DZUL KHUWAISIRAH BIANG KHAWARIJ

Duniaekspress, 15 Januari 2018. – 

“Wahai Rasulullah, berbuat adil-lah ! “ hardik DZUL KHUWAISIRAH AT-TAMIMI an NAJDI, seorang yang lebat janggutnya dan cingkrang gamis nya sebagaimana digambarkan Said al Khudri yang diriwayatkan Imam Bukhori.
Rasul menjawab: “Celaka engkau, siapa lagi yang akan berbuat adil jika aku sudah (dituduh) tidak adil.”
Rasul menjelaskan keadaan orang ini sebagai : Banyak shalat & berpuasa melebihi ibadahnya sahabat pada umumnya. Namun hal ini tidak membuat nabi memujinya, bahkan melaknatnya dikarenakan kesalehan lahiriahnya tertutup oleh keburukan akhlak karakternya, keangkuhannya meyebabkan merasa paling benar sendiri seraya menghardik menyesatkan pihak lain.
Nabi bersabda tentang orang ini :
“Di mana kalian (para sahabat) merasa lebih sedikit shalat kalian dibanding shalat mereka, shaum kalian dibanding shaum mereka. Mereka membaca al-Qur’an tapi tidak sampai ke tenggorokan mereka. Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah dari (sasaran) buruannya …”
[Muttafaqun ‘aIaihi, HR. AI-Bukhari no. 3344, 3610, 4351, 4667,5058, 6163, 6931, 6933, 7432, 7562; Muslim no. 1064, 1065.]
Dalam syarah Shahih Muslim, Jilid. 17, No.171 diriwayatkan Khalid bin Walīd radiyallahu anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang orang-orang seperti Dzul Khuwaisarah at tamim an najdi dengan pertanyaan,
“Wahai Rasulullah, orang ini memiliki semua bekas dari ibadah-ibadah sunnahnya: matanya merah karena banyak menangis, wajahnya memiliki dua garis di atas pipinya bekas airmata yang selalu mengalir, kakinya bengkak karena lama berdiri sepanjang malam (tahajjud) dan janggut mereka pun lebat”
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab : camkan makna ayat ini : qul in’kuntum tuhib’būnallāh fattabi’unī – Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
Khalid bin Walid bertanya, “Bagaimana caranya ya Rasulullah ? ”
Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Jadilah orang yang ramah seperti aku, bersikaplah penuh kasih, cintai orang-orang miskin dan papa, bersikaplah lemah-lembut, penuh perhatian dan cintai saudara-saudaramu dan jadilah pelindung bagi mereka.”
Indikator atau ciri-ciri atau tanda-tanda orang yang mencintai Allah dan dicintai oleh Allah sehingga menjadi wali Allah (kekasih Allah) adalah
1. Bersikap lemah lembut terhadap sesama muslim
2. Bersikap keras (tegas / berpendirian) terhadap orang-orang kafir
3. Berjihad di jalan Allah, bergembira dalam menjalankan kewajibanNya dan menjauhi laranganNya
4. Tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela
Firman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Ma’iadah [5]:54)
Hikmah pertama Kitab al-Hikam
Esensi dari hikmah ini adalah tauhid murni. Di mana segala sesuatu di dunia ini adalah milik-Nya, segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya, karenanya kita seharusnya hanya bergantung kepada Allah Swt semata dan tidak ada yg berhak di ibadahi selain Dia.
Bahkan dengan amal kita sendiri. Seorang mukmin sesungguhnya tidak akan bergantung kepada amal perbuatannya, amal salih sekalipun. Bagaimana bisa seorang hamba bergantung kepada amal (makhluq) daripada kepada Sang Pencipta (khaliq). Pun pada akhirnya, bukan amal yang akan memasukkan kita ke Surga, namun rahmat Allah Swt.
Salah satu tanda seseorang yang bergantung pada amal perbuatannya, ketika ia berbuat maksiat atau dosa, raja`nya kepada Allah akan berkurang (harapannya/ putus asa). Seakan-akan amal perbuatannya adalah segalanya, dan lupa bahwa ia juga punya banyak amal salih sebelumnya.
