MENUDUH SUAMI BERZINAH

Pertanyaan: As Salãmu ‘Alaikum. Wr.Wb. Ustadz, bolehkah kita menuduh suami berzina? Lalu apa yang dimaksud dengan li’ãn? Apakah sama dengan tuduhan berzina? Apakah setelah menuduh suami kita mesti dipisah? Lalu, apakah setelah dipisah, pernikahan kita masih bisa dirujuk?

 

Jawaban:

Wa ‘Alaikumus Salam Wr.Wb. Ibu yang dimuliakan Allah Ta‘ãlã, seseorang dilarang menuduh orang lain tanpa bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Apalagi menuduh orang lain tanpa bukti dan saksi. Dan jika tanpa saksi empat orang lalu kita menuduh orang lain, atau suami, berzina dengan wanita lain, maka tuduhan akan dapat berbalik menjadi tuduhan mencemarkan nama baik, dan si penuduh berhak dihukum dengan didera delapan puluh kali cambukan.

Dulu, di zaman Nabi Shalllahu ‘Alaihi wa Sallam ada seorang suami yang menuduh istrinya berzina sebagaimana yang diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Abbãs bahwa Hilãl bin Umayyah menuduh isterinya berzina di hadapan Nabi Shalllahu ‘Alaihi wa Sallam dengan Syarik bin Sahma’, lalu Nabi Shalllahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Engkau datangkan keterangan (saksi) atau hukum cambuk mengenai punggungmu.” Ia berkata, “Wahai Rasulullah, apabila seseorang di antara kita melihat seorang laki-laki berada di atas isteri kita, apakah kita harus pergi mencari saksi?” Nabi Shalllahu ‘Alaihi wa Sallam tetap bersabda: “Engkau datangkan keterangan (saksi) atau hukum cambuk mengenai punggungmu.”

Kemudian Hilãl berkata: “Demi Rabb yang mengutusmu dengan kebenaran, sesungguhnya aku jujur. Sungguh Allah akan menurunkan ayat yang membebaskan punggungku dari cambukan.” Setelah itu Jibril turun dengan Q.S. An Nûr[24] ayat 6 hingga 9 :

Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik[1029] (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.

kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar.

Dan (sumpah) yang kelima: bahwa la’nat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta[1030]. Istrinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta. dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar.

Dan andaikata tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya atas dirimu dan (andaikata) Allah bukan Penerima Taubat lagi Maha Bijaksana, (niscaya kamu akan mengalami kesulitan-kesulitan)

Kemudian Nabi Shalllahu ‘Alaihi wa Sallam berpaling dan memanggil isteri Hilãl. Hilãl datang dan bersaksi, lalu Nabi Shalllahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“اللهُ يعلمُ أنّ أحدَكُما كاذِبٌ، فهلْ منْكُما تائِبٌ”. ثلاثًا

“Sesungguhnya Allah mengetahui bahwa salah seorang dari kalian berdua telah berdusta, apakah di antara kalian berdua ada yang bertaubat?” hingga tiga kali.

Kemudian isteri Hilãl berdiri dan bersaksi, namun ketika sampai sumpah yang kelima, orang-orang menghentikannya dan berkata, “Sesungguhnya sumpah itu pasti terlaksana.”

Abdullah bin ‘Abbãs berkata: “Wanita itu terdiam dan menundukkan kepalanya, sehingga kami mengira ia akan mengaku. Kemudian wanita itu berkata, ‘Aku tidak akan membuka aib kaumku selamanya.’ Lalu wanita itu pergi. Nabi Shalllahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Nantikanlah kelahirannya, apabila ia melahirkan anak yang mempunyai kelopak mata yang hitam (seperti dicelak), pantat montok dan betis yang gemuk, maka anak itu milik Syarik bin Sahma’. Kemudian benar ia melahirkan bayi yang memiliki ciri tersebut. Lalu Nabi Shalllahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَوْلاَ مَا مَضَى مِنْ كِتَابِ اللهِ لَكَانَ لَنَا وَلَهَا شَأْنٌ.

‘Jika bukan karena apa yang telah lampau dari (keputusan) Kitabullah, sungguh akan ada urusan (hukum hadd) antara aku dan wanita itu.” (HR. Bukhãrî no. 4747).

Sedangkan li’ãn, secara bahasa adalah penolakan (Ath Thardu) dan menjauhkan (Al Ib‘ãd) dan secara istilah adalah kesaksian yang diperkuat dengan sumpah antara suami istri dibarengi dengan menyebut laknat dan kemurkaan Allah seperti yang disebutkan pada hadis di atas. Allah Ta‘ãlã berfirman:

((وَاَلَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ))

“Orang-orang yang menuduh istri-istri mereka melakukan perzinahan… ” (QS. An Nûr[24]: 6-9).

 

Jika suami istri melakukan li’ãn maka setelah itu mereka akan dipisah dan tidak ada rujuk pada keduanya. Wallahu A’lam.

(Sultan Serdang)

Baca juga KONSULTASI SYARI’AH LAINNYA