Lihatlah Bagaimana Orang yang Menjadikan Hawa Nafsu Sebagai Tuhannya

As Salãmu ‘Alaikum war Rahmatullahi wa Barakãtuhu. Bismillahir Rahmãnir Rahĩm. Wash Shalãtu was Salãmu ‘alã Rasulillah. Wa ba’du.

Ikhwati fillah. Allah Ta‘ãlã mengingatkan:

أَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلٰهَهُ ۥ  هَوٰىهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

“Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?” (QS. Al Furqãn[25]: Ayat 43).

Dalam surat Al Jãtsiyah ayat 23 Allah Ta‘ãlã  juga mengingatkan hal yang sama: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya[1384] dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”.

Lihatlah diri kita. Betapa sering kita merasa sombong, marah-marah tanpa alasan yang jelas, kikir, iri dengki, berkeluh kesah? Hampir tiap waktu kita selalu diisi oleh sifat-sifat tersebut. Tanpa sadar, posisi Allah Ta‘ãlã sebagai Tuhan dalam diri kita sudah digantikan oleh hawa nafsu kita. Walaupun secara lahiriah nampak shalih, rajin shalat, baca Al Qur’an, namun sesungguhnya tidak akan banyak bermakna jika kita tidak menyadari bahwa kita harus menyingkirkan tuhan-tuhan hawa nafsu dari relung hati kita.

Kemudian yang tidak kalah penting adalah ketika hawa nafsu menjadi tempat pelampiasan syahwat dunia, baik itu kekuasaan, harta ataupun wanita. Tidak sedikit manusia yang bergelimang hawa nafsu merasa seperti lebih nyaman. Kekuasaan, harta dan wanita menjadi sesuatu yang nikmat ketika fantasi hawa nafsu dijadikan konsumsi sehari hari.

Tidak mudah merubah kondisi itu ketika seseorang tidak tampil dengan iman dan selalu memperbaharuinya setiap saat, agar mampu mengusir bisikan hawa nafsu itu. Hawa nafsu itu menjadi sesuatu yang jahat dan menyesatkan, karena ia berubah bentuk menjadi sesuatu yang memalingkan manusia dari petunjuk sebagaimana firman Allah Ta‘ãlã:

وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِالسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Q.S. Yûsuf[12]: 53).

Al Hãfidz Ibnu Katsir berkata: “Yaitu (nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan) kecuali nafsu yang Allah menjaganya (dari keburukan )”. Sesungguhnya nafsu itu selalu memerintahkan kepada sesuatu yang diinginkannya, meskipun ia menyuruh kepada sesuatu yang tidak diridhai oleh Allah Ta‘ãlã, kecuali Allah memberi rahmat kepada siapa yang dikehendakiNya dari makhlukNya, maka Dia menyelamatkannya dari (bahaya) mengikuti hawa nafsu dan mentaatinya dari keburukan-keburukan yang diperintahkannya. Allah Ta‘ãlã berfirman:

ثُمَّ جَعَلْنٰكَ عَلٰى شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat (peraturan) dari agama itu, maka ikutilah (syariat itu) dan janganlah engkau ikuti hawa nafsu keinginan orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al Jãtsiyah[45]: 18).

Allah Ta‘ãlã lalu melanjutkan firmanNya:

إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَإِنَّ الظّٰلِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ وَاللَّهُ وَلِىُّ الْمُتَّقِينَ

“Sungguh, mereka tidak akan dapat menghindarkan engkau sedikit pun dari (azab) Allah. Dan sungguh, orang-orang yang dzhalim itu sebagian menjadi pelindung atas sebagian yang lain; sedang Allah pelindung bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Jãtsiyah[45]: 19).

Banyak sekali ayat-ayat dalam Al Qur’an yang menceritakan tentang buruknya hawa nafsu. Sedikit demi sedikit hawa nafsu akan menggiring manusia ke lembah kebinasaan yaitu dengan meninggalkan Al Qur’an. Orang-orang yang dibuai hawa nafsu itu adalah orang-orang yang Allah katakan sebagai orang yang berperilaku zalim. Maka tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada petunjuk Al Qur’an dalam mengendalikan hawa nafsu, karena di dalamnya mengandung resep yang mulia dalam rangka menjaga fitrah manusia sebagai hamba-hamba yang Allah Ta‘ãlã kehendaki. Wallahu a’lam

 

#AbuMiQdam

Baca juga, JIHAD HAWA NAFSU VS JIHAD PERANG