SHALAHUDDIN SANG PEMBEBAS AL-QUDS

Duniaekspress, 25 Desember 2017. – Al-Quds, Palestina ditaklukkan umat Islam sebanyak dua kali pada masa amirul mukminin Umar bin Khattab pada tahun 637 M setelah melalui perjuangan yang panjang. Pintu gerbang penaklukan Al-Quds diawali dengan kemenangan kaum muslimin pada perang Yarmuk yang terjadi pada Senin, 5 Rajab 15 H (Agustus 636). Seratus dua puluh ribu pasukan artileri, ditambah delapan puluh ribu pasukan berkuda Romawi bertemu dengan tiga puluh enam ribu pasukan Islam. Singkat cerita Al-Quds berhasil ditaklukkan setelah dikepung selama enam bulan.

Penaklukan heroik yang kedua adalah di masa Shalahuddin Al-Ayyubi pada 27 Rajab 583 H atau 2 Oktober 1187 M. Saat umat Islam di ambang kehancuran karena kemerosotan, kemunduran, kecintaan akan dunia, pertikaian dan perseteruan.  Pasukan Salib tidak akan memasuki negeri-negeri Islam, menguasai tempat suci dan menduduki tempat isra’ Rasulullah kecuali mereka melihat keadaan umat Islam yang sedang mengalami kelemahan dan di ambang kehancuran.

Pasukan Salib berkumpul di Konstantinopel dan bergerak maju ke Antiokhia. Setelah Antiokhia dikuasai dengan blokade selama delapan bulan, mereka bergerak menuju Jerussalem. Sebulan lamanya Jerussalem dikepung dan akhirnya jatuh ke tangan Salib pada tahun 492 H/1099 M. Saat itulah pasukan Salib melakukan tindakan yang tidak pernah diajarkan oleh agama-agama samawi manapun dan di luar nalar kemanusiaan. Tujuh puluh ribu kaum muslimin dibantai sampai-sampai aliran darah itu berubah menjadi sungai di Masjid Al-Aqsa, lorong-lorong dan perempatan.

Ibnul Atsir menggambarkan ekpresi kesedihan masyarakat Islam waktu itu, “Para pengungsi Syiria tiba di Baghdad pada bulan Ramadhan ditemani oleh Al-Qadhi Abu Sa’id Al-Harawi. Di istana Khalifah, dia menyampaikan perkataan yang membuat mata menangis dan hati bergetar. Pada hari jumatnya, para pengungsi itu berdiri di masjid Jami’. Mereka meminta pertolongan dan menangis. Mereka menceritakan apa yang menimpa kaum Muslim, yaitu pembantaian kaum laki-laki, penawanan kaum wanita dan anak-anak dan perampasan harta benda. Masyarakat pun menangis mendengar tragedi yang menimpa mereka.”

Kebangkitan Umat Islam

Setelah penyerbuan dan pembantaian itu, pasukan Salib menguasai negeri Syiria, mereka mendirikan pemerintahan kecil di pantai-pantai Syiria, yang membentang dari teluk Iskandariah hingga Askalon dan dari teluk Aqabah hingga utara Ar-Ruha (Edessa).

Kesuksesan pasukan Salib menduduki Al-Quds ini hanya dapat ditanggulangi dengan satu cara, yaitu kebangkitan Islam. Kebangkitan Islam secara penuh yang menyatukan wilayah timur Islam dan menggabungkan bagian-bagiannya yang terpecah untuk mengusir musuh dan menundukkannya.

Geliat kebangkitan mulai terwujud dengan kebangkitan dinasti Zanki di Mosul. Imaduddin Zanki menyusun negara yang kuat membentang dari Mosul hingga Ma’arat An-Nu’man pada 521 H. Imaduddin mulai melakukan serangan-serangan terhadap pasukan Salib dan yang paling mematikan adalah serangan di Ruha pada 539 H.

Dinasti Zinki

Peta kekuasaan Dinasti Zinki 521 H – 644 H (warna merah)

Imaduddin secara tegas mengatakan akan fokus memperkuat fondasi umat Islam dan mempersiapkan diri untuk menghadapi seluruh bahaya yang mengancamnya dari segala arah terutama pasukan Salib. Perlu diketahui saat itu terjadi konflik internal umat Islam karena fanatisme madzab dan munculnya aliran-aliran baru perusak aqidah Islam. Maka, Imaduddin lebih menyibukkan diri dengan usaha membangun umat Islam baru daripada terus menerus bersusah payah memperbaiki umat yang sedang sekarat dan semua elemennya begitu rapuh.

