Pernyataan Pimpinan Umum Al Qaidah, “Dan merupakan kewajiban kami untuk menolong orang-orang beriman”

Duniaekspress, 12 Januari 2018. – Segala puji hanya milik Allah. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah, ahli keluarganya, para sahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti petunjuknya.

Amma ba’du:

Sesungguhnya pertempuran yang berlangsung hari ini antara para pemeluk kekufuran dan saudara-saudara kita di Syam merupakan perpanjangan dari perang terhadap Islam dan umat Islam. Perang yang dimulai dari Afghanistan hingga Afrika Tengah; dari Burma (Myanmar) hingga Al-Quds (Palestina); dan dari Jazirah Muhammad SAW (Saudi Arabia) hingga Maroko Islam, adalah bagian dari planning besar yang dijalankan Tatanan Dunia Kafir untuk mencabut akar-akar Islam dari dalam hati Umat Islam. Agar mereka mudah menjauhkan umat Islam (dari agamanya) dan dapat terus-menerus menguasai umat Islam dan mencuri kekayaan mereka.

Kewajiban yang tidak diperselisihkan lagi dalam menghadapi permusuhan yang membabi buta dan penjajahan yang telah mengakar tersebut yaitu dengan menyatukan kata dalam bingkai tauhid, merapatkan barisan dalam berperang di jalan Allah, menutup mata terhadap berbagai perbedaan dan perselisihan yang pasti terjadi di setiap medan dan fase sejarah umat Islam.

Kita harus menyadari bahwa pertempuran kita itu panjang. Karena ini merupakan pertempuran akidah dan kesadaran sebelum pertempuran senjata dan fisik. Bahkan merupakan pertempuran akhlak, tarbiyah, dan zuhud terhadap dunia sebelum operasi pengeboman, penculikan, dan pengumpulan ghanimah (rampasan perang).

Kita harus saling tolong-menolong, saling mendekat, berpikir jernih, memperbaiki berbagai kekurangan dan menutup celah-celah yang ada. Kita harus bersikap jujur kepada Rabb kita agar Dia menurunkan pertolongan-Nya kepada kita. Allah Ta’ala berfirman, “Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah, ‘Harta rampasan perang itu milik Allah dan Rasul (menurut ketentuan Allah dan Rasul-Nya), maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu.” [QS. Al-Anfal: 1]. Dan firman-Nya, “Wahai orang-orang beriman! Jika kalian menolong (agama) Allah, maka Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian” [QS. Muhammad: 7].

Kita harus sadar bahwa jalan pertama untuk meraih kemenangan adalah dengan taubat dan istighfar. Yaitu dengan cara meninggalkan berbagai kemaksiatan dan segera bertaubat, serta menjalankan berbagai ketaatan dan kebajikan. Karena, suatu bencana itu hanya turun tidak lain disebabkan suatu dosa, dan hal itu tidak akan diangkat kecuali dengan taubat. Allah ta’ala berfirman, “Dan mengapa kamu (heran) ketika ditimpa musibah (kekalahan dalam Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat (kepada musuh-musuhmu pada Perang Badar) kamu berkata, ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah, ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.’ Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” [Qs. Ali Imran: 165].

Sayyid Quthb—rahimahullah—ketika menafsirkan ayat tersebut menulis, “Allah telah menetapkan atas diri-Nya untuk menolong para wali-Nya, para pengibar panji-panji-Nya, dan para pemeluk akidah-Nya. Akan tetapi, pertolongan ini Dia kaitkan pada hakikat iman yang ada dalam hati mereka dan pemenuhan mereka terhadap konsekuensi-konsekuensi iman di dalam sistem dan perilaku mereka. Juga pada kesempurnaan persiapan mereka menurut kemampuan maksimal mereka, dan pengerahan tenaga yang mereka miliki. Inilah sunnatullah, dan sunnatullah itu tidak pilih kasih terhadap seorang pun.”

“Oleh karena itu, jika mereka mengabaikan salah satu faktor ini, maka mereka akan menerima akibat pengabaian ini. Posisi mereka sebagai umat Islam tidak dapat menganulir sunnatullah terhadap mereka dan tidak dapat membatalkan hukum-hukum alam itu. Karena sesungguhnya umat Islam itu menyesuaikan seluruh aspek kehidupan mereka dengan sunnatullah dan mendamaikan fitrahnya dengan hukum-hukum Allah.”

“Meski begitu, keberadaan posisi mereka sebagai umat Islam tidak terbuang sia-sia dan tidak sirna begitu saja. Karena kepasrahan mereka kepada Allah, mereka mengibarkan panji-panji-Nya, tekad mereka untuk kepada-Nya, dan komitmen mereka pada manhaj-Nya, maka pada akhirnya kekeliruan dan kekurangan mereka akan menjadi baik dan berkah—setelah mereka berkorban, mengalami penderitaan, dan luka-luka. Dia menjadikan kekeliruan-kekeliruan dan konsekuensi-konsekunsi tindakan mereka itu sebagai pelajaran dan pengalaman (buat mereka), yang dapat menambah kesucian akidah, kebersihan hati, dan kebersihan barisan mereka. Juga menjadikan mereka berhak mendapatkan pertolongan yang dijanjikan, dan pada akhirnya mendapatkan kebaikan dan keberkahan. Kekeliruan-kekeliruan dan konsekuensi-konsekunsi tindakan mereka itu tidak menjadikan umat Islam terusir dari perlindungan, pemeliharaan dan pertolongan Allah. Bahkan semakin menambah bekal bagi mereka, betapa pun mereka ditimpa bencana, penderitaan dan kesempitan di tengah jalan.”

