KUNCI, TAHAPAN DAN SIKAP UNTUK MENCAPAI KEMENANGAN.

“DARI SINERGITAS MENUJU KEMENANGAN UMAT”

Penulis: Sultan Serdang.

Duniaekspress 13 Januari 2018.

Diriwayatkan dari Abdurrahman bin ‘Auf, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

شَهِدْتُ حِلْفَ الْمُطَيَّبِينَ مَعَ عُمُومَتِي وَأَنَا غُلاَمٌ فَمَا أَحِبُّ أَنَّ لِي حُمْرَ النَّعَمِ وَأَنْا أَنْكِثَهُ

“Aku telah menyaksikan berlangsungnya Hilful Muthayyibin bersama paman-pamanku ketika aku masih kecil. Aku tidak ingin membatalkannya walaupun aku diberi onta merah.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya). 1)

 

Sebab terujarnya hadis di atas adalah persekutuan di antara klan-klan arab yang dikenal dengan Hilful Muthayyibîn. Peristiwa tersebut adalah perjanjian antara kabilah Banî Abdud Dȃr, Banî Jamûh, Banî Sȃlim, Banî Makhzûm dan Banî Adî, yaitu perjanjian persekutuan di antara mereka untuk tidak saling berebut kekuasaan atas Ka’bah. Fakta persekutuan tersebut ditandai dengan memasukkan tangan delegator ke dalam mangkok berisi minyak wangi dan mengusapkannya ke Ka’bah sehingga dinamakan Muthayyibîn (orang-orang yang memakai minyak wangi).

Menurut As Sindî, perjanjian tersebut adalah perjanjian antara Banî Hasyîm, Banî Muthȃlib, Banî Asad bin Abdul ‘Uzzȃ, Banî Zuhrah bin Kilȃb, dan Banî Taim bin Murrȃh untuk tidak membiarkan kezaliman terjadi di kota Makkah baik terhadap warga Makkah asli maupun terhadap para pendatang.

Menurut pendapat yang lain perjanjian yang dimaksud As Sindî tersebut adalah Hilful Fudhûl. Tentang ini Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

((لقد شهدت في دار عبد الله بن جدعان حلفا ما أحب أن لي به حمر النعم، ولو أدعى به في الإسلام لأجبت))

“Aku telah menyaksikan persekutuan (antar klan arab) di rumah Abdullah ibn Jud’ȃn. Aku lebih menyukai persekutuan tersebut daripada diberi onta merah. Jika aku diminta pada masa Islam pasti aku akan memenuhinya.” 2) 

Menurut Abû Ghaddȃh, sebab lahirnya persekutuan di atas adalah kisah seorang lelaki dari kabilah zubaidî yang datang ke Makkah dengan barang dagangan. Lalu Al ‘Ȃsh bin Wȃ’il membelinya, dan Al ‘Ȃsh adalah orang yang memiliki kemampuan dan kehormataan. Lalu ia – berbuat zhalim – menahan hak lelaki tersebut. Lalu lelaki dari Kabilah Zubaidî meminta pertolongan kepada sekutu (Kabilah Abdud Dȃr, Makhzûm, Jamûh, Sahm, Dan Adî).

 

SINERGITAS, PERSATUAN, DAN PERSEKUTUAN SEBAB KEMENANGAN

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menggambarkan kaum mukminim, satu dengan yang lain bagaikan satu bangunan yang saling menopang. Bagaikan kumpulan bata yang tersusun lalu membentuk bangunan yang kokoh dan anggun. Dalam Al Qur’an, Allah mengabarkan fungsi bangunan yang kokoh dan anggun ini untuk saling tolong menolong dalam rangka menyeru manusia untuk berbuat yang makruf dan mencegah mereka dari perbuatan mungkar. Allah Ta‘ȃlȃ berfirman:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنْ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ سَيَرْحَمُهُمْ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan itu, sebagian mereka menjadi penolong-penolong bagi sebagian lainnya. Mereka menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, menegakkan sholat, menunaikan zakat dan mentaati Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang akan dirahmati oleh Allah. Sesungguhnya Allah itu Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. At Taubah[9]: 71)

Allah Ta‘ȃlȃ juga berfirman mengabarkan bangunan yang kokoh dan anggun ini akan melahirkan kemenangan yang akan menggulung kekuatan musuh; jika syarat-syaratnya terpenuhi. Syarat-syaratnya termaktub dalam firman Allah Ta‘ȃlȃ berikut:

وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمْ الْغَالِبُونَ

“Dan barangsiapa menjadikan Allah dan Rasulnya serta orang-orang yang beriman sebagai penolong maka sesungguhnya golongan Allah itulah yang pasti menang”. (Q.S. Al Mȃidah[5]: 56).  3)

