Natal Bersama Dan Mengucapkan Selamat Natal hukumnya “HARAM”,
Apakah ada Al-Qur’an melarangnya ?

Duniaekspress, 23 desember 2017. – Tidak sekali dua kali saya mendengarkan pernyataan berisi pertanyaan seperti ini dari orang-orang yang mengaku cendikiawan muslim. Inilah cara mereka yang sering mereka pergunakan untuk menyudutkan para ulama sehingga seolah-olah ulama berbicara dan berfatwa tanpa mempedulikan sumber utama ajaran Islam yaitu Al-Qur’an al-Karim.

Setelah itu, mereka juga telah menyiapkan berbagai label yang menyakitkan untuk para ulama yang tetap berpegang kepada fatwa keharaman natal bersama dan haramnya seorang muslim mengucapkan selamat natal.

Label itu mulai dari “itu kan penafsiran yang relatif”, “itu pemahaman yang normatif”, “itu adalah pandangan fundamentalis yang tidak bisa berfikir dinamis”, “itu kan pandangan khawarij dan wahabiy”, “itu kan fiqh yang tidak sesuai dengan kondisi yang pluralis”, “itu kan tidak nasionalis” bahkan sampai kepada label, “itu lah pemikiran terorist”.
Terserahlah apa pun label yang tuan-tuan siapkan untuk jawaban singkat yang saya tulis ini, saya tetap akan mengatakan bahwa:

larangan natal bersama dan ikut memeriahkannya dengan berbagai cara termasuk mengucapkan selamat natal, telah dilarang oleh Allah swt dalam Al-Qur’an al-Karim. Karena itu, hukumnya adalah HARAM.

Perhatikan firman Allah swt:
وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا [الفرقان : 72]
“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan kepalsuan dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lewat (saja) dalam keadaan menjaga kehormatan dirinya”. (QS. al-Furqan 25:72)

Kalimat لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ dalam ayat tersebut sering diterjemahkan dengan tidak melakukan kesaksian palsu.
Apakah terjemahan itu bisa dijatakan tepat dari sudut pandang para ahli tafsir ???

Ternyata terjemahan itu hanyalah mengambil satu pemahaman yang tidak mencakup seluruh makna الزُّورَ dalam bahasa arab ketika disesuaikan dengan redaksi ayat tersebut yang merupakan sifat dari hamba-hamba Al-Rahman (Allah swt) pada ayat sebelumnya (ayat 63 surat al-Furqan).

Kalau kita perhatikan lagi kata يَشْهَدُونَ yang merupakan kata kerja aktif yang membutuh objek (maf’ul), ia langsung bersambung dengan objeknya yaitu kata الزُّورَ maka terjemahan “memberikan kesaksian palsu” bukan lah terjemahan yang tepat.
Karena kata kerja يشهد adalah kata aktif yang ada kalanya menggunakan huruf jar “bi” dan adakalanya langsung.
Bila kata يشهد dengan huruf “bi” (بـ) maka baru dia bermakna “memberitakan” namun bila kata يشهد langsung bersambung dengan objeknya tanpa huruf “bi” (بـ) maka dia lebih kuat berarti “menyaksikan atau hadir”.
Sedangkan menterjemahkan kata الزُّورَ dengan sebatas palsu dalam makna berita adalah menyempitkan perngertian ayat dan mengkhususkannya tanpa ada dalil.

Kalau diperhatikan tafsir para ulama, kata الزُّورَ itu memiliki banyak pengertian sebagaimana yang dipaparkan oleh al-Imam al-Thabariy dalam tafsir beliau.
Kata الزُّورَ bisa bermakna syirik, perkataan dusta, hari-hari perayaan orang-orang kafir, tempat-tempat kemaksiatan dan lain-lain.
Dari berbagai makna itu, tidak ada alasan untuk mengkhususkan maknanya hanya pada “berita palsu” saja.

