LARANGAN MENCELA TUHAN-TUHAN ORANG KAFIR

Duniaekspress, 24 Desember 2017.

As Salãmu ‘Alaikum war Rahmatullahi wa Barakãtuhu. Bismillahir Rahmãnir Rahĩm. Wash Shalãtu was Salãmu ‘alã Rasulillah. Wa ba’du.

Ikhwati fillah. Pada dasarnya, berhala-berhala orang kafir layak untuk dihinakan. Namun, Allah Ta‘ãlã melarang yang demikian, karena khawatir mereka akan menghinakan Allah pula. Sehingga, Zat yang sempurna dan tidak layak dihinakan akan dihinakan oleh mereka. Mereka menghina Allah Ta‘ãlã karena ilmu fanatisme dan pembela mereka atas berhala mereka yang dihinakan. Allah Ta‘ãlã berfirman:

 

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

 

“Dan janganlah kamu menghina sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al An’ãm[6]: 108).

 

Mukaddimah

 

As Suddĩ menceritakan, ketika Abû Thãlib sakit parah, masyarakat quraisy berkata kepada tokoh-tokoh mereka: “Berangkatlah kalian dan temui Abû Thãlib, agar ia melarang anak saudaranya menghina tuhan-tuhan kita. Sebab kita malu kalau harus membunuh orang itu setelah wafatnya Abû Thãlib”.

 

Orang-orang arab berkata ketika itu: “Abû Thãlib menghalangi mereka membunuh Muhammad, kalau Abû Thãlib mati, pasti mereka akan membunuhnya”. Maka berangkatlah Abû Sufyan, Abû Jahal, An Nadhar  bin Al Hãrits, Umayyah bin Khalãf, Ubay ibn Kholaf, ‘Uqbah bin Abĩ Mu’aith, Amru bin Al Ãsh, Al Aswãd bin Al Bukhtarĩ menemui Abû Thãlib. Mereka berkata: “Wahai Abû Thãlib, kamu ini tokoh dan pemimpin kami, sedangkan putra saudaramu, Muhammad, ia menghina kami dan tuhan-tuhan kami. Kami mau, kamu memanggilnya untuk melarangnya menghina tuhan-tuhan kami, maka kami juga akan berhenti menghinanya dan Tuhan-Nya.”

 

Kemudian Abû Thãlib memanggil Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan menasehatinya, “Mereka itu kaummu”. Mereka berkata: “Kami menginginkan agar kamu menghentikan hinaanmu kepada mereka dan tuhan-tuhan mereka, maka kami juga akan meninggalkan hinaan kami kepadamu dan kepada Tuhanmu”. Kaummu telah berbuat adil kepadamu maka terimalah usulan mereka”.

 

Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Apa pendapat kalian jika saya memenuhi tuntutan kalian, apakah kalian akan mengucapkan satu kalimat, yang mana jika kalian mengucapkannya maka kalian akan menguasai arab dan non arab?” Abû Thãlib menjawab: “Iya, demi bapakmu, tentu kami akan memenuhinya, bahkan sepuluh kalimat yang sejenis dengannya, apakah kalimat tersebut?”

“Katakanlah Lã Ilaha Illallah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali hanya Allah,” ujar Rasulullah. Ternyata masyarakat quraisy menolaknya dan berpaling.

 

Abû Thãlib kemudian berkata lagi kepada Rasulullah:“Wahai putra saudaraku, sebut kalimat selain kalimat itu.” Rasulullah menjawab: “Wahai pamanku, saya tidak akan mengatakan selain kalimat itu, walaupun kalian mendatangkan kepadaku matahari lalu kalian meletakkannya di tanganku.”

 

Orang-orang quraisy sontak menjawab: “Kamu hentikan hinaanmu kepada tuhan-tuhan kami atau kami akan menghina balik, kamu dan yang memerintahkanmu”. Lalu Allah Ta‘ãlã menurunkan firman-Nya: “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.”  (Tafsĩr Al Baghawĩ, 3/ 176).

 

Abdullah bin ‘Abbãs berkata: tatkala firman Allah – surat Al ‘An’ãm: 108-, turun, masyarakat quraisy berkata:

 

يَا مُحَمَّدُ لَتَنْتَهِينَ عَنْ سَبِّ آلِهَتِنَا أَوْ لَنَهْجُوَنَّ رَبَّكَ، فَنَهَاهُمُ اللَّهُ تَعَالَى أَنْ يَسُبُّوا أَوْثَانَهُمْ.

 

“Wahai Muhammad, kamu tinggalkan hinaan kepada tuhan-tuhan kami atau mencaci Tuhanmu. Lalu Allah melarang kaum muslimin menghina berhala-berhala musyrikin quraisy.”

 

Menurut Qotãdah, ayat ini turun terkait kebiasaan kaum muslimin menghina berhala-berhala musyrikin quraisy sehingga orang-orang quraisy menghina Allah Azza wa Jalla karena rasa permusuhan bukan karena ilmu.

