Apa Hukum Orang yang Memakai Pakaian isbal atau yang Menutupi Mata Kaki

Pertanyaan:

Apakah hadis-hadis yang melarang menjulurkan pakaian mengisyarakatkan keharaman menutup mata kaki? Karena terapat beberapa hadis yang menunjukkan keharamannya jika disertai rasa sombong. Apa pendapat Imãm Syafi‘ĩ dan ulama-ulama Syafi‘ĩyyah dalam masalah ini?

 

Jawaban:

Ada sejumlah hadis yang menerangkan larangan menurunkan pakaian hingga ke bawah mata kaki. Salah satu di antara adalah hadis, “Sesuatu yang berada di bawah dua mata kaki dari kain sarung tempatnya di dalam neraka” (HR. Bukhãrĩ). Namun namun harus diingat, larangan dan celaan itu terikat (muqayyad) dengan sifat sombong atau angkuh si pemakai pakaian itu. Dan hadis itu sebenarnya berkaitan dengan adab atau akhlaq dalam berpakaian sebagaimana diterangkan dalam hadis-hadis yang alain. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas‘ûd:

 

مَنْ أَسْبَلَ إِزَارَهُ فِى صَلَاتِهِ خُيَلَاءَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ جَلَّ ذِكْرُهُ فِى حَلٍّ وَلَا حَرَامٍ.

“Barangsiapa yang memanjangkan sarungnya dalam shalatnya karena sombong, maka ia di hadapan Allah seperti orang yang tidak mengenal halal dan haram.” (HR. Abû Dãwud).

 

Yang dimaksud oleh hadis di atas adalah orang yang memanjangkan kain sarungnya “karena kesombongan” tempat mereka di neraka. Hal itu menunjukkan orang yang memanjangkan pakaian sampai di bawah tumit kaki atau menyentuh tanah, kalau tanpa disertai sifat sombong, maka tidak termasuk dalam ancaman itu. Kesimpulan ini diperjelas oleh hadis lain yang dikeluarkan Bukhãrĩ, Abû Dãwud dan An Nasãi, bahwa Abû Bakar berkata kepada Rasulullah SAW setelah ia mendengar hadis tersebut: “Sesungguhnya kain sarungku selalu melorot ke bawah kecuali saya menaikkannya”, lalu Rasulullah SAW menjawab kepada Abû Bakar: “Sesungguhnya engkau bukan termasuk yang melakukanya dengan sombong.”

 

Sekalipun demikian, benar dan harus diakui adanya hadis-hadis yang menegaskan celaan dan larangan memakai pakaian yang melewati kedua mata kaki, namun seperti yang disebutkan di atas, bahwa hadis-hadis tersebut harus dipahami sebagai larangan dan celaan bagi orang yang memakai pakaian yang menjulur melewati mata kaki dengan sombong dan angkuh. Rasulullah SAW bersabda:

 

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ اْلإِزَارِ فِى النَّارِ.

“Sesuatu yang berada di bawah dua mata kaki dari kain sarung tempatnya di dalam neraka” (HR. Bukhãrĩ).

 

Dalam melihat hadis seperti hadis di atas, hadis-hadis tentang pakaian yang menjulur melewati mata kaki atau yang popular dengan istilah “isbal”, pertama sekali yang harus dilakukan adalah mengumpulkan hadis-hadis tersebut. Seluruh hadis yang terkait dengan tema harus dikumpulkan; baik yang illatnya dengan jelas disebutkan, yaitu “sombong” atau hadis-hadis yang tidak menyebutkan illatnya. Kemudian langkah selanjutnya adalah menetapkan hukum (istimbat). Hadis-hadis larangan isbal yang disebutkan secara umum wajib dibawa kepada hadis-hadis yang membatasinya (muqayyad) dengan sifat “khuyala” atau sombong. Inilah yang disebut dengan kaedah membawa lafadl mutlak (general) kepada lafdl yang muqayyad (membatasi makna) wajib hukumnya. Disebutkan dalam kaedah ushul fikih dalam bak mutlak dan muqayyad sebagai berikut:

 

حَمْلُ اْلمُطْلَقِ عَلَى اْلمُقَيَّدِ إِذَا لَمْ يَكُنْ هُنَاكَ مُقَيَّدَانِ مُتَضَادَّيْنِ أَوْ مُخْتَلِفَيْنِ، فَإِنْ كَانَ هُنَاكَ مُقَيَّدَانِ فَلاَ يُحْمَلُ اْلمُطْلَقُ عَلَى اْلمُقَيَّدِ.

“Lafadl mutlak harus dibawa kepada lafadl muqayyad dengan ketentuan jika tidak terdapat dua lafadl muqayyad yang paradok atau berbeda. Jika berbeda maka mutlak itu tidak dibawa kepada yang muqayyad.”

 

Dengan kaedah ini, lafadl hadis “Sesuatu yang berada di bawah dua mata kaki dari kain sarung tempatnya di dalam neraka” harus dibawa kepada lafadz hadis yang muqayyad, yaitu hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Umar, ia menuturkan bahwa Rasulullah SAW:

 

لَا يَنْظُرُ اللهُ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ.