Setelah Imaduddin syahid karena sekelompok pemberontak, posisinya digantikan oleh Nuruddin Zanki. Pada era Nuruddin inilah terjadi perubahan yang besar. Kesultanan Zanki menjadi pusat pertemuan tokoh-tokoh yang memiliki visi reformis dan murid-murid madrasah reformasi. Nuruddin membuka pintu lebar-lebar bagi setiap orang yang  mau berjuang di jalan Allah sekalipun madzab dan afiliasinya berbeda. Setelah itu, kesultanan menyalurkan setiap potensi individu dan kelompok untuk melaksanakan tugas operasional dalam koridor manajemen yang umumnya digunakan di masa itu.

Kebijakan yang diterapkan oleh Nuruddin Zanki memiliki enam karakteristik yang menonjol

  1. Mempersiapkan masyarakat islami, membersihkan kehidupan keagamaan dan budaya dari perngaruh aliran pemikiran yang menyimpang seperti aliran kebatinan, filsafat yunani dan tatacara ibadah serta ritual yang dikembangkan oleh kerajaan Fathimiyah.

Nuruddin memandang bahwa manusia Muslim sebaagi fundamen utama bagi kontruksi Al-Ummah Muslimah. Strategi ini mencerminkan integritas seluruh institusi dan lembaga,sehingga meliputi pendidikan yang menjadikan generasi muda sebagai fokus bidikannya, pengajian dan ceramah umum yang berfungsi mengarahkan masyarakat umum dan pendidikan militer guna mempersiapkan seluruh elemen umat untuk menghadapi berbagai macam tantangan dan bahaya yang ada saat itu.

Nuruddin menjadikan madrasah sebagai institusi kajian Al-Quran dan Hadits guna melahirkan generasi muda baru yang memiliki aqidah shahihah, intelektual serta mental yang kuat sebagai muslim ideal. Sultan juga menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan non formal yang menekankan upaya menyuburkan kembali semangat Islam dan mengeliminir ajaran-ajaran menyimpang.

  1. Membangun manajemen pemerintahan yang Islami, meratakan keadilan dan solidaritas sosial.
  2. Menghilangkan permusuhan antar madzab, membangun kekuatan-kekuatan Islam dan mengkoordinasi potensi dalam satu pola aksi dan kepemimpinan yang integral serta saling mendukung.
  3. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan membangun berbagai fasilitas dan infrastruktur publik.
  4. Membangun kekuatan militer dan mengembangkan industri perlengkapan perang.
  5. Menghapus kerajaan-kerajaan kecil yang tersebar di wilayah Syam dan menyatukan kendali pemerintahan Syam, Mesir dan Jazirah Arab.

Lahirnya Generasi Baru Pembebas Al-Aqsa

Segala kebijakan Nuruddin untuk menelurkan generasi baru pun membuahkan hasil. Tokoh sebesar Shalahuddin tidaklah lahir sendiri tanpa proses yang panjang dan perencanaan yang matang. Dalam karyanya “Al-Mahasin Al-Yusufiyyah wa an Nawadir Sulthaniyyah”  Ibnu Syaddad membahas fase-fase perjalanan kehidupan seorang Shalahuddin.

Menurut catatan sejarah tentang fase pertama kehidupan Shalahuddin tidak lebih dari seorang pemuda biasa yang suka menghabiskan waktunya untuk bermain bola, menunggang kuda dan permainan anak muda umumnya. Keadaan ini terus berlanjut sampai ketika menyertai pamannya Asaduddin Syirkuh, yang merupakan panglima tertinggi tentara Nuruddin dalam sebuah ekpedisi ke Mesir.

