KHILAFAH DALAM PERSPEKTIF MANHAJ KHAWARIJ & AHLU SUNNAH
Duniaekspress, 22 Januari 2018. – Dengan menelusuri sejarah Islam, akan tampak dengan jelas bahwa banyak khilafah khayalan yang dideklarasikan dalam sepanjang sejarahnya, baik melalui klaim kedatangan Al Mahdi atau melalui jalur sekte-sekte khawarij yang sesat dan mereka adalah orang-orang yang sangat terobsesi dengan khilafah, akan tetapi tanpa petunjuk dan al Qur`an. Nampaknya –wallahu a’lam–
ini telah menjadi karakter mereka. Adapun ahli sunnah wal jamaah, mereka tidak menetapkan nama khilafah atau imamah ‘udzma melainkan bagi orang yang benar-benar memiliki kekuasaan atas mayoritas mereka (kaum muslimin –pent) baik dengan kerelaan atau dengan penaklukan di berbagai daerah kaum muslimin. Adapun seorang yang dibaiat oleh suatu penduduk daerah tertentu saja, atau berhasil menaklukan daerah itu saja, maka kekuasaannya hanya bersifat lokal atas mereka, tidak mencakup orang-orang yang tidak berbaiat kepadanya atau ditaklukkan olehnya.
Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata, “Tidak pernah sama sekali umat ini bersepakat untuk mengangkat seorang khawarij menjadi pemimpin. Andai Allah memberi kekuasaan kepada mereka, maka akan rusaklah bumi ini… dan dengan demikian, ada belasan atau dua puluh orang dari mereka yang masing-masing pernah menyatakan bahwa dirinya adalah khalifah.” (Mukhatashar Ta`rikh Dimasyq: 26/390)
Diantara sepak terjang Khawarij: Seorang pemuda khawarij mengklaim tegaknya khilafah di masa Abdul malik, namun ia tidak berhasil meraihnya (Wafayatu al A’yaan: 2/455). Pada tahun 140 H, khilafah diklaim untuk pemimpin Ibadhiyyah (salah satu sekte khawarij –pent) bernama Abdul A’la bin Samah al Ma’aafiry. Berjalan selama empat tahun, hingga akhirnya ia dibunuh oleh al Manshur pada tahun 144 H (Tarikh Ibnu Khaldun: 4/241). Di Thanja, khilafah diklaim untuk seorang amir khawarij, orang-orang menyebutnya dengan gelar amirul mukminin, kemudian ia dibunuh oleh Khalid bin Habib al Fihry (Tarikh Ibnu Khaldun: 6/145) Diantara mereka juga adalah raja al Mu’iz Ismail asal Kurdi, ia mengaku dirinya berasal dari Quraisy dari Bani Umayyah, ia pun menyatakan dirinya sebagai khalifah dan diberi gelar al Haady. Ia pun akhirnya mati pada tahun 598 H (Mukhtashar Tarikh Dimasyq: 26/390) Bahkan terkadang lebih dari satu orang mengumumkan khilafah dalam satu waktu. Ini yang terjadi di Andalusia. Sehingga pada abad kelima, di Andalusia saja, ada lima orang mendeklarasikan khilafah. (Al Waafi bil Wafayaat: 18/5).
Imam Abu Ya’la dalam ‘al Ahkam al Sulthaniyyah’, 1/23 berkata, “(Khilafah) tidak sah tanpa mayoritas ahlul halli wal ‘aqdi.” Syakhul Islam Ibnu Taimiah menyatakan dalam ‘Minhaj As Sunnah’, 1/526, tatkala beliau membantah sebagian ahli kalam yang berpendapat keabsahan imamah hanya dengan empat atau tiga atau kurang dari itu, beliau berkata, “Ini bukan pendapat para ulama ahli sunnah, walaupun sebagian ahli kalam berkata, “Imamah absah dengan baiat empat orang, sebagaimana sebagian mereka berkata, sah dengan baiat dua orang, sebagian lagi mengatakan sah hanya dengan baiat satu orang. Ini bukanlah perkataan para ulama sunnah. Imamah menurut mereka hanya dinyatakan sah dengan persetujuan para tokoh. Dan seseorang tidak menjadi seorang imam (pemimpin) yang sah, sampai ia disetujui oleh para tokoh yang dengan mengikuti mereka dalam memilihnya tercapai tujuan dari imamah itu sendiri. Sesungguhnya tujuan dari imamah adalah tercapainya kekuatan dan kekuasaan. Jika ia dibaiat dan dengan baiat tersebut tercapai kemampuan dan kekuasaan, maka ia berhak menjadi pemimpin.” Bahkan Imam Ahmad rahimahullah, dinukil dari beliau dalam salah satu riwayat, bahwa imamah hanya sah dengan ijmak (kesepakatan). Beliau berkata, “Barangsiapa yang menjadi pemimpin khilafah, orang-orang sepakat dan ridha kepadanya, begitu pun dengan orang-orang yang ditaklukkannya dengan pedang, sehingga ia menjadi seorang khalifah dan disebut dengan amirul mukminin, maka membayarkan sedekah kepadanya boleh, baik ia orang yang baik atau orang yang jahat.”
