Duniaekspress, 20 Desember 2017. –  Hingga hari ini Presiden Amerika Serikat, Donald Trump tetap bersikeras untuk mengakui Al-Quds sebagai ibu kota Israel. Keputusan sepihak tersebut menuai beragam kecaman dari berbagai belahan dunia. Terutama dari kalangan umat Islam, penyataan Trump jelas menyakiti iman yang diyakini selama ini. Wilayah Al-Quds yang terdapat Masjid Al-Aqsha merupakan bagian tanah yang disucikan oleh Allah. Namun dibalik itu semua, ada beragam hikmah yang mampu menyadarkan umat. Di antaranya adalah persatuan untuk membela bumi Al-Quds yang terjajah.

Karena itu, ulama pakar hadis dari Kuwait, Syaikh DR. Hakim Al-Mathiri dalam salah satu segmen tanya jawab persoalan Palestina akhir-akhir ini, beliau menjelaskan ada beberapa poin yang wajib disadari oleh setiap muslim dalam upaya membebaskan al-Quds:

Pertama: Sudah saatnya umat ini memahami bahwa pembebasan Al-Quds adalah tugas seluruh Umat Islam. Bukan hanya tugas rakyat Palestina. Semuanya wajib untuk berjuang untuk memerdekannya. Dalilnya tegas—baik nash syar’i maupun ijma para ulama—menyatakan bahwa seluruh kaum muslimin wajib mengembalikan wilayah yang terjajah dimana dulu pernah dikuasai umat Islam.

Maka sudah sepantasnya bagi setiap muslim untuk memperbaharui janjinya dengan Allah Ta’ala. Ya, Janjinya untuk berjihad di jalan Allah demi pembebasan bumi Al-Quds yang terjajah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 111).

Aksi Bela Palestina di Monas

Aksi Bela Palestina di Monas

Sebab, ketika mereka bersikap apatis dengan persoalan yang dihadapi umat dan tak ada keinginan untuk berjuang maka penyakit nifaq (munafik) akan bercokol dalam hatinya. Hingga apabila ia mati dalam keadaan tersebut, maka oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam disebut mati dalam keadaan munafik. Sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ, وَلَمْ يُحَدِّثْ نَفْسَهُ بِهِ, مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ

“Barangsiapa meninggal dunia sementara dia belum pernah berperang atau meniatkan diri untuk berperang, maka dia mati di atas satu cabang dari kemunafikan.” (HR. Muslim)

Dalam AlMinhaj, Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Maknanya ialah siapa saja yang melakukan ini maka dia mirip dengan orang-orang munafik yang meninggalkan amalan jihad. Sebab, meninggalkan jihad adalah satu cabang dari kemunafikan.” (Al Minhaj: 13/50)

Kedua: Hendaknya bagi setiap muslim menyiapkan diri untuk terlibat dalam upaya pembebasan Al-Quds. Yaitu dengan cara menanamkan sikap wala’ wal bara’ (loyalitas dan permusuhan) atas dasar ikatan Iman. Tidak mengangkat orang kafir sebagai teman dekat, pemimpin atau tempat untuk mengais bantuan. Sikap loyalitas tidak diikat sebatas kumpulan Partai atau ikatan kebangsaan sehingga mengahalangi dirinya untuk menolong Palestina. Allah SWT berfirman :

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تُتْرَكُوا وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُوا مِن دُونِ اللَّهِ وَلَا رَسُولِهِ وَلَا الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (At-Taubah: 16)

Ketiga: Memahami kemampuan diri lalu melalukan apapun yang bisa dia kerjakan dalam pertempuran ini. Diawali dengan jihad lewat tulisan hingga berujung kepada jihad yang sesungguhnya, yaitu perang dengang mempersembahkan jiwa dan hartanya.

جَاهِدُوا المُشْرِكِينَ بأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ

“Berjihadlah memerangi orang-orang musyrik dengan harta, jiwa dan lisan kalian,” (HR. Ibnu Majah)

Kepada orang yang alim maka jihadnya adalah menjelaskan hukum syar’i tentang wajibnya jihad ketika musuh menyerang umat Islam. Membantah setiap syubhat yang dimunculkan musuh. Mengingatkan umat tentang bahayanya meninggalkan apa yang telah diwajibkan Allah.

فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ} [التوبة: 122].

“…Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (At-Taubah: 122)

Kepada para da’i atau mereka para penulis maka jihadnya adalah menggelorakan semangat jihad umat serta membantah setiap syubhat yang dihembuskan musuh. Allah Ta’ala berfirman:

“Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan (Nya).” (An-Nisa: 84)

Kepada mereka yang aktif di Lembaga perundang-undangan negara, kewajibannya adalah menjelaskan kewajiban setiap muslim untuk terlibat dalam pembebasan negeri Umat Islam yang terjajah. Membantu kaum muslimin yang berjuang serta membela mereka dari tuduhan-tuduhan miring yang dilemparkan musuh. Seperti sebutan ekstrimisme, teroris dan sebagainya.

Kepada mereka yang memegang kepemimpinan, maka jihad mereka adalah menggerakan umat serta memimpin mereka untuk terlibat dalam pertempuran pembebasan Al-Quds.

Demikian juga dengan orang-orang yang dimanahi harta yang berlebih maka jihad mereka adalah memberi bekal kepada para mujahidin atau minimal mengeluarkan zakatnya untuk perjuangan jihad. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah,..” (At-Taubah: 60).

HAMAS

Pejuang HAMAS di Palestina

ya membagi zakat kepada delapan golongan yang telah ditentukan dalam ayat tersebut. Beban hukum belum lepas dari pengelola zakat, sebelum harta zakat itu terbagikan kepada semua golongan tersebut.

Karena itu, haram hukumnya menghalangi para muzakki (orang yang menunaikan zakat) yang menyerahkan zakatnya kepada mujahidin di Palestina karena takut dengan tuduhan mendanai aksi terorisme.

Keempat: Bagi mereka yang belum diberi kemampuan untuk melakukan salah satu dari hal di atas, maka kewajibannya adalah selalu berdoa agar para mujahidin bisa istiqamah dan segera mendapatkan kemenangan. Lalu setelah itu ia harus berlepas diri dari para penggembos syariat jihad. Menghindar dari fitnah orang-orang munafik serta mengingatkan umat tentang bahaya mereka dalam tubuh umat Islam.

Kemudian kewajibannya juga adalah berada selalu bersama orang-orang yang jujur bergabung bersama umat untuk berjuang dan membela Al-Quds yang tercinta. Menanamkan sikap optimisme dalam diri dan keluarganya bahwa kemenangan pasti akan diperoleh oleh orang-orang beriman. Wallahu a’lam bis shawab!

Penulis: Fakhruddin(Kiblat)

Diinisiasi dari tulisan Syaikh Hakim al-Mathiri yang diposting di https://ask.fm/drhakem

 

Baca juga, VETO RESOLUSI PBB, LIGA ARAB KECAM AS