Duniaekspress, 16 Desember 2017. – Sebuah laporan organisasi kemanusiaan internasional mengatakan, sedikitnya 9.000 Rohingya tewas di negara bagian Rakhine dari 25 Agustus hingga 24 September.

Dokter Lintas Batas (MSF), yang menerbitkan angka tersebut pada hari Kamis (14/12) setelah melakukan survei di kamp-kamp pengungsi di Bangladesh.

Menurut laporan tersebut, kematian 71,7 persen atau 6.700 Rohingya disebabkan oleh kekerasan. Mereka termasuk 730 anak di bawah usia 5 tahun.

Dikatakan bahwa lebih dari 647.000 orang Rohingya telah menyeberang dari Myanmar ke Bangladesh sejak 25 Agustus, menurut angka PBB, jumlahnya adalah 656.000. Para pengungsi tersebut melarikan diri dari operasi militer yang melibatkan pasukan keamanan dan massa Buddhis yang membunuh pria, wanita dan anak-anak, serta menjarah rumah dan membakar desa-desa Rohingya.

“Kami bertemu dan berbicara dengan korban kekerasan di Myanmar, yang sekarang berlindung di kamp-kamp yang padat dan tidak sehat di Bangladesh,” katanya Sidney Wong Direktur medis MSF.

“Apa yang kami temukan sangat mengejutkan, baik dari segi jumlah orang yang melaporkan seorang anggota keluarga meninggal akibat kekerasan, dan mereka menceritakan kesaksian mengerikan bagaimana cara anggota keluarga mereka terbunuh dan luka yang mereka dapatkan,”

Baca Juga: LEBIH DARI 6.700 MUSLIM ROHINGYA TEWAS DI MYANMAR

Puncak kematian bersamaan dengan peluncuran “operasi pembersihan” terbaru oleh pasukan keamanan Myanmar pada minggu terakhir bulan Agustus, tambah Dr. Sidney Wong.

“Tembakan adalah penyebab kematian pada 69 persen kematian terkait kekerasan, diikuti dengan dibakar sampai mati di rumah mereka (9 persen) dan dipukuli sampai mati (5 persen),”

“Di antara anak-anak di bawah usia 5 tahun, lebih dari 59 persen yang terbunuh selama periode tersebut dilaporkan tertembak, 15 persen dibakar sampai mati di rumah mereka, 7 persen dipukuli sampai mati, dan 2 persen meninggal karena ledakan ranjau darat.”

Wong mengatakan penandatanganan kesepakatan untuk kembalinya pengungsi antara pemerintah Myanmar dan Bangladesh adalah “prematur”.

“Rohingya seharusnya tidak dipaksa untuk kembali sebelum keamanan dan hak mereka dijamin, sebelum rencana itu ada dapat dipertimbangkan secara serius,” tambahnya.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang-orang yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat atas serangan tersebut sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012. (fan)