3 TAHAP METAMORFOSIS AL-QAIDAH

Duniaekspress, 21 Januari 2018. – Al-Qaidah adalah musuh nomer satu Amerika Serikat ketika pertama kali genderang Perang Melawan Terorisme ditabuh, tahun 2001. Paska tragedi 9/11, petinggi Al Qaidah berlindung di Afghanistan, dan kawasan kesukuan di perbatasan Afghanistan-Pakistan. Setelah 16 tahun paska tragedi 9/11, bukannya melemah, Al Qaidah masih bertahan hidup dan justru berhasil memperluas wilayahnya. Sebagai sebuah organisasi, Al Qaidah berhasil melakukan adaptasi dan evolusi terhadap struktur organisasi, dan strategi yang mereka gunakan.

Evolusi Al-Qaidah, secara signifikan, dibentuk oleh upaya AS dan negara-negara lain untuk mengalahkan kelompok tersebut. Namun, kondisi politik, ekonomi, dan keamanan yang memburuk di sebagian besar Timur Tengah, Afrika, dan Asia Barat Daya telah memberi celah yang dimanfaatkan oleh Al-Qaidah dengan terampil untuk tumbuh ke daerah baru, menyebarkan pengaruh, dan mendapat pengikut baru.

Dalam upaya kontraterorisme internasional yang terus berlanjut, dan dunia yang terus berubah, Al-Qaidah telah melalui tiga fase perkembangan yang berbeda sejak tahun 2001. Perkembangan Al Qaidah ini menunjukkan kemampuan organisasi ini untuk beradaptasi, menyebar, dan tetap bertahan. Masing-masing dari tiga fase tersebut berbeda dalam hubungan, struktur, sasaran, kemampuan, dan strategi.

Gambar Struktur Operasional Al Qaidah pada tiap fase

Fase 1: Struktur perintis: Hierarki (1998 – 2004)

Fase 2: Struktur Franchise yang Fleksibel; Hub and Spoke (2004 – 2010)

Fase 3: Struktur Lokalisme; Flat Distributed Network (2011-sekarang)

Fase Pertama : Perintis (1998-2004)

Fase pertama Al Qaidah, berpusat pada Osama Bin Laden, putra seorang pengusaha sukses Arab Saudi. Bin Laden menggunakan kekayaan keluarganya yang cukup besar untuk membangun Al-Qaidah dengan mendapat bimbingan ideologis dari Abdullah Azzam, yang biasa disebut sebagai arsitek jihad internasional.

Pada tahun 1998, Bin Laden menggabungkan kelompoknya dengan kelompok Jihad Islam Mesir (Egyptian Islamic Jihad), yang berperan penting dalam memberi pasokan beberapa militan paling disiplin dan cerdas kepada Al Qaidah. Ayman al-Zawahiri, pemimpin EIJ, menjadi wakil pemimpin Al Qaidah, Osama Bin Laden.

Selama fase perintis ini, Bin Laden berada di puncak kepemimpinan veteran jihadi. Kelompok ini mencari simpati lokal untuk mendapatkan dukungan dalam bentuk pembiayaan, pelatihan, dan kader pejuang. Komisi penyelidik 9/11 menyebut kelompok ini sebagai “markas besar untuk terorisme internasional.” Meskipun Bin Laden, Zawahiri, dan kader intinya berbasis di Afghanistan, kelompok tersebut mengklaim memiliki anggota yang relatif kecil (ratusan orang), beberapa di antaranya menyebar sebagai utusan resmi Al Qaidah, dari Afrika Timur hingga Indonesia untuk mencari kesempatan.