 

Makna Ayat

 

Ketika dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam eksis terangan-terangan di Makkah, di tengah-tengah masyarakat quraisy, hal tersebut mendatangkan keberanian para sahabat untuk berterus terang mengatakan yang hak itu hak dan yang batil itu batil, padahal sebelumnya mereka berdakwah secara sembunyi-sembunyi karena takut ketahuan quraisy. Keberanian para sahabat bukan tanpa sebab, pasalnya Allah telah menjamin keamanan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat dari kejahatan orang-orang yang akan melecehkan mereka. Allah Ta‘ãlã berfirman:

 

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ (94) إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ

 

“Maka sampaikanlah wahai Muhammad secara terang-terangan, apa saja yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memeliharamu dari kejahatan orang-orang yang memperolok-olokkan.” (QS. Al Hijr[15]: 94-95).

 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat meninggalkan masa-masa kelam, masa-masa saat mereka memeluk, mengamalkan dan mendakwahkan Islam secara sembunyi-sembunyi, dipenuhi rasa takut. Keadaan tersebut membuat para sahabat menghina berhala-berhala masyarakat musyrik quraisy. Karenanya, masyarakat quraisy marah dan tidak terima dengan hinaan tersebut, sekalipun hal tersebut benar adanya.

 

Orang-orang quraisy mengetahui dengan pasti bahwa berhala-berhala tersebut tidak dapat mendatangkan manfaat dan marabahaya sedikitpun, mereka marah karena rasa fanatisme buta tanpa disertai ilmu. Mereka tidak siap menerima kebenaran karena fanatisme buta dan sikap taqlid yang akut, akhirnya mereka meresponnya dengan ancaman akan menghina balik Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Allah Ta‘ãlã. Lalu turunlah ayat ini, melarang kaum muslimin menghina tuhan-tuhan, berhala-berhala mereka, karena akan melahirkan hinaan dan pelecehan mereka kepada Allah karena rasa fanatisme dan permusuhan jahiliyah yang disertai ilmu.

 

Menurut As Sa’dĩ dalam tafsirnya, aslinya menghina tuhan-tuhan orang-orang musyrik boleh, bahkan disyariatkan. Namun, jika hinaan ini menjadi jalan atau alasan bagi orang-orang musyrik untuk menghina Allah, maka menghina tuhan-tuhan orang-orang musyrik haram hukumnya. Karena mensucikan Allah dari segala aib dan kekurangan adalah kewajiban teragung, maka segala hal yang dapat memicu orang-orang musyrik menghina Allah, diharamkan secara mutlak. Imam Al Maturĩdĩ berkata:

 

نهانا اللَّه – عَزَّ وَجَلَّ – عن سبِّ من يستحق السبَّ؛ مخافة سبِّ من لا يستحق السبَّ.

 

“Allah melarang menghina sesuatu yang layak dan berhak dihinakan karena takut atau khawatir akan meyebabkan hinaan kepada Zat yang tidak layak dan berhak dihina.” (Tafsir Al Maturĩdĩ 4/ 207).

 

Ibnu katsir merumuskan satu kaedah yang sangat bermanfaat dari ayat ini, yaitu: “Tarku Al Mashlahah Limafsadatin Arjah Minha, meninggalkan kemashlahatan untuk menghindari mafsadat yang lebih rajih”. Artinya, hukum asal menghinakan tuhan-tuhan orang-orang musyrik adalah boleh, bahkan disyariatkan, karena tuhan-tuhan mereka adalah tuhan-tuhan batil yang disembah selain Allah. Namun, jika menghinakan tuhan orang-orang musyrik menyebabkan Allah dihinakan pula, maka ini kerusakannya lebih besar daripada kemashlahatan yang hendak dicapai.

Tuhan-tuhan batil yang mereka sembah selain Allah memang layak untuk dihinakan, namun jika karena hinaan tersebut Allah yang maha suci dihinakan pula, maka ini adalah kesalahan yang lebih besar. Perhatikan hadits berikut untuk memudahkan memahami kaedah tersebut:

 

“مَلْعُونٌ مِنْ سَبِّ وَالِدَيْهِ”. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ يَسُبُّ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: “يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ”

 

“Sungguh terlaknat orang yang menghina kedua orang tuannya. Para sahabat bertanya, wahai Rasulullah, bagaimana orang tersebut menghina kedua orang tuannya? Orang tersebut menghina ayah orang lain sehingga orang lain menghina ayahnya, dan orang tersebut menghina ibu orang lain sehingga orang lain menghina ibunya.” (HR. Muslim).

 

Hadits ini menerangkan larangan mencaci kedua orangtua. Padahal, pada dasarnya tidak mungkin ada seorang anak yang akan berani mencaci kedua orangtuannya. Kecuali anak tersebut anak durhaka. Namun, yang dimaksud mencaci kedua orang tua adalah jika seorang anak mencaci orang tua pihak lain yang menyebabkan si pihak lain itu menyerang dan mencaci orang tuannya. Inilah yang dimaksud Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

 

Begitu pula kaedah tadi yang bersesuaian dengan makna hadis di atas. Jika seorang muslim mencela tuhan orang lain, hal tersebut akan meicu orang tersebut mencela Allah. Tentu hal ini tidak boleh terjadi.

(Sultan Serdang)

Baca juga,  https://duniaekspress.com/2017/12/22/adakah-larangan-ucapkan-selamat-natal-di-al-quran/