Duniaekspress, 20  Januari 2018. – Banyak orang menyangka pokok kesesatan atau biang kerok dari manhaj khawarij adalah mengkafirkan seseorang muslim pelaku dosa besar.

Anggapan ini tidak benar 100% meski juga tidak salah 100%. Mengkafirkan pelaku dosa besar hanya salah satu dari ciri khawarij.

Biang kerok (Pokok kesesatan) khawarij adalah ghuluw dan al-jahlu. Yaitu sikap berlebihan dan bodoh dalam ilmu Din. Kedua faktor tersebut menjadi ciri utamanya.

Karena ghuluw, kelompok khawarij memahami dalil Alquran dan sunnah nabi terlalu kaku dan linier. Hal itu diperparah dengan Al-Jahlu yang membuatnya serampangan menerapkan dalil dalam dunia nyata. Tidak mampu membedakan antara apa yang harus disepakati dan mana saja yang boleh berbeda pendapat. Tak mampu memilah antara tsawabit dan dengan mutsaghayyirat.

Ketidakpahaman terhadap pokok kesesatan khawarij membuat sebagian orang ragu mengikuti sikap ulama yang tegas kepada kelompok khawarij ini. Mereka beralasan, “Bagaimana kita mengatakan mereka khawarij. Padahal di tengah-tengah mereka ada orang-orang ikhlas ahli ibadah zuhud dan tidak mengkafirkan pelaku dosa besar.”

Padahal sifat-sifat seperti itulah yang menjadi ciri khas khawarij;

“Akan muncul di akhir zaman nanti suatu kaum yang bernalar dangkal dan mereka masih muda. mereka berbicara seperti perkataan manusia yang paling baik, mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah melesat menembus sasarannya. Barangsiapa yang berjumpa dengan mereka, hendaklah memerangi mereka. Karena orang yang berpartisipasi memerangi mereka mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah.” (HR. Ahmad)

Tentang ghuluw mereka, Rasulullah SAW menjelaskan;
“Akan muncul suatu kaum dari umatku yang pandai membaca al-quran. Di mana, bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka. Demikian pula shalat kalian dibandingkan dengan salat mereka. Juga puasa kalian dibandingkan dengan puasa mereka, mereka membaca al-quran dan mereka menyangka bahwa Alquran itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata al-quran yang dibaca mereka itu adalah (bencana) bagi mereka. Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya.” (HR. Muslim)

Ibnu Abbas berkata, “Aku benar-benar berada di tengah suatu kaum yang belum pernah kujumpai orang yang sangat bersemangat beribadah seperti mereka. Dahi-dahi mereka penuh luka bekas sujud, tangan tangan menebal bak lutut lutut onta, (kapalan). Wajah-wajah mereka pucat pasi karena tidak tidur, menghabiskan malam untuk beribadah.”

Demikian Ibnu Abbas menggambarkan sikap hulu khawarij dalam beragama. Di antara mereka ada sampai menganggap dosa kecil sebagai kekafiran. Inilah Kenapa rasulullah melarang sikap berlebih-lebihan beliau bersabda :

“Celakalah orang-orang yang berlebihan. Celakalah orang-orang yang berlebihan. Celakalah orang-orang yang berlebihan (dalam beragama).” (HR. Muslim)

Dialog dengan Khawarij

Pada tahun 38 H, jumlah pengikut Khawarij yang menyimpang dari pemerintahan Ali bin Abi Tholib mencapai 12.000. Karena itulah Ibnu Abbas tidak mau tinggal diam. Ulama, sahabat yang sangat ahli di bidang tafsir itu meminta izin Ali Bin Abi Thalib untuk berdialog dengan mereka.

Pada awalnya, orang-orang khawarij enggan melayani Ibnu Abbas. Mereka berdalil; “Jangan kalian berdebat dengan orang Quraisy, karena Allah Ta’ala telah berfirman; “sebenarnya mereka adalah kaum yang ahli dalam berdebat.” (QS. zukhruf 58)

Namun ada beberapa orang yang mau berdialog dengan Ibnu Abbas. Ibnu Abbas menanyakan alasan yang membuat mereka membenci Ali radhiallahu Anhu, Muhajirin dan Anshar. Mereka memberikan tiga alasan;

Pertama, Ali Bin Abi Thalib menjadikan manusia sebagai Hakim memutus perkara dalam urusan Allah ta’ala padahal Allah ta’ala, berfirman keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah (QS. Yusuf ; 40).

