Manhaj Sesat Khawarij Klasik dan Modren dalam Pengkafiran Ahlul Kiblat
Duniaekspress, 19 Desember 2017. – Salah satu kesalahan fatal kelompok khawarij adalah takfir serampangan yang mereka alamatkan kepada kaum muslimin. Takfir serampangan inilah ciri khas mereka yang paling mendasar di antara ciri-ciri yang lain.
Kesalahan tersebut berawal dari keyakinan mereka bahwa kesalahan (dosa) yang dalam akidah tidak bertingkat-tingkat (tidak mengenal Ushûl – Furûl dalam akidah). Mereka mengartikan iman satu kesatuan. Artinya, bagi mereka dosa yang terkait dengan akidah, baik dosa tersebut pada iman yang paling dasar (ushûlul Imãn) ataupun pada cabang iman (Far’ul Imãn) tingkatan kesalahannya sama; sama-sama dosa yang mengkafirkan peakunya.
  Menurut mereka, setiap kesalahan dalam masalah akidah mesti berujung kepada takfir pelaku. Padahal, dosa yang terkait dengan akidah tidak satu tingkatan. Adakalanya dosa tersebut menghilangkan ushûlul Imãn, adakalanya menghilangkan kesempurnaan iman (Far’ul Imãn), bahkan adakalanya pula hanya menghilangkan –bahkan hanya melukai- ashlul ahlis sunnah (dasar keyakian ahlus sunnah).
  Artinya, adakalanya pelaku dosa yang terkait akidah jatuh ke dalam dosa yang mengkafirkan, seperti pelaku dosa syirik akbar. Adakalanya jatuh ke dalam dosa yang konsekuensinya keluar dari barisan ahlus sunnah, seperti menolak azab kubur dengan mentakwilkan berbagai ayat-ayat Al Qur’an. Dan adakalanya pula jatuh ke dalam dosa besar, artinya tidak mengkafirkan pelakunya sekalipun dosanya terkait akidah.
Berikut adalah risalah atau tulisan tentang manhaj khawarij yang ditulis cucu Syeikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhãb, yaitu Syaikh Abdul Rahmãn bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhãb. Mudah-mudahan risalah ini dapat membantu para pembaca memahami manhaj khawarij dalam akidah, sehingga tidak terjebak dalam manhaj mereka dan tidak terjebak dalam menvonis setiap kelompok dengan tuduhan kelompok khawarij.
Syaikh Abdul Rahmãn bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhãb ditanya tentang manhaj khawarij. Lalu beliau menjawab:
“Adapun manhaj khawarij, maka mereka mengkafirkan Ahlul Imãn hanya dikarenakan melakukan dosa, padahal dosanya tidak sampai derajat kesyirikan dan kekafiran. Mereka telah memberontak dari kekhilafan ‘Alĩ bin Abĩ Thãlib –semoga Allah meridhainya-. Mereka juga mengkafirkan para sahabat sebagaimana peperangan yang terjadi antara para sahabat dan khawarij.
Mereka berdalilkan dengan ayat-ayat, hadis-hadis dalam masalah tersebut, namun mereka salah dalam Istidlal (metodelogi pengkajian hukum). Setiap kemaksiatan yang tidak sampai kepada derajat kesyirikan dan kekafiran maka pelakunya tidak dikafirkan. Namun ia dilarang (melakukan dosa tersebut) jika ia bersikeras melakukan dosa besar tersebut dan tidak tobat darinya, maka wajib melarangnya dan menghalanginya. Dan setiap kemungkaran wajib diingkari, barangsiapa yang meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman wajib diingkari.
Akan tetapi ia tidak dikafirkan, kecuali jika ia : Ia melakukan dosa kekafiran yang ditunjukkan Al Qur’an dan Sunnah bahwa dosa tersebut adalah kekafiran. Begitu pula perbuatan atau keyakinan yang disepakati para ulama kekafirannya. Sebagaimana orang yang mengingkari kewajiban yang sudah populer dalam agama. Atau dia menghalalkan keharaman yang sudah populer dalam agama.
Maka beberapa hal di atas termasuk yang disepakati para ulama bahwa hal tersebut bentuk kekafiran jika ia menolak kewajiban yang sudah baku. Tidak  dikafirkan jika seseorang meninggalkan shalat karena ia meremehkan dan bermalas-malasan. Yang popular dalam madzhab Ahmad bin Hambal ia diminta tobat,  jika ia tobat dimaafkan, kalau tidak dibunuh sebagai orang kafir.  Adapun jumhur yang tiga (mazhab Hanafiyah, Mãlikiyah, dan Syafi’ĩyyah), mereka tidak mengkafirkannya dikarenakan meninggalkan shalat, justru mereka hanya menghitungnya sebagai dosa besar.
Begitu pula jika ia melakukan dosa besar –sebagaimana telah dibahas sebelumnya- maka ia tidak dikafirkan menurut Ahlus Sunnah wal Jamã’ah, kecuali jika ia menghalalkan dosa besar tersebut. Selesai.
(Sultan Serdang).