi kesuksesan di Syam. hal ini mungkin tidak disadari oleh kita semua, akan tetapi kesamaan modus operandinya bisa kita kenali dari tanda-tandanya, ciri-ciri dan sifat-sifatnya. Dan kejadian seperti ini kembali terulang berkali-kali tanpa kita sadari.

Terdapat sebuah riwayat yang menyatakan:

Orang yang beriman tidak jatuh/tersakiti pada satu lubang dengan dua kali.

Benar! Orang mukmin tidak akan jatuh pada lubang yang sama, benarlah ‎ungkapan hadits di atas dan Abu Ubaid berkata: “Makna dari hadits diatas adalah tidak layak seorang mukmin apabila dilukai dari satu sisi kemudian ia kembali padanya.”

Agama kita melarang kita berbuat ceroboh dan mudah tertipu serta wajib bagi kita senantiasa sadar dan waspada. Maka apabila seorang mukmin tersengat binatang dalam satu lubang untuk kali pertama maka itu satu kelalaian. Namun jika ia kembali memasukkan tangannya kedalam lubang tersebut maka itu kebodohan, kedunguan dan ketololan.

 

Bersambung …

 

Baca juga, KHILAFAH ISLAMIYAH AKAN TEGAK BILA AMERIKA TELAH DIKALAHKAN ?