Kita harus menyadari bahwa sunnatullah tidak akan terabaikan. Kebenaran (pada akhirnya) pasti akan menang dan kebatilan akan sirna dengan izin Allah. Kewajiban kita hanyalah mentadabburi sunnatullah–sunnatullah dalam perubahan (taghyir) dan kekuasaan (tamkin). Di antara sunnatullah tersebut yaitu sunnah ujian (ibtila`) dan penyeleksian (tamhish). Ujian yang pada zahirnya terkesan bencana ini pada hakikatnya merupakan suatu nikmat. Karena dengannya tampaklah mereka yang jujur dan yang dusta, dan mereka yang busuk jiwanya dan yang bersih jiwanya. Allah berfirman, “Alif Lam Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman.’ dan mereka belum diuji. Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui prang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” [QS. Al-‘Ankabut: 1-3].

Jadi ujian adalah sunnatullah yang tidak bisa dihindari, dan tidak ada jalan keluar kecuali bersikap jujur dan sabar. Oleh itu, tetap teguhlah dan tetap teguhlah. Kemenangan hanyalah kesabaran sesaat, yang setelah itu—dengan izin Allah—akan hadirlah kekuasaan (tamkin). Lihatlah mereka orang-orang kafir itu tetap sabar berdiri di atas kebatilan. Alangkah sangat perlunya kita untuk sabar di atas kebenaran yang kita yakini.

Kita juga harus menyadari bahwa kewajiban saat ini adalah i’dad (melakukan persiapan), berangkat berjihad, dan melakukan ribath di perbatasan musuh, untuk membendung serangan musuh di front-front pertempuran yang terbentang di beberapa negeri umat Islam yang terampas secara umum, dan khususnya di Syam. Allah ta’ala berfirman, “Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [QS. At-TAubah: 41].

Para jihadis—siapa pun mereka dan di mana pun posisi mereka—tidak boleh menunda-nunda untuk tolong-menolong sesama mereka dan umat Islam. Mereka tidak boleh meninggalkan ribath, tidak menunda-nunda pertempuran, dan tidak menangguh-nangguhkan berangkat berjihad, serta tidak berhenti bekerja, berusaha, dan berkorban apa pun di jalan Allah.

Kami kembali mengulangi dan menekankan apa yang telah kami serukan sebelumnya melalui lisan Syaikh Aiman—semoga Allah menjaganya, “Saya meminta saudara-saudaraku dari tentara Al Qaeda di Syam untuk saling tolong-menolong dengan para jihadis yang jujur. Mereka hendaknya berusaha menyatukan kekuatan dan menyelesaikan perselisihan. Mereka hendaknya menjadi pionir dalam kebaikan, berlomba-lomba meraih syahadah, berada dalam barisan terdepan, dan bersegera berkhidmat kepada para jihadis, muhajirin, orang-orang lemah, dan seluruh umat Islam.”

“Mereka hendaknya menjadi orang pertama yang berkorban, memberi, menyatukan barisan jihadis dan umat Islam; dan menjadi orang terakhir yang berprilaku buruk, menimbulkan perselisihan, pertikaian dan pertengkaran. Perkara ini buatku sudah jelas bagi mereka, bahwa mereka hendaknya saling tolong menolong bersama saudara-saudara mereka dari jihadis; baik yang menyepakati mereka maupun yang menyelisihi mereka dalam jihad, memerangi orang-orang Ba’ats, Syi’ah Rafidhah, Shafawi, Salibis, dan kaum Khawarij.”

“Akan tetapi saya sangat melarang mereka dan memperingatkan mereka untuk tolong-menolong—dengan siapa pun—dalam kezaliman, permusuhan, dan mengambil hak-hak umat Islam dan hak-hak yang diakui syariat untuk orang-orang kafir. Mereka tidak boleh menumpahkan darah yang diharamkan; tidak mengambil harta yang dilindungi; dan tidak menodai kehormatan, kemulian, dan harga diri setiap Muslim, serta tdiak menyakiti seorang kafir pun yang dilindungi haknya oleh syariat. Dengan ini, saya (Aiman Zhawahiri) dan saudara-saudaraku belepas diri dari perbuatan-perbuatan mereka (yang menyelisihi instruksi ini). Bukankah hal ini telah kusampaikan. Ya Allah saksikanlah hal ini.”

Kami memohon kepada Allah ta’ala untuk memperlihatkan kebenaran sebagai suatu kebenaran kepada kita dan menganugerahkan kepada kita untuk mengikutinya. Dan memperlihatkan kebatilan sebagai suatu kebatilan kepada kita dan menganugerahkan kepada kita untuk menjauhinya. Semoga Dia menetapkan petunjuk(kekuasaan-Nya) pada umat Ini. Di sana, mereka yang taat akan dihormati, dan mereka yang durhaka akan terhina. Diperintahkan di sana kebaikan dan dicegah di sana kemunkaran. Di dalamnya ditegakkan keadilan dan diserukan kebenaran. Berkibar tinggi di sana bendera jihad agar umat kembali meraih kemuliaan dan kehormatannya. Serta di dalamnya bendera tauhid terangkat kembali di seluruh penjuru negeri Islam yang terampas.

Kami memohon kepada-Nya: tepat dalam berucap, benar dalam beramal, diberi taufik kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya dalam kehidupan, dan husnul khatimah ketika meninggal. Hanya Dia lah yang berkuasa dan mampu atas hal itu.

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

20 Rabi’ul Akhir 1439 H

07 Januari 2018

Sumber: As-Sahab Telegram

 

Baca juga, TEGUHLAH DALAM BAI’ATMU