Ayat yang pertama mengingatkan pentingnya muwalah (loyalitas) di antara sesama mukmin, sebagian mereka dengan sebagian yang lain untuk melaksanakan kewajiban imani. Kewajiban tersebut dimulai dengan Amar Makruf Nahi Mungkar, dan hal tersebut tidak akan berhasil tanpa ada kekuatan. Sedangkan kekuatan itu hanya dapat terbentuk dan terbangun dari loyalitas sesama mukmin; sebagian mereka dengan sebagian yang lain. Dengan terpenuhinya persatuan di antara orang-orang beriman maka Allah Ta‘ȃlȃ meanugerahkan rahmat kepada kaum muslimin, “Mereka itulah orang-orang yang akan dirahmati dan Allah”. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

«الْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ، وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ»

“Jamaah itu rahmat sedangkan Furqah (berpecah menjadi kelompok-kelompok) itu adzab”. (HR. Ibnu Abî ‘Ȃshim dan dishahihkan Al Albȃnî).

Kebenaran tentang pandangan ini memiliki bukti penguat yang terdapat dalam Firman-Nya: “Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang bercerai berai dan berselisih setelah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan adzab yang dahsyat.” (QS. Ali Imran[3]: 105). 4)

Kesimpulannya, rahmat Allah adalah pahala sinergitas dan persatuan orang-orang beriman, sedangkan azab yang dimaksud ayat adalah hukuman ikhtilaf dan iftiraq (perpecahan); dan azab itu adakalanya dapat dirasakan di dunia (Azab Adnȃ) dan adakalanya di akhirat. Azab dunia yang Allah Ta‘ȃlȃ rasakan kepada orang-orang beriman akibat perselisihan dan perpecahan adalah berkuasanya orang-orang kafir dan zalim atas mereka.

Sedangkan ayat yang kedua padanya terdapat kabar gembira berupa kemenangan, “Sesungguhnya golongan Allah itulah yang pasti menang”. Pada ayat itu Ada isyarat tentang kewajiban untuk Muwalah Imaniyah (kesetiaan atas dasar iman) sebagai satu syarat dari sekian banyak syarat kemenangan. Pada ayat itu huruf syaraf (huruf Man) yang mensyaratkan Muwalah Imaniyah. Dan jawab syaratnya (pada huruf Fa) adalah kabar kemenangan, “Maka golongan Allah itulah yang pasti menang”.

Perhatikanlah urutan kata pada ayat, “Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasulnya dan orang-orang yang beriman sebagai penolong-penolong (teman-teman) setia.” Pada ayat tersebut terdapat petunjuk bahwa perkumpulan kaum mukminin tidak ada artinya sama sekali tanpa ikatan Muwalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan ini hanya terjadi dengan berpegang teguh dengan kitab Allah dan sunah RasulNya dengan merealisasikan penegakkan syariat dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

 

PERPECAHAN SEBAB KEKALAHAN

Allah Ta‘ȃlȃ telah mengharamkan perpecahan dan perselisihan. Selain hal tersebut adalah larangan Allah, dilihat dari sisi bahayanya, perpecahan dan perselisihan adalah sebab kekalahan dan berkuasanya musuh atas kaum muslimin. Berkuasanya musuh adalah azab dunia yang Allah timpakan kepada kaum muslimin. Allah Ta‘ȃlȃ berfirman:

{وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمْ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ}

“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang bercerai berai dan berselisih setelah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata. Dan bagi mereka adzab yang dahsyat.” (Q.S. Ali Imran[3]: 105).

Allah SWT berfirman:

{وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنْ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ}

“Dan sesungguhnya kami merasakan kepada mereka adzab yang dekat (di dunia) sebelum adzab yang lebih besar diakhirat, mudah-mduahan mereka kembali kepada jalan yang benar.” (QS. As Sajdah[32] : 21).

Maka kekalahan kaum muslimin adalah sebagian dari azab yang dekat (di dunia) sebagai hukuman perpecahan dan perselisihan. Maka Allah Ta‘ȃlȃ berulang kali menyebutkan, bahwa kebiasaan orang-orang musyrik di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah bercerai berai. Mereka memandang bahwa mendengar dan taat itu sebuah kehinaan dan kerendahan, maka Allah memerintahkan orang-orang beriman agar bersatu dan melarang mereka untuk bercerai berai. Allah Ta‘ȃlȃ berfirman: “Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah, dan janganlah kalian bercerai berai dan ingatlah nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kalian tatkala kalian bermusuhan, lalu Allah menyatukan hati-hai kalian, sehingga dengan nikmatNyalah kalian menjadi bersaudara. Dan kalian pernah berada diatas jurang api neraka lalu iapun menyelamatkan kalian darinya.” (Q.S. Ali Imran[3]: 103).