Di sinilah Shalahuddin mulai bersentuhan langsung dengan Mu’askar ‘Aqidiy (pasukan yang mengusung nilai luhur aqidah Islam) yang telah melatih diri dengan bekal pemikiran, semangat dan kemiliteran. Shalahuddin menggambarkan kondisi kejiwaannya saat mulai bergabung dengan pasukan ini seperti berikut,

“Sebenarnya aku sangat tidak suka untuk bergabung dengan pasukan dalam misi pernyerbuan kali itu. Keikutsertaanku bersama paman bukan didorong oleh pilihanku sendiri. Inilah hikmah yang dapat diambil dari firman Allah “Bisa jadi kamu membenci sesuatu padahal ia adalah lebih baik bagi kamu”. (Al-Baqarah:216)”

Dalam Thabaqat Asy-Syafiiyah jilid 7 halaman 241, As-Subki menegaskan ada perubahan pada kepribadian Shalahuddin, ia menyatakan,

“Saat Shalahuddin memutuskan untuk bergabung dengan pasukan Nuruddin, ia telah meninggalkan gaya hidup yang bergelimang kenikmatan.”

Maka, saat itulah terjadi perubahan radikal pada diri Shalahuddin berkat pengaruh bimbingan islami yang dialaminya dan pada saat itulah dia mulai menempatkan dirinya dalam arus gerakan Islam yang dipimpin oleh Nuruddin. Ibnu Syaddad menceritakan perubahan besar dalam hidup Shalahuddin dan konsistensinya dalam mengikuti prinsip-prinsip Islam setelah kematian pamannya, Asaduddin Syirkuh sekaligus menggantikan posisinya sebagai wazir di Mesir. Saat itu umur Shalahuddin baru 32 tahun.

Bahkan pada akhirnya ia memegang tampuk tertinggi Fathimiyah setelah khalifah Al-‘Adhid (khalifah terakhir) meninggal dunia karena sakit. Shalahuddin mendirikan dua madrasah Nashiriyah dan Kamiliyah agar rakyat berpindah ke madzab yang benar dan turut menyiapkan perubahan yang diinginkan negara. Nuruddin mendesak  agar khutbah jumat yang biasa disampaikan atas nama khalifah Fathimiyah digantikan atas nama khalifah Abbasiyah, Al-Mustadhi’.

Walaupun Shalahuddin berkuasa penuh di Mesir, hal ini tidak melunturkan rasa loyalitasnya pada Nuruddin. Ia membuat mata uang dengan nama Nuruddin, mengirimkan hadiah berharga kepadanya dari perbendaharaan Mesir. Namun, masih ada pihak-pihak yang tidak suka dengan hubungan baik ini. Upaya-upaya buruk untuk merongrong hubungan baik ini berhasil dipatahkan oleh Shalahuddin. Shalahuddin terus memberikan loyalitasnya yang tulus kepada Nuruddin hingga putra Imaduddin ini wafat pada 569 H/1173 M.

Pada masa ini akhirnya Shalahuddin menjadi penguasa wilayah timur muslim tanpa diperselisihkan, juga komandan yang senantiasa diharapkan dalam berbagai pertempuran untuk membebaskan negeri umat Islam. Maka, pembebasan kiblat pertama umat Islam telah di depan mata.

Pembebasan Al-Aqsha

Semenjak wafatnya Nuruddin, terbukalah berbagai kesempatan lebar bagi Shalahuddin untuk menyatukan dunia Islam di bawah satu pemerintahan. Allah pun memberikan kesempatan itu dan ia berhasil menguasai kerajaan besar mencakup Irak, Syiria, Mesir dan Barqah. Setelah itu, Shalahuddin mulai melakukan persiapan untuk memerangi orang Frank dan membebaskan Al-Quds.

Percikan pertama terjadi ketika Shalahuddin memerangi Reginald de Chatillon, raja Karak. Reginald menyerang kafilah dagang Shalahuddin pada 582 H. Padahal antara Shalahuddin dan pemerintahan negeri ini terjali perdamaian. Di antara klausul perdamaiannya adalah diizinkannya kafilah dagang Islam melintas dari Mesir ke Syiria atau sebaliknya dengan jaminan keamanan.

Ketika mengetahui hal ini, Shalahuddin marah besar dan bersumpah akan membunuh Reginald dengan tangannya sendiri. Sumpah ini akan menjadi kenyataan pada akhirnya. Setelah serangan keji ini, Shalahuddin mulai bersiap mengumpulkan pasukan. Waktu itu adalah waktu kembalinya jemaah haji Muslim.

