Duniaekspress, 23 Januari 2018. – Hamzah bin Usamah bin Laden, melalui channel media Ash-Shahaab, melontarkan sorotan tajam terhadap sejarah kemunculan negara Saudi. Melalui Ash-Shahaab, media resmi Al-Qaidah Pusat, anak dari Usamah bin Laden tersebut menceritakan detail keberpihakan Saudi kepada Inggris dan kerjasama yang terjadi di antara keduanya. Hamzah memberikan garis besar bahwa kedaulatan umat merupakan solusi bagi kebangkitan penduduk di Kota Suci.

Berikut ini terjemahan lengkap pernyataan Hamzh bin Usamah bin Laden:

Segala puji hanyalah milik Allah Yang Mahamulia yang telah melimpahkan berbagai karunia-Nya kepada kita; baik karunia yang bersifat lahir maupun batin,  juga Mahaperkasa yang karena keagungan-Nya membuat para penguasa tunduk.

Saya bersaksi bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah Yang Mahaesa. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Persaksian yang dengannya kita berharap bisa mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada beliau, ahli keluarga beliau, dan para sahabat beliau, serta mencurahkan salam yang tak terhingga kepada mereka.

Amma ba’du:

Kepada saudara-saudara kami di negeri Haramain (Dua Kota Suci, Mekah dan Madinah), dan kepada seluruh saudara-saudara Kami se-Islam …

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Pada serial sebelumnya, kami telah menyebut tentang loyalitas Ibnu Sa’ud kepada Salibis, permintaan bantuannya kepada mereka dalam memerangi umat Islam, pembangkangan-pembangakangannya kepada (Daulah) Utsmani, permusuhan-permusuhannya kepada mereka, serta pembatalan sepihak atas baiat (kesetiaan) dan kesepakatan-kesepakatan yang telah dilakukan olehnya dengan (Daulah) Utsmani, agar ia bisa menjalin dan bekerja sama dengan Inggris.

Kami juga telah menjelaskan bahwa Ibnu Sa’ud tidak hanya melakukan pengkhianatan-pengkhianatan yang disebutkan sebelumnya, bahkan ia bertekad untuk merekam hal itu dalam lembaran-lembaran sejarah yang pada hakikatnya tidak memihak kepada seorang pun. Oleh itu, sebenarnya ia telah mencatat dirinya dengan sejarah hitam tanpa ia sadari.

Ia memulainya dengan menjalin beberapa seri Kesepakatan Uqair (Uqair Protocol). Tahukah Anda apa Kesepakatan Uqair itu? Yaitu kesepakatan-kesepapakatan untuk ber-wala` kepada orang-orang kafir dan bara` terhadap orang-orang beriman, menyerahkan negeri (Haramain) kepada Salibis agar mereka bisa menjajahnya secara resmi dengan tidak langsung.

Berikut beberapa contoh di antara kesepakatan tersebut:

Kesepakatan pertama terjadi pada 1332 H yang bertepatan pada tahun 1914 M. Dalam kesepakatan ini, Abdul Aziz sepakat untuk menyediakan bantuan apa pun yang memungkinkan kepada Inggris untuk melawan (Daulah) Utsmani. Sementara pihak Inggris berjanji untuk melindungi Abdul Aziz dan menghalangi pihak mana pun yang memusuhinya.

Adapun kesepakatan kedua yaitu kesepakatan Darin (Treaty of Darin), dan perjanjian untuk menjual negeri (Haramain) kepada Salibis. Peristiwa ini terjadi pada 18 Safar 1334 H yang bertepatan dengan 26 Desember 1915 M. Dalam kesepakatan ini, utusan Inggris diketuai oleh Percy Cox, orang kepercayaan Inggris di Teluk, yang ditemani oleh John Philby. Sementara utusan Saudi diketuai oleh Ibnu Sa’ud sendiri.

Dalam pembukaan kesepakatan tersebut ditegaskan keinginan kedua belah pihak untuk mengokohkan dan memperkuat hubungan kecintaan mereka yang telah terjalin dalam waktu yang cukup panjang demi kepentingan kedua belah pihak.

