Duniaekspress, 25 Januari 2018. – Al-Qaidah berusaha untuk menyadarkan kembali ekstremis IS (the Islamic State) setelah “kekhalifahan” mereka runtuh di tengah kerugian besar berupa sumberdaya manusia, material, wilayah, dan prestise. Kampanye rekrutmen dimulai pada musim panas tahun lalu (2017), bahkan sebelum IS kehilangan markas besar terakhirnya. Hal ini menggarisbawahi pentingnya Al-Qaidah untuk memenangkan jumlah personel dan sumberdaya dari kompetitornya, terutama IS.

Salah satu upaya tersebut diluncurkan oleh pejuang Al-Qaidah di Aljazair pada bulan Agustus 2017. Sepuluh pejuang yang sebelumnya bergabung dengan afiliasi ISIS di negara tersebut beralih kesetiaan setelah berdebat dengan para ulama yang setia kepada Al-Qaidah. Demikian sumber-sumber keamanan setempat melaporkan.

Di wilayah Sahil, Afrika Utara, petinggi senior Al-Qaidah diyakini telah berhasil mendekati komandan milisi, yang orang-orangnya diperkirakan telah menyerang dan membunuh empat pasukan khusus AS di Niger pada bulan Oktober 2017.

Sekitar waktu yang sama, sebuah kawat berita pro-Al-Qaidah di Yaman mengabarkan “pertobatan” banyak pejuang IS yang telah kecewa dengan pemahaman keagamaan dari para pemimpin mereka, termasuk penyimpangan dan perilaku “ekstrem” mereka. Mereka yang rujuk ini baru saja bergabung dengan barisan Al-Qaidah. Di Afghanistan, sekelompok pejuang IS di Provinsi Ghor yang terpencil, namun penting karena posisinya yang stratejik, membelot ke Taliban.

Laporan seputar fenomena ini sedang dipelajari oleh para pejabat keamanan Barat yang berharap dapat memahami evolusi ancaman yang ditunjukkan oleh IS—maupun elemen turunannya—untuk beberapa bulan dan tahun mendatang.

Sebagian analis percaya bahwa IS saat ini berusaha memanfaatkan jaringan yang tersebar luas—dari berbagai kelompok dan faksi sekutunya—di seluruh dunia untuk melancarkan serangan lebih jauh ke Barat. Tujuan IS untuk mempertahankan posisinya sebagai kelompok yang tampil di depan di kalangan jihadis.

Para pejabat keamanan juga khawatir, afiliasi-afiliasi IS—yang sering menamai diri “Wilayah” (setingkat provinsi)—mungkin menawarkan tempat yang aman bagi para petempurnya yang melarikan diri dari Irak dan Suriah,

Yang juga diwaspadai adalah sebaliknya; orang-orang yang beralih kesetiaan dari Al-Qaidah ke IS, termasuk anggota-anggota baru yang direkrut bukan dari Al-Qaidah. Ini juga indikator kunci dari ketahanan IS karena kelompok itu berevolusi setelah gagal membangun kekuatan teritorial baru.

Sejauh ini pejabat Barat mengatakan, hanya segelintir pejuang dan kelompok di antara jaringan yang berafiliasi ke IS, yang tampak mempertimbangkan kembali kesetiaan mereka sejak IS meluncurkan serangan besar pertama. “Yang pasti hanya tetesan, bukan banjir,” kata salah seorang pejabat keamanan.

Di antara kelompok yang diawasi ketat oleh para analis adalah Boko Haram, yang muncul sebagai kelompok independen di Nigeria timur laut. Kelompok ini ada sejak enam tahun sebelum berjanji setia kepada IS pada tahun 2015.

Meskipun dikabarkan pecah, kedua faksi utama pecahannya diketahui belum mencabut kesetiaan kepada Abu Bakr Al-Baghdadi, pemimpin IS. Analis mengatakan, kelompok seperti Boko Haram sepertinya tidak terpengaruh secara substansial dalam jangka pendek oleh peristiwa di Timur Tengah.

Al-Qaidah diyakini mencoba untuk memenangkan kembali kesetiaan Adnan Abu Al-Walid Ash-Shahrawi, komandan yang orang-orangnya diperkirakan telah membunuh empat pasukan khusus AS di Niger pada bulan Oktober 2017. IS tidak mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut sehingga—menurut beberapa analis—hal ini menunjukkan bahwa kelompok tersebut (IS) tidak yakin dengan kesetiaan Ash-Shahrawi.