Dalam fase ini, bagi Al Qaidah, “kemenangan” didefinisikan sebagai pembentukan kekhalifahan Muslim yang akan memimpin konflik global melawan Barat. Untuk mencapai hal ini, Al-Qaidah percaya bahwa perlu meruntuhkan sistem internasional yang dianut oleh negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim dan meyakinkan populasi Muslim untuk menggantikan struktur pemerintahan mereka saat ini dengan hukum Islam yang kafah (Syariah). Dalam fase ini, untuk mencapai hasil tersebut, Al-Qaidah berusaha untuk:

  • Menggulingkan dan mengganti struktur pemerintahan lokal dan nasional di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim (yang disebut “musuh dekat”) dan menggantinya dengan pemerintahan berdasarkan interpretasinya terhadap Syariah.
  • Mengusir pasukan AS dan kepentingannya dari tanah Muslim dengan menyerang tanah air AS, dan kepentingan Amerika dan Amerika di luar negeri (yang disebut “musuh jauh”)
  • Mengabaikan, melemahkan, dan akhirnya menggantikan tatanan internasional yang didominasi Barat dengan kekhalifahan Islam berdasarkan interpretasinya terhadap Syariah.

Pada fase ini, Al-Qaidah adalah organisasi hirarkis, dengan kepemimpinan yang kuat yang memberikan panduan terperinci untuk para anggotanya. Dalam hal kemampuan, Al-Qaidah berfokus pada serangan “spektakuler” di Barat, terutama Amerika Serikat dan Eropa, dan perekrutan dan pelatihan di Afghanistan.

Sebelum invasi AS ke Afghanistan, mereka memiliki kebebasan bergerak di Afghanistan, sehingga memungkinkan Al-Qaidah merencanakan, melatih, dan melakukan operasi yang kompleks seperti pada 11 September 2001, tanpa tekanan eksternal.

Selama fase ini, Al-Qaidah juga berfokus pada pesan-pesannya dan menyebarkan ideologinya ke seluruh negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim untuk membenarkan tindakannya dan mendapatkan pengikut. Bagian penting dari pesannya juga ditujukan untuk masyarakat AS dan Barat dalam upaya untuk memaksa Barat keluar dari negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim.

Fase Kedua: Franchise Cabang yang Fleksibel (2004-2010)

Selama fase ini, Al-Qaidah mulai meminjamkan namanya ke afiliasi regional untuk bertahan hidup dan, dalam beberapa kasus, justru mampu berkembang, dalam menghadapi Perang Global Melawan Terorisme, yang dipimpin AS. Namun, tidak semua franchise diciptakan sama, dan “mekanisme” untuk membentuk franchise berbeda dari satu afiliasi ke afiliasi lainnya. Kedua afiliasi di Afrika, AQIM dan al-Shabab, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membuktikan totalitas mereka. Bahkan setelah mereka berjanji setia kepada Al-Qaidah, ada celah waktu sebelum mereka digabungkan secara formal ke dalam organisasi tersebut.

Di sisi lain, Al-Qaidah mungkin bisa dengan cepat mengambil keputusan untuk menciptakan cabangnya di Irak (Al Qaidah Irak). Hal ini dilakukan untuk memanfaatkan kesempatan yang ada, saat AS menyerang dan menduduki Irak. Penciptaan AQI juga membuat Al-Qaidah menjadikan kehadiran sejumlah besar pasukan AS untuk ditargetkan dan diserang.

Kurangnya rencana stabilisasi AS yang efektif di Irak setelah invasi ke negara tersebut pada tahun 2003, menciptakan situasi yang kondusif bagi AQI untuk membangun landasan dan menarik jihadis dari wilayah Timur Tengah dan sekitarnya untuk melawan Amerika Serikat di jantung Timur Tengah.

Penumbangan rezim sekuler Irak oleh AS juga menyebabkan AS berperang di dua negara Muslim, yang merupakan anugerah bagi narasi sebuah “benturan peradaban” yang menjadi dasar Al-Qaidah. Jika invasi ke Afghanistan dipandang diterima sebagai sebuah pembenaran, lain halnya opini internasional yang sangat menentang perang Irak. Hal ini mengisolasi Washington dan mengurangi citra baik operasi militer pasca-9/11 di seluruh dunia.

Strategi dan tujuan organisasi Al Qaidah tetap sama pada fase ini seperti pada tahap pertama, kecuali bahwa organisasi tersebut juga mulai memperluas brand dan kehadirannya dengan mendirikan afiliasi cabang. Dengan berdirinya afiliasi cabang, Al-Qaidah tetap cukup hierarkis dengan anggota intinya di pusat. Namun terjadi revolusi struktur dalam fase ini menjadi struktur “hub-and-spoke” di mana cabang afiliasi mengambil panduan dari intinya.