Marilah kita renungi di antara poin penting isi kesepakatan tersebut:

  1. Pemerintah Inggris mengakui dan menetapkan bahwa untuk wilayah-wilayah yang dikuasai Ibnu Sa’ud maka Ibnu Sa’ud lah penguasa independen atasnya dan pemimpin umum atas kabilah-kabilahnya. Anak-anak dan para penggantinya berhak mewarisinya setelah sepeninggalnya. Pencalonan penggantinya harus berasal darinya (Ibnu Sa’ud) dan dari penguasa setelahnya, serta calon penguasa tersebut bukan lah sosok yang menentang Inggris dalam aspek apa pun, terkhusus yaang berkaitan dengan syarat-syarat penjanjian ini.

Artinya, secara lebih gamblang, Inggris harus rela terhadap penguasa tersebut. Sementara Allah Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka” [QS. Al-Baqarah: 120].

  1. Jika terjadi permusuhan dari salah satu negara asing terhadap wilayah-wilayah yang dikuasai Ibnu Sa’ud dan sekutu-sekutunya tanpa sepengatahuan pemerintah Inggris, maka pemerintah Inggris akan berada di pihak Ibnu Sa’ud.

Ini adalah bentuk meminta bantuan (isti’anah) kepada orang-orang musyrik dalam memerangi umat Islam. Karena maksud utama (dari negara-negara asing) dalam penjanjian ini adalah Daulah Utsmani dan sekutu-sekutunya.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab—rahimahullah—berkata dalam ‘Sepuluh Pembatal Islam‘ (Nawaqidh Al-Islam Al-‘Asyrah), “Pembatal Kedelapan: Membela orang-orang musyrik dan membantu mereka dalam memerangi umat Islam. Dalilnya yaitu firman Allah Ta’ala, ‘Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai wali (teman setia, pelindung, atau pemimpin), maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka.” [QS. Al-Maidah: 51].

  1. Ibnu Sa’ud menyepakati dan berjanji untuk tidak terlibat dalam korespondensi dan kesepakatan apa pun dengan bangsa, etnis, dan negara mana pun. Untuk itu, ia (Ibnu Sa’ud) harus segera menyampaikan kepada para pembuat kebijakan Inggris atas usaha apa pun dari negara lain yang berusaha mengintervensi ke wilayah yang dikuasai Ibnu Sa’aud.

Dari sini, Ibnu Sa’ud telah mengakhiri wala` (loyalitas)nya kepada umat Islam yang berada di luar aliansinya. Ia telah menjadikan dirinya sendiri sebagai wakil Salibis dan pembantu mereka.

Sementara Allah ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.” [QS. At-Taubah: 71].

Nabi bersabda, “Ikatan iman paling kuat yaitu wala` kerena Allah dan bara` karena Allah; dan mencintai karena Allah dan membenci karena Allah Azza wa Jalla.”

  1. Ibnu Sa’ud berjanji tidak menyerahkan, tidak menjual, tidak menggadaikan, dan tidak menyewakan wilayah-wilayah yang berada dalam kekuasaannya; juga tidak membagi-bagikannya, tidak menarik diri darinya dengan cara apa pun, dan tidak menganugerahkan wilayah-wilayah tersebut kepada negara asing atau di bawah pengawasan negara asing tanda seizin (ridha) pemerintah Inggris. Ia (Ibnu Sa’ud) harus selalu mengajak mereka memusyawarahkannya tanpa terkecuali; dengan syarat bahwa hal itu tidak sampai menghancurkan kepentingan-kepentingannya secara khusus.

Demikianlah Ibnu Sa’ud menyerahkan negeri (Haramain) kepada musuh atas apa pun yang mereka inginkan. Ia juga menambahkan poin lain dengan lisan dan perbuatannya atas kesepakatan tersebut, yang intinya: wilayah-wilayah yang di bawah kekuasaan Ibnu Sa’ud merupakan milik pemerintah Inggris. Mereka bisa melakukan apa pun yang mereka inginkan dengan syarat Ibnu Sa’ud diangkat sebagai wakil Inggris di sana dan sebagai penguasanya.