Seorang pejabat Barat mengatakan, beberapa “poin data” menunjukkan bahwa Ash-Shahrawi, yang pernyataan baiatnya kepada IS pada tahun 2015 baru diterima pada 2016, sekarang mengalihkan kesetiaannya kepada Al-Qaidah.

Di Yaman, IS berjuang untuk membangun kembali kelompoknya, di tengah-tengah dominasi Al-Qaidah di sana. Setahun yang lalu, pejabat Amerika Serikat mengatakan, kedua kelompok tersebut bekerja sama di Yaman “pada tingkat taktis, dalam rangka memukul mundur musuh domestik bersama mereka”. Namun, kabar baru-baru ini menyebutkan bahwa faksi-faksi pro-IS telah diserap oleh Al-Qaidah, kata para pengamat.

Upaya serius Al-Qaidah untuk merehebilitasi mantan pejuang IS ditunjukkan di Suriah sejak bulan September 2017. Gerilyawan yang berafiliasi dengan Al-Qaidah di Suriah utara menggunakan program “re-edukasi” untuk menyadarkan mantan pejuang dari IS. Selain mencoba mengubah pandangan ekstrem mereka menjadi lebih “lunak”, program tersebut juga mewujudkan rekrutan baru untuk partisipasi dalam jihad.

Di provinsi Idlib, koalisi pejuang oposisi yang tergabung di Hai’ah Tahrir Asy-Syam (HTS), yang didominasi oleh bekas afiliasi resmi Al-Qaidah, Jabhah Fath Asy-Syam (JFS). Sejauh ini HTS telah menempatkan “antara 100 dan 150” mantan pejuang ISIS melalui skema rehabilitasi tersebut, kata sumber keamanan kepada The National, media yang berbasis di Uni Emirat Arab.

Program yang dijalankan oleh HTS berlangsung hingga dua pekan, dan didasarkan pada kurikulum “Majelis Syura dan Majelis Syar’i yang mengadopsi kurikulum jihadi”.
Pembinaan tersebut dijalankan di wilayah gurun Abu Dhuhur, sebelah timur Idlib, lokasi yang masih menjadi medan pertempuran sengit antara HTS dan rezim Suriah.

“Ini adalah salah satu contoh paling jelas bagaimana anggota Da’isy (IS) dapat berbaur dengan organisasi ekstremis berhaluan keras lainnya,” kata pejabat keamanan yang memandang miring upaya tersebut sebagai cara memikat pejuang IS ke jajaran Al-Qaidah.

Graeme Wood, penulis The Way of the Strangers: Encounters with the Islamic State, mengatakan bahwa upaya “re-edukasi” kemungkinan akan mengkaji persoalan seputar “siapakah Muslim (yang sah keislamannya), dan siapa yang ghuluw (melampaui batasan Islam)”. “Ada banyak persinggungan antara ideologi resmi HTS dan ISIS,” tambahnya.

Sebagai sebuah kelompok, bagaimanapun, IS dianggap lebih ekstrem dalam melancarkan takfir; sikap yang menyatakan pihak lainnya sebagai orang kafir atau murtad, dan ada yang memenuhi syarat untuk dibunuh.

Sebelum bangkitnya IS, banyak negara memulai program de-radikalisasi dalam upaya untuk mengubah aktivis Islam yang dipandang ekstrem agar kembali menjadi warga sipil yang tidak menghadirkan risiko keamanan. Meskipun ada beberapa yang dinilai gagal ketika menyasar “profil penting”, termasuk dua anggota Al-Qaidah di Jazirah Arab yang kembali menjadi militan setelah diikutkan dalam program tersebut.

Pejabat di balik sebuah program di Arab Saudi yang dibentuk pada tahun 2004, yang melakukan “deradikalisasi” terhadap ratusan orang yang dinilai ekstremis, mengklaim tingkat residivisme antara 10 persen dan 20 persen; jauh lebih rendah daripada kejahatan reguler.

Awal bulan Januari 2018 ini, Nigeria membebaskan sekitar 244 mantan pejuang Boko Haram yang diklaim telah “direhabilitasi”, dan upaya serupa telah dilakukan cukup jauh oleh Yaman dan Malaysia.

Namun, madrasah-madrasah yang dikelola oleh HTS berbeda dari sisi bahwa mereka “mencoba untuk mengubah orang dari satu keyakinan akan kekerasan ke bentuk yang lain,” menurut Graeme Wood.

