MEMBONGKAR SANGGAHAN BAHWA DI TUBUH ISIS TIDAK ADA KHAWARIJ

Duniaekspress, 8 januari 2018. – Perhelatan dan perdebatan yang panjang dikalangan aktifis Islam, oleh suatu sebab munculnya Islamic State Iraq wa Syam atau dikenal dengan ISIS, yang mana kemunculan ISIS membuat kegaduhan dan bahkan perpecahan dikalangan aktifis islam, ada yang pro terhadap ISIS dan ada pula yang kontra ISIS, yang masing-masing kedua kubu memiliki argumen dan hujjah yang diklaimnya benar. Namun apapun yang diklaim argumen ataupun hujjah menurutnya benar, belum tentu juga menurut syari’atNya itu benar ketika realita fakta di lapangan menunjukan siapa yang jujur dalam al-haq dan siapa yang berdusta, karena diantara yang berselisih, tentu ada pihak yang konsisten dalam kebenaran dan ada pula yang sedang berdusta. Diantara salah satu yang menjadi perdebatan dan perselisihan bahwa tentang ada tidaknya kelompok khawarij di tubuh ISIS, yang mana mereka telah mengkafirkan kaum muslimin diluar kelompok mereka, dan bahkan mengkafirkan junud ISIS lainnya yang tidak sefaham dengan kelompok mereka.

Melihat realita yang ada apa yang terjadi ditubuh jama’ah ISIS :

Foto: Grafis perbedaan pendapat internal ISIS dalam takfir

Persoalan takfir menjadi masalah serius di kalangan para ulama Daulah Islam (IS) atau yang lebih dikenal dengan nama sebelumnya (ISIS). Sebagian ulama telah memvonis ISIS sebagai kelompok khawarij dengan pemikiran ekstremnya dalam permasalahan takfir. Syaikh Abu Bashir Ath-Thurthusi, misalnya, secara tegas menyebut bahwa ISIS adalah khawarij ekstrem.

Namun, Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi, yang sering berhubungan langsung ideologi ISIS, Syaikh Abu Humam Bakar bin Abdul Aziz Al-Atsari, menegaskan bahwa ISIS bukanlah kelompok khawarij. Meskipun Syaikh Abu Humam yang juga dikenal dengan nama Turki Al-Bin’ali mengakui bahwa ada orang-orang khawarij atau yang dekat kepada pemahaman khawarij, Syaikh Abu Muhamad tidak pernah menyatakan ISIS sebagai kelompok khawarij secara organisasi.

“Kami mengakui di barisan tentara kami dan pemegang otoritas syariat Daulah, di antara mereka ada orang-orang khawarij, atau hampir sama dengan khawarij,” ungkap salah seorang salah seorang dewan syariat ISIS dalam suratnya kepada Syaikh Al-Maqdisi.

Keberadaan beberapa panutan agama yang berpaham ekstrem tersebut berujung kepada perdebatan. Persoalan takfir di internal semakin meningkat hingga ISIS telah menangkap beberapa tokoh yang masuk dalam jajaran otoritas syariat. Nama-nama mereka adalah:

  1. Abu Ja’far Al-Hathab
  2. Abu Mus’ab At-Tunisi
  3. Abu Usaid Al-Maghribi
  4. Abul Haura’ Al-Jaza’iri
  5. Abu Khalid Asy-Syarqi
  6. Abu Abdullah Al-Maghribi
Nama-nama tulabul ilmu yang hijrah ke Daulah, namun justru dipenjara

Nama-nama tulabul ilmu yang hijrah ke Daulah, namun justru dipenjara

Semua individu ini adalah tokoh selevel “tulabul ilmi” atau lebih tinggi daripada itu. Abu Ja’far Al-Haththab adalah hakim dan pemegang utama otoritas syariat ISIS di Raqqah. Beberapa keputusan ISIS yang melibatkan dirinya dan di antara karyanya adalah:

  • Perjanjian ahli Dhimmah dengan Kristen Raqqah
  • Bayan Dewan Syariat ISIS tentang Jabhah Islamiyah dan para pemimpin mereka, yang dalam hal ini ISIS mengafirkan Jabhah Islamiyah yang saat itu terdiri atas banyak faksi, seperti Ahrar Syam, Liwa Tauhid, Suqur Syam dan Jaisy Islam.
  • Bai’atul Amshaar Lil Imaam Al Mukhtaar; Ahkaam Al Bai’ah Fil Islaam Wa Tanziiluhaa ‘Alaa Bai’ati Ahlisy Syaam (Diterjemahkan oleh Ustadz Abu Sulaiman Al Arkhabiliy dengan judul Bai’at Negeri-Negeri Kepada Imam Terpilih: Hukum-Hukum Bai’at Di Dalam Islam Dan Penerapannya Terhadap Bai’at Penduduk Syam).

Abu Ja’far sebelumnya merupakan anggota dewan syariat Anshar Syariah Tunisia. Ia dikeluarkan dari keanggotaan karena pemikirannya yang ekstrem. Ia lalu masuk ke Suriah dan menempati kedudukan penting di ISIS. Februari 2014 lalu, seorang ulama hadis, Syaikh Umar Al-Hadusyi, telah mengingatkan bahwa Abu Ja’far adalah orang yang berpemikiran ekstrem dalam takfir dan tidaklah masuk ke faksi mana pun kecuali akan merusaknya.

Selain nama-nama tersebut, Abu Umar Al-Kuwaiti dikabarkan juga ditangkap dengan alasan yang sama; menyebarkan pemikiran takfir ekstrem. Abu Umar Al-Kuwaiti adalah tokoh jihad Afghan. Di video buatan media As-Sahab, ia muncul bersama tokoh Al-Qaidah lainnya seperti Abu Yahya Al-Libbi. Setelah jihad Afghan menurun, ia membentuh jamaah Khilafah di Pakistan. Pada masa ini tokoh-tokoh jihadis Khurasan telah dikafirkannya. Selanjutnya, ia masuk ke Suriah dan bergabung dengan ISIS.

Sebuah akun yang mengonfirmasi penangkapan Abu Umar Al-Kuwaiti

Sebuah akun yang mengonfirmasi penangkapan Abu Umar Al-Kuwaiti

Kelompok yang memprotes penangkapan tersebut kini sangat marah kepada ISIS. Mereka mengklaim bahwa Syaikh Al-Baghdadi memerintahkan ulama dan tulabul ilmi hijrah ke Suriah hanya ditangkapi!

Perbedaan konsep takfir
Perbedaan pendapat yang berakibat penangkapan tersebut dimulai beberapa pekan yang lalu ketika pendukung orang-orang yang ditangkap itu membuat hastag #kami menuntut ISIS menjelaskan tauhidnya. Mereka berpendapat bahwa ISIS telah menyimpang. Bahkan menyamakan Syaikh Turki Al-Bin’ali dengan Jahm bin Shafwan, tokoh Islam yang melahirkan pemahaman Jahmiyah. Sebagai dampak penangkapan tersebut, Daulah dituduh sebagai daulah Jahmiyah dan kafir.

Sedangkan kubu lain memopulerkan hastag #ghuluw yang diikuti dengan tulisan-tulisan bantahan.

Perbedaan pendapat ini diawali ketika Syaikh Turki Al-Bin’ali tidak mengafirkan orang yang tidak mengafirkan pelaku syirik akbar secara mutlak. Kemudian, ketika ditanya tentang kemungkinan uzur (tidak divonis kafir dengan adanya penghalang atau belum memenuhi syarat takfir) dalam syirik akbar, menurutnya ada tiga kelompok dalam masalah ini:

  1. Orang yang tidak melihat itu sebagai kekafiran kecuali berhubungan dengan keyakinan hati. Ini adalah kelompok murji’ah.
  2. Orang yang melihat itu sebagai kekafiran, tetapi mendapatkan uzur bila ada penghalang. Ini adalah ahli sunnah yang keliru.
  3. Orang yang melihat itu sebagai kekafiran dan tidak berlaku penghalang apa pun. Kemudian, orang yang tawaquf dalam mengkafirkannya maka ia telah kafir.
Syaikh Turki Al-Bin'ali dalam taklim di salah satu masjid di Irak

Syaikh Turki Al-Bin’ali dalam taklim di salah satu masjid di Irak

Syaikh Turki Al-Bin’ali sendiri berpendapat tidak ada alasan (uzur) atas kekafiran karena syirik akbar. Artinya, ahli kiblat atau orang yang telah bersyahadat, lalu melakukan syirik akbar, seperti berdoa kepada mayit di kuburan, maka ia telah kafir. Namun, mantan murid Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi ini tidak mengafirkan orang yang memberi uzur pelaku syirik akbar karena ketidaktahuan. Pendapat inilah yang kemudian menuai kontra. Pada akhirnya, ada dua kubu yang berbeda pendapat dalam masalah kafir dan tidaknya pemberi uzur pelaku syirik akbar ini:

  1. Kelompok pertama mengafirkan orang yang memberi uzur (tidak mengafirkan dengan alasan tertentu) pelaku syirik akbar. Kemudian, orang yang tidak mengafirkan orang yang memberi uzur pelaku syirik akbar tersebut juga divonis kafir oleh kelompok ini. Jadi, ini merupakan kekafiran berantai sampai tiga tingkatan. Kelompok ini dikuatkan oleh doktrin-doktrin Syaikh Ahmad Al-Hazimi, ulama asal Arab Saudi.
  2. Kelompok kedua, tidak menerima alasan (uzur) bagi pelaku syirik. Namun tidak mengafirkan orang yang memberi uzur (tidak mengafirkan dengan alasan tertentu) pelaku syirik. Kelompok ini dikuatkan oleh Syaikh Turki Al-Bin’ali.
Grafis perbedaan pendapat internal ISIS dalam takfir

Grafis perbedaan pendapat internal ISIS dalam takfir

Kutipan Perdebatan dalam Tulisan-tulisan Antara Dua Kubu

Masing-masing kubu telah menguatkan pendapat dengan dalil dan logika hukum tersendiri. Media Daulah Islam Al-Ghuraba yang lebih fokus merilis tulisan-tulisan ulama pendukung Daulah dalam waktu singkat telah mengunggah sekitar sepuluh tulisan.

Abu Bilal Al-Harbi salah seorang ulama ISIS dalam kesaksiannya (15 Agustus 2014) menyebutkan dialog antara dirinya dengan Syaikh Ahmad Al-Hazimi di Suriah:
“Saya tidak shalat di belakang para imam masjid,” kata Al-Hazimi
“Mengapa? Bukankah pada dasarnya mereka di sini adalah muslim?”
“Harus dipastikan dahulu keislaman dan keyakinannya.”
“Apakah itu berarti hukum asal mereka itu kafir?”
“Ya.”
“Itu perkataan ahli bid’ah”
Ahmad Al-Hazimi hanya tertawa, lalu diam. Tema pembicaraan berubah. Abu Bilal kemudian menanyakan hukum orang yang tidak mengafirkan pelaku syirik akbar.
“Kafir!” jawabnya. Al-Hazimi juga mengafirkan Asy’ariyah, Murji’ah, dan Jahmiyah secara keseluruhan.
“Asy’ariyah?” tanya Abu Bilal.
“Kafir!”
“Berarti Ibnu Hajar kafir?”
“Tidak! Saya mengafirkan masyarakat umum Asy’ariyah saja.”
“Murji’ah?”
“Kafir.”
“Bagaimana dengan ijma’ yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah tentang tidak kafirnya murji’ah?”
“Apa benar itu ijma’?”
“Wahai Syaikh! Terhadap Jahmiyah saja, para ulama salaf tidak sepakat untuk mengafirkannya, tetapi engkau mengafirkan seluruh ahli bid’ah?”
“Ahli bid’ah itu melakukan kekafiran maka kita mengafirkan mereka! Inilah keyakinan kita!”

Ketika Abu Bilal menanyakan vonis kafir berantai, Ahmad Al-Hazimi menjawab, “Sampai level tiga.” Ketika ditanya apa dalil pembatasan sampai ketiga tersebut, ia tidak menjawabnya.

Tulisan lain yang membantah pemikiran Al-Hazimi, diterbitkan media Al-Ghuraba

Tulisan lain yang membantah pemikiran Al-Hazimi, diterbitkan media Al-Ghuraba

Perbincangan seperti ini, seperti disebutkan Abu Bilal, sudah berlangsung lama dan tidak diumumkan secara luas. Hanya disampaikan secara rahasia antar personal saja. Perlu disebutkan bahwa Syaikh Turki Al-Bin’ali menyampaikan jawaban tentang hukum uzur bil jahl pada Mei 2014 lalu. Setidaknya, perdebatan yang tidak diketahui publik sudah dimulai sejak saat itu.

Namun pada akhirnya perbedaan pendapat itu diumumkan ke publik hingga banyak bantahan yang dikeluarkan. Terutama ketika Syaikh Ahmad Al-Hazimi mengafirkan secara keseluruhan orang yang tidak mengafirkan pelaku syirik akbar. Dari sinilah kemudian ISIS berlepas diri dari pemahaman ini dan menegaskan bahwa orang yang tidak mengafirkan orang yang bersyahadat tetapi melakukan syirik akbar tidaklah divonis kafir kecuali setelah mendapatkan penjelasan dan tidak ada syubhat pada dirinya.

Di kubu lain, tidak kurang pula tulisan yang diunggah di internet untuk membantah kubu pertama. Al-Hazimi dalam salah satu tulisannya mengatakan, “Betapa banyak orang yang memberikan uzur karena kebodohan dan membuahkan kontradiksi pada dirinya. Contohnya kontradiksi dalam permasalahan berhukum dengan selain yang diturunkan oleh Allah. Anda akan menemukan, kebanyakan orang yang mengafirkan para thaghut yang menerapkan undang-undang positif, mereka memberikan uzur kebodohan dalam  permasalahan syirik. Ini adalah kontradiksi yang tidak pernah ada tandingannya. Mengapa?

Syaikh Ahmad Al-Hazimi

Syaikh Ahmad Al-Hazimi

Karena mereka mestinya juga memberikan uzur kepada para thaghut itu ketika ada sebab yang sama untuk memberikan uzur dalam kesyirikan pada masyarakat umum.

Dengan demikian, antara penguasa dan rakyat tidak berbeda. Rakyat ketika terjerumus ke dalam syirik akbar diberi uzur karena kebodohan, namun mengapa tidak demikian bagi penguasa ketika menerapkan undang-undang positif. Ia langsung divonis kafir dan murtad dari Islam, tanpa penegakan hujjah. Atau belum ada proses terpenuhinya syarat dan tidak adanya penghalang, dan juga upaya menghilangkan syubhat.

Ini adalah kekeliruan. Inilah kontradiksi yang terjadi sekarang ini. Yang benar, dan sudah sering kami ulangi, bahwa hukum ini berlaku umum. Setiap orang yang berhukum dengan selain syariat Allah maka ia kafir dan murtad dari Islam. Tanpa peduli apakah ia mengaku belum memahami atau alasan lain. Demikian pula rakyat yang melakukan syirik akbar maka ia kafir dan musyrik.”

Pendapat inilah yang dianut oleh para ulama ISIS yang ditangkapi dan dipenjara oleh ISIS sendiri. Pertanyaannya kemudian adalah apakah dengan langkah ini ISIS/IS akan bersih dari pemikiran takfir ekstrem? Apakah kebijakan ini akan mengubah persepsi faksi-faksi lain di Suriah yang selama ini memusuhi ISIS? Kemudian, apakah kelompok ulama yang memprotes kebijakan ISIS akan membentuk kelompok baru?

Selang beberapa waktu, perseteruan antara kelompok syaikh Ahmad Hazimy dan kelompok syaikh Turki bin’ali semakin memanas, dan ujungnya di bunuhnya syaikh Ahmad Hazimy dan sebagian para pengikutnya oleh Junud ISIS yang pro dengan syaikh Turki Bin’ali, yang berlanjut pembubaran serta pembunuhan orang-orang Lajnah Mufawadhah ISIS yang pro pemahamannya terhadap syaikh Ahmad Hazimy dalam persoalan takfir yang ghuluw, setelah diberantasanya orang-orang yang berfaham khawarij ditubuh ISIS, apakah dengan ini akan merubah ISIS benar-benar bersih dari para penumpang gelap yang berhaluan khawarij dan bisa mengembalikan image dihadapan ummat islam bahwa ISIS bukan khawarij ?

Semoga Allah menyelamatkan mujahidin dari keyakinan dan sikap yang berlebih-lebihan (ghuluw) faham khawarij dan menyatukan barisan mereka. Wallahu’alam bishowab.

Sumber : kiblat.net

Baca juga, KHAWARIJ ISIS EKSEKUSI SEORANG MUJAHID PALESTINA