MAYORITAS YANG BIJAKSANA

Duniaekspress, 10 Januari 2018. – Umat Islam Indonesia pantas dinobatkan sebagai “The Best Majority In The World”

Mereka terdepan dalam berperang mengusir penjajah, mengorbankan harta, jiwa dan raga hingga kemerdekaan diraih. Setelah merdeka, mereka tidak congkak terhadap agama lain, sebaliknya sangat toleran dan bersahabat.

Mereka terbaik dalam mengaplikasikan toleransi kepada agama lain, meski tidak jarang disakiti dan ditumpahkan darahnya seperti kasus Poso dan lainnya. Kendati agamanya sering dihina, ulamanya dipersekusi dan diintimidasi, namun umat Islam Indonesia masih tetap berlapang dada. Kesalahan individu non-muslim tidak digeneralisir, oknum dituntut namun yang lainnya tidak pernah diganggu.

Jika ingin menuntut hak khusus, seperti penerapan SYARI’AT ISLAM bagi pemeluknya dalam bingkai NKRI yang berasaskan Pancasila, atau meminta MENTERI khusus URUSAN ISLAM, atau hak lainnya, maka sungguh mereka tidak berlebihan.

Akan tetapi, entah kenapa banyak oknum non-muslim dan oknum munafikin lupa akan tingginya toleransi, dalamnya kebijaksanaan, dan mulianya hati kaum muslimin,,,
Entah apa sebabnya, kian hari mereka yang minoritas agamanya semakin berani menginjak hak muslim dengan congkak seperti pembajak, apakah mereka lupa sedang hidup di mana?
Ataukah ada pihak tertentu yang ingin merusak kesatuan dan persatuan Indonesia dengan memperalat minoritas yang kurang waras?

Jika umat Islam yang mayoritas masih konsisten dengan sikap toleransinya, maka orang-orang berakal dari minoritas juga harus sadar, tidak mau diperdaya atau diperalat oknum tak bertanggung jawab, tidak rela diadu dengan mayoritas Islam, demi ketentraman bersama.

Tahun 2018 adalah tahun penuh gejolak, karena Pilpres 2019 sepertinya akan menjadi titik klimaks laga antara dua kekuatan besar, kekuatan yang ingin mempertahankan kedaulatan NKRI dengan segala keistimewaannya (Umat Islam&kaum nasionalis), melawan pihak yang ingin menjadikan NKRI sapi perah atau sapi bajak di sawah (SPILIS dan golongan kiri).

Maka sadarlah wahai yang terpesona dengan pencitraan semu, wahai yang tergiur dengan uang jutaan yang takkan bertahan, wahai yang tertipu dengan ideologi tak berperi, wahai yang menjual agama demi fatamorgana dunia. Kembalilah ke hati nurani yang menjunjung tinggi ketuhanan, kembalilah ke jati diri muslim yang siap  menjaga keutuhan kedamaian kehidupan berbangsa dan bernegara !

Baca juga, PESAN NATAL INKONSISTEN DAN TIDAK PANCASILAIS