“Allah tidak melihat orang (di akhirat) yang memanjangkan pakaiannya (hingga menutup mata kaki) dalam keadaan sombong.” (HR. Bukhãrĩ dan Muslim).

 

Setelah lafadl pertama (mutlak) dibawa ke lafadl kedua (muqayyad) maka isbal atau menjulurkan pakaian yang tercela dan terlarang adalah isbal yang disertai dengan rasa sombong dan angkuh. Dan maksud “Allah tidak melihat orang (di akhirat) yang memanjangkan pakaiannya (hingga menutup mata kaki) dalam keadaan sombong.” artinya Allah tidak akan melihatnya dengan pandangan kasih sayangNya, Allah tidak memberi rahmat kepada lelaki yang memanjangkan atau menyeret celananya sampai ke tanah karena sombong atau angkuh.

Hal ini ditegaskan oleh Ash Shan‘ãnĩ pengarang kitab Subulus Salãm: “Pakaian yang lebih dari itu (artinya menutupi kedua mata kaki) sesungguhnya tidak berdosa bagi pelakunya, dan pakaian yang menjulur melewati kedua mata kaki itu baru haram kalau pemakaiannya untuk kesombongan atau keangkuhan”.

Pendapat inilah yang dikukuhkan Imãm Syafi‘ĩ dan mayoritas Syafi‘ĩyah. Dan inilah pendapat mu’tamad atau pendapat yang diakui dalam mazhab Imãm Syafi‘ĩ. Bahwa menjulur pakaian haram hukumnya jika disertai rasa sombong. Sekalipun ada beberapa dari ulama Syafi‘ĩyah yang berbeda dengan pendapat Imãm Syafi‘ĩ, seperti Al Hãfidz Adz Dzahabĩ. Imãm Nawawĩ berkata dalam Al Majmu’ Syarah Al Muhazzab jilid 3 halaman 177:

” ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﺴﺪﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﻻ ﻓﻲ ﻏﻴﺮﻫﺎ ﻟﻠﺨﻴﻼﺀ ، ﻓﺄﻣﺎ ﺍﻟﺴﺪﻝ ﻟﻐﻴﺮ ﺍﻟﺨﻴﻼﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﻬﻮ ﺧﻔﻴﻒ ؛ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻷﺑﻲ ﺑﻜﺮ ﺭﺿﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻭﻗﺎﻝ ﻟﻪ : ﺇﻥ ﺇﺯﺍﺭﻱ ﻳﺴﻘﻂ ﻣﻦ ﺃﺣﺪ ﺷﻘﻲ . ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ : ‏( ﻟﺴﺖ ﻣﻨﻬﻢ ‏) ” ﺍﻧﺘﻬﻰ .

“Tidak boleh menjulurkan pakaian jika disertai rasa sombong baik dalam shalat ataupun di luar shalat. Menjulurkan pakaian tanpa rasa sombong pada saat shalat lebih ringan berdasarkan sabda Rasulullah SAW kepada Abû Bakar ketika beliau berkata kepada Rasulullah SAW: “Sesungguhnya kain sarungku selalu melorot ke bawah”, lalu Rasulullah SAW menjawab: “Sesungguhnya engkau bukan termasuk yang melakukanya dengan sombong.”

 

Dalam kesempatan lain Imãm Nawawĩ menulis:

” ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺇﺳﺒﺎﻟﻪ ﺗﺤﺖ ﺍﻟﻜﻌﺒﻴﻦ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻟﻠﺨﻴﻼﺀ ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻟﻐﻴﺮﻫﺎ ﻓﻬﻮ ﻣﻜﺮﻭﻩ ، ﻭﻇﻮﺍﻫﺮ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﻓﻰ ﺗﻘﻴﻴﺪﻫﺎ ﺑﺎﻟﺠﺮ ﺧﻴﻼﺀ ﺗﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﻢ ﻣﺨﺼﻮﺹ ﺑﺎﻟﺨﻴﻼﺀ ، ﻭﻫﻜﺬﺍ ﻧﺺ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻰ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻔﺮﻕ ” ﺍﻧﺘﻬﻰ

“Tidak boleh menjulurkan pakaian ke bawah mata kaki jika dikarenakan rasa sombong. Namun jika tidak dikarenakan rasa sombong maka hanya makruh saja. Lahiriyah teks-teks hadis tentang isbal muaqayyad (dibatasi/ ditafsrkan) jika dikarenakan rasa sombong. Ini menunjukkan bahwa pengharamannya khusus jika disertai rasa sombong. Dan inilah pendapat Imãm Syafi‘ĩ. (Syarah Shahih Muslim jil 14 halaman 62). Wallahu A’lam.

[sultan serdang]

Baca juga SAHKAH SHOLAT DENGAN PAKAIAN YANG MENUTUP MATA KAKI?