Dari segi kemampuan, selama fase ini afiliasi cabang, khususnya AQAP, mulai mencoba melakukan serangan di Barat. Pada fase inilah AQI mulai memanfaatkan secara masif alat peledak improvisasi (Improvised Explosive Device/EID) melawan pasukan Irak, pasukan AS, dan pasukan koalisi di Irak. Seiring waktu, IED telah menjadi senjata standar Al-Qaidah dan organisasi perlawanan lainnya, termasuk ISIS.

Selama fase ini, Al-Qaidah juga melakukan serangan berskala besar yang bertujuan melemahkan koalisi internasional yang telah melawannya. Misalnya, di Madrid, Al-Qaidah melakukan serangan berskala besar dengan menggunakan alat peledak yang diledakkan oleh ponsel. Dipercaya secara luas bahwa serangan tersebut dimaksudkan untuk mengintimidasi pemerintah Spanyol akibat bergabung dengan koalisi pimpinan AS di Irak.

Tak lama setelah pemboman tersebut, Spanyol mengadakan pemilihan umum, dengan terpilihnya sebuah pemerintahan baru di bawah Partai Sosialis. Beberapa bulan setelah pemilihan umum, Perdana Menteri Zapatero menyatakan janjinya dan menarik 1.300 tentara Spanyol dari Irak.

Fase Ketiga: Lokalisme (2011-sekarang)

Hari ini, Al-Qaidah terus menyesuaikan diri dengan peristiwa Musim Semi Arab (Arab Spring) yang bermula pada tahun 2011. Arab Spring dimulai dengan penggulingan orang kuat di Tunisia, Zine El Abidine Ben Ali, yang mendorong demonstrasi, pemberontakan, revolusi, dan perang saudara di banyak negara Arab. Kemerosotan kondisi keamanan di Mesir, Libya, Suriah, Tunisia, dan Yaman memberi nafas kepada afiliasi Al-Qaidah dan kelompok yang berpikiran serupa, yang memungkinkan mereka untuk mengambil keuntungan dari ketidakstabilan. Di mana ada konflik yang sedang berlangsung, mereka mencoba terlibat lebih dalam.

Mungkin tidak ada keberuntungan afiliasi cabang yang berbalik secara drastis dalam fase ini seperti kasus AQI, yang menggunakan penarikan pasukan AS dari Irak, marginalisasi Sunni Irak oleh pemerintahan Syiah Irak, dan perang saudara yang tiba-tiba muncul di Suriah, dan masuk ke Suriah. Dari sebuah tempat persembunyian di Irak, AQI meluncurkan serangan berturut-turut terhadap pemerintah di Baghdad, merebut wilayah-wilayah utama di Irak dan Suriah, dan menyatakan dirinya sebagai khilafah baru.

Kemunculan kembali afiliasi cabang di Irak bukanlah anugrah bagi Al-Qaidah. Namun sebaliknya, deklarasi Khalifah ISIS, pada tahun 2014, memberi tantangan strategi baru kepada Al-Qaidah: sebuah kelompok saingan, yang mengklaim dominasi dalam jihad global.

Seiring fase ini berjalan, Al-Qaidah telah menjadi organisasi yang lebih lentur dan berjejaring. Inti “hub” pada struktur fase sebelumnya telah berkurang seiring berjalannya waktu, dengan afiliasi yang bertindak semakin independen. Saat ini, masing-masing franchise cabang Al-Qaidaj berfokus pada mengeksploitasi konflik lokal, terutama di Suriah dan Yaman.

Afiliasi cabang Al-Qaidah juga mencari kesempatan untuk pindah ke daerah baru (dan seringkali berdekatan) di mana ada konflik dan ketidakstabilan yang sedang berlangsung. Mereka mampu melakukan ini karena mereka kurang mendapat tekanan saat ini, daripada sebelumnya, dan karenanya dapat beroperasi lebih leluasa di lingkungan ini. Selama fase ini, afiliasi cabang telah menjadi semakin responsif terhadap konteks lokal, dan sepadan dengan ukuran mereka, telah mengurangi fokus mereka untuk menyerang tanah air AS dan Barat, relatif dibandingkan fase sebelumnya.