Ini lah yang disampaikan oleh al-Imam al-Thabariy dalam tafsir beliau:
فإذا كان ذلك كذلك, فأولى الأقوال بالصواب في تأويله أن يقال: والذين لا يشهدون شيئا من الباطل لا شركا, ولا غناء, ولا كذبا ولا غيره, وكلّ ما لزمه اسم الزور, لأن الله عمّ في وصفه إياهم أنهم لا يشهدون الزور, فلا ينبغي أن يخص من ذلك شيء إلا بحجة يجب التسليم لها, من خبر أو عقل
“Apabila demikian adanya, maka pendapat yang lebih pantas dibenarkan dalam tafsirnya adalah: dan mereka (hamba-hamba Allah) adalah orang-orang yang tidak menyaksikan suatu kebatilan apapun, baik kesyirikan, nyanyian, kedustaan dan lainnya dalam bentuk apa saja yang dijangkau oleh istilah الزور tersebut karena Allah telah mempergunakan kata umum dalam menjelaskan sifat mereka (hamba-hamba Allah) bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak menyaksikan الزور. Maka tak patut mengkhususkan apapun dari keumuman itu kecuali dengan hujjah yang bisa diterima baik dalam bentuk khabar maupun nalar”.

Jadi, tidak ada keraguan lagi bahwa larangan menghadiri perayaan kaum musyrikin telah ditunjukkan oleh firman Allah swt dalam surat Al-Furqan ayat 72 sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu ‘Asyur dalam tafsir beliau (al-Tahrir wa al-Tanwir) karena perayaan natal dalam keyakinan kaum muslimin adalah kepalsuan bahkan merupakan cacian dan penghinaan terhadap Allah swt sebagaimana sabda Rasul saw:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ” قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، وَشَتَمَنِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ: لَنْ يُعِيدَنِي كَمَا بَدَأَنِي، وَلَيْسَ أَوَّلُ الْخَلْقِ بِأَهْوَنَ عَلَيَّ مِنْ إِعَادَتِهِ، وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ: اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا، وَأَنَا الْأَحَدُ الصَّمَدُ، لَمْ أَلِدْ وَلَمْ أُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لِي كُفُوًا أَحَدٌ”( رواه البخاري و النسائي)
Diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a., bahwasanya Nabi ﷺ bersabda, telah Berfirman Allah ta’ala: Ibnu Adam (anak-keturunan Adam/umat manusia) telah mendustakanKu, dan mereka tidak berhak untuk itu, dan mereka mencaciKu padahal mereka tidak berhak untuk itu, adapun kedustaannya padaKu adalah perkataanya, “Dia tidak akan menciptakankan aku kembali sebagaimana Dia pertama kali menciptakanku (tidak dibangkitkan setelah mati)”, adapun cacian mereka kepadaku adalah ucapannya, “Allah telah memiliki seorang anak, (padahal) Aku adalah Ahad (Maha Esa) dan Tempat memohon segala sesuatu (al-shomad), Aku tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada satupun yang menyerupaiku”. (HR. al-Bukhari dan an-Nasa-i)

“Ayat Itu Menjatuhkan Tuan-tuan Bukan Menegakkan”
(Dalil kelompok Pluralisme Membolehkan Ucapan Selamat Natal,
adalah Hujjah Salah Pasang Atau “Salah Samek”

Bila kaum pluralis berhujjah dengan ayat Al-Qur’an untuk membela fatwa bolehnya mengucapkan selamat natal atau selamat hari raya peribadatan agama apapun yang dirayakan oleh kaum kafir, kita akan menemukan ayat 33 surat Maryam adalah andalan mereka.

{وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا} [مريم : 33]
“Dan salam semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (QS. maryam 19:33)

Seolah-olah dengan satu ayat itu, menurut mereka selesailah perkara dan gugurlah pandangan para ulama yang sebenarnya tidak hanya berhujjah dengan satu dalil.
Anehnya lagi dalam menggunakan ayat itu sebagai hujjah, mereka terlihat sekali tidak jujur secara ilmiah dan sangat jelaskan memaksakan maksud ayat agar sesuai dengan selera mereka.