William Baldet, seorang praktisi kontra-ekstremisme dalam program Prevent yang dijalankan Pemerintah Inggris, mengatakan bahwa sementara pekerjaannya cenderung berfokus dalam “pelepasan kekerasan, dan mencoba untuk mencairkan pengaruh ideologi kekerasan. Tidak mengejutkan saya jika mereka (HTS) melihat bagaimana negara-negara lain melakukan deradikalisasi, dan belajar dari upaya tersebut.”

Sumber keamanan mengatakan kepada The National bahwa program HTS telah ada terutama didorong oleh perkembangan baru-baru ini di lapangan. Dalam beberapa pekan terakhir, kelompok yang berbasis di Idlib tersebut berada di bawah tekanan. HTS menghadapi serangan yang signifikan terhadap wilayah yang berada di bawah kontrol mereka oleh pasukan dan milisi yang memihak Presiden Suriah Bashar Al-Assad.

Meskipun “kekhalifahan” IS di Irak dan Suriah di ambang keruntuhan, diperkirakan ribuan pejuangnya telah tersebar di Suriah, Irak, Turki, dan sekitarnya. Pada bulan Oktober 2017, dilaporkan bahwa anggota IS dan keluarga mereka telah dibiarkan untuk meloloskan diri dari Raqqah setelah kota tersebut direbut oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didominasi milisi Kurdi.

Meski demikian, IS dan HTS tetap menjadi musuh sengit di medan perang. Pejuang IS telah bertempur dan berhasil merebut lebih dari 20 desa dari HTS di Hama Utara akhir-akhir ini. Adapun di bagian lain Idlib dan Hama, kedua kelompok tersebut terlibat bentrokan hampir setiap hari selama beberapa bulan terakhir.

 

Bilamana Mantan Pejuang IS Beralih Loyalitas?

Kelompok-kelompok yang menjadi “pemain lokal utama” dan hanya sedikit membutuhan sumberdaya tambahan tampaknya tidak meninggalkan IS dalam waktu dekat, kata pengamat. Adapun mereka yang memiliki komitmen ideologis atau pribadi yang lebih lemah dapat mencari alternatif lebih cepat.

Daveed Gartenstein-Ross, pengamat di Foundation for Defense of Democracies—lembaga think tank yang berbasis di Washington—mengatakan, “Bahaya IS itu akut. Saya tidak berpikir akan ada istirahat sebentar, tetapi … pada titik tertentu kolam uangnya mengering … dan bagi para jihadis yang berkomitmen selain prajurit bayaran sama saja … sehingga hubungan tersebut kemungkinan akan terputus.”

Tercatat bahwa IS memperoleh banyak uang dari penjarahan, pemerasan, dan perpajakan di wilayah-wilayah yang dikuasai di Irak dan Suriah antara tahun 2014 dan 2017, namun ada tanda-tanda meningkatnya krisis uang setelah jatuhnya wilayah yang menjadi basis “kekhalifahannya”.

Para pejabat keamanan Barat juga mengatakan, dampak kemunduran IS terhadap ancaman yang ditunjukkan oleh militan Islam ke Barat masih sulit diprediksi. IS terus menginspirasi serangan dan mungkin masih mengorganisir operasi teror yang ambisius di Eropa maupun Amerika Serikat.

“Sekarang masih terlalu dini, tetapi cukup jelas bahwa IS dengan wilayah, prestise, dan uang yang berkurang akan merasa lebih sulit untuk menarik rekrutan dan mengumpulkan sumber daya untuk operasi-operasi besar …. Jika orang-orang yang mendapat keuntungan dari kondisi tersebut adalah Al-Qaidah, saya tidak berpikir ada yang akan menganggapnya sebagai hasil yang ideal (bagi Barat),” kata seorang pejabat, yang tidak bersedia disebut namanya.

Al-Qaidah belum melancarkan serangan di Barat untuk beberapa waktu, tetapi ini lebih bersifat pilihan stratejik; bukan bukti kelemahan. Demikian yang diyakini para pejabat Barat. Namun, kemungkinan serangan Al-Qaidah semakin terbuka setelah Khalid Batharfi, petinggi Al-Qaidah di Yaman (AQAP), belum lama ini (22/1/2018) menyerukan serangan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Di mata Al-Qaidah—dan mungkin kelompok jihadis lainnya—itu dianggap sebagai pernyataan perang. (SM)

 

Referensi:

https://www.theguardian.com/world/2018/jan/19/al-qaida-recruit-from-islamic-state-affiliates-isis

https://www.thenational.ae/world/mena/al-qaeda-s-re-radicalisation-schools-lure-isil-fighters-in-syria-1.697124

 

Baca juga, JAISH BADIYAH SAYAP MILITER BARU AL-QAIDAH DI SURIYAH