DOSAKAH JIKA MELAWAN DAULAH ISIS?
Duniaeskpress, 30 Desember 2017. –

Soal:

Wahai Shaikh, kami hidup di Kurdistan, Irak utara. Ketika Daulah Islamiyah (ISIS) menyerang kami, kemudian kami mempertahankan negeri kami, apakah bila meninggal kami disebut syahid atau tidak?

Ketika kami mempertahankan negeri dan kota-kota kami dari serangan ISIS; apakah tindakan kami ini syar’I atau tidak?

Sungguh kami adalah muslim sunni dan bermadzhab dengan madzhab ahlu sunnah. Jawaban kalian sangat penting dan mendesak bagi keluarga kami di Kurdistan. Di negeri kami Kurdistan, pemerintah yang berkuasa berdiri di atas Demokrasi dan Parlemen.

Kami minta maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan surat ini, sebab kami tidak berbicara dengan bahasa Arab; hanya saja kami berbahasa Kurdi.

 

Jawaban Lajnah Syar’iyah Minbar Tauhid wal Jihad:

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada penutup para nabi dan rasul.

Jika Jamaah Daulah menyerang pemerintahan kafir yang berkuasa; sebagaimana kalian sebutkan; tanpa mengganggu umumnya kaum muslimin yang tidak masuk dalam pemerintahan; bahkan Jamaah Daulah menjaga darah dan kehormatan kaum muslimin seperti yang diserukan para Ansar Daulah, maka kalian tidak boleh memerangi Daulah sementara kalian menolong dan mendukung pemerintah kafir serta para pembuat hukum dan Demokrasi barat melawan orang-orang yang ingin menegakkan syariat Allah; meskipun di pihak orang-orang yang ingin menegakkan syariat itu terdapat berbagai perbedaan pendapat, kedzaliman dan penyimpangan.

Allah ta’ala berfirman:

لَّايَتَّخِذِالْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَۖ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّاأَن تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً ۗوَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ ۗوَإِلَى الَّلهِ الْمَصِيرُ

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu). (Ali Imran : 28)

Dalam Sahih Muslim disebutkan. Dari Abu Hurairah ra. Dari Nabi Saw beliau bersabda, ”Barangsiapa berperang di bawah bendera kaum; ia marah karena ashabiyah atau menyeru kepada ashabiyah atau menolong ashabiyah, kemudian ia terbunuh, maka ia mati dalam kondisi jahiliyah. Dan barang siapa memerangi umatku, menghukum orang-orang yang baik dan yang jahat tanpa membedakan mana yang beriman, tidak menepati janji kepada orang yang wajib dipenuhi perjanjiaannya, maka bukan termasuk golonganku.”

Adapun jika serangan Jamaah Daulah atas kalian tidak membedakan antara yang muslim dan kafir, serta tidak menjaga haramnya darah, kehormatan dan harta kaum muslimin, maka bagi umat Islam wajib untuk mempertahankan jiwa, keluarga, hartanya.

Dosakah bekerja sama dengan orang kafir dalam mempertahankan diri ini?

Juga tidak berdosa ketika selama masa mempertahankan diri ini umat Islam bekerjasama dengan pihak lain; bahkan dengan pihak kafir, selama tidak mengagungkan mereka, tidak menolong mereka dan tidak berperang di bawah bendera mereka atau untuk mendukung tujuan mereka; tapi murni Daf’us Shail (menolak serangan) dan kedzaliman atas jiwa, keluarga dan harta; jika seorang muslim terbunuh dengan niat ini, maka ia syahid.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits:

من قتل دون ماله فهوشهيد، ومن قتل دون أهله فهوشهيد، ومن قتل دون دينه فهوشهيد، ومن قتل دون دمهفهوشهيد

”Barangsiapa terbunuh karena membela hartanya maka ia syahid, barangsiapa terbunuh karena membela keluarganya maka ia syahid, dan barangsiapa yang terbunuh karena membela diennya maka ia syahid, dan barangsiapa yang terbunuh karena membela darahnya maka ia syahid.”

Imam An-Nawawi berkata, ”Hadits ini menjadi dalil bahwa siapa saja yang bermaksud untuk mengambil harta orang lain tanpa hak, maka ia kehilangan hak atas darahnya, jika ia terbunuh maka masuk Naar. ’Dan barangsiapa yang terbunuh demi membela hartanya maka ia syahid’; ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw kemudian berkata, ’Wahai Rasulullah, bagaimana menurut Anda jika ada seseorang yang ingin mengambil hartaku?’ Rasulullah menjawab, ’Jangan berikan hartamu,’ laki-laki itu berkata, ’Bagaimana jika ia ingin membunuhku?’ Rasulullah menjawab, ’Perangi dia,’ laki-laki itu bertanya lagi, ’Bagaimana jika saya terbunuh?’ Rasulullah menjawab, ’Maka Engkau syahid,’ laki-laki itu bertanya, ’Bagaimana jika saya membunuhnya?’ Rasulullah menjawab, ’Dia di dalam Naar.”

Wallahu a’lam.

Wa shalallahu wa sallamu ala nabiyyina Muhammad wa ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Dijawab oleh anggota Lajnah Syar’iyah Minbar Tauhid wal Jihad; Shaikh Abul ’Izz An Najdi. (AB)

 

Baca juga, ORANG-ORANG YANG MELEDAKAN MESJID DAN MEMBUNUH YANG SEDANG SHOLAT, SUNGGUH MEREKA TIDAK MENGIKUTI SUNNAH NABI