CIRI POKOK KHAWARIJ KLASIK DAN MODERN

Duniaekspress 27 Desember 2017.

Ada yang unik pada fanatis ISIS di Indonesia belakangan ini. Rambut mereka gondrong memanjang seperti wanita. Salah satu motivasi mereka berambut gondrong adalah untuk membedakan diri dengan kelompok khawarij yang disebutkan para ulama –dan di antaranya Al Hãfidz Ibnu Hajar- di antara syiar (ciri khas) mereka adalah berkepala botak. Al Hãfidz Ibnu Hajar Al Asqalãnĩ dalam Fathu Bãrĩ 8/ 68 menyebutkan bahwa botak (Tahlĩq) adalah ciri khas mereka dan para ulama terdahulu membiarkan rambut mereka memanjang. Dan –menurut beliau- khawarij, mereka membotak rambut kepala mereka. 1)

Padahal botak bukanlah ciri khas khawarij yang paling utama (Ushûl), ciri khas utama mereka adalah –salah satunya- memerangi kaum muslimin dan membiarkan kaum musyrikin. Adapun botak, jumhur ulama membolehkan berdasarkan hadis Ibnu Umar, beliau menuturkan:

«أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَأَى صَبِيًّا قَدْ حُلِقَ بَعْضُ رَأْسِهِ وَتُرِكَ بَعْضُهُ، فَنَهَاهُمْ عَنْ ذَلِكَ، وَقَالَ: ” احْلِقُوا كُلَّهُ أَوِ اتْرُكُوا كُلَّهُ» “. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

“Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- melihat seorang anak kecil dibotakin sebagian kepalanya dan bagian yang lain dibiarkan. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mereka dan bersabda: “kalian botakin seluruh kepalanya atau tidak sama sekali.” (HR. Muslim).

Para ulama –di antaranya pengarang ‘Ainul Ma’bûd- 2)  menjadikan hadis di atas sebagai dasar yang membolehkan seseorang botak atau mencukur seluruh rambut kepalanya. Dan ini adalah pendapat terkuat. Adapun ciri-ciri khawarij berambut botak maka ciri-ciri itu bukan ciri-ciri utama. Justru ciri-ciri utama mereka adalah takfir serampangan yang mereka alamatkan kepada kaum muslimin. Takfir serampangan inilah ciri khas mereka yang paling mendasar di antara ciri-ciri yang lain.

Kesalahan tersebut berawal dari keyakinan mereka bahwa dosa dalam akidah tidak bertingkat-tingkat (tidak mengenal Ushûl – Furûl dalam akidah). Mereka mengartikan iman satu kesatuan. Artinya, bagi mereka dosa yang terkait dengan akidah, baik dosa tersebut pada iman yang paling dasar (ushûlul Imãn) ataupun pada cabang iman (Far’ul Imãn) tingkatan kesalahannya sama; sama-sama dosa yang mengkafirkan peakunya. 3)

Menurut mereka, setiap kesalahan dalam masalah akidah mesti berujung kepada takfir pelaku. Padahal, dosa yang terkait dengan akidah tidak satu tingkatan. Adakalanya dosa tersebut menghilangkan ushûlul Imãn, adakalanya menghilangkan kesempurnaan iman (Far’ul Imãn), bahkan adakalanya pula hanya menghilangkan –bahkan hanya melukai- ashlul ahlis sunnah (dasar keyakian ahlus sunnah).

Menurut ulama-ulama klasik –dan diikuti pula oleh para penulis kontemporer- 4)  bahwa ciri-ciri utama khawarij ada pada sepuluh syiar mereka: (1) Mengkafirkan pemerintahan islam yang syah. (2) Memerangi yang tidak berhukum dengan hukum Allah. (3) Khawarij keluar dan berasal dari timur 5).   (4) Menjauhi masyarakat muslim paska mengkafirkannya. (5) Memerangi kaum muslimin dan pada saat yang sama membiarkan kaum musrik. (6) Mengikuti ayat-ayat mutasyãbihãt (tidak jelas dan multi penafsiran) dan meninggalkan ayat-ayat yang muhkãmãt (jelas dan tidak memerlukan penafsiran). (7) Banyak menimbulkan perpecahan dan peperangan kepada sesama. 6)    (8) Menciptakan slogan-slogan yang membius manusia; seolah-olah merekalah di atas kebenaran sejati. 7)     (9) Usia mereka masih belia, ilmu mereka ‘cetek’, alim ulama mereka sedikit dan bahkan hampir tidak ada, kebodohan tersebar di antara mereka. (10) Menumpahkan darah. Solusi terbaik bagi mereka Cuma satu: ‘perang’. 8)    Akal mereka tumpul untuk berpikir kemaslahatan umat.

Untuk poin pertama dan kedua; mengkafirkan pemerintahan islam yang syah dan memerangi yang tidak berhukum dengan hukum Allah, merupakan ciri khas khawãrij klasik. Mereka mengkafirkan pemerintahan ‘Alĩ bin Abĩ Thãlib dan menuduh para sahabat yang terlibat proses diplomasi (Tahkĩm) telah meninggalkan hukum Allah. Mereka menjadikan ayat yang turun kepada orang kafir diterapkan untuk orang beriman. Bertambahlah kesesatan mereka. Di antara ayat-ayat itu adalah firman Allah Ta‘ãlã:

مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Kalian tidak menyembah selain Allah kecuali hanya nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu buat-buat; Allah tidak pernah menurunkan keterangan apapun tentang nama-nama itu. Hukum itu hanya milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. Yûsuf[12]: 40).

Mereka menjadikan ayat ini untuk mengafirkan para sahabat. Padahal ayat ini diturunkan untuk orang-orang kafir. Mereka menilai diplomasi yang dilakukan pasukan ‘Alĩ bin Abĩ Thãlib dan Mu’ãwwiyah sebagai bentuk pengingkaran terhadap hukum dan keputusan Allah terhadap para pemberontak. Menurut mereka, pasukan Mu’ãwwiyah harus diperangi hingga mereka bertobat atau kalah terjepit sebagai hukuman bagi pemberontakan pemimpin yang syah, ‘Alĩ bin Abĩ Thãlib. Bukan dengan proses kompromi dan diplomasi. Mereka menilai para sahabat plintat-plintut (Tamyĩ’), tidak tegas, tidak hitam-putih memandang kebenaran, terlalu banyak berpikir hingga menghilangkan kesempatan. Disinilah letak perkataan Abdullah bin Umar:

إنهم انطلقوا إلَي آيات نزلت في الكفار فجعلوها على المؤمنين

“Khawãrij menjadikan ayat-ayat yang turun kepada orang kafir lalu mereka tujukan untuk orang beriman.” (Fathu Bãrĩ 12/ 286).

Inilah  watak sejati kaum khawarij yang tidak mereka akui; berpikir literalis, hitam putih. Bahkan mereka menyerang orang yang hendak berhati-hati dalam menghukumi suatu masalah dengan Tamyĩ’ atau plintat-plintut, tidak tegas dan jelas. Bagi mereka, kebenaran itu sederhana dan jelas. Tidak ada wilayah zhanniyah (baca, sangkaan atau bukan kebenaran sejati) bagi mereka, semua yang mereka klaim adalah wilayah qath’iyyah (kebenaran mutlak).

Mudah-mudahan gerakan jihad dapat segera bergegas untuk menghadapi fase selanjutnya yang tentunya lebih sulit lagi. Semoga mereka dapat segera melahirkan kader-kader terbaik dari multi disiplin hingga dapat mendiskripsikan masalah mereka dengan lebih tepat dan jelas.

 

By : Sultan Serdang

(Analis Gerakan Jihad Global dan Lokal)

Catatan kaki:

1) Aslinya adalah hadis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan dari Abû Sa‘ĩd Al Khudrĩ –semoga Allah meridhainya- bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 

«يَخْرُجُ نَاسٌ مِنْ قِبَلِ المَشْرِقِ، وَيَقْرَءُونَ القُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، ثُمَّ لاَ يَعُودُونَ فِيهِ حَتَّى يَعُودَ السَّهْمُ إِلَى فُوقِهِ»، قِيلَ مَا سِيمَاهُمْ؟ قَالَ: ” سِيمَاهُمْ التَّحْلِيقُ – أَوْ قَالَ: التَّسْبِيدُ – “.

 

“Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al Qur’an namun tidak sampai melewati batas kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama Islam seperti anak panah tembus keluar dari badan binatang buruannya. Mereka tidak pernah kembali sampai anak panah bisa kembali ke busurnya. Ciri-ciri mereka adalah mencukur habis rambutnya atau gundul”. (HR. Bukhãrĩ dan  Muslim).

2)  ‘Ainul Ma’bûd Syarh Sunan Abĩ Dãwud ditulis oleh Muhammad Asyraf bin Amĩr terkenal dengan Al ‘Azhĩm Ãbãdĩ. Pendapat ini juga ditegaskan oleh Al Muzhirĩ Al Hanafĩ dalam Al Mafãtĩh fĩ Syarhil Mashãbih, bahwa botak pada selain –momen- haji dan umrah hukumnya boleh dan secara jelas Rasulullah memberikan pilihan antara botak atau tidak.

بأن الحلقَ في غير الحج والعمرة جائزٌ، وتصريحٌ بأن الرجلَ مخيَّر بين الحلق وتركه.

3)  Ahlus sunnah melihat iman itu bertingkat-tingkat sebagaimana sabada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa iman tujuh puluh tingkatan lebih; rasa malu saja bagian dari iman dan iman yang paling rendah adalah membuang jarum dan apapun yang dapat menghalangi para pejalan kaki.

4)  seperti Hasan Abdul Wahhãb Al Bannã, pengajar di Universitas Al Jãmi’ah Al Islãmiyah, Madinah.

5) Sebagian penulis ada yang menyebutkan bahwa timur yang dimaksud adalah Najd dan sebagian yang lain berpendapat timur adalah Irãq. Yusair bin ‘Amr menuturkan: Aku pernah bertanya kepada Sahl bin Hunaif:

هَلْ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَذْكُرُ الْخَوَارِجَ؟، فَقَالَ: ” سَمِعْتُ هُوَ أَشَارَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ، قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ بِأَلْسِنَتِهِمْ، لَا يَعْدُو تَرَاقِيَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ

“Apakah kamu pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan tentang Khawãrij?”. Ia menjawab: “Aku pernah mendengar beliau bersabda sambil mengisyaratkan dengan tangannya ke arah Timur”: “(Khawãrij adalah) Satu kaum yang membaca Al Qur’an namun bacaan mereka tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya”. (HR.Muslim no. 1068).

Hadis di atas dikhususkan maknanya (takhshĩsh) dengan hadis Ibnu Umar berikut:

اللهم بارك لنا في شامنا، اللهم بارك في يمننا، فقالها مراراً، فلما كان في الثالثة أو الرابعة، قالوا: يا رسول الله! وفي عراقنا؟ قال: إنّ بها الزلازل والفتن، وبها يطلع قرن الشيطان

“Ya Allah, berkahilah kami pada Syãm kami dan Yaman kami”. Beliau mengatakannya beberapa kali. Saat beliau mengatakan yang ketiga kali atau keempat, para shahabat berkata: “Wahai Rasulullah, Irãq kami juga?”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya di sana terdapat bencana dan fitnah. Dan di sanalah muncul tanduk setan.” (Al Mu’jam Al Kabĩr, 12/384 no. 13422).

6)  Dalam Al Qur’an, Allah Ta‘ãlã mengabarkan bahwa sebab berkuasanya orang kafir atas orang beriman adalah perselisihan di antara mereka. Allah Ta‘ãlã berfirman: “Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang bercerai berai dan berselisih setelah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan adzab yang dahsyat.” (Q.S. Ali Imrãn[3]: 105).

Rahmat Allah adalah pahala persatuan dan kesatuan orang-orang beriman yang kuat serta loyalitas di antara mereka yang solid. Sedangkan azab yang dimaksud adalah hukuman dari ikhtilaf (perselisihan) dan iftiraq (perpecahan) yang terjadi di dalam tubuh umat Islam. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda: “Jamaah itu rahmat sedangkan Furqah (berpecah menjadi kelompok-kelompok) itu adzab”. (HR. Ibnu Abĩ ‘Ãshim dan dishahĩhkan Al Albãnĩ). Namun hal ini tidak dapat dipahami oleh khawãrij. Atas nama akidah, mereka menciptakan perseteruan dan perselisihan. Bahkan, khawãrij klasik habis tak memiliki jejak biologis karena takfir di antara mereka.

7)  Di antara slogan mereka adalah lafal Bãqiyah, padahal Al Baqã itu sejatinya milik Allah.

8) Salah satu watak Khawãrij yang paling menonjol adalah perang. Di kepala mereka hanya ada kamus membunuh dan terbunuh. Seolah-olah solusi masalah yang dihadapi hanya satu yaitu perang; yang mereka klaim dengan jihad, padahal jihad mereka tidak di atas syariah. Jihad mereka adalah jihad yang lahir dari nafsu membunuh mereka. Imãm Al Baghawĩ dalam Syarhus Sunnah 10/ 233 mengutip perkataan Ayyub, beliau menuturkan:

إِنَّ الْخَوَارِجَ اخْتَلَفُوا فِي الاسْمِ وَاجْتَمَعُوا عَلَى السَّيْفِ ” .

“Sekte-sekte Khawãrij itu berbeda dalam nama namun mereka berkumpul dalam perang (baca, menumpahkan darah manusia tanpa hak).

Nah disinilah letak persamaan gerakan jihad dengan Khawãrij. Dr. Muzhir Al Waisy –anggota majelis syura mujahidin di manthiqah syarqiyyah- dalam buku beliau Al Alãmãt Al Fãriqah fĩ Kasyfi Dĩnil Mãriqah (hal: 43) menyebutkan: “Gerakan jihad banyak menyerap pemikiran ekstrim Khawãrij karena tabiat perang yang tajam”. Hingga penulis menemukan, ada dai dari salah satu gerakan jihad di Indonesia yang selalu membicarakan jihad. Seolah-olah semua problem masyarakat dan jamaah hanya bisa selesai jika sudah jihad. Ini adalah kekonyolan yang fatal.

Banyak hal yang harus dipersiapkan gerakan jihad selain dari jihad itu. Syaikh Hãzim Al Madanĩ dalam bukunya “Kaifa Narã Al Jihãd” mengutip perkataan seorang veteran afghan: “Kita Asyik dengan pertarungan militer, sukses menempa jiwa ikhlas, dan berhasil menghidupkan kecintaan mati syahid. Tapi kita lalai memikirkan kekuasaan (politik), sebab kita tak sepenuh hati menggelutinya. Kita masih memandang bahwa politik adalah barang najis. Hasilnya, kita sukses mengubah arah angin kemenangan dengan pengorbanan yang mahal, hingga menjelang babak akhir saat kemenangan siap dipetik, musuh-musuh melepaskan tembakan ” rahmat ” untuk menjinakan kita”. Ini adalah renungan yang sangat berharga dari seseorang yang sudah menghabiskan waktunya di dunia jihad. Bahwa jihad itu bukan hanya membunuh dan terbunuh. Bahwa gerakan jihad itu bukan hanya gerakan gerakan puritan literalis yang dungu dan buta pengetahuan serta literasi.

Baca juga, MANHAJ SESAT KHAWARIJ KLASIK DAN MODERN DALAM PENGKAFIRAN AHLU KIBLAT