Beliau juga berkata dalam riwayat Ishaq bin Manshur saat ditanya tentang hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang mati dan tidak memiliki imam, maka ia mati dengan cara jahiliyyah.” Apakah makna hadis ini? Beliau berkata, “Apakah engkau tahu siapa itu imam? Imam adalah orang yang disepakati oleh kaum muslimin. Seluruhnya mengatakan, “Ini adalah imam.” Ini lah makna hadis tersebut.” (Lihat Minaaj as Sunnah: 1/530)
Disini terdapat hal yang perlu digarisbawahi, yaitu perbedaan antara baiat sekelompok orang untuk seorang laki-laki di kalangan mereka dengan keabsahan imamah untuknya serta terangkatnya ia menjadi khalifah untuk seluruh kaum muslimin dan keberhakannya memegang imamah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam ‘Minhaj As Sunnah’: 1/531, “Andai Umar dan sekelompok orang yang bersamanya membaiatnya (yaitu Abu Bakar) dan para sahabat yang lain menolak baiat tersebut, maka Abu Bakar tidak akan menjadi pemimpin dengan hal itu. Ia hanya akan menjadi seorang pemimpin dengan pembaiatan mayoritas para sahabat, orang-orang pemilik kemampuan dan kekuatan. Oleh karena itu penolakan Sa’ad bin Ubadah tidak teranggap, karena hal itu tidak mencacati tujuan dari kepemimpinan, yaitu tercapainya kekuatan dan kekuasaan yang dengan keduanya terwujud kemaslahatan-kemaslahatan imamah. Dan hal itu, telah tercapai dengan persetujuan mayoritas. Barangsiapa yang mengatakan bahwa seseorang dapat menjadi seorang pemimpin hanya dengan persetujuan satu, dua atau empat orang, dan mereka bukanlah pemilik kemampuan dan kekuatan, maka ia telah salah, sebagaimana orang yang menganggap penolakan satu atau dua orang atau sepuluh mempengaruhi keabsahannya pun telah salah.
Tidak sah bagi pihak manapun untuk mendeklarasikan khilafah atas seluruh kaum muslimin dan mengangkat seorang pemimpin untuknya, lalu meminta seluruh kaum muslimin di seluruh dunia untuk berbaiat kepadanya sebagai khalifah kaum muslimin, padalah ia tidak memiliki kekuasaan, tidak dapat melindungi orang-orang yang dekat dengan mereka, apalagi orang yang jauh dari mereka. Ini adalah omong kosong dan kedunguan. Mendirikan khilafah bukan dengan sekedar klaim dan deklarasi. Apa nilainya sebuah deklarasi yang tidak memiliki hakikat dalam wujudnya?
Barangsiapa yang menaklukkan salah satu wilayah kaum muslimin, kemudian ia mengangkat dirinya menjadi khalifah untuk seluruh kaum muslimin, maka seakan-akan ia menganggap dirinya telah menaklukkan seluruh negeri-negeri kaum muslimin, ini adalah perkara yang tidak sesuai dengan nalar dan realitas, maka dari itu ia pun tidak sesuai dengan syariat. Bahkan, ia menunjukkan reduksi yang besar dalam memahami hukum-hukum imamah dan yang terkait dengannya.
Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kedua shahihnya dari hadis Abu Zinad, dari al A’raj dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya pemimpin itu adalah perisai, diperangi dibelakangnya dan dijadikan pelindung.”
Al Hafidz An Nawawi rahimahullah berkata, “Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Pemimpin itu adalah perisai” maksudnya seperti pelindung, karena ia mampu mencegah musuh agar tidak mengganggu kaum muslimin, menghalangi sebagian manusia dari sebagian, membela Islam, disegani manusia dan mereka menakuti kekuatannya. Makna “Diperangi di belakangnya” maksudnya diperangi bersamanya orang-orang kafir, para pemberontak, orang khawarij dan seluruh pelaku kerusakan dan kezaliman.” Ibnu Hajar dalam ‘al Fath’ dan para pensyarah hadis ini juga menjelaskan yang sepertinya.
Maka, bagaimana mungkin seorang dari kaum muslimin dibaiat sebagai pemimpin atas mereka padahal ia tidak dapat melindungi mereka?! Imamah juga memiliki hak dan kewajiban. Orang yang tidak mampu menunaikan hal yang Allah wajibkan atasnya terkait dengan hak rakyatnya, maka hendaknya ia tidak meminta mereka untuk menunaikan haknya atas mereka.
Maka, seseorang tidak dianggap sebagai khalifah atas kaum muslimin, melainkan jika pada dirinya benar-benar terdapat syarat-syarat khilafah ini, dari sisi kekuatan dan kekuasaan atas mayoritas kaum muslimin. Jika tidak demikian, Imamahnya bukanlah Imamah yang besar, paling tidak hanya pemimpin atas suatu daerah yang telah dikuasainya saja. Yang menjadi standar adalah hakikat dan makna, bukan sekedar makna dan tampilan. (AB)
Barokallohu fikum