 

MEROBOHKAN TEMBOK BERLIN

Walaupun persatuan adalah anugerah (nikmat) Allah, namun bukan berarti anugerah tersebut tidak dapat diraih. Buktinya, Allah memerintahkan kaum muslimin untuk meraih anugerah tersebut. Ini menunjukkan bahwa anugerah tersebut adalah sesuatu yang dapat diraih (lihat: Q.S. Ali Imrȃn[3]: 103).

Persatuan ini dimulai dengan saling mengenal atau tȃ‘aruf satu kelompok dengan kelompok yang lain. Tidak dapat dipungkiri Allah menciptakan manusia beragam (plural); mulai dari ras, warna kulit, suku bangsa, bahasa, adat istiadat, dll. 5)

Allah Ta‘ȃlȃ menciptakan manusia berbangsa-bangsa, bersuku-suku, berlainan warna kulit dan tutur bahasa untuk saling mengenal dan memahami; bukan untuk memperlihatkan mana suku bangsa yang paling utama atas suku bangsa lain. Justru keutamaan hanya dapat diraih engan ketaqwaan, “Sesungguh orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian”.

Setelah saling mengenal, maka tahap selanjutnya adalah tafȃhum atau saling memahami; memahami karakter, kebiasaan, adat istiadat, sifat, dll; baik kekurangannya maupun kelebihannya. Karena sudah menjadi sunnatullah manusia beragam, termasuk karakter dan adat istiadat, karenanya mutlak dibutuh sikap saling memahami antara kelompok.

Dan yang paling penting adalah langkah ketiga yaitu saling tasȃmuh atau sikap saling menghargai perbedaan, khususnya perbedaan yang non prinsipil. Adapun perbedaan yang mengarah kepada perbedaan prinsip maka harus ada ‘peta’ 6) yang dapat mengkatagorikan perbedaan tersebut; apakah perbedaan pada wilayah akidah yang mendasar atau perbedaan tersebut masih di waliyah cabang akidah?

Saling tasȃmuh juga dapat berarti menghargai segala perbedaan yang ada di antara elemen umat; di antara gerakan-gerakan Islam. Perbedaan tersebut dapat berarti perbedaan istilah-istilah yang berlaku, gaya (style) yang ditampilkan kelompok-kelompok, skala prioritas, wilayah kerja, tekanan capaian, dll.

Langkah keempat adalah tanȃshur atau saling tolong; yang dapat disimulasikan dengan proyek-proyek bersama; membangun madrasah bersama, membangun ekonomi bersama, atau membangun dakwah bersama, dll. Kebersamaan inilah yang akan menjadi penentu persekutuan; apakah persekutuan itu berhasil atau jalan di tempat.

Jika keempat hal di atas sudah terkumpul maka selanjut meraih dua kemungkinan; tanȃshur atau ittihȃd. Apakah berhenti pada proyek bersama namun tetap beda manajemen atau lebur dalam satu manajemen (unifikasi). Jika tanȃshur sudah berjalan maka langka ke unifikasi tinggal selangkah lagi. Inilah yang penulis sebut dengan merobohkan tembok Berlin. 7)

Tembok Berlin yang menyekat-yekat gerakan Islam juga harus dihancurkan. Namun penghancurannya bukanlah sesuatu yang mudah. Ada banyak sebab kenapa tembok tersebut terus bertahan. Karenanya, ada beberapa upaya yang harus dilalui setiap gerakan Islam; apabila mereka hendak merobohkan tembok tersebut. Upaya-upaya tersebut bermula dari saling mengenal, memahami, dan menghargai perbedaan. Tahap selanjutnya adalah saling menolong yaitu dengan proyek-proyek bersama sehingga berakhir dengan unifikasi.

Jika unifikasi adalah sesuatu yang sulit ditempuh, maka yang paling memungkinkan adalah membangun Majelis Syura seperti yang dilakukan klan-klan arab pada persekutuan Muthayyibîn. Majelis Syura tersebut dibentuk dengan berangotakan pimpinan masing-masing kelompok sebagai perumus arah strategis persekutuan lalu ditafsirkan dalam bentuk langkah-langkah praktis oleh tim pelaksana yang dibentuk oleh Majelis Syura. 8) 

Peserta Majelis Syura terdiri dari tokoh, ulama, cendikia, dan pimpinan gerakan; yang memiliki tugas merumuskan arah strategis dan agenda besar; yang kemudian diamanahkan kepada pelaksana untuk merealisasikan arah strategis dan agenda besar tersebut. Pelaksana dapat saja terdiri dari beberapa anggota Majelis Syura ditambah beberapa orang yang dianggap mumpuni dan punya dedikasi tinggi. 9)

Ada baiknya bentuk organisasi dipertahankan dalam bentuk persekutuan dan dinamakan Majelis Syura Umat. Walau tidak dapat dipungkiri, dalam perjalanan mungkin saja terjadi unifikasi di antara kelompok Majelis.