Penguasa Karak bersiap-siap untuk memburu dan menyerang ketika kembali. Sementara itu, Shalahuddin juga bersiap-siap untuk melindungi mereka setelah mengumumkan jihad di semua penjuru negerinya. Para jamaah haji pun melintas dengan selamat dan mendoakan kemenangan bagi pasukan Shalahuddin.

Setelah mengumpulkan dan mengatur pasukan, Shalahuddin mengadakan musyawarah untuk membicarakan bagaimana menyerang musuh dan kapan waktunya. Majelis pun menyepakati untuk keluar pada 17 Rabiul Akhir 583 H setelah shalat jum’at di antara lantunan takbir dan doa kaum muslimin.

Perang Hittin dan kemenangan Umat Islam

Shalahuddin keluar dari Damaskus. Tatkala sampai di Ra’s Al-Maa’, dia menjadikannya markas untuk berkumpul pasukan. Putranya, Al-Malik Al-Afdhal, tetap berada di Ra’s Al-Maa’, sedangkan dia melanjutkan perjalanan ke Busra. Sementara itu, Muzahafarudin Kukubri bergerak ke Acre. Dari Busra, Shalahuddin bergerak ke benteng Karakdan Syaubak, kemudian kembali ke Tiberias. Dia senantiasa berusaha mengajak umat Islam berperang di jalan Allah. Apabilan melihat dirinya, ia sering bersedih dan berduka cita. Ia tidak berselera makan dan makan hanya sedikit saja.

Perang Hittin

Pergerakan pasukan saat perang Hittin

Ketika ditanya mengenai sebab hal itu, dia menjawab,”Bagaimana saya bisa merasa senang, menikmati makanan dan tidur dengan tenang, sementara Jerussalem berada di tangan Pasukan Salib?”

Teman dekatnya, Al-Qadhi Baha’uddin bin Syidad, menggambarkan keadaannya ketika berperang melawan pasukan Salib. Dia berkata,”Bagi Shalahuddin, pendudukan Jerussalem adalah perkara penting yang tidak mampu dipikul oleh gunung.”

Pasukan Salib memastikan adanya rencana yang disusun Shalahuddin untuk melawan mereka. Para pemimpin mereka menyatukan langkah dan mengumpulkan pasukan. Mereka bergerak ke Tiberias dan bertemulah dua pasukan besar ini di sebuah tempat yang bernama Hittin. Waktu subuh baru saja berlalu. Terik matahari yang membakar mulai menyebar. Keadaan ini dimanfaatkan pasukan mujahidin menyerang pasukan Salib yang kehausan karena para ksatria Islam telah menguasai sumber air.

Shalahuddin pun berhasil memisahkan pasukan kavaleri berkuda dengan pasukan infantri. Pasukan musuh terpaksa mundur karena serangan sporadia yang mereka terima. Setelah terjadi pertempuran sengit antara dua pihak, Shalahuddin meraih kemenangan mutlak.

Sementara itu pasukan Salib kalah telak. Hanya ada dua pilihan bagi pasukan ini, terbunuh atau tertawan. Jumlah korban dari pihak pasukan Salib mencapai sepuluh ribu orang. Pasukan Shalahuddin terus bergerak di sekitar puncak gunung, sedangkan di hadapan mereka terlihat pasukan Salib yang lari tunggang langgang. Kondisi pasukan yang kacau balau membuat sang raja Jerussalem tertawan berikut sang penjahat perang Reginald.

Shalahuddin mendirikan tenda dan berkumpul bersama para petinggi dan penasehatnya. Ia mendatangan raja Guy de Lusignan dan Reginald de Chatillon. Keduanya diperintahkan untuk duduk di dalam kemah. Raja Guy merasa haus dan meminta air minum. Lalu didatangkan air es padanya. Ia pun meminumnya dan memberikan sisanya pada Reginald. Melihat hal itu, Shalahuddin berkata, “Kami tidak akan memberikab air kepadanya sehingga dirinya merara aman.”

Kemudian Shalahuddin berdiri dan mencela perbuatan buruk Reginald terhadap kafilah kaum muslim dan tindakan pelecehannya terhadap Rasulullah. Shalahuddin memenggal leher Reginald dengan tangannya sendiri untuk melaksanakan janji dan sumpahnya. Melihat kejadian itu, raja Guy ketakutan. Shalahuddin menenangkannya dan berkata, “Tidak biasanya para raja itu membunuh raja lainnya. Akan tetapi orang ini (Reginald) telah melampaui batas. Maka dari itu terjadilah apa yang telah terjadi.” Kemudian Shalahuddin memerintahkan pasukannya untuk mengirim raja itu ke Damaskur beserta kaummnya yang masih tersisa dengan penuh keramahan dan penghormatan.

Berakhirlah perang Hittin dan kemenang mutlak di tangan para mujahidin. Setelah itu pasukan Shalahuddin bergerak ke pelabuhan Acre. Pendudukanya menyerah dengan keamanan. Shalahuddin memasuki kota ini pada Jumadil Ula tahun 583 H. Kemudian pasukan Muslim menduduki kota dan benteng di sekitar Acre, seperti Tabnain, Sidon, Jubail dan Beirut. Kemudian Shalahuddin bergerak ke pantai dan  memblokade Askalon selama 14 hari. Blokade ini berakhir dengan penyerahan kota tersebut.

Dengan menyerahnya kota ini, Shalahuddin semakin menancapkan blokade terhadap Jerussalem, sebab penguasaan kota ini menghalangi kota Jerussalem dari bantuan pasukan  Salib yang datang dari arah pantai. Shalahuddin bergerak ke Al-Quds setelah menguasai Ramlah, Ad-Darum, Gaza, Bethlehem dan An-Natrum.

Shalahuddin ingin memasuki Al-Quds dengan tidak menimpakan keburukan dan kerusakan. Dia memilih masuk kota Jerussalem dengan damai tanpa mengerahkan pasukannya yang banyak. Sebab, hal itu bisa menghancurkan bangunan-bangunannya dan mencemari kesuciannya. Shalahuddin ingin mengulang kembali perjalanan hidup khalifah Umar bin Khattab dalam menaklukkan kota ini untuk kedua kalinya.

Oleh karena itu, Shalahuddin mengirimkan beberapa utusan kepada penduduk Al-Quds untuk meminta mereka menyerahkan kota ini dengan beberapa syarat yang dia tentukan. Shalahuddin menyampaikan pada mereka,”Sesungguhnya saya benar-benar meyakini bahwa Jerussalem adalah rumah Allah yang suci sebagaimana yang kalian yakini. Saya tidak ingin menimpakan kerusakan kepada rumah Allah ini dengan memblokade atau menyerangnya.”

Namun demikian, orang-orang Frank tidak mau memenuhi keinginan Shalahuddin. Mereka tidak memikirkan akibat yang akan terjadi. Akhirnya Shalahuddin bertekad mengambil alih Jerussalem melalui peperangan dan perlawanan. Belum sampai berlalu sepekan dari perlawanan, Al-Quds menyerah. Orang-orang Frank bersedia untuk berdamai. Diadakanlah persetujuan dengan ketentuan sebagai berikut

  1. Mereka dipersilahkan meninggalkan Jerussalem dalam jangka waktu 40 hari
  2. Laki-laki di antara mereka harus menebus dirinya sebesar 10 dinar, perempuan 5 dinar dan anak-anak dua dinar.
  3. Barangsiapa tidak mampu menebus dirinya maka dia akan menjadi tawanan.

Perlakuan baik diperagakan Shalahuddin kepada para penduduk Al-Quds. Kontras dengan apa yang dilakukan pasukan Salib ketika menduduki Al-Quds dengan genangan darah.

Shalahuddin mendatangkan Muhyiddin bin Az-Zaki untuk menjadi khatib Masjidil Aqsha pada hari jumat yang agung di Masjidil Aqsa. Kemenangan ini disambut suka cita oleh seluruh kaum muslimin saat itu. Al-Aqsa kembali difungsikan menjadi masjid setelah sekian lama tidak digunakan.

Saat ini Al-Aqsa kembali tertawan oleh musuh Allah. Orang-orang Yahudi menjarah dan merampok tanah umat Islam di Palestina. Umat Islam menunggu lahirnya generasi Shalahuddin yang baru untuk menaklukkan kembali Al-Aqsa ke dalam pangkuan umat Islam. Wallahu a’lam bi shawab.

 

Baca juga, SYAIKH OSAMA BIN LADEN RAHIMAHULLAH