Duniaekspress, 14 Desember 2017. – Ketegangan semakin meningkat sejak AS mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, Rabu pagi pasukan Israel menahan seorang pemimpin senior Hamas di Tepi Barat.

Hasan Yousef ditangkap dari rumahnya di kota Ramallah, Tepi Barat, menurut anaknya.

“Puluhan tentara Israel menggerebek rumah saat fajar dan menangkap ayah saya,” kata Oays Hasan, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (13/12/2017)

Yousef, 57 tahun senior Hamas ini telah berkali-kali ditangkap oleh pasukan Israel dan telah menghabiskan total 21 tahun di penjara-penjara Israel.

Pasukan Israel juga menangap 32 warga Palestina, termasuk anggota Hamas, dalam penyergapan semalam di beberapa wilayah di Tepi Barat karena diduga terlibat dalam kegiatan “teroris”, kata tentara Israel dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga: HAMAS SERUKAN INTIFADAH BARU UNTUK ZIONIS

Ketegangan meningkat di Tepi Barat dan Jalur Gaza menyusul keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump minggu lalu untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Pemimpin Hamas Ismail Haniya mengatakan bahwa keputusan Amerika Serikat untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel adalah sebuah deklarasi perang melawan orang-orang Palestina dan menyerukan intifadah baru atau melakukan pemberontakan.

Haniya mengatakan dalam sebuah konferensi pers di Kota Gaza pada hari Kamis bahwa pengakuan Presiden AS Donald Trump tersebut telah mematikan proses perdamaian antara Israel danPalestina.

Yerusalem tetap menjadi jantung konflik Israel-Palestina, dengan orang-orang Palestina berharap bahwa Yerusalem Timur  yang diduduki oleh Israel pada tahun 1967 – pada akhirnya dapat berfungsi sebagai ibu kota negara Palestina masa depan.

Menjelang pemilihannya tahun lalu, Trump berulang kali berjanji untuk memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem, mungkin ini realisasinya. [fan]

Berita Terkait:

BENTROK DENGAN TENTARA ISRAEL PULUHAN WARGA TERLUKA

PERNYATAAN AL QAIDAH TERKAIT AL QUDS