 

KESIMPULAN

Persatuan adalah perintah syariat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri sangat menghendaki adanya persatuan, apalagi pada persatuan ada sebab kemenangan. Sebaliknya, perpecahan hanya akan melahirkan kekalahan dan berkuasa musuh atas kaum muslimin.

Untuk menuju persatuan, gerakan-gerakan Islam harus memiliki inovasi langkah. Harapannya, inovasi-inovasi tersebut dapat menjadi jawaban atas beberapa kebuntuan yang dihadapi. Salah satunya inovasi tersebut adalah dengan memulai saling mengenal, memahami, dan menghargai perbedaan. Selanjutnya, dengan simulasi berupa proyek-proyek bersama sehingga dapat mengantarkan kepada unifikasi. Namun sebelum itu semua, silaturahmi adalah langkah awal yang musti dilalui, karena tidak mungkin dapat saling mengenal kalau tidak ada perjumpaan dan pertemuan.

Salah satu inovasi dalam meneyelsaikan kebuntuan yang dihadapin gerakan Islam adalah menciptakannya Majelis Syura untuk menjadi ruang aktivitas bersama dengan tetap merawat keindependenan masing-masing unsur/ elemen. Wallahu A’lam.

FOOTNOTE:

1) Sanad hadis ini shahih, rijal (perawi/ pewarta) hadis ini tsiqot (terpercaya), rijalnya Bukhãrî dan Muslim. Kecuali Abdurrahmãn bin Ishãq, Imȃm Muslim meriwayatkan hadisnya dalam Sawȃhid. Namun, Ibnu Mu’în, Abû Dȃwud dan yang lain mentsiqohkannya.


Hadis ini juga diriwayatkan Ibnu Adî dalam Al Kȃmil 4/ 1610. Abû Nu’aim dalam Ma’rifah Ash Shahȃbah (495) dari Ahmad bin Hanbal, lalu sanadnya sesuai dengan sanad hadis. Al Bazzȃr juga meriwayatkan (1000), Abû Ya’lȃ (845), Al Baihaqî (6/ 366), dari jalan Khȃlid Al Wȃsithî dari Abdurrahmȃn bin Ishȃq sesuai dengan sanad hadis. Abû Ya’lȃ juga meriwayatkan dari jalan yang lain (844) dari Khȃlid, dari Ibnu Ishȃq dari Muhammad bin Jubair dari Abdurrahmȃn bin ‘Auf

2)  Lihat Sirah An Nabawiyyah karya Ibnu Hisyȃm, I/ 133-134.

3) Ayat ini mengabarkan bahwa kemenangan hanya dapat direngkuh dengan merealisasikan syarat-syarat dalam ayat ini; loyal kepada Allah, RasulNya, dan orang-orang beriman. Ketiga syarat ini harus terpenuhi terlebih dahulu sebelum Allah Ta‘ȃlȃ meanugerahkan kemenangan. 

4)  Ayat-ayat senada dengan ayat ini banyak sekali. Keseluruhan dari ayat-ayat itu memberikan kita kabar tentang rusaknya orang-orang terdahulu baik dari kalangan ahli kitab maupun orang-orang musyrik yang selalu berpecah dan tidak dapat disatukan. Maka dalam beberapa ayat Allah dengan tegas menyatakan, “Janganlah kalian seperti orang-orang musyrik yang memecah agama mereka.”

5) Allah Ta’ãlã berfirman: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu bersuku bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al Hujarȃt[49]: 13).

6)  Harus ada kaedah-kaedah atau semacam tulisan yang memetakan peremasalahan akidah dan memetakannya; hingga harapannya dapat menjadi rambu-rambu dalam memetakan perbedaan.

7)  Tembok Berlin adalah tembok yang memisahkan Jerman timur dan Jerman barat. Jerman timur diselimuti paham sosialis-komunis yang akut sedangkan Jerman barat berhaluan demokrasi-liberal. Dua isme ini memisah Jerman. Hingga, ketika warga kedua negara sudah muak dengan pemisahan tersebut maka robohlah tembok Berlin. 

8)  Bentuk ini lebih memungkin untuk hari ini. Mengingat bahwa gerakan-gerakan perlawanan di Nusantara sangat ‘risih’ dibawahi kelompok lain.

9)  Setiap kelompok harus komit untuk menjalankan agenda yang sudah digariskan Majelis Syura dan berlapang dada saat pilihan kelompoknya tidak dianulir. Nah disinilah kedewasaan dalam bersikap akan dipertaruhkan; apakah gerakan-gerakan yang bersatu itu adalah gerakan yang egois atau gerakan yang dewasa dalam memenej persatuan dalam ruang aktivitas bersama.

 (AZ) 

baca juga,  AL-QAIDAH SERUKAN PERSATUAN UMAT