Mungkin ini lah bukti nyata dari firman Allah swt:
{وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُم بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِندِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِندِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ} [آل عمران : 78]
“Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui”. (QS. Ali ‘Imran 3:78)

Dan dikuatkan lagi oleh sabda Rasul saw:
عن ابن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم من قال في القرآن برأيه فليتبوأ مقعده من النار” (رواه النسائي و ابن حبان)
“Dari Ibnu ‘Abbas ra, beliau berkata: Rasulullah saw bersabda: siapa yang berbicara tentang Al-Qur’an dengan nalarnya (semata) maka tempatilah kedudukanya dari api neraka”. (HR. al-Nasa’iy dan Ibnu Hibban)

Bagaimana tidak ?!

Cobalah perhatikan bagaimana mereka mencabut ayat ayat itu dan menjadikan huruf “waw” pada kata وَالسَّلَامُ tidak bermakna padahal ia merupakan “huruf ‘athaf” yang begitu penting dikala memahami munasabah (keharmonisan atau kesesuaian) antara ayat dengan ayat sebelumnya. (Lihat i’rab “waw” ini dalam kitab al-Tibyan fi i’rab al-Qur’an” karya Abu al-Baqa’ al-‘Akbariy).
Mungkin mereka menganggap itu hanya huruf permulaan yang tidak ada hubungannya dengan ayat sebelumnya.
Dari titik awal itu saja, sudah ketahuan penipuan mereka terhadap umat. Mereka putuskan hubungan antara ayat 33 surat Maryam itu dengan ayat-ayat sebelumnya khususnya ayat 30 s/d 32 :

{قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا} [مريم : 30]
( 30 ) Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,
{وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا} [مريم : 31]
( 31 ) dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;
{وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا} [مريم : 32]
( 32 ) dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.

Dan mereka malah sengaja melupakan ayat yang senada dengan itu dalam surat yang sama (Surat Maryam) yaitu ayat 15 :
{وَسَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا} [مريم : 15]
( 15 ) Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.

Pekerjaan seperti inilah yang dinamakan pengkhianatan ilmiah ! Padahal “ilmu munasabat” yang mengkaji tentang keharmonisan antara ayat dengan ayat bahkan surat dengan surat, merupakan pembahasan dasar dalam ilmu tafsir. Sehingga sangat mengherankan bila profesor tafsir bisa melupakan hal ini.

Mungkin mereka yang mengaku penganut “faham galauisme” atau “relatifisme”, akan mengatakan bahwa itu kan relatif bukanlah kepastian. Sayangnya pernyataan seperti itu akan berhadapan dengan dinding kokoh yang terdiri dari tafsir-tafsir ulama terkemuka nan jauh di atas kaliber mereka seperti yang dikatakan oleh al-Qadhi al-Baidhawiy dalam tafsir beliau “Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil” berikut ini:

وَالسَّلامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا كما هو على يحيى والتعريف للعهد والأظهر أنه للجنس والتعريض باللعن على أعدائه، فإنه لما جعل جنس السلام على نفسه عرض بأن ضده عليهم كقوله تعالى: وَالسَّلامُ عَلى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدى فإنه تعريض بأن العذاب على من كذب وتولى
“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”, sebagaimana juga berlaku pada Nabi Yahya (pada ayat 15). Penggunaan kata ma’rifah (pada kata salam yaitu وَالسَّلامُ) menunjukkan bahwa maknanya sudah dikatahui (yaitu tertuju kepada salam yang diberikan kepada Nabi Yahya as) namun yang lebih nyata terlihat, adalah untuk menunjukkan jenis serta sindiran dengan laknat kepada para musuhnya.
Sesungguhnya ketika Nabi Isa as menjadikan hakikat dari salam untuk dirinya, beliau menyindir dengan menujukan kebalikannya menimpa mereka (para musuh Nabi Isa as) seperti firman Allah swt وَالسَّلامُ عَلى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدى (Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk). Sesungguhnya perkataan Allah swt tersebut adalah sindiran atas orang yang mendustakan lagi berpaling (dari hidayah Allah swt)”.