Secara keseluruhan, Al-Qaidah mempertahankan strategi dan tujuan yang diuraikan di atas dalam fase sebelumnya, namun juga telah memperluas modus operandi untuk operasinya. Mereka telah masuk dalam konflik lokal; meningkatkan fokus dan perannya dalam, kelengkapan pemerintahan daerah; dan memperluas kontrol wilayahnya.

Khususnya, pada fase ini, Al-Qaidah juga telah berusaha untuk memposisikan dirinya sebagai “kurang ekstrem” jika dibandingkan dengan ISIS dan mampu bertahan lebih lama dari kelompok pesaingnya itu. Ada kemungkinan Al-Qaidah membiarkan pintu terbuka untuk pendekatan kembali dengan ISIS, atau dengan sisa ISIS, dalam beberapa bulan dan tahun mendatang.

Dalam hal kemampuan, Al-Qaidah telah memanfaatkan kerusuhan sipil di Timur Tengah dan Afrika yang lebih luas untuk semakin terlibat dalam konflik lokal. Di Suriah dan Yaman, cabang Al-Qaidah menggunakan kekuatan penuh kemampuan militer melawan musuh mereka dalam upaya mengalahkan mereka secara militer.

Di wilayah Sahel di Afrika, AQIM terus merencanakan dan melaksanakan serangan berskala besar yang cukup sering terhadap target lunak, seperti hotel, selain menargetkan pasukan Prancis dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di wilayah tersebut. Di Somalia, al-Shabab terus merencanakan dan melaksanakan serangan yang cukup teratur terhadap target pemerintah dan dan target lain di negara tersebut dan di negara-negara tetangga.

Selama fase ini, afiliasi Al-Qaidah telah meningkatkan penargetan mereka terhadap sektor penerbangan. Pada fase sebelumnya, hanya AQAP yang secara aktif merencanakan serangan terhadap pesawat terbang. Pada fase ini, AQAP, AQS, dan al-Shabab masing-masing memiliki rencana serangan menggunakan bahan peledak tersembunyi di atas pesawat terbang.

Satu-satunya serangan yang diklaim oleh Al-Qaidah di Barat selama fase ini adalah serangan Januari 2015 di kantor Charlie Hebdo di Paris. Penyerang adalah dua bersaudara, yang telah menerima pelatihan senjata di Yaman pada musim panas tahun 2011. Namun, tidak jelas berapa banyak, jika ada, perencanaan, pendanaan, atau arahan yang diberikan AQAP untuk serangan ini.

Tidak ada keseragaman pandangan tentang prediksi masa depan Al Qaidah. Beberapa pengamat berspekulasi bahwa Al-Qaidah saat ini mengambil “jeda strategis” dari rencana serangan ke Barat dan “berjalan lambat” di saat fokus upaya internasional adalah menghancurkan ISIS. Al Qaidah mungkin berusaha untuk mengeksploitasi kehancuran ISIS untuk sejumlah tujuan, termasuk mengklaim kembali peran sebaga pelopor dan jalur jihadisme “sejati”.

Selain itu, ada alasan yang lebih praktis seperti berusaha merekrut kembali para pengikut ISIS ke dalam kelompoknya. Kemungkinan juga Al Qaidah dan afiliasinya mengarahkan sebagian besar kemampuan operasional mereka dalam memerangi pemerintah lokal dan nasional di negara-negara Muslim (yang disebut “musuh dekat”) untuk menggulingkan dan menggantinya. Tujuannya untuk memukul “musuh jauh” tentu saja tidak hilang, namun bagian strategi Al-Qaidah tersebut tampaknya mendapat penekanan yang relatif kurang, setidaknya untuk saat ini.

 

Sumber: www.cna.org

 

Baca juga, MASTERPLAN AL-QAIDAH 2020