Surat Cinta Pejuang HAMAS di Gaza Kepada Umat Muslim Indonesia

Duniaekspress, 20 Desember 2017. – Saudaraku, bagaimana kabar anda hari ini? Semoga Allah SWT selalu mencurahkan taufik dan hidayahnya kepada kita semua , aamiin. Saudaraku mungkin kalian akan bertanya kepadaku alasan mengirim surat ini kepada kalian muslim Indonesia.

Jawabannya hanya satu karena negeri kalian berpenduduk muslim terbanyak di atas bumi ini, bukan demikian saudaraku?

Saudaraku beberapa tahun silam saya sempat berkenalan dengan salah seorang aktivis dakwah asal Indonesia ketika menunaikan ibadah haji. Ia mengatakan bahwa ada sekitar 205 ribu jama’ah asal Indonesia menunaikan ibadah haji setiap tahunnya. Wah, sungguh jumlah yang sangat fantastis dan membuat saya berdecak kagum.

Saudaraku, jika jumlah jama’ah haji asal Gaza sejak tahun 1987 sampai sekarang digabung, itu belum bisa menyamai jumlah jama’ah haji dari negara kalian dalam 1 musim haji saja.

Padahal jarak tempat kami ke Baitullah lebih dekat dibanding kalian. Wah pasti uang kalian sangat banyak, apalagi menurut sahabatku itu ada 5% dari rombongan tersebut yang menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya, Subhanallah.

Saudaraku , pernah saya berkhayal dalam hati, kenapa kami tidak dilahirkan di negeri kalian saja. Pasti sangat indah dan mengagumkan. Negeri kalian aman, kaya, dan subur, setidaknya itu yang saya ketahui tentang negeri kalian.

Saudaraku, di negeri kalian para ibu masih dengan mudah menyusui bayi – bayinya, susu formula pun pastinya mudah kalian dapatkan di toko – toko. Ibu-ibu hamil juga dapat memilih rumah sakit bersalin sesuai dengan keinginan pribadinya.

Hal-hal inilah yang membuatku iri kepadamu, karena tidak mungkin terjadi di negeri kami. Tidak jarang tentara Zionis menahan mobil ambulance ,ketika hendak mengantarkan istri kami untuk melahirkan di rumah sakit yang lebih lengkap alatnya di daerah Rafah.

Sehingga istri kami terpaksa melahirkan di atas mobil, saudaraku!
Susu formula bayi adalah barang langka di Gaza sejak kami diblokade 2 tahun yang lalu, namun Allah SWT memberi kemudahan kepada istri kami untuk tetap menyusui bayi – bayinya dan menyapihnya hingga 2 tahun lamanya, walau terkadang untuk memperlancar ASI mereka, istri kami rela minum air rendaman gandum.

Saudaraku, menurut informasi dari media elektronik di negara kalian tidak sedikit kasus pembuangan bayi yang tidak jelas siapa ayah dan ibunya. Terkadang ditemukan mati di parit – parit, selokan, dan tempat sampah.

Mengapa hal itu dapat terjadi? Hal lain yang membuat saya terkejut dan merinding, ternyata negeri kalian adalah negeri yang tertinggi kasus arbosinya untuk wilayah Asia.

Astaghfirullah.

Ada apa dengan kalian?

Apakah karena di negeri kalian tidak ada konflik bersenjata seperti kami disini, sehingga orang bisa melakukan hal hina seperti itu?

Sepertinya kalian belum menghargai arti sebuah nyawa.

Sejak Zionis laknatullah menyerang kami di Gaza, hampir setiap hari kami menyaksikan bayi – bayi yang meninggal. Namun, bukanlah di selokan – selokan atau got – got apalagi di tempat sampah.

Mereka mati syahid saudaraku! Mati syahid karena serangan roket!

Kami temukan mereka tak bernyawa lagi di pangkuan ibunya, di bawah puing – puing bangunan rumah kami yang hancur oleh serangan Zionis Israel.

Saudaraku, nilai seorang bayi yang lahir adalah aset kami dalam melawan penjajah Yahudi. Mereka adalah mata rantai yang akan menyambung perjuangan kami memerdekakan negeri ini.

Perlu kalian ketahui, sejak serangan zionis tahun 2009 kemarin, saudara – saudara kami yang syahid sampai 1400 orang, 600 orang diantaranya adalah anak – anak kami.

Sejak saat itu sampai hari ini Allah SWT memberi kemudahan bagi kami, dengan lahirnya 3000 bayi baru di jalur Gaza. Subhanallah kebanyakan mereka adalah anak laki – laki dan banyak yang kembar, Allahu Akbar!

Saudaraku , negeri kalian subur dan makmur, tanaman apa saja yang kalian tanam akan tumbuh dan berbuah, namun kenapa di negeri kalian masih ada bayi yang kekurangan gizi, menderita busung lapar?.

Apa karena sulit mencari rizki disana?

Apa negeri kalian di blokade juga?

Perlu kalian ketahui saudaraku, tidak ada satupun bayi di Gaza yang menderita kekurangan gizi, apalagi sampai mati kelaparan, walau sudah lama kami diblokade.

Sungguh kalian terlalu manja! Saya adalah pegawai tata usaha di kantor pemerintahan HAMAS sudah 7 bulan ini belum menerima gaji bulanan saya. Tetapi Allah SWT mencukupkan rizki untuk kami.

Perlu kalian ketahui pula, bulan ini saja ada sekitar 300 pasang pemuda baru saja melangsungkan pernikahan. Ya mereka menikah di sela – sela serangan agresi Zionis.

Mereka mengucapkan akad nikah diantara bunyi letupan bom dan peluru, saudaraku. Perdana menteri kami memberikan santunan awal pernikahan bagi semua keluarga baru tersebut.

Saudaraku, terkadang sayapun iri, seandainya saya bisa merasakan pengajian atau halaqah pembinaan di negeri Anda. Seperti yang diceritakan teman saya, program pengajian kalian pasti bagus, banyak kitab mungkin kalian yang telah baca. Dan banyak buku – buku pasti sudah kalian baca.

Kalian pun bersemangat kan? itu karena kalian punya waktu.

Saudaraku, kami di sini tidak memiliki waktu yang banyak. Satu jam, ya satu jam itu adalah waktu yang dipatok untuk kami disini untuk halaqoh.

Setelah itu kami harus terjun ke lapangan jihad, sesuai dengan tugas yang diberikan kepada kami. Kami disini sangat menanti- nantikan saat halaqah tersebut walau hanya 1 jam. Tentu kalian bersyukur, punya waktu untuk menegakkan rukun – rukun halaqah, seperti ta’aruf, tafahum dan takaful disana.

Hafalan antum pasti lebih banyak daripada kami. Semua pegawai dan pejuang hamas disini wajib menghafal Surah Al – Anfal sebagai nyanyian perang kami, saya menghafal di sela – sela wkatu istirahat perang, bagaimana dengan kalian?

Akhir desember kemarin, saya menghadiri acara wisuda penamatan hafalan 30 Juz anakku yang pertama. Ia merupakan 1 diantara 100 anak yang tahun ini menghafal Al – Qur’an dan umurnya baru 10 tahun.

Saya yakin anak – anak kalian jauh lebih cepat menghafal Al-Qur’an ketimbang anak – anak kami disini. Di Gaza tidak ada SDIT seperti di tempat kalian yang menyebar seperti jamur di musim hujan.

Disini anak – anak belajar diantara puing – puing reruntuhan gedung yang hancur, yang tanahnya sudah di ratakan, di atasnya diberi beberapa helai daun kurma.

Ya, di tempat itu mereka belajar, saudaraku. Bunyi setoran hafalan Qur’an mereka bergemuruh diantara bunyi – bunyi senapan tentara Zionis. Ayat – ayat jihad paling cepat mereka hafal. Karena memang di depan mereka tafsirnya, langsung mereka rasakan.

Oh iya, kami harus berterima kasih kepada kalian semua, melihat solidaritas yang kalian perlihatkan kepada masyarakat dunia.
Kami menyaksikan aksi demo – demo kalian.

Subhanallah, kami sangat terhibur, karena kalian merasakan apa yang kami rasakan disini. Memang banyak masyarakat dunia yang menangisi kami disini termasuk kalian yang di Indonesia.

Namun, bukan tangisan kalian yang kami butuhkan, saudaraku. Biarlah butiran air matamu adalah catatan bukti akhirat yang dicatat Allah sebagai bukti ukhuwah kalian kepada kami. Do’a – do’a dan dana telah kami rasakan manfaatnya.

Oh iya, hari semakin larut, sebentar lagi adalah giliran saya menjaga kantor, tugasku untuk menunggu jika ada telpon dan fax yang masuk. Insya Allah, nanti saya ingin sambung dengan surat yang lain lagi.

Salam untuk semua pejuang –pejuang Islam, ulama – ulama dan calon mujahidin – mujahidin kalian.

Abdullah Gaza

Seluruh isi surat ini telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dari Bahasa Arab, yang dikirim oleh seorang bernama Abdullah Al-Ghaza yang berasal dari Gaza city-Jalur Gaza melalui surat elektronik dan artikel diterbitkan oleh Buletin Islami. (lasdipo.co)

 

Baca juga, ISRAEL NGOTOT PENJARAKAN AL JUNEIDI