Kalau diperhatikan tafsir-tafsir lainnya, seperti Ibnu Katsir, al-Qurthubiy, al-Thabariy, al-Baghawiy, al-Shabuniy, al-Syaukaniy, Ibnu ‘Asyur dan lainnya, tidak akan jauh berbeda penafsiran para ulama tersebut dan bahkan tak seorang pun yang mengatakan bahwa ayat itu adalah dalil bagi umat Islam untuk ikut merayakan kelahiran Nabi Isa as.

Selanjutnya bila ditelaah pula lebih jauh ungkapan السَّلامُ (salam) dalam ayat itu maka kita menemukan bahwa kata itu merupakan mubtada’ (subjek) dari “khabar” (prediket) yang tidak dimunculkan. “Khabar” itu lah yang menjadi gantungan dari kata عَلَيَّ (atas ku). Berarti kata “al-salam” dalam ayat ini tertuju kepada عَلَيَّ (atas ku) yang membutuhkan tempat kembalinya kata ganti “aku”. Nah, jika diputuskan hubungan ayat itu dengan ayat sebelumnya maka kita akan kehilangan “marja’ al-dhamir” (tempat kembalinya kata ganti).

Makanya tidak ada pilihan lain untuk mengembalikan kata ganti itu selain kepada bayi yang ada dalam buaiyan pada ayat 29.
{فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ ۖ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَن كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا} [مريم : 29]
( 29 ) maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?”

Dan itu tak lain adalah Nabi Isa yang diyakini oleh kaum muslimin sebagai hamba Allah swt yang diutus sebagai Rasul seperti apa yang dikatakannya dalam ayat berikutnya:
{قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا} [مريم : 30]
( 30 ) Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,

Nah, sebagai akhir penjelasan ini jikalau tuan-tuan yang selama ini selalu menggugat kemapanan ajaran Islam dengan membawa bendera “progresif modernis” dan mudah saja menuduh orang yang berbeda dengan tuan-tuan sebagai penganut faham “konservatif kolot yang fanatik” masih saja bersikukuh menggunakan ayat itu sebagai kebolehan mengucapkan selamat atas kelahiran Nabi ‘Isa, cobalah jawab dengan akal sehat dan hati manusia hidup, apakah ayat itu menyatakan salam kepada Nabi ‘Isa as yang merupakan hamba dan Nabi Allah atau kepada Isa yang diyakini umat Nashraniy sebagai anak tuhan dan bahkan juga sebagi tuhan ??????

Kalau ini tidak juga disadari, maka ketahuilah bahwa tuan-tuan telah tersesat jauh dalam menyimpulkan hukum dari nash yang dikenal dengan istinbath dan tuan-tuan sudah “salah samek” atau salah pasangkan nash dalam penerapannya kepada kasus yang dikenal dengan “tathbiq”.
Wallahu a’lam.
Saya tutup dengan:
… إِنْ أُرِيدُ إِلاَّ الإِصْلاَحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلاَّ بِاللّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
“…Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali”. (QS. Hud 11:88)

“Seluruh Alasan Memakai Atribut Natal Telah Dibatalkan Oleh ‘Ulama Kaum Muslimin”

Saya tambah lagi alasan tuan-tuan pengikut sekulerisme, pluralisme dan liberalisme yang katanya berfikir progresif dan realistis untuk melemparkan tuduhan kepada saya dengan gelaran “fanatik fundamentalis yang tak berfikir realistis dan tak nasionalis”.
Semuanya hanya akan saya jawab dengan “alhamdulillah” atas segala cacian yang masih sangat sedikit bila dibandingkan dengan penderitaan para shahabat dalam menegakkan “kalimat tauhid”.
Ada ayat Allah swt yang jauh lebih sejuk dibandingkan dengan panasnya cacian tersebut.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ} [المائدة : 54]
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui”. (QS. al-Maidah 5:54)

Alasan yang tuan-tuan kemukakan untuk membolehkan umat Islam memakai atribut perayaan natal seperti topi santa dan lainnya, telah lebih dahulu dibatalkan oleh syari’at Islam.