Kedua belah pihak berusaha menyembunyikan kesepakatan ini. Ibnu Sa’ud hanya mendeklarasikan secara resmi bahwa ia berada di pihak Inggris, dan berjanji secara tegas tidak akan menyerang para koalisinya dan tidak akan membantu musuh-musuhnya. Di pihak lain, Inggris menjanjikannya bahwa negeri (Haramain) tidak akan termasuk dalam tema perbincangan setelah pembagian (wilayah-wilayah) Daulah Utsmani. Abdul Aziz lalu diberi suatu medali, 1.000 pucuk senapan, dan 20.000 Pound Sterling pada saat penandatanganan perjanjian tersebut. Inggris juga berjanji akan menyerahkan kepadanya bantuan bulanan sebesar 5.000 Pound Sterling emas dan logistik rutin berupa senapan mesin dan senapan biasa.

Inilah yang dilakukan Ibnu Sa’ud, pendiri pertama sekaligus nasab tertinggi dari negara Saudi Arabia ke-III.

Lihat lah—semoga Allah merahmati Anda—bagaimana Ibnu Sa’ud menjadikan dirinya sebagai wakil yang patuh kepada kekuatan kolonial Inggris, menjadi agennya, dan menyerahkan kepada mereka apa pun yang bisa ia serahkan dengan imbalan ia bisa mendapatkan uang dan senjata dari mereka untuk memerangi para koalisi Daulah Utsmani.

Setelah semua yang dilakukannya ini, apakah ia pantas menjadi teladan bagi umat Islam?

Jalinan kerjasama antara Cox dan Ibnu Sa’ud terus berlangsung sampai pada hari penandatanganan Kesepakatan Uqair III yang berlangsung di pelabuhan Uqair pada Rabiul Tsani 1341 H yang bertepatan 2 Desember 1922. Ibnu Sa’ud pun lebih dari sekali mengungkapkan tentang sifat hubungan yang dijalinnya bersama Cox. Saat rombongan terakhir terlambat tiba di pelabuhan Uqair, ia berkata, “Kami tidaklah seharusnya memperlambat pulang kalaulah bukan karena wakil yang mulia, yaitu teman kami, yang ‘senang’ bepergian bersama Cox Percy dan ‘menghormatinya”

Jadi, Inggris telah ridha kepada Ibnu Sa’ud karena ia telah fasih dalam melafalkan cinta yang tersimpan dalam hatinya kepada mereka. Ia telah mengakhiri wala`nya kepada umat Islam untuk membuktikan kejujuran (cinta)nya. Ia juga  mendukung Salibis Inggris dan membantu mereka memerangi umat Islam. Oleh itu, ia pun lantas ditunjuk sebagai mata-mata bagi mereka, dan diberikan bantuan yang besar untuk memerangi umat Islam.

Setelah kesepakatan Darin yang disebutkan di atas, Ibnu Sa’ud terus meluaskan kekuasaannya di berbagai penjuru negeri Haramain. Dukungan Inggris merupakan salah satu faktor utama yang memungkinkan Ibnu Sa’ud meluaskan kekuasaannya pada sebagian besar negeri tersebut dan membuat unggul atas para pemimpin wilayah-wilayah yang lain.

Di samping itu, ada faktor internal utama lain yang berperan penting dalam memperluas kekuasaan Abdul Aziz dan berkontribusi besar dalam berbagai peperangan dan kemenangan-kemenangan Ibnu Sa’ud.

(Faktor) inilah yang akan kami angkat pada serial berikutnya—dengan pertolongan Allah.

Wahai Rabb kami! Ampunilah dosa-dosa kami dan sikap berlebih-lebihan dalam urusan kami. Teguhkanlah langkah-langkah kami, dan tolonglah kami dari orang-orang kafir.

Wahai Rabb kami! Janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang zalim, dan selamatkanlah kami—dengan  rahmat-Mu—dari  orang-orang kafir. (SM)

آخر دعوانا ان الحمد لله رب العالمين

 

Sumber: As-Sahab Telegram

 

Baca juga, KEWAJIBAN KAMI UNTUK MENOLONG ORANG-ORANG YANG BERIMAN