Kedua, Ali Bin Abi Thalib tidak mau menawan dan tidak mengambil rampasan perang. Yang mereka maksud adalah saat perang Jamal, 36 H.

Ketiga, Ali Bin Abi Thalib menghapus sebutan Amirul Mukminin Dari Dirinya. Kalau dia bukan Amirul Mukminin berarti dia adalah Amirul kafirin (pimpinan orang-orang kafir).

Ibnu Abbas mematahkan Logika dan argumentasi mereka satu persatu. Alasan pertama di bantah dengan firman Allah dalam surat (Al-Maidah : 95) dan (An-Nisa’ ; 35) kemudian ia menyodorkan pertanyaan retoris,

“Menurut kalian mana yang lebih penting : mengirim seorang Wakil untuk mendamaikan konflik dan mencegah pertumpahan darah antar kaum muslimin atau mengirim perwakilan untuk menyelesaikan sengketa akibat darah seekor kelinci dan perselisihan dalam rumah tangga? manakah Menurut kalian yang lebih urgen?”

Adapun argumentasi mereka yang kedua Ibnu Abbas, mengingatkan bahwa dalam perang Jamal pasukan Ali Bin Abi Thalib menghadapi kubu Aisyah ibunda kaum muslimin. Jika Ali membolehkan pasukannya menawan musuh, secara otomatis ibunda Aisyah akan menjadi tawanan, kemudian diperlakukan sebagai budak. Dan telah menjadi takdir Allah, kubu Ali menjadi pemenang.

Sementara untuk mematahkan alasan ketika Ibnu Abbas mengingatkan kembali dengan peristiwa yang terjadi dalam perjanjian hudaybiyah tahun 6 H. Yaitu perjanjian damai antara Rasulullah dengan musyrikin Mekah.

Kala itu, Rasulullah memerintahkan Ali Bin Abi Thalib menulis surat perjanjian ketika Ali menulis: “inilah perjanjian antara Muhammad Rasulullah” pihak kaum musyrikin memprotes keras. “Kami tidak pernah percaya Engkau adalah Rasul utusan Allah. Andai kami mengakui Engkau sebagai Rasul Allah, kami perlu memerangimu.”

Rasulullah kemudian menyuruh Ali mengganti kata “Muhammad Rasulullah” dengan kata “Muhammad bin Abdillah” meskipun semula Ali menolak akhirnya, ia mematuhi intruksi Rasulullah tersebut.

Ibnu Abbas berkata : “Demi Allah, sungguh Rasulullah lebih mulia dari Ali Bin Abi Thalib. Walaupun begitu, beliau rela menghapuskan kata Rasulullah dalam perjanjian hudaybiah. Apakah ketika beliau menghapuskan kata “Rasulullah” dalam perjanjian itu membuat kalian mengingkari kerasulannya? Sebagaimana kalian meragukan keislaman Ali karena ia menghapus sebutan Amirul Mukminin?.”

Setelah diskusi tersebut, dengan izin Allah 2000 orang bertobat dan menyadari kekeliruannya. sementara yang lain kekeuh dalam pendirian yang melawan Ali bin Abi Tholib.

Dari dialog di atas, terlihat jelas kelemahan orang khawarij dalam memahami Nash Nash syar’i. Mereka menafsirkan ayat-ayat Alquran dengan Nalar nya sendiri, bukan dengan kaidah ilmu syar’i. Sehingga Alquran dijadikan sebagai pembenaran atas tindakan mereka yang berlebih-lebihan.

Benarlah Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam yang menyebut mereka sebagai orang-orang yang membaca al-qur’an, namun bacaannya hanya sampai ke kerongkongan dan belum bisa menembus ke relung hati. Akibatnya tidak memiliki Furqan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Sikap ghuluw ini merupakan Eksis dari minimnya ilmu syar’i. Demikianlah, ketika ilmu tidak ada dan semangat yang menggelora menjadi pemandu, sifat ghuluw pun menjadi-jadi.

 

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 118 Rubrik Dirosatul Firaq

 

Baca juga, DZUL KHUWAISIRAH BIANG KHAWARIJ