Alasan bahwa ini hanya persoalan mu’amalah, merupakan pengelompokan mereka yang tidak mengerti dengan istilah “mu’amalat” tersebut.

Sekedar pengetahuan dasar, “mu’amalat” dalam pengertian ulama adalah:

علاقة الإنسان بأخيه الإنسان، فتشمل الجانب المدني والجنائي والشخصي
“Hubungan antara manusia dengan saudaranya sesama manusia, mencakup aspek kemasyarakatan, kriminalitas dan pribadi”.

Ketika tuan-tuan memasukkan pakaian santa sebagai persoalan “mu’amalat”, terlihat sekali kelalaian atau mungkin kesengajaan menunjukkan kebodohan dalam melakukan “takyif fiqhiy”(pengkondisian masalah menurut bab fiqh yang ada).
Karena pakaian santa tidak dipakai melainkan tatkala perayaan keagamaan umat nashraniy, dia dipakai oleh seseorang yang diyakini sebagai simbol bahkan wujud keyakinan khurafat dalam pandangan aqidah kaum muslimin.
Kenapa terlalu “rabun” mata dan hati tuan-tuan untuk membedakan antara memakai topi santa dengan hubungan antara majikan dan buruh serta hubungan antara masyarakat yang berbeda agama ?!
Padahal antara keduanya tidak “mutalazimain” atau saling berkorelasi karena hubungan antara buruh dan majikan atau antara umat beragama, bisa terjadi tanpa penggunaan atribut tersebut.
Jadi, ini adalah penggunaan “mu’amalah” sebagai alat untuk memaksakan ibadah dan aqidah.

Semoga tuan-tuan benar-benar tertipu dan tertidur sehingga bisa disadarkan tapi kalau tuan-tuan pura-pura tidur, memang rumit “manjagokan urang jago” (membangunkan orang yang bangun).
Kalau sudah jelas bahwa atribut itu adalah bagian dari ibadah dan keyakinan mereka yang khusus dipakai di hari raya mereka dan oleh tokoh khayalan mereka yang menjadi bagian keyakinan mereka maka memakainya dengan alasan apapun tidak akan menggeser hukum dari HARAM.

Kalau alasan yang dikemukakan untuk membolehkan memakai atribut kaum kafir itu adalah hubungan baik dan kasih sayang, maka firman Allah swt berikut ini yang akan membatalkannya:
{لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ اللَّهِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ} [المجادلة : 22]
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung”. (QS. al-Mujadilah 58:22)

Perhatikanlah kalimat لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ yang menunjukkan keadaan orang yang beriman dengan Allah dan hari akhir dan cobalah renungkan sabab turun ayat ini sebagai bantuan untuk lebih memahaminya !
Riwayat manapun yang dipakai, apakah riwayat peristiwa antara ‘Abdullah putera ‘Abdullah Ibn Ubay (tokoh kaum munafik) dengan ayahnya Abdullah Ibn Ubay atau riwayat tentang Abu Bakar al-Shiddiq ra dengan ayahnya Abu Quhafah atau riwayat tentang Abu ‘Ubaidah Ibn al-Jarrah dengan ayahnya ‘Abdullah Ibn al-Jarrah, (lihat tafisir al-Qurthubiy) semuanya menunjukkan bahwa hubungan kasih sayang tidak akan membuat seorang mukmin ikut mendukung bahkan mensyi’arkan keyakinan dan peribadatan yang menentang Allah swt dan Rasulullah saw. Penentangan apalagi yang lebih dahsyat dibandingkan dengan pernyataan kelahiran seorang anak tuhan dan membuat simbol khurafat tak beralasan ?!

Kalau tuan-tuan memandang bahwa itu hanya sebatas pakaian sedangkan keimanan kan urusan keyakinan di dalam hati, ini lah alasan yang menggelikan sekaligus menyedihkan.

