Pesan Suara Amir Hai’ah Tahrir Syam (HTS), Syaikh al Fatih Abu Muhammad Al Jaulani Terbaru:

Duniaekspress, 18 Januari 2018. – Kami menghadapi fase kritis, akibat konferensi perdamaian yang melibatkan beberapa faksi oposisi dan kami sepanjang waktu berulang-ulang memperingatkan terhadap upaya pembajakan Revolusi Suriah sejak awal.

Bahaya besar yang disebut perjanjian “Astana” ini kami tolak dengan segala cara, sementara banyak orang menyalahkan sikap kami, tapi banyak yang mendukung apa yang kami katakan dan lakukan selama perundingan Astana berlangsung.

Perundingan Astana telah berhasil memberi legitimasi atas pendudukan Rusia dan dianggap sebagai bagian dari solusi politik. bahkan rusia dianggap sebagai “penjamin perdamaian” karena berhasil menghentikan kekejaman rezim Kriminal, dan bersamaan itu Rusia-Iran berhasil memaksa banyak faksi oposisi untuk tidak memerangi rezim Assad di front, bahkan membuat sejumlah teman di oposisi memulai kampanye media menyerang Tahrir Syam setiap Tahrir Syam memulai serangan (terhadap Assad). Kemudian serangan melawan rezim Assad “menjadi tindakan kriminal” bagi mereka.

Bahkan terjadi kasus, oposisi mengirim Intelnya, yang secara rinci menceritakan pertempuran kami kepada para musuh. Semua ini berlangsung, di saat Rezim Assad melanjutkan operasi militer tanpa henti.

Kemudian, zona de-eskalasi terbentuk melalui sebuah kesepakatan untuk membagi sisi Utara Suriah ke dalam pengaruh atmosfer Turki dan Rusia, termasuk penyerahan sepenuhnya wilayah-wilayah di jalur sisi timur, yang berada di luar zona de-eskalasi, itu yang kami lihat di dalam peta kesepakatan yang bocor.

Perjanjian Astana hanya memberi Rezim Assad dan Aliansinya kesempatan menyerang dan merebut kembali daerah tersebut. Kami menolak semuanya, kami menolak kesepakatan tersebut dan kami juga menyampaikan pendapat kami kepada Turki dan juga kepada kelompok oposisi, beberapa orang di pihak oposisi berusaha membuat Mujahidin menarik diri dari daerah-daerah tersebut tanpa perlawanan (dengan damai).

Kami menolak kesepakatan tersebut, Namun sayangnya kesepakatan itu disetujui sejumlah faksi bersenjata, semua ini merugikan Mujahidin kami, dan lebih dari 200.000 keluarga dipaksa mengungsi karena perjanjian Astana, mereka harus membayar harga atas kecerobohan orang-orang yang setuju dengan perundingan Astana.

Perundingan Astana juga memasukkan klausul pos pemeriksaan Turki untuk ditempatkan di seluruh wilayah (de eskalasi), kami menolak hal tersebut karena tidak ada yang menjamin di masa depan daerah-daerah tersebut tidak akan diberikan kepada rezim Assad dengan mudah melalui transaksi. Kami juga menolaknya karena akan membuat lemah jihad dan semangat juang, bahkan mungkin membuat lebih sulit untuk mempertahankan lini depan.

Kami berupaya untuk meminimalisir kerugian dan mencegah perang yang akan merusak kita semua, kami mencapai kompromi dengan Turki, yang membuat marah rezim Assad dan sekutunya, yang berharap kami berperang melawan Turki di Idlib, para musuh melihat rencana itu tidak berjalan baik setelahnya, mereka kemudian membuat rencana buruk yang baru, pada bulan Oktober mereka menggunakan anggota dan senjata Khawarij ISIS di pedesaan Hama Timur, perpindahan ISIS merugikan mujahidin dan menimbulkan kerugian material.

Itulah alasan utama mengapa Rezim Assad bisa maju dengan cepat di daerah-daerah tersebut, sementara beberapa faksi oposisi menutup mata terhadap situasi tersebut. Rezim Assad melanjutkan kampanye militer di sana, sekarang pertempuran berlangsung lebih dari 100 hari, kami menyampaikan rincian untuk mengklarifikasi situasi kepada rakyat kami di Suriah.

Hari-hari terakhir, faksi-faksi oposisi bergabung dalam ofensif melawan rezim Assad, yang kami sambut dan hargai, mempertimbangkan hal itu lebih baik daripada membebaskan wilayah baru, bahkan jika rezim Assad menguasai wilayah ini, kami yakin tekad Mujahidin untuk berperang akan hidup kembali. . ” (AB)

 

Baca juga, POLEMIK DI IDLIB, PERANG TERBUKA BERBAGAI KELOMPOK