Jadi seorang mukmin yang sesungguhnya, kapanpun, saat ia dalam keadaan taat atau setelah berbuat dosa, hatinya tetap ia hadapkan dan gantungkan kepada Allah Swt semata.
Salah satu ciri khas orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah atau kaum khawarij , orang-orang yang membaca Al Qur’an tidak melampaui tenggorokannya (tidak mempegaruhi hatinya) karena salah paham sehingga berakhlak buruk adalah suka menggunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir untuk menyerang kaum muslim
Abdullah bin Umar ra dalam mensifati kelompok khawarij mengatakan: “Mereka menggunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir lantas mereka terapkan untuk menyerang orang-orang beriman”.[Lihat: kitab Sahih Bukhari jilid:4 halaman:197]
Padahal dengan memperhatikan asbabun nuzul (riwayat turunnya ayat) dari (QS Al Maidah [5]:44) maka kita akan mengetahui maksud atau tujuan dari ayat itu sebenarnya.
Oleh karenanya Sayyidina Ali ra berkata “kalimatu haqin urida bihil batil” (perkataan yang benar dengan tujuan yang salah) ketika menanggapi semboyan kaum khawarij pada waktu itu yakni “La hukma illah lillah”, tidak ada hukum melainkan hanya dari Allah.
Al-Imam Ahmad dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma dan beliau menyebutkan sebab turunnya ayat ini: “Allah Ta’ala menurunkan ayat ini berkenaan tentang dua kelompok di kalangan Yahudi di masa jahiliyyah, di mana salah satu kelompok telah menguasai yang lainnya sehingga mereka ridha…”
Imam Abu Abdillah Al-Qurthubi rahimahullah (wafat 671 H) berkata : “Adapun seorang muslim dia tidak dikafirkan walaupun melakukan dosa besar. Di sini ada yang tersembunyi, yaitu siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah subhanahu wata’ala turunkan yakni menolak Al-Quran dan menentang ucapan Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam maka dia kafir. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Abbas dan Mujahid. Maka ayat ini umum dalam hal ini.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda janganlah memvonis kafir atau mengeluarkan dari Islam akibat perbuatan dosa apalagi hanya karena perbedaan pemahaman atau pendapat
Dari Anas radhiyallahuanhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Tiga hal merupakan pokok iman ; menahan diri dari orang yang menyatakan Tiada Tuhan kecuali Allah. Tidak memvonis kafir akibat dosa dan tidak mengeluarkannya dari agama Islam akibat perbuatan dosa ; Jihad berlangsung terus semenjak Allah mengutusku sampai akhir ummatku memerangi Dajjal. Jihad tidak bisa dihapus oleh kelaliman orang yang lalim dan keadilan orang yang adil ; dan meyakini kebenaran takdir”.(HR. Dawud)
Jadi yang dimaksud tidak berhukum dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan adalah bagi orang yang menolak Al-Quran dan menentang ucapan Rasululullah shalallahu ‘alaihi wasallam yakni kaum non muslim.
Kaum muslim boleh berhukum dengan hukum buatan manusia selama isi perjanjian tidak menyalahi laranganNya atau selama tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.
Kalau kita hubungkan sikap dzulkhuwaisirah dengan sikap sebagian kaum zaman sekarang ternyata ada beberapa kesamaan.  Misalnya ada kelompok yang mengaku mujahidin dan membawa bendera tauhid tapi mengklaim bahwa langkah yang ditempuh kelompoknya adalah yang paling benar, bahwa kelompoknya cuman satu-satunya di dunia yang menegakkan syari’at Islam,  dan menganggap kelompok lain meskipun sama-sama mengangkat senjata tidak menegakkan syari’at. Mereka menyalahkan kelompok lain dengan mencela sambil mengkafirkan. Menyombongkan kemajuan yang mereka peroleh dan jauh dari kasih sayang kepada ummat Islam.
(AB)