Duniaekspress, 16 Desember 2017. – Dari tangan Syaikh Ibnu Qayyim al-Jauziyah lahir ulama-ulama kenamaan dari berbagai madzhab di negeri Syam, baik Syafi’iyyah maupun dari Hanbaliyyah. Ia juga terkenal produktif menulis buku. Tercatat, ada sekitar 41 buah karya kitab dari berbagai disiplin ilmu telah ia tulis selama hidupnya. Karena itu, ia dijuluki “kamus ilmu pengetahuan”.

Dia dilahirkan pada tanggal 7 Shafar tahun 691 H. Di perkampungan Hauran, sebelah tenggara Damaskus. Ayahnya adalah seorang kepala Madrasah al-Jauziyyah, sebuah Madrasah  yang didirikan oleh Syaikh oleh Muhyiddin Abu al-Mahasin Yusuf bin Abdil Rahman bin Ali al-Jauzi. Nama al-Jauziyah adalah nisbat kepada madrasah yang dikelola oleh ayahnhya.

Beliau adalah ahli fikih bermadzhab Hanbali. Disamping itu juga seorang ahli tafsir, ahli hadits, penghafal al-Quran, ahli ilmu nahwu, ahli ushul, ahli ilmu kalam, sekaligus seorang mujtahid dari madzhab Hanbali. Guru pertamanya adalah ayahnya sendiri, Syaikh Abu Bakar al-Jauzi, ulama yang ahli fikih dan ilmu faraidh.

Guru utamanya adalah Syaikh Ibnu Taimiyah, dimana ia beberapa tahun bermulazamah dengannya. Sejak tahun 712 H hingga wafatnya tahun 728 H.  Pada masa itu, Ibnul Qayyim sedang pada awal masa-masa mudanya. Oleh karenanya beliau sempat betul-betul mereguk sumber mata ilmunya yang luas. Beliau dengarkan pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah yang penuh kematangan.

Dia tidak hanya pakar fikih Hanbali tapi juga ahli tafsir, hadis, kalam, tasawwuf dan sastra Arab. Seorang muridnya, Ibnu Rajab, berkomentar: “Dia pakar dalam tafsir  tak tertandingi, ahli dalam bidang ushuluddin dan ilmu ini mencapai puncak di tangannya, ahli dalam fikih dan ushul fikih, ahli dalam bidang bahasa Arab dan memiliki kontribusi besar di dalamnya, ahli dalam bidang ilmu kalam, dan juga ahli dalam bidang tasawuf. Ibnu Katsir berkata, “Dia mempelajari hadits dan sibuk dengan ilmu. Dia menguasai berbagai cabang ilmu, utamanya ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu ushuluddin, dan ushul fikih”.

Burhanuddin al-Zar’i mengatakan bahwa tidak ada di bawah ufuk bumi ini yang lebih luas ilmunya daripada Ibnu al-Qayyim . Dia telah menulis dengan tangannya karya-karya yang tak dapat digambarkan dan menyusun sejumlah karangan yang banyak sekali tentang berbagai ilmu.

Ia menjadi teladan baik untuk para ulama karena cukup produktif menulis. Ada sekitar 41 karya kitab yang telah ia tulis. Di antaranya:

Tahdzib Sunan Abi Daud, I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin, Ighatsatul Lahfan fi Hukmi Thalaqil Ghadlban, Ighatsatul Lahfan fi Masha`id asy-Syaithan, Bada I’ul Fawa’id Amtsalul Qur’an, Buthlanul Kimiya’ min Arba’ina wajhan, Bayan ad-Dalil ’ala istighna’il Musabaqah ‘an at-Tahlil, At-Tibyan fi Aqsamil Qur’an, At-Tahrir fi maa yahillu wa yahrum minal haris, Safrul Hijratain wa babus Sa’adatain, Madarijus Salikin baina manazil Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in, Aqdu Muhkamil Ahya’ baina al-Kalimit Thayyib wal Amais Shalih al-Marfu’ ila Rabbis Sama’, Syarhu Asma’il Kitabil Aziz, Zaadul Ma’ad fi Hadyi Kairul Ibad, Zaadul Musafirin ila Manazil as-Su’ada’ fi Hadyi Khatamil Anbiya’, Jala’ul Afham fi dzkris shalati ‘ala khairil Am, Ash-Shawa’iqul Mursalah ‘Alal Jahmiyah wal Mu’aththilah, Asy-Syafiyatul Kafiyah fil Intishar lil firqatin Najiyah, Naqdul Manqul wal Muhakkil Mumayyiz bainal Mardud wal Maqbul, Hadi al-Arwah ila biladil Arrah, Nuz-hatul Musytaqin wa raudlatul Muhibbin, al-Jawabul Kafi Li man sa`ala ’anid Dawa`is Syafi, Tuhfatul Wadud bi Ahkamil Maulud,Miftah daris Sa’adah, Ijtima’ul Juyusy al-Islamiyah ‘ala Ghazwi Jahmiyyah wal Mu’aththilah, Raf’ul Yadain fish Shalah, Nikahul Muharram, Kitab tafdlil Makkah ‘Ala al-Madinah, Fadl-lul Ilmi, ‘Uddatus Shabirin wa Dzakhiratus Syakirin, al-Kaba’ir, Hukmu Tarikis Shalah, Al-Kalimut Thayyib, Al-Fathul Muqaddas, At-Tuhfatul Makkiyyah, Syarhul Asma il Husna, Al-Masa`il ath-Tharablusiyyah, Ash-Shirath al-Mustaqim fi Ahkami Ahlil Jahim, Al-Farqu bainal Khullah wal Mahabbah wa Munadhorotul Khalil li qaumihi,  Ath-Thuruqul Hikamiyyah.

Meski Syaik Ibnu Qayyim bermadzhab Hanbali, namun para muridnya ternyata ada yang dari madzhab Syafi’i. hal ini menunjukkan tradisi para ulama dahulu yang tidak egois dan fanatik dalam madzhab. Yang hebat, para muridnya banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti Ibnu Katsir, seorang imam hafizh yang terkenal yang terkenal dengan kitab tafsirnya. Selain Ibnu Katsir, di antaranya adalah:
  1. Ibnu Rajab. Dia adalah Abdurrahman Zainuddin Abu al-Faraj bin Ahmad bin Abdurrahman yang biasa digelar dengan Rajab al-Hanbali. Dia memiliki beberapa karangan yang bermanfaat.
  2. Syarafuddin Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Dia adalah putra Abdullah bin Muhammad. Dia sangat brilian. Dia mengambil alih pengajaran setelah ayahnya wafat di ash- Shadriyah.
  3. As-Subki. Dia adalah Ali Abdulkafi bin Ali bin Tammam as-Subki Taqiyuddin Abu al-Hasan.
  4. Adz-Dzahabi. Dia adalah Muhammad bin Ahmad bin ‘Usman bin Qayimaz adz- Dzahabi at-Turkmani asy-Syafi’i. Dia adalah seorang imam, hafizh yang memiliki banyak karangan dalam hadits dan Iain-lain.
  5. Ibnu Abdulhadi. Dia adalah Muhammad Syamsuddin Abu Abdullah bin Ahmad bin Abdulhadi al-Hanbali. Dia adalah seorang hafizh yang kritis.
  6. An-Nablisi. Dia adalah Muhammad Syamsuddin Abu Abdullah an-Nablisi al- Hanbali. Dia mempunyai beberapa karangan, di antaranya kitab Mukhtashar Thabaqat al-Hanabilah.
  7.  Al-Ghazi. Dia adalah Muhammad bin al-Khudhari al-Ghazi asy-Syafi’i. Nasabnya sampai kepada Shahabat Zubair bin Awwam r.a.
  8. Al-Fairuzabadi. Dia adalah Muhammad bin Ya’qub al-Fairuzabadi asy-Syafi’i. Dia pengarang sebuah kamus dan karangan-karangan lain yang baik.
Ibnul Qayyim meninggal dunia pada waktu isya’ tanggal 13 Rajab 751 H. Ia dishalatkan di Mesjid Jami’ Al-Umawi dan setelah itu di Masjid Jami’ Jarrah; kemudian dikuburkan di Pekuburan Babush Shagir.Bumi Syam