Karena itu adalah alasan orang yang bukan beragama Islam. Islam tidak pernah mengajarkan keterputusan iman dan amal. Tidak sedikit ayat-ayat Allah swt yang menyebutkan beriringan antara iman dg amal shalih. Kalau dirujuk berbagai aliran dalam ilmu kalam yang sering tuan-tuan jadikan alasan untuk mengaburkan pemahaman umat, alasan yang tuan-tuan kemukakan itu pun tidak bertemu pada aliran menyimpang sekali pun. Mereka memang berdebat perkara dosa besar apakah membuat pelakunya menjadi kafir atau tidak tapi tak ada mereka yang mengatakan bahwa orang boleh melakukan perbuatan apa saja karena iman hanya urusan hati. Berarti alasan yg dikemukakan itu, lebih berbahaya dari berbagai pemikiran menyimpang dalam ilmu kalam yang tuan-tuan jadikan rujukan .
Anenya lagi, banyak dari tuan-tuan cemas melihat jenggot, sorban dan jubah dipakai kaum muslimin namun tuan-tuan merestui bahkan gembira melihat umat Islam memakai topi santa dan simbol lainnya.

Kalau keadilan dalam bersikap saja tidak bisa tuan-tuan wujudkan, bagaimana kami akan percaya dengan keadilan tuan-tuan dalam bertindak. Jadi, jangan salahkan umat menuduh tuan-tuan sebagai bagian dari kaum munafiqin ! Itu bukanlah “su’uz zhann” sebagaimana tangkisan jurus mabuk tuan-tuan ketika menghadapi reaksi umat. Itu adalah akibat dari sikap mengundang kecurigaan yang beralasan. Kalau mau terhindar dari tuduhan, jangan mampir di area yang mengundang tuduhan.

Sebenarnya, jika tuan-tuan mau merujuk hadits populer yang sangat dibenci oleh kalangan pluralisme :
من تشبه بقوم فهو منهم
“Siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia adalah bagian dari kaum itu”. (HR. Abu Daud, Ahmad dari Ibnu ‘Umar ra)

Tentu akan sangat mudah bagi orang yang berakal untukk memahaminya.

Namun berbagai kritikan mungkin akan tuan-tuan lontarkan terkait dengan hadits itu, hanya saja kritikan itu tak lebih dari kritikan seseorang liberalis dan relatifis yang sebenarnya sudah tidak percaya lagi dengan hadits. Hadits itu telah dinyatakan hasan oleh banyak ulama hadits yang di antaranya adalah al-Dzahabiy dan Ibnu Hajar al-‘Asqalaniy.
Kemudian perlu tuan-tuan catat bahwa menyerupai orang kafir dalam sikap dan prilaku mereka, sebenarnya sudah dicela oleh Allah swt dalam Al-Qur’an al-Karim:

{كَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنكُمْ قُوَّةً وَأَكْثَرَ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا فَاسْتَمْتَعُوا بِخَلَاقِهِمْ فَاسْتَمْتَعْتُم بِخَلَاقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِن قَبْلِكُم بِخَلَاقِهِمْ وَخُضْتُمْ كَالَّذِي خَاضُوا ۚ أُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ} [التوبة : 69]
“seperti keadaan orang-orang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta dan anak-anaknya dari kamu. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kamu telah menikmati bagian kamu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bagiannya, dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. Mereka itu amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka itulah orang-orang yang merugi”. (QS. al-Taubah 9:69)

Perhatikan penryataan Imam al-Baghawiy dalam tafsir beliau (Ma’alim al-Tanzil) ketika menafsirkan kalimat وَخُضْتُمْ كَالَّذِي خَاضُوا ! beliau menulis:
( وخضتم ) في الباطل والكذب على الله تعالى ، وتكذيب رسله ، وبالاستهزاء بالمؤمنين
“Kamu sekalian menyelam dalam kebathilan dan kedustaan atas nama Allah Ta’ala, pendustaan terhadap para Rasulnya dan memperolok-olokkan orang-orang beriman”.

Nah, mana lagi kedustaan dan pendustaan yang lebih parah dibandingkan dengan menyatakan Allah mempunyai anak dan mengarang-ngarang keyakinan yang dimunculkan dengan tokoh santa itu ?!!

Alasan terpaksa dan dharurat yang terkadang diajukan, juga tidak memenuhi syarat di tengah umat mayoritas di negeri ini kecuali kalau memang umat ini telah kehilangan nyali dan ghairah keislaman yang terkikis oleh nafsu berkuasa dan kekayaan materi, terutama para penguasa yang mengambil kebijakan !

Jadi, bila ayat dan hadits sudah menunjukkan larangan bagi kaum muslimin untuk menyerupai orang-orang kafir dalam sikap dan prilaku secara umum kemudian telah dijelaskan pula bahwa makna yang dimaksud oleh hadits itu tidaklah “muthlaq” tapi khusus dengan hal-hal yang terkait dengan tradisi orang-orang kafir yang memang menjadi ciri khas mereka.
Dan itu dilakukan karena alasan “mashlahat kehidupan” oleh para ulama yang sering tuan-tuan tuduh sebagai penganut “pemikiran tekstual yang tidak memahamami konteks”.
Lihatlah pembatasan itu pada tulisan al-Manawiy dalam kitab “Faidh al-Qadir”:
((من تشبه بقوم) أي تزيا في ظاهره بزيهم، وفي تعرفه بفعلهم، وفي تخلقه بخلقهم، وسار بسيرتهم وهديهم، في ملبسهم وبعض أفعالهم،
“(Siapa yang menyerupai suatu kaum) artinya adalah berpakaian pada penampilannya dengan pakaian mereka, beridentitas dengan perilaku mereka, berperangai dengan perangai mereka dan menjalani kehidupan dengan meniru tata cara kehidupan serta petunjuk mereka dalam cara berpakaian dan sebagian perbuatan mereka…”)

Namun sayang, setelah para ulama memberikan batasan dalam ruang yang sudah sangat maksimal terhadap masalah “tasyabbuh” atau menyerupai kaum kafir ini, eh… malah tuan-tuan ingin menghilangkan batas itu sama sekali dengan dasar pemikiran sesat pluralis yaitu: “menyamakan dua hal yang dinyatakan berbeda oleh Allah swt dan Rasulullah saw”.

Bahkan sangat naif sekali, ada pula pejabat yang mengaku muslim yang berani membolehkan untuk umat Islam menyerupai mereka dalam hal-hal yang terkait dengan aqidah dan ibadah mereka. Dengan akal sederhana saja, sebenarnya tidak begitu sulit memahami bila suatu persoalan yang bahayanya lebih kecil telah diharamkan, sangat tidak mungkin persoalan yang bahayanya lebih besar, malah dibolehkan ?!!!

Akhirnya, saya tetap mengatakan bahwa tidak ada keraguan lagi sebenarnya dalam pandangan ulama kaum muslimin bahwa :
MEMAKAI BERBAGAI ATRIBUT KAUM KAFIR SEPERTI TOPI SANTA ITU, BAGI KAUM MUSLIMIN ADALAH HARAM.

Kalau masih bersikukuh juga untuk membolehkannya maka terbuktilah apa yang telah diperingatkan oleh Rasulullah saw:
عن أبي سعيد الخدري قال ، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لتتبعن سنن الذين من قبلكم شبرا بشبر وذراعا بذراع حتى لو دخلوا في حجر ضب لاتبعتموهم ، قلنا : يا رسول الله ، اليهود والنصارى؟ قال : فمن

“Dari Abu Sa’id al Khudri ra, beliau berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda :
“Kalian akan mengikuti jejak langkah umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jikalau mereka masuk ke lubang biawak pun kalian akan mengikuti mereka.”
Sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah Yahudi dan Nasrani yang engkau maksudkan?”
Nabi SAW menjawab : “Siapa lagi kalau bukan mereka?” ( HR. Muslim)

Ala.. qad ballaghtu, Allahumma fasyhhad.

Buya Gusrizal Gazahar Dt. Palimo Basa

 

Baca juga, INILAH FATWA MUI TERKAIT ATRIBUT NATAL