Duniaekspress, 19 Desember 2017- Negara-negara Arab mengecam hak veto Amerika Serikat pada hari Senin (18/12) atas resolusi PBB terkait permasalahan Yerusalem.

AS memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang menolak pembentukan fasilitas diplomatik di kota yang diperebutkan di Yerusalem.

Langkah tersebut dilakukan kurang dari dua minggu setelah Washington mengakui kota suci tersebut sebagai ibu kota Israel dan memulai proses untuk memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv.

Empat belas anggota dewan memilih untuk menyetujui resolusi yang disponsori Mesir yang akan menuntut agar Presiden AS Donald Trump menarik keputusannya tersebut. A.S. adalah satu-satunya suara berbeda pendapat.

Mesir

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Ahmed Abu Zeid menyatakan penyesalannya dalam sebuah pernyataan tertulis.

“Mesir sedih dengan hak veto dari keputusan penting yang tidak menghiraukan hati nurani masyarakat internasional dan secara terbuka menolak pengakuan AS atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel.”

Abu Zeid mencatat bahwa kelompok Arab di PBB akan berkumpul untuk melihat situasi dan mendiskusikan langkah-langkah yang harus diambil untuk melindungi status Yerusalem.

Palestina

Juru bicara kepresidenan Palestina Nabil Abu Rudeina mengecam hak veto AS, dia menyebutnya sebagai penghinaan terhadap masyarakat internasional dan sebuah pengakuan terhadap pendudukan dan agresi Israel.

Abu Rudeina menekankan bahwa hak veto ini akan menyebabkan isolasi lebih lanjut dari AS dan merupakan provokasi masyarakat internasional.

Kelompok Hamas Palestina mengatakan dalam sebuah pernyataan tertulis bahwa Yerusalem adalah ibukota Palestina selamanya, dan keputusan AS dan Israel tidak akan mengubah fakta ini.

Dalam pernyataan tersebut, Hamas mendesak masyarakat internasional dan dunia Arab dan Islam untuk bertindak demi pelestarian, Yerusalem dan tempat-tempat suci dan Hamas memperingatkan Israel untuk tidak mengambil langkah-langkah untuk mengubah status Yerusalem sekarang.

Kuwait

“Kami berdiri menentang terhadap langkah-langkah sepihak atas pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel ini menunjukkan bahwa kita tidak sendiri, dan perhatian kita sebenarnya adalah dunia yang bebas,” Merzuk Ali El Ganim, juru bicara parlemen Kuwait, mengatakan dalam sebuah pernyataan tertulis.

Dia juga berterima kasih kepada Mesir atas resolusi yang diajukannya ke Dewan Keamanan PBB, yang seperti sebuah referendum internasional.

Qatar

Ali Karadaghi, sekretaris jenderal Persatuan Cendekiawan Muslim Internasional (IUMS) yang berkantor pusat di Qatar, mengatakan dalam akun twitternya keputusan tersebut (pangakuan AS terhadap Yerusalem, red) sebagai ‘teror dan tantangan bagi semua negara’.

Status Jerusalem telah lama dianggap sebagai isu status terakhir yang harus ditentukan oleh perundingan damai Israel-Palestina, dan keputusan Trump secara luas dipandang sebagai penghalang pemahaman lama. [Anadolu]

Baca Juga:

PASUKAN UDARA ISRAEL TARGETKAN BRIGADE AL QASSAM

MUI AJAK MASYARAKAT DUNIA CABUT MANDAT AS