DITEMBAK DARI JARAK DEKAT DENGAN PELURU KARET ANAK PALESTINA MENDERITA KOMA

Duniaekspress, 18 Desember 2017- Seorang anak laki-laki Palestina berusia 14 tahun mengalami luka yang cukup parah, setelah tentara Israel menembaknya dengan peluru karet saat terjadi demonstrasi menentang sebuah keputusan presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Saksi mata menjelaskan, Mohammed Tamimi ditembak dari jarak dekat di desa Nabi Saleh di Tepi Barat yang diduduki pada hari Jumat (15/12).

Manal Tamimi, sepupu kedua Mohammed, mengatakan peluru itu memasuki wajah remaja ini di bawah hidungnya dan mematahkan rahangnya sebelum masuk ke tengkoraknya.

“Darah itu mengalir dari wajahnya seperti air mancur,” kata ibu 43 tahun ini seperti yang dilansir Al Jazeera, Ahad (17/12/2017).

“Itu sangat menakutkan, tidak ada yang tahu apa yang harus dilakukan Kami takut untuk memindahkannya Dia telah pingsan dan kami takut dia meninggal.” tambahnya.

Manal menjelaskan lebih lanjut dengan luka yang diterima Mohammad yang menyebabkan pendarahan internal, Mohammed harus menjalani prosedur enam jam yang melibatkan tujuh ahli bedah Palestina di rumah sakit Istishari dekat Ramallah.

Para dokter mengeluarkan peluru itu, mengembalikan rahangnya dan memasukkannya ke dalam koma buatan selama 72 jam.

“Situasinya sangat buruk,” katanya. “Dokter khawatir dia mungkin akan mengalami gangguan pada penglihatan dan pendengarannya.”

Keluarga tersebut tidak akan mengetahui tingkat kerusakan akibat luka tersebut sampai Mohammed terbangun pada hari Selasa.

Baca Juga: HAMAS KECAM TINDAKAN BRUTAL ISRAEL

Peluru karet banyak digunakan oleh pasukan keamanan Israel sebagai “senjata kontrol kerumunan” di Tepi Barat yang diduduki, yang memicu protes dari kelompok hak asasi manusia dan aktivis yang mengatakan bahwa jenis peluru ini terlalu mematikan untuk dipakai dalam membubarkan demonstrasi.

Penggunaan peluru karet dilarang di Israel dan kota Yerusalem lebih dari satu dekade yang lalu setelah sebuah penyelidikan atas pembunuhan sedikitnya 12 warga Palestina Israel pada tahun 2000.

Pasukan keamanan Israel kemudian mulai menggunakan peluru berbentuk spons atau “plastik” di Israel dan Yerusalem, sambil terus menggunakan peluru karet di Tepi Barat yang diduduki.

Namun, baik peluru karet maupun plastik telah menyebabkan luka serius, dan bahkan kematian.

Pertahanan untuk Anak-anak Internasional – Palestina (DCIP), sebuah kelompok hak asasi manusia, mengatakan seorang anak laki-laki Palestina berusia 15 tahun tewas pada bulan Desember tahun lalu oleh sebuah peluru karet di utara Ramallah. Lima bulan sebelumnya, seorang anak laki-laki berusia 10 tahun meninggal karena peluru spons di kota al-Ram, kata kelompok tersebut. (IF).