Duniaekspress, 9 Januari 2018. – Ash-Shahaab, divisi penerangan Al-Qaidah pusat, kembali merilis buletin rutin mereka, An-Nafir. Di edisi yang ke-19 (Rabiuts Tsani 1439/ Desember 2017), An-Nafir mengangkat tema tentang perbedaan pendapat dan penjelasannya. Berikut terjemahan lengkap buletin An-Nafir edisi ke-19:

 

Jangan Kalian Melupakan Kebaikan Seseorang Hanya Karena Ia Berbeda Pendapat Dengan Kalian

Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kalian melupakan kebaikan di antara kalian. Sungguh Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan” [QS. Al-Baqarah: 237].

Sesungguhnya perbedaan pendapat dan perselisihan pandangan dalam suatu persoalan ijtihadiyyah merupakan suatu yang positif. Itu menunjukkan kematangan pemikiran dan keberagaman wawasan. Tentu selama perbedaan tersebut berdasarkan berbagai argumentansi, pertimbangan, dan estimasi dalam menentukan antara maslahat dan mafsadat yang dilakukan oleh para ahli ilmu. Ibnul Qayyim menuturkan, “Jika dalam suatu persoalan tidak ditemukan hadits dan ijmak (secara tegas), maka berijtihad dalam persoalan tersebut diperbolehkan. Mereka yang berijtihad dan bertaklid dalam hal itu tidak boleh diingkari.”

Sebagian kita harus menolerir sebagian yang lainnya, terkhusus jika ijtihad dan pendapat tersebut berasal dari salah seorang figur ahli ilmu yang dikenal kebaikan dan pengorbanannya dalam dakwah dan jihad. Mereka itu, meski pendapatnya dalam suatu persoalan tidak tepat, namun tidak melakukannya dengan sengaja. Terkadang ada suatu realita yang tersembunyi darinya yang menyebabkannya berpendapat seperti itu.

Di antara hak mereka atas kita adalah menasehatinya dengan sebaik-baiknya dan selembut-lembutnya. Kita harus menginterpretasikan ucapan mereka dengan interpretasi yang baik; dan mejauhi sejauh-jauhnya menjatuhkan vonis bid’ah, fasik, dan jahil pada mereka. Celaan seperti ini tidak pantas diutarakan dalam konteks saling menasehati yang disampaikan di muka publik.

Apalagi jika mereka  adalah di antara orang yang mengorbankan jiwa dan umurnya untuk mempertahankan agama ini. Bahkan pernah mengecap berbagai gangguan, penjara, dan kesulitan hidup. Selama sikap-sikapnya tersebut diakui sebagai suatu kebaikan dan keutamaan.

Di antara persoalan yang disepakati oleh para ahli ilmu bahwa perbedaan pendapat tidak berkonsekuensi menimbulkan pertengkaran, persengketaan dan polemik, selama masih dalam koridor syar’i. Generasi salaf dan khalaf biasa berbeda pendapat dengan tetap menjaga adab dan moral dalam berbeda pendapat. Barang siapa yang menyelisihi adab tersebut maka ilmunya tidak berkah; dan banyak orang yang tidak terlalu memperhatikan ilmunya (apa yang ia sampaikan) disebabkan  buruknya perangai dan kerasnya sikapnya kepada orang yang berbeda pandangan dengannya.

Ibnul Qayyim—rahimahullah—menulis, “Perbedaan pendapat di antara manusia merupakan suatu yang lumrah dan pasti terjadi. Hal itu disebabkan perbedaan tingkat ilmu, pemahaman, dan kekuatan analisa mereka. Namun yang tercela yaitu ketika sebagian mereka menzalimi dan memusuhi sebagian yang lainnya.”

Kita tidak boleh berburuk sangka kepada mereka dan tidak mencari-cari kekeliruan mereka dengan tujuan untuk mencela dan menjatuhkan mereka hanya karena mereka berbeda pandangan dengan kita. Seandainya setiap orang berijtihad dalam suatu persoalan lalu ijtihad dan pandangannya tersebut keliru—sementara  kekeliruannya itu diampuni; bahkan diberikan ganjaran—lantas  kita cela, vonis bid’ah, dan mengumpatnya, tentu tidak ada seorang pun yang terbebas dari hal ini. T

idak semua perbedaan pendapat berada dalam lingkaran antara hak dan batil. Terkadang terjadi suatu perbedaan pendapat, sementara keduanya berada dalam kebenaran; sebagaimana yang terjadi antara para sahabat ketika peristiwa pengepungan Bani Quraizhah. Sejarah generasi salaf penuh dengan contoh-contoh yang terpuji ini.

Yunus Ash-Shadafi bertutur, “Saya tidak pernah melihat orang secerdas Asy-Syafi’i. Pada suatu hari saya pernah berdebat dengannya dalam suatu persoalan. (Hal itu terus terjadi) hingga kami berpisah. Saat  bertemu kembali denganku, ia lalu menggengam tanganku kemudian berkata, ‘Wahai Abu Musa! Bukankah kita tetap bersaudara meski kita tidak sepakat dalam suatu persoalan.”

Mengomentari hal ini, Adz-Dzahabi berkata, “… Ini menunjukkan kecerdasan Imam (Asy-Syafi’i) dan pengendalian dirinya. Padahal mereka yang berdebat selalu berbeda pendapat.”

Ahmad bin Hafsh As-Sa’di—guru Ibnu Adi—berkata, “Saya pernah mendengar Ahmad bin Hanbal berkata, ‘Tidak ada seorang pun yang menyeberangi jembatan menuju Khurasan seperti Ishaq—bin Rahaweih—meski ia berbeda pendapat dengan kami dalam beberapa persoalan. Sesungguhnya sebagian manusia akan senantiasa berbeda pendapat dengan sebagian lainnya.”

Imam Ahmad dan Ali bin Al-Madini juga pernah berbeda pendapat sehingga suara keduanya meninggi. Namun tatkala Ali pergi, Imam Ahmad pun memegang tunggangannya.

Meski perbedaan antara dua aliran, yaitu aliran Ahli Ra`yi dan Ahli Hadits, tetapi kita menyaksikan bagaimana Imam Asy-Syafi’i—rahimahullah—memuji Imam Abu Hanifah. Ia berkata, “Manusia berhutang budi pada Abu Hanifah dalam bidang Fikih.”

Inilah tradisi generasi Salafus Shalih kita. Alangkah perlunya kita mengikuti sejarah dan petuah mereka. Berpegang teguh pada jama’ah dan persatuan merupakan di antara pokok agama yang harus kita pegang dengan erat dalam setiap fase aktivitas kita. Kita tidak boleh meremehkan hak saudara kita hanya lantaran ia berbeda pendapat dengan kita. Kita seyogianya mengedepankan toleransi ketika berbeda pendapat. Hal inilah  yang mampu memadamkan api kemarahan dan kedengkian. Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang beriman! Apabila kamu bertemu pasukan (musuh), berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah banyak-banyak (berdzikir dan berdoa) agar kamu beruntung. Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” [QS. Al-Anfal: 45-46]

Wahai Rabb Kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka

Ya Allah! Limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad dan ahli keluarganya. Ridhailah para sahabat yang mulia dan siapa saja yang mengikuti mereka hingga hari kiamat. (SM)

 

Sumber: As-Sahab Telegram

 

Baca juga, SYAIKH ABDURRAZAQ ALMAHDI SERUKAN MUJAHIDIN BERSATU